Kesehatan

Jumat, 23 September 2016

Masa Depan Penderita Thalasemia? BAB XIV

Adakah harapan masa depan yang lebih baik bagi penderita thalasemia?
     Selalu sukar untuk melihat apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang, namun kami dapat membuat beberapa dugaan yang layak. Komplikasi seharusnya berkurang dan frekuensinya menurun. Penderita thalasemia muda, yang telah diimunisasi terhadap hepatitis, tumbuh dewasa sekarang dan yang terawat baik sejak awal menantikan masa depan yang sehat.
     Manajemen seharusnya terus meningkat karena pengalaman dan pemahaman mengenai thalassaemia juga terus meningkat. Obat baru mungkin membuat hidup yang lebih enak didiami. Khususnya, banyak penelitian telah dilaksanakan untuk menemukan suatu obat yang lebih murah untuk menangani kelebihan zat besi, yang bisa dipakai melalui mulut (dimakan). [Red. Saat ini tersedia 'obat kelasi besi' yang dikonsumsi secara oral, yaitu Ferriprox dan Exjade]
     Lebih banyak penderita thalasemia yang akan memperoleh pencangkokan sumsum tulang, dan seharusnya menjadi lebih aman, dan lebih tersedia secara luas. [Red. Kini transplantasi metoda sel induk (stemcell) dari darah tali pusar bayi, sudah bisa dilakukan. Hal ini jelas mengurangi tingkat kesulitan untuk memperoleh sumber donor yang sepenuhnya cocok sebagai syarat pencangkokan sumsum tulang. dengan metoda pencangkokan sel induk, terdapat dokter yang berani melakukan pencangkokkan dengan 5 titik kecocokan HLA, dibanding keharusan '6 titik sepenuhnya cocok' pada metoda sebelumnya]. Seharusnya jadi memungkinkan untuk "membalikkan tombol janin” agar penderita thalasemia dapat membuat haemoglobin janin lagi, seperti yang mereka lakukan dalam kandungan. Kemudian mereka akan dapat membuat darah mereka sendiri dan tidak memerlukan tranfusi lagi.
Seharusnya jadi memungkinkan untuk mengganti gen thalasemia dengan gen yang normal melalui “terapi gen”, dan akhirnya dapat menyembuhkan penyakit ini secara menyeluruh dan tuntas. [Red. tahun 2009 sudah dilakukan uji coba terapi genetik pada salah satu pasien thal dari perancis, semoga secepatnya diperoleh khabar yang menggembirakan]

Bagaimana mengenai Obat pengikat zat besi yang dipakai secara oral – si “Pil” itu?
     Para ahli telah bekerja bertahun tahun untuk mengembangkan obat pengikat zat besi yang aman dan murah, dan dapat dipakai secara oral, hasilnya telah datang [Red. Ferriprox(L1) dan Exjade(ICL670)], namun banyak orang kecewa karena datang terlalu lama. Senyawa2 yang telah dicoba pada sejumlah besar pasien hingga kini, "L1" dan "ICL670", dan meskipun hasilnya memberikan harapan, juga jelas bahwa L1 itu tidaklah cukup aman untuk bermanfaat bagi semua orang, sedangkan "ICL670" cukup membari khabar yang menggembirakan. Untuk menjelaskan mengenai penelitian ini, perlu dijelaskan aturan dalam mengembangkan obat yang baru.

                                              Apa yang harus dilakukan untuk memperkenalkan sebuah obat                                                       yang baru?
     Tak ada obat yang efektif yang benar benar aman. Mereka semua mempunyai efek samping, dan kita harus mempelajari obat itu sebelum kita aman memberikannya kepada pasien. Oleh karena itu terdapat aturan bahwa obat yang baru harus diuji pada sejumlah besar binatang percobaan, dan telah dicoba pada banyak orang dalam kondisi percobaan, sebelum obat itu dijual untuk umum. Idealnya obat pengikat zat besi yang baru itu, terutama haruslah aman, karena obat itu akan digunakan dalam dosis harian yang besar sepanjang hidup – yang mana terkait dengan obat itu menjadi agak mempunyai pengecualian (dibanding obat untuk keperluan lain).
     Oleh karena itulah suatu obat harus dipelajari dengan sangat hati hati melalui waktu yang cukup panjang, sebelum digunakan secara luas. Tabel 2 menunjukkan tahap tahap pengembangan obat yang baru. Kamu dapat lihat bahwa proses itu sendiri terikat dalam waktu yang lama. L1 sudah mempunyai uji yang akut (gawat) pada beberapa ratus pasien dan binatang percobaan. Pada saat penulisan (Red. tahun 1990-an) terdapat banyak ketidak-pastian mengenai L1. L1 adalahsuatu senyawa yang nama ilmiahnya adalah 1,2 Dimethyl-3-hydroxyprid-4-one, masuk dalam keluarga senyawa yang disebut alpha-keto-hydroxyl-pyridones. Pada beberapa pusat penelitian para ahli, para pasien ikut ambil bagian dalam studi percobaan untuk melihat apakah L1 dapat bekerja dengan baik dan efek samping apa yang mungkin terjadi. [Red. Saat ini TIF sudah menyetujui penggunaan L1 (merk dagang Ferriprox dan Kelfer), dengan catatan si pasien terdapat kesulitan dalam penggunaan desferal. Meski ternyata banyak efek sampingnya, namun efek2 sampingnya sudah cukup baik terpetakan, sehingga penggunaan L1 dengan pemantauan yang ketat bisa dihindari efek2 sampingnya!]

Bagaimana hasilnya pada pasien?
     L1 adalah bubuk putih yang berkelakuan seperti desferal. Ia berkombinasi dengan zat besi dalam tubuh membentuk senyawa yang berwarna orange, yang ikut keluar bersama urine. Jadi seperti pada desferal, Urine akan berwarna orange pada hari dimana obat itu digunakan.
     Orang orang yang terlibat dalam penelitian harus memakai cukup banyak L1 setiap hari. Obat itu dimasukkan dalam kapsul (karena rasanya yang pahit) dua jam sebelum makan.
     Telah ditunjukkan bahwa L1 hanya membawa sedikit lebih kecil zat besi dibandingkan dengan desferal, dan seperti desferal, ia dapat menurunkan tingkat serrum ferritin dan menghilangkan zat besi dari jaringan seperti hati dan jantung. Penemuan ini sangat membawa harapan: meskipun kita belum yakin benar efek jangka panjangnya akan sebaik desferal.
     Sebaliknya, juga menjadi jelas bahwa L1 dapat mempunyai efek samping keracunan yang serius. Yang paling umum terjadi pada pasien adalah rasa sakit pada tungkai kaki yang bisa ringan atau berat, dan ini terjadi pada sekitar sepertiga pasien pengguna L1, dan biasanya akan hilang jika pasien terus menggunakan L1. Masalah yang paling serius adalah beberapa pasien memperoleh ”agranulocytosis”, yang berarti sel sel darah putih (yang normalnya bekerja mencegah tubuh dari infeksi) menghilang dari darah. Ini hanya terjadi pada sedikit pasien, namun hal ini sangat berbahaya!
     Hal ini membuat dua hal menjadi jelas:
Ø Pertama, L1 bukanlah obat yang dapat digunakan untuk jangka panjang pada banyak orang
Ø Kedua, setiap orang yang menggunakan L1 harus sering menguji darahnya untuk dihitung jumlah sel sel darah putihnya. Jika terdapat tanda penurunan, penggunaan L1 harus segera dihentikan!

Bagaimana hasil penemuan ini dibandingkan dengan hasilnya pada binatang?
     Perusahaan obat melaksanakan uji yang direkomendasikan tersebut pada binatang. Hasilnya mengecewakan karena mereka menunjukkan efek keracunan pada dosis yang tidak jauh lebih tinggi daripada dosis yang diperlukan untuk mengendalikan kelebihan zat besi. Terdapat efek keracunan pada sumsum tulang dan beberapa organ endocrine. Ketika L1 diberikan pada tikus yang sedang hamil, dapat menyebabkan kerusakan yang parah pada banyak embrio, mulai dari kematian sampai keperubahan bentuk wajah dan anggota badannya. Hal ini membuat jelas bahwa wanita hamil tidak pernah boleh menggunakan L1, meskipun karena kekeliruan. Hasil ini sangat mengkhawatirkan perusahaan yang telah memutuskan untuk mengembangkan L1 lebih lanjut. (Meskipun demikian, beberapa perusahaan obat yang lain tetap melakukan persiapan untuk itu)

Apa yang dapat kita simpulkan dari semua ini?
  1. Secara umum telah disetujui bahwa L1 bukanlah obat yang ideal yang sedang kita cari. Yang terbaik adalah L1 dapat menjadi “pengisi kekosongan” sampai ditemukan senyawa yang lebih baik. [Red. Apakah ICL670 yang sudah direalease pemakaiannya termasuk yang terbaik?]
  2. Senyawa-senyawa yang lain sedang di teliti. Namun, pengembangan obat merupakan bisnis yang lambat yang sepertinya memerlukan sedikitnya 8 tahun sampai obat oral yang lain jadi tersedia. [Red. tahun 2007.. ICL670 yg dikembangkan Novartis, sudah lulus uji coba dan sudah diperbolehkan untuk dipasarkan!]
  3. Terdapat peningkatan jumlah penderita thalasemia didunia ini yang ditranfusi secara teratur tetapi tidak memperoleh cukup desferal. Banyak yang tidak bisa menunggu 8 tahun lagi untuk suatu terapi pengikat zat besi. Sebagai tambahan, bahkan di negara dimana desferal tersedia oleh suatu jasa kesehatan, beberapa pasien thalasemia terlalu jemu dan mempunyai banyak masalah dengan desferal, untuk dapat digunakan secara terus menerus. Sampai saat ini L1 senyawa yang berguna untuk para penderita itu.[Red. disamping tentu saja ICL670 untuk saat ini]
  4. Percobaan terhadap L1 harus terus dilanjutkan, namun harus selalu diselenggarakan oleh tenaga yang ahli dan pada pusat perawatan yang khusus.
Bagaimana dengan pencangkokan sumsum tulang?
     Oleh karena pencangkokan sumsum tulang lebih sering digunakan pada penderita thalasemia, proses ini berangsur-angsur menjadi semakin aman. Saat ini hanya orang muda yang mempunyai donor yang sepenuhnya cocok yang dapat memperoleh pencangkokan sumsum tulang. Di masa depan (masih agak lama) akan menjadi mungkin untuk mencangkok sumsum dari seseorang yang jaringannya tidak cocok benar dengan si pasien. [Red. Dengan pencangkokan metoda sel induk (Stemcell) dari darah tali pusar bayi, keharusan donor yang sepenuhnya cocok menjadi sedikit longgar. kelemahan terletak dari jumlah sumber donor yang terbatas jumlahnya, terutama jika diperlukan untuk pencangkokan pasien yang telah remaja dan dewasa]

Kemudian, bagaimana dengan “tombol pembalik janin”?
     Inilah awal untuk melihat harapan yang penuh. Pada Bab 1, kami jelaskan bahwa janin dan bayi baru lahir mempunyai haemoglobin-janin (HbF), normalnya mereka berubah (Switch-over) menjadi Haemoglobin-dewasa(HbA) pada bulan bulan pertama hidupnya. Masalah pada thalasemia adalah mereka menghentikan (Switch-off) HbF dengan baik, tetapi ketika mereka mencoba untuk menghidupkan HbA mereka tidak mampu, sebab "tombol janin"-nya tidak bekerja dengan baik. Jika kamu hanya membuat HbF seperti yang dilakukan sebelum kamu dilahirkan, dan jika kamu membuatnya dalam jumlah yang cukup, dan tidak mencoba untuk membuat HbA, kamu mungkin menjadi cukup baik.
    Para ilmuwan berharap untuk mempelajari dengan cukup mengenai tombol-janin ini, untuk menghidupkan kembali tombol HbF pada penderita thalasemia. Baru baru ini telah terdapat pengembangan yang sangat menarik disini. Telah ditemukan bahwa jika sejumlah besar zat yang disebut asam butirat diinfuskan melalui pembuluh darah pada penderita thalasemia, mereka mulai membuat banyak HbF, dan mungkin tidak memerlukan tranfusi lagi.
     Ini baru merupakan pekerjaan yang sangat awal. Orang-Orang dalam perawatan ini harus tinggal di rumah sakit dengan tetesan di sepanjang tangannya, asam butirat dipakai dengan dosis yang sedemikian tinggi mungkin mempunyai efek samping yang serius, dan baunya mengerikan. Bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya telah memungkinkan untuk mempengaruhi tombol-janin itu. Hasilnya menarik dan memberi harapan,dan kini para peneliti sedang berusaha menemukan cara untuk mengatasi kerugian dari asam butirat dan meningkatkan keuntungannya.

Bagaimana dengan rekayasa genetik?
     Terapi gen mungkin bisa digunakan untuk pencangkokan globin gen yang sehat pada penderita thalasemia. Kini ahli molekular biologis penuh harapan bahwa hal ini dapat menjadi mungkin di masa depan. [Red. tahun 2009 uji coba terhadap pasien thalasemia dari perancis sudah dilakukan, semoga secepatnya memperoleh khabar yang menggembirakan]

Bagaimana hal itu akan dilakukan?
     Akan diperlukan pengambilan sumsum tulang dari penderita thalasemia, menumbuhkannya didalam kurtur jaringan, dan meng-infeksi-kan dengan sejenis virus buatan yang membawa gen yang sehat. "Virus" itu akan bersatu ke dalam sel dan menyisipkan gen yang sehat itu. Kemudian sel sel itu akan diuji, dan dikembalikan pada sipenderita.

Bagaimana cara mengembalikannya: Apakah akan seperti pencangkokan sumsum tulang?
     Ya, sel yang telah dikoreksi itu akan dimasukkan dalam kantong darah dan dimasukkan melalui pembuluhdarah, sedemikian sehingga mereka bisa kembali ke-"rumah"-nya, ke sumsum tulang si pasien. Namun mereka hanya akan bisa menetap di sumsum tulang jika sumsum penderita thalasemia dibunuh terlebih dahulu dan itu harus dilakukan sebelum pencangkokan.

Apakah ini berarti bahwa setelahnya akan ada resiko?
     Ya, ada keterikatan terhadap beberapa resiko, namun seharusnya lebih kecil daripada resiko pencangkokan sumsum tulang. Kini sepertinya gen terapi tidak terlihat sebagai penyelesaian yang sederhana namun mungkin merupakan suatu cara yang membuat pencangkokan sumsum tulang menjadi tersedia untuk semua orang. Ini juga nampaknya akan menjadi suatu prosedur yang sangat mahal, dan tidak mudah dilakukan di negara yang sedang berkembang.

Apakah kamu mencoba mengatakan bahwa tidak terdapat harapan realistis dari pengobatan yang sederhana, seperti minum tablet atau sejenisnya?
     Itu mungkin saja terjadi 50 tahun atau 100 tahun yang akan datang, tapi kami tidak mengharapkan untuk mempunyai suatu pengobatan yang benar benar sederhana untuk pasien pasienyang hidup pada saat ini.

Bersambung ~ XV

Tidak ada komentar: