Penguasaan Emosional
Renungkanlah. Mengapa kita ingin menurunkan berat badan?
Apakah hanya agar lemak tubuh kita berkurang? Ataukah tentang bagaimana perasaan kita nantinya menurut kita dan orang lain, setelah kita berhasil membebaskan diri dari berat yang berlebihan itu, menjadi lebih energik dan penuh vitalitas, menjadi lebih menarik bagi orang lain, dan menjadi lebih yakin dan punya harga diri?
Dapat dikatakan semua yang kita lakukan adalah untuk mengubah perasaan kita_tetapi kebanyakan orang kurang atau tidak terlatih melakukan ini dengan cepat dan efektif. Sungguh menakjubkan betapa sering kita menggunakan inteligensi yang di bawah kendali kita, untuk menjerumuskan diri ke dalam kondisi-kondisi emosional yang tidak berakal budi, melupakan sekian banyak talenta hakiki yang sudah kita semua miliki.
Terlalu banyak orang yang membiarkan dirinya dipengaruhi kejadian-kejadian luar, yang di luar kuasanya, tidak mengendalikan emosinya sendiri_padahal itu berada dalam kuasanya_dan justru bergantung pada obat penyembuh jangka pendek.
Bagaimana lagi dapat kita jelaskan fakta bahwa, sementara kurang dari 5 persen dari populasi dunia itu tinggal di Amerika Serikat, tetapi mereka mengonsumsi lebih dari 50 persen dari ganja dunia? Atau bahwa anggaran pertahanan nasionalnya, yang sekarang ini mencapai miliaran dolar, diimbangi
oleh jumlah yang dihabiskan untuk mengonsumsi alkohol? Atau bahwa 15 juta warga Amerika didiagnosis mengalami depresi secara klinis setiap tahunnya, dan bahwa obat antidepresi, Prozac, yang telah diresepkan itu telah lebih dari $500 juta dolar nilainya?
Penguasaan Fisik
Apakah layak, mempunyai segala yang kita impikan, tetapi tidak mempunyai kesehatan fisik untuk dapat menikmatinya? Apakah kita bangun setiap paginya merasa penuh energi, bertenaga, dan siap menghadapi hari itu? Atau apakah kita bangun merasa sama lelahnya seperti semalam, badan sakit,
dan berat untuk memulainya dari awal lagi? Akankah gaya hidup kita yang sekarang menjadikan kita termasuk dalam statistik?
Satu dari dua warga Amerika meninggal karena penyakit jantung; satu dari tiga orang meninggal
karena kanker. Meminjam istilah dokter abad ketujuh belas, Thomas Moffett, kita "menggali kubur kita dengan gigi kita sendiri", sementara kita jejali tubuh kita dengan makanan-makanan berlemak tinggi yang tak bergizi, kita racuni sistem kita dengan rokok, alkohol, dan obatobatan, serta dengan duduk pasif di depan TV.
Ketahuilah, kita sendiri yang mengendalikan kesehatan fisik kita sehingga menjadikan kita bukan saja tampak baik, melainkan juga merasa baik dan mengetahui bahwa kita memegang kendali dalam kehidupan kita, dalam tubuh yang memancarkan vitalitas dan memungkinkan kita untuk mencapai hasil-hasil kita sendiri.
Penguasaan Hubungan
Selain menguasai emosi dan kesehatan fisik kita sendiri, hal yang tidak kalah penting, adalah belajar menguasai hubungan-hubungan kita_entah hubungan asmara, keluarga, bisnis, ataupun sosial.
Siapa sih yang mau belajar, bertumbuh, dan menjadi sukses serta bahagia sendirian?
Pelajaran penguasaan hubungan akan menyingkapkan rahasia yang memungkinkan kita menciptakan hubungan-hubungan berkualitas; pertama dengan diri sendiri, lalu dengan orang lain. Kita akan mulai dengan menemukan apa yang paling kita hargai, apa saja harapan-harapan kita, aturan-aturan yang
kita jadikan pegangan hidup Anda, dan bagaimana hubungan semuanya itu dengan orang lain.
Lalu, ketika kita mencapai penguasaan keterampilan yang sangat penting ini, kita akan mempelajari bagaimana caranya berhubungan dengan sesama pada tingkatan terdalam, dan mendapatkan imbalan berupa sesuatu yang kita semua ingin alami: rasa mempunyai kontribusi, mengetahui bahwa kita telah menghasilkan perbedaan dalam kehidupan sesama kita. Sebagian besar orang sukses telah menemukan bahwa bagi saya sendiri, sumber daya terbesar adalah hubungan, karena hubungan membuka pintu pada setiap sumber daya yang kita butuhkan. Penguasaan pelajaran ini akan memberi kita sumber daya tak terbatas untuk bertumbuh dan memberikan kontribusi.
Penguasaan Keuangan
Ketika mencapai usia enam puluh lima tahun, kebanyakan atau umumnya orang, entah benar-benar
jatuh miskin_atau mati! Bukan itu yang dibayangkan kebanyakan orang bagi diri mereka sendiri ketika mereka menyongsong usia pensiun mereka. Namun, tanpa keyakinan bahwa mereka layak sejahtera secara keuangan, didukung oleh rencana permainan yang realistis, mana mungkin seseorang mengubah skenario yang mereka inginkan itu menjadi nyata?
Logikanya_mereka harus memahami;, bagaimana caranya melampaui sasaran sekadar bertahan pada tahun-tahun senja kehidupannya, dan bahkan sekarang.
Beberapa orang beruntung hidup di masyarakat kapitalis, karena mereka mampu mewujudkan impian. Akan tetapi, kebanyakan orang mengalami tekanan keuangan terus-menerus,
dan terus berkhayal bahwa mempunyai uang lebih banyak akan melegakan kita dari tekanan tersebut.
Inilah ilusi besar kebudayaan_yakinlah bahwa semakin banyak uang yang Anda miliki, semakin besarlah tekanan yang akan Anda rasakan. Kuncinya bukanlah sekadar mengejar kekayaan, melainkan mengubah anggapan-anggapan dan sikap-sikap orang2 mengenai hal itu sehingga umumnya mereka memandangnya sebagai sarana memberi kontribusi, bukan sarana dan tujuan akhir kebahagiaan.
Untuk membentuk takdir keuangan berlimpah, kita harus terlebih dahulu belajar bagaimana caranya mengubah apa yang mengakibatkan kelangkaan dalam kehidupan kita, lalu bagaimana caranya mengalaminya secara konsisten, nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan emosi-emosi yang bersifat
prinsip untuk mengalami kekayaan dan memegangnya serta mengembangkannya.
Kemudian mendefinisikan sasaran-sasaran guna membentuk impian-impian kita dengan mata tertuju pada tercapainya tingkatan kesejahteraan yang setinggi mungkin, memenuhi kita dengan kedamaian pikiran dan membebaskan diri kita untuk menantikan dengan gembira, segala kemungkinan yang diberikan oleh kehidupan.
Penguasaan Waktu
Mahakarya itu membutuhkan waktu.
Namun, berapa banyakkah di antara kita yang benar-benar tahu bagaimana caranya menggunakan waktu? Yang kita bicarakan bukanlah manajemen waktu; yang kita bicarakan adalah benar-benar
mendistorsikan waktu dan memanipulasikannya sehingga waktu menjadi sekutu, bukannya musuh. Pelajaran pertama yang harus diketahui adalah;,
bagaimana evaluasi-evaluasi jangka pendek dapat menuntun pada kepedihan jangka panjang. Kita harus mempelajari juga tentang bagaimana caranya mengambil keputusan nyata dan bagaimana caranya mengelola hasrat kita akan kepuasan seketika, sehingga memungkinkan ide-ide, ciptaan-ciptaan Anda_bahkan potensi kita sendiri_ada waktu untuk berbuah banyak.
Berikutnya harus kita kuasai bagaimana caranya merancang peta-peta dan strategi-strategi yang diperlukan untuk menindak-lanjuti keputusan kita, menjadikannya nyata dengan kesediaan untuk mengambil tindakan besar, kesabaran untuk mengalami "waktu jeda", dan fleksibilitas untuk mengubah pendekatan kita sesering yang diperlukan.
Begitu seseorang berhasil atau bisa mengelola_menguasai waktu, dia akan mengerti betapa benarnya bahwa kebanyakan orang terlalu melebih-lebihkan apa yang sanggup mereka capai dalam setahun_dan terlalu meremehkan apa yang sanggup mereka capai dalam sepuluh tahun!
Bersambung***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar