Kesehatan

Sabtu, 25 November 2017

Thalasemia 2



"Tahukah anda, apa itu thalasemia? Sudahkah anda melakukan screening thalasemia?"
Thalasemia itu sebenarnya nggak pas dikatakan suatu penyakit. Thalasemia itu bukan penyakit karena serangan kuman/virus dari luar, bukan penyakit menular, bukan pula penyakit yg muncul karena suatu gaya hidup yg salah, bukan pula suatu cacat yg terjadi selama proses kehamilan, tapi thalasemia itu lebih pas dikatakan suatu kelainan darah genetik (istilah medisnya 'genetic disorder')... Meski tidak pas juga jika disandingkan dengan penyakit cacat bawaan genetik seperti buta warna, tunarungu, dsb yg umumnya tak punya dampak samping penyakit lain... Kecenderungannya lebih ke arah sana dengan perbedaan menyolok, yaitu kemungkinan munculnya berbagai dampak penyakit fisik lain, karena kondisi fisik yg 'lemah' akibat 'cacat genetik thalasemia'nya tersebut...

Seseorang yg terlahir dgn thalasemia mayor, hidupnya akan tergantung dari rutin tranfusi berkala sepanjang hidupnya, dan karena tranfusi rutin berkala yg tidak bisa dihindarinya itu, terjadi penumpukan zat besi yg berlebihan, maka perlu konsumsi obat kelasi (chelation) zat besi nyaris setiap hari sepanjang hidupnya...
Dampak penyakit lain yg mungkin muncul karena kondisi thalasemianya, bisa dikatakan sangat kompleks, mulai dari gangguan hormonal, gangguan syaraf, gangguan jantung, gangguan paru,
pengeroposan tulang, diabetes, gangguan limpoid, dsb... Kompleks banget deh kemungkinannya, karena itulah perawatan rutin berkala yg disiplin, yg tepat, perlu dilakukan secara konsisten sepanjang hidupnya, untuk menekan semua dampak penyakit yg mungkin muncul, dan untuk meraih kualitas hidup yg sebaik mungkin...
Dalam perjalanan hidupnya seorang thalasemia mayor, bisa berhubungan dengan banyak dokter dokter spesialis bahkan dokter dokter sub spesialis...
Hidup sebagai thalasemia mayor, bukanlah hidup yg bisa sederhana, menpunyai dampak besar pada kehidupan sosial, ekonomi, bahkan psikologi, termasuk berdampak besar pada keluarganya...
(Bayangkan jika biaya perawatan rutin berkalanya, menurut dr pustika amalia di tv thn 2015, untuk thaller yg berat badannya 20kg, bisa mencapai 300 juta rupiah per tahun, jelas akan membuat guncangan besar dari sisi ekonomi dan sosialnya, bukan?.. Belum lagi semakin dewasa semakin besar berat badannya, semakin besar biaya perawatan rutin berkalanya...)
Kelainan darah thalasemia ini dipandang dari hukum mendel, dikatakan bersifat resesif ('tersembunyi')... BUKAN bersifat DOMINAN...
Bagaimana pemahaman resesif itu?
Untuk menjelaskan hal itu kita perlu ulas dulu tentang sel, kromosom, dan gene...
Sel sel manusia itu, dalam setiap inti selnya mengandung infomasi 'sifat sifat fisik manusia' yg persis sama pada setiap selnya..
Didalam setiap inti sel manusia itu terdapat 46 (23 pasang) untai kromosom, kecuali di sel sperma dan sel telur, yg dalam intinya hanya mengandung informasi setengahnya, 23 untai kromosom saja...
Jadi kalau kita ambil sel rambut, sel kulit, sel tulang, sel darah putih, sel otot, pokoknya setiap sel yg ada intinya pada orang itu, didalam intinya itu mengandung informasi yg persis sama, 46 untai kromosom yg persis sama...
23 untai itu diperoleh dari sel telur (ibu), 23 untai lagi diperoleh dari sel sperma (ayah)...yg bersatu ketika terjadi pembuahan, dan menjadi zigote, pada suatu kehamilan...
Satu untai kromosom itu terdiri dari jutaan 'potongan-potongan informasi', setiap potongan informasi itu dikatakan 'gene'...
Gene inilah yg menentukan sifat fisik manusia, sifat bentuk hidungnya, sifat jenis rambutnya, sifat warna matanya, dsb...
Setiap sifat fisik manusia itu ditentukan oleh sepasang gene, satu dari ibu, satu dari ayah...
Nah gene itu ada yg sifatnya dominan...
Artinya jika ada satu saja gene-dominan (dari yg sepasang), maka yg dominan-lah yg menentukan sifat fisik yg muncul...
gene juga ada yg resesif, jika sepasang gene-nya resesif (bukan hanya salah satunya), maka baru menentukan sifat fisik yg muncul...
Nah kelainan gene thalasemia itu bersifat resesif, artinya jika sepasang genenya (KEDUANYA, satu dari ibu dan satu dari ayah) ada kelainan thalasemia, maka baru bisa muncul thalasemia (mayor/intermediate) pada fisiknya...
Jika hanya salah satu gene yg ada kelainan thalasemia (entah yg dari ayah, atau yg dari ibu), maka sifat fisik thalasemianya nggak akan muncul... Inilah yg dimaksud dengan istilah "secara genetik thalasemia itu sifatnya resesif atau 'tersembunyi'...
Berdasarkan pengetahuan inilah, maka jika pada pasangan ortu,
ada bayi yg terlahir sebagai thalasemia mayor/intermediate, tak peduli anak keberapapun, maka bisa kita pastikan kedua genenya (satu dari ayah, satu dari ibu) ada kelainan thalasemia... Bisa kita pastikan, kedua orang tuanya membawa kelainan gene thalasemia (pembawa sifat)...
Jika ada satu saja anak yg terlahir sebagai thalasemia mayor/intermediate, entah anak keberapapun, maka pada setiap kehamilan berikutnya (entah kehamilan yg keberapapun pada pasangan yg sama), ada potensi/kemungkinan 25% si bayi akan terlahir sebagai thalasemia mayor/intermediate, 50% kemungkinan terlahir sebagai pembawa sifat thalasemia (yg dari ayah, atau yg dari ibu), 25% kemungkinannya sama sekali tidak membawa kelainan gene thasemia alias normal...
Note: Bayi yg bawa satu kelainan gene thalasemia (dari sepasang gene yg ada), dikatakan sebagai pembawa sifat... Karena kelainan thalasemia itu bersifat resesif, maka pembawa sifat itu akan layaknya seperti orang normal saja, sifat fisik thalasemianya nggak akan muncul (tersenmbunyi)...
Potensi pembawa sifat thalasemia di nusantara ini bisa dikatakan tersebar merata mulai dari aceh sampai merauke, ada disetiap ras, tidak kenal agama, tidak kenal suku(Sara) berkisar 5-10%...
Gambarannya begini, jika kita kumpulkan 10-20 orang sehat secara acak, maka ada 1-2 diantaranya adalah pembawa sifat thalasemia..
Nah anda merasa sehat?
Sudahkah melakukan screening thalasemia?
Siapa tahu anda termasuk yg 1-2 diantara 10-20 orang tersebut...
Tanpa screening thalasemia di laboratorium, pembawa sifat thalasemia itu tidak bisa dibedakan secara fisik dgn yg normal.. Ingat secara genetik, kelainan thalasemia itu bersifat resesif...
Ayo lakukan screening thalasemia, cukup dilakukan sekali seumur hidup..
Dan untuk memutus rantai kelahiran bayi dengan thalasemia mayor, hindarilah pernikahan antara sesama pembawa sifat thalasemia...
Hari Thalasemia sedunia, diperingati pada tgl 8 mei..
Salam perjuangan..

Jumat, 24 November 2017

Banyak minum air, benarkah bermanfaat?



       70 % planet kita ini ditutupi oleh air, 80 % tubuh kita terdiri dari air.
       Berapa persenkah diit kita seharusnya mengandung air?
Kita disarankan untuk memastikan agar 70 % pola makan kita terdiri dari makanan yang kaya akan air. Itu berarti; buah2an, sayur2an segar, atau jus yang baru diperas.
Pernah dengar saran atau rekomendasi untuk minum 8 hingga 12 gelas air setiap harinya untuk "membersihkan sistem tubuh"?. kemudian diteruskan dengan; "Himbauan ini disampaikan oleh Dinas atau instansi yang bekerjasama dengan Perusahaan XXX dan disponsori oleh YYY?"
8 gelas atau liter hingga 12 gelas atau liter?
Tahukah saudara/i bahwa itu gila?
Terlalu banyak mengkonsumsi air belum tentu baik. Karena kemungkinan besar air yang kita minum mengandung klorofin, fluoride, mineral, dan zat2 beracun lainnya.
Minum air yang disuling mungkin lebih baik. Tetapi, apapun air yang kita minum, (jika tujuannya demi membersihkan sistem tubuh), tentu kita sangat paham bahwa kita tidak bisa membersihkan sistem kita dengan menenggelamkannya.
Jumlah air yang kita minum hendaknya di dikte oleh rasa dahaga !!
        Daripada mencoba membersihkan sistem tubuh kita dengan membanjirinya dengan air, kita tinggal makan makanan yang secara alami kaya akan air. Hanya ada tiga jenis di planet ini;
1. buah2an,
2. sayur2an dan
3. tunas.
Ketiganya akan memberi kita banyak air, substansi pembersih yang memberikan kehidupan. Ketika orang hidup dengan diit makanan yang rendah kandungan airnya, hampir pasti fungsi organ tubuhnya akan terganggu.
Seperti dikatakan Alexander Bryce, M.D. dalam The Laws of Life and Health, "Ketika tubuh kekurangan cairan, darah mempertahankan gravitasi spesifik yang lebih tinggi, dan produk2 sisa beracun seperti perubahan tissue atau sel dibuang dengan cara yang sangat tidak sempurna.
Oleh karenanya, tubuh diracuni oleh ekskresinya sendiri_dan dapatlah dikatakan bahwa alasan utamanya adalah karena tubuh kekurangan cairan untuk membuang limbah sel tubuh itu sendiri".
Diit kita hendaknya secara konsisten membantu tubuh kita dengan proses pembersihan, daripada membebaninya dengan bahan makanan yang tak dapat dicerna.
       Menumpuknya produk sisa di dalam tubuh berpotensi mendatangkan penyakit. Salah satu cara untuk sebisa mungkin membebaskan aliran darah dan tubuh dari sisa2 racun adalah membatasi makanan maupun yang bukan makanan yang berpotensi menekan organ2 pembuangan tubuh; cara lainnya adalah dengan memberikan air yang cukup kepada sistem untuk membantunya membuang sisa tersebut. "Tidak ada cairan yang dikenal ahli kimia, yang bisa melarutkan substansi padat sebanyak air, yang sungguh merupakan pelarut terbaik yang pernah ada. Oleh karenanya, kalau tubuh diberikan cukup air, keseluruhan proses nutrisinya distimulasikan karena efek produk2 sisa beracun yang melumpuhkan tersebut disingkirkan dengan cara dilarutkan lalu dibuang oleh ginjal, kulit, perut, atau paru-paru. Kalau sebaliknya, jika bahan2 beracun ini dibiarkan menumpuk dalam tubuh, muncullah segala jenis penyakit".
        Mengapa salah satu penyakit paling mematikan sat ini adalah penyakit jantung?
Mengapakah ada orang yang tumbang tewas di lapangan tennis di usia 40 tahun?
Salah satu alasannya adalah karena mereka telah seumur hidup menyumbat sistem mereka sendiri. Kualitas hidup kita, tergantung kepada kualitas kehidupan sel2 di seluruh tubuh kita. Kalau aliran darah kita penuh dengan produk sisa, lingkungan yang dihasilkannya tidaklah mempromosikan kehidupan sel yang sehat, kuat, hidup_atau pun biokimiawi yang mampu menciptakan kehidupan emosional yang seimbang bagi individu yang bersangkutan.
Dr. Alexis Carrel, seorang pemenang Hadiah Nobel pada tahun 1912 dan anggota Rockefeller Institute, berupaya membuktikan teori ini dengan mengambil tissue dari ayam (yang usia normalnya rata2 11 tahun) dan menjadikan sel2 tubuh ayam itu hidup tak terhingga hanya dengan membebaskannya dari produk2 sisa mereka sendiri dan dengan memberikan makanan yang mereka butuhkan. Sel2 ini dipelihara hidup selama 34 tahun, setelah Rockefeller Institute yakin bahwa mereka bisa memelihara sel2 tersebut hidup selamanya dan oleh karenanya memutuskan untuk mengakhiri eksperimen tersebut.

         Kembali ke topik utama; "Seberapa persenkah dari diit anda terdiri dari makanan yang kaya akan air?, seandainya kita buat daftar hal2 yang kita cerna minggu lalu, seberapa persenkah yang kaya akan air?, 70 % kah?, Rasanya tidak. Bagaimana dengan 50 %?, 25?, 15?....
Ketika pertanyaan seperti diatas ditanyakan dalam berbagai seminar kesehatan, kita akan menemukan bahwa kebanyakan orang hanya makan 15-20 % makanan yang mengandung air. Dan itu jelas lebih tinggi daripada populasi secara keseluruhan.
Izinkan saya mengatakan sesuatu; "15-20 % itu BUNUH DIRI !! "
Kalau tidak percaya, silahkan googling dan buka, kemudian periksa saja statistik kanker dan penyakit jantung dan evaluasikanlah jenis2 makanan yang hendaknya anda hindari menurut rekomendasi National Academy of Sciences, dan periksa jumlah kandungan airnya.

        Kalau kita memperhatikan alam dan kita lihat hewan2 yang paling besar, paling berkuasa, maka kita akan menemukan bahwa mereka itu herbivora; gorilla, gajah, badak, dan sebagainya itu semua makan makanan yang kaya akan air. Herbivora itu usianya lebih panjang daripada karnivora. Bayangkanlah burung pemakan bangkai. Mengapakah penampilannya mengerikan seperti itu?, karena ia tidak makan makanan yang kaya air.
Kalau kita makan sesuatu yang kering dan mati, terkalah seperti apa penampilan kita nanti. :)
Hanya separuh berchanda saja dalam hal ini. :)

Sebuah gedung itu hanya mungkin sekuat dan seindah bagian2nya.
Demikian pulalah halnya dengan tubuh kita.
Sesederhana itu saja.
Bagaimana kita bisa memastikan 70 % dari diit kita terdiri dari makanan yang kaya akan air?,
Juga Sederhana saja,..
Pastikan saja mulai dari sekarang, kita makan salad setiap kali makan.
Jadikanlah buah sebagai makanan ringan dan bukannya coklat. kemudian,
rasakan perbedaannya ketika tubuh kita lebih efisien dan oleh karena memungkinkan kita lebih energik.

Jumat, 10 November 2017

Gerila SEMUT

Sejarah pasukan Gerila Dayak melawan Jepang. 

Kawasan-kawasan operasi gerilawan Dayak yang disebut "Gerila SEMUT."




Pasukan gerila SEMUT dibentuk oleh tentara British dan Australia, dengan menggunakan suku-suku Dayak yang sememangnya ahli dalam perang gerila hutan.
Operasi SEMUT ini terdiri dari empat kelompok pasukan gerila, yaitu :
SEMUT I
Dipimpin oleh Major Tom Harrison.
Kawasan operasi mereka di sekitar lembah Bario sampai ke Belait dan Trusan, juga kawasan pedalaman di sekitarnya. Kawasan ini kebanyakannya dari suku kaum Kelabit, Lun Bawang, Murut dan Dusun Belait@Bisaya.
SEMUT II
Dipimpin oleh Major Torby Carter.
Kawasan operasinya di sekitar lembangan Sungai Baram, Tutong, Marudi dan Brunei, juga kawasan-kawasan pedalaman di sekitarnya. Kawasan ini kebanyakannya dari suku kaum Kenyah, Kayan, Punan, Kelabit, Dusun Tutong@Bisaya, Lundayeh, Murut, Kedayan dan Brunei.
SEMUT III
Dipimpin oleh Captain W.L.P. Sochon.
Kawasan operasinya di seluruh lembangan Sungai Rajang, di kawasan yang kebanyakannya dari suku kaum Iban, Bidayuh dan Melanau.
SEMUT IV 
Dipimpin oleh Major Bill Jinkin.
Kawasan operasinya di sekitar Bintulu dan Mukah. Iban, Melanau, Bidayuh dan Melayu.



Operasi Semut merupakan pergerakan gerila untuk melawan Jepang, dengan cara merekrut penduduk peribumi Borneo serta melatih mereka menggunakan senjata api. Operasi SEMUT berhasil melatih kira-kira 2000 orang Dayak pedalaman dari pelbagai suku yang ada di Sarawak-Brunei-Sabah untuk menjadi gerilawan.
Sepanjang Operasi Semut, 2800 tentara Jepun berhasil dibunuh dan 300 yang lain ditawan.
Beberapa anggota pasukan ini bahkan hanya menggunakan sumpit dan Mandau untuk melawan Jepang, dengan menggunakan taktik perang tradisional.



Sumber: https://web.facebook.com/pulaudayak2/photos/a.495981193914573.1073741828.495977887248237/742073049305385/?type=3&theater

Rabu, 18 Oktober 2017

Kesabaran dalam Ajaran Buddha




Tiga Jenis Kesabaran

       "Kesabaran adalah kebajikan," demikian kalimat bijak.
Jadi, apa kita  harus tersenyum meringis saja dan menanggung segalanya?
Kesabaran dalam  ajaran Buddha merupakan laku berdaya yang tidak berarti bahwa kita  menepa-selira segala hal, tetapi kita giat mengupayakan kesadaran kita untuk  memastikannya tidak jatuh ke dalam perasaan gelisah. Kesabaran memberi  kita kekuatan untuk berupaya memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang  lain, dan merupakan salah satu anasir yang mendorong langkah kita  menuju kebebasan dan pencerahan. 
Sikap menjangkau-jauh (kesempurnaan/paramita) ketiga adalah kesabaran,  suatu tataran citta, yang membuat kita tidak marah dan mampu menahan  berbagai kesulitan dan duka. Boleh saja kita diterpa segala celaka dari  orang lain, tapi hal itu tidak mengusik kita. Tidak berarti bahwa kita  tidak lagi punya musuh atau orang-orang yang mencoba mencelakai kita,  tapi itu berarti kita tidak marah, gusar, lesu semangat, atau sungkan  untuk menolong mereka.
Kalau kita selalu hilang sabar, bagaimana mungkin  kita bisa sungguh-sungguh menolong orang lain?

Ada tiga jenis kesabaran  di dalam sikap ini:
1. Tidak Kesal dengan Orang yang Mencelakai
Jenis kesabaran yang pertama adalah tidak kesal dengan orang yang  mencelakai.
Maksudnya di sini, bukan hanya orang-orang yang bertindak  negatif, tetapi juga mereka yang betul-betul jahat kepada kita, yang  memperlakukan kita dengan buruk, dan mencelakai kita, baik secara lahir  maupun batin. Bahkan termasuk orang-orang yang tidak berterima kasih  atau menghargai kita. Khususnya ketika kita menolong orang lain, amat  penting bagi kita untuk tidak marah pada mereka ketika mereka tidak  menerima nasihat kita atau ketika nasihat itu tidak berhasil. Ada banyak  orang yang amat sangat sulit ditolong; sehingga, alih-alih hilang sabar,  kita harus tahan menanggung semua kesulitan yang ada.
Kalau kita guru, kita tidak boleh kehilangan kesabaran kita terhadap  murid-murid kita, tidak peduli seberapa lambat atau tidak cerdas si  murid itu. Sebagai guru, baik yang mengajar Dharma atau lainnya, kita seyogianya mampu bersabar dan tidak gusar. Seperti mengajar seorang bayi: kita harus terampil; tidak bisa kita harap si bayi belajar secepat  orang dewasa.
2. Tahan Menanggung Duka
Jenis kesabaran yang kedua adalah menerima dan menanggung duka kita  sendiri – hal yang banyak dibicarakan oleh Shantidewa. Ia berkata, kalau  kita ada masalah yang dapat diselesaikan, tidak ada gunanya kita marah,  kesal, atau khawatir. Lakukan saja hal yang perlu dilakukan untuk  menyelesaikannya.
Namun, jika tidak ada yang dapat kita lakukan untuk  mengurus masalah itu, buat apa marah? 
Tidak ada gunanya. 
Seperti kalau  suhu udara dingin dan kita punya baju hangat. Buat apa kita mengeluh dan  marah karena suhunya dingin kalau kita bisa menambah lapis baju kita? 
Kalau kita tidak punya baju hangat, kesal dan marah juga tidak akan  menghangatkan badan kita.
Kita juga dapat melihat duka yang kita alami sebagai tanda terbakar  habisnya rintangan negatif.
Kita senang karena karma negatif tersebut  matang sekarang, dan bukan besok-besok dalam keadaan yang lebih parah.  Jadi, kita seperti terlepas dari karma dengan cara yang lebih ringan. 
Kalau kaki kita terantuk meja di ruang gelap dan rasanya sakit sekali –  ya, itu bagus, karena masih untung kaki kita tidak patah!
Cara pikir  seperti ini dapat membantu kita untuk tidak marah.
Lagi pula,  mengaduh-aduh dengan cara berlebihan ketika kaki kita sakit karena  terantuk pun tidak akan ada gunanya. Sekali pun ibu kita datang dan  mengusap-usapnya, sama saja, tetap sakit rasanya.
Sama juga ketika kita sedang mencoba mengerjakan sesuatu yang sangat  positif dan membangun, seperti saat kita memulai undur-diri panjang,  melakukan perjalanan untuk menolong orang lain, atau menyumbang tenaga  di sebuah kerja Dharma. Jika banyak rintangan dan kesulitan yang terjadi  di awal-awal, sebenarnya itu pertanda bagus. Ibaratnya, semua rintangan  terbakar habis sehingga sisanya akan berlangsung lancar. Kita  semestinya senang karena rintangan itu terbakar habis sekarang, daripada  jadi perkara yang lebih besar kelak.

       Shantidewa berkata bahwa duka dan masalah pun punya sifat baik.
Bukan  berarti kita jadi cari-cari masalah untuk menyiksa diri, tetapi saat  kita berduka, ada berbagai sifat baik yang dapat kita mengerti di situ.  Duka menipiskan kepongahan kita dan membuat kita jadi lebih rendah hati.  Duka juga membantu kita untuk mengembangkan welas asih (iba) bagi orang  lain yang didera masalah yang sama.
Kalau kita terjangkit penyakit  tertentu, rasanya seperti ada rasa memahami dan welas asih yang muncul  secara alami bagi sesama penderita.
Ketika kita tua, akhirnya kita dapat  betul-betul memahami sakitnya usia lanjut. Biasanya tidak bisa kita  berwelas asih kepada orang-orang lansia saat kita masih berusia 16 tahun  karena kita tidak bisa paham seperti apa rasanya usia 70 tahun itu.  Namun ketika kita sudah sampai ke titik usia itu dan mengalaminya semua,  maka kita jadi sangat berwelas asih dan berpengertian terhadap orang  lansia.
Juga, jika kita memahami sebab dan akibat berperilaku – karma – maka  ketika kita berduka, kita diingatkan untuk menghindari tindakan merusak. 
Mengapa?
Karena bertindak negatif adalah sebab bagi duka.
Kita jadi  didorong untuk lebih erat melibatkan diri pada tindakan membangun, yang  merupakan sebab dari kebahagiaan.
3. Tahan Menanggung Kesukaran Demi Dharma
Jenis kesabaran ketiga adalah tahan menanggung kesukaran yang ada ketika  mempelajari dan menjalankan Dharma. Berupaya mencapai pencerahan itu  butuh waktu yang begitu panjang dan daya upaya yang luar biasa besar,  dan kita harus makul (realistis) mengenai hal itu dan tidak lesu  semangat: kita harus bersabar dengan diri sendiri.
Penting sekali untuk memahami dan menerima bahwa sifat samsara itu naik  dan turun, bukan hanya dalam hal kelahiran kembali yang lebih tinggi dan  lebih rendah, tetapi secara umum memang senantiasa begitu. Kadang kita  merasa ingin berlatih, kadang tidak. Kadang latihan kita berjalan baik,  kadang tidak.
Mau bagaimana lagi?
Memang seperti itu lah samsara. 
Keadaan tidak akan selalu semakin baik setiap hari, jadi kita perlu  bersabar dan tidak lantas menyerah ketika hari kita tidak berjalan sesuai rencana.
Mungkin kita pikir kita telah menangani amarah dan tidak  akan pernah tersulut marah lagi, tetapi kemudian, tiba-tiba, sesuatu  terjadi dan kita marah lagi. Ya hal seperti itu memang bisa terjadi.  Amarah kita tidak akan tersingkirkan sepenuhnya sampai kita menjadi  orang yang terbebaskan, seorang Arahat. Jadi, kesabaran adalah kuncinya.

Shantidewa tentang Mengembangkan Kesabaran
Shantidewa menjelaskan sejumlah cara untuk mengembangkan kesabaran di dalam Memasuki Perilaku Bodhisattwa.
Mari kita lihat beberapa contohnya:
Kalau tangan kita terbakar api, kita tidak bisa marah pada api itu karena panasnya.
Itu memang sudah sifat api.
Demikian pula, mau bagaimana lagi dengan samsara?
Tentu saja orang akan mengecewakan kita,  orang akan melukai kita, segala sesuatu akan sulit adanya. Kalau kita  minta orang untuk melakukan sesuatu buat kita, kita harus sudah siap  bila ia mengerjakannya dengan keliru.
Kalau mereka mengerjakannya tidak dengan cara yang kita suka, itu salah siapa?
Itu salah kita sendiri karena terlalu malas dan meminta mereka yang mengerjakan.
Kalau pun kita  harus marah, kita harus marah pada kemalasan kita sendiri!
"Mau harap apa dari samsara" adalah kalimat berguna untuk diingat bagi  semua jenis kesabaran yang perlu kita kembangkan.
Apa kita pikir  kehidupan ini akan mudah dan segala hal akan berjalan lancar, selalu  untuk selamanya? Sifat dari setiap saat dari kehidupan kita adalah  samsara – dan itu sama dengan duka dan masalah yang berulang tanpa  terkendali. Jadi ketika keadaan tidak seperti yang kita inginkan, atau  orang menyakiti atau mengecewakan kita, tidak usah kaget.
Mau bagaimana  lagi?
Inilah sebab mengapa kita ingin keluar dari samsara itu.

Ibarat mengeluhkan bahwa musim salju itu gelap dan dingin.
Ya, mau  bagaimana lagi, namanya juga musim salju, tidak mungkin kita berharap  cuacanya baik, hangat, dan kita bisa mandi sinar matahari. Sama seperti  api yang sifatnya panas, dan tangan kita akan terbakar kalau terjilat lidahnya, musim salju itu akan gelap dan dingin. Jadi tidak ada gunanya  marah.
Cara lain yang dianjurkan Shantidewa adalah memandang orang lain seolah-olah mereka itu orang gila atau masih bayi.
Kalau orang gila atau  orang teler membentak kita, bila kita balas bentak, kita lebih gila  atau mabuk dari mereka, bukan?
Kalau anak kita yang usianya masih dua  tahun menjerit "Aku benci Mama/Papa!" ketika kita matikan televisi dan  menyuruhnya tidur, apakah itu kita masukkan ke dalam hati dan kemudian  marah dan kesal karena dia membenci kita?
Tidak, karena dia masih bayi. 
Kalau kita dapat melihat orang lain yang berbuat jahat seolah mereka itu  bayi yang sedang rewel atau orang gila, cara itu dapat membantu kita  untuk tidak marah pada mereka.

Selain itu, kalau seseorang menyusahkan kita, sangat berguna bila kita  memandang mereka sebagai guru kita. Kita semua tentu punya satu orang  menjengkelkan yang tampaknya tidak pernah bisa kita hindari, bukan?  Kalau kita sedang bersama mereka, pikirkan, "Orang ini adalah guru kesabaranku." Malah, kalau orang tidak membuat kita jengkel atau susah,  kita tidak akan pernah mampu belajar sabar, kita tidak pernah ditantang. 
Jadi, kita dapat melihat mereka ini sebagai orang yang amat baik karena  justru mereka memberi kita kesempatan. Yang Mulia Dalai Lama selalu  berkata bahwa para pemimpin negara Tiongkok adalah gurunya, dan bahwa  Mao Zedong adalah guru kesabarannya yang paling luar biasa.
Ringkasan
Setiap hari kita terpaku pada samsara, kita akan berjumpa dengan  permasalahan dan kegusaran. Kadang, keadaan berlangsung persis seperti  yang kita mau, dan kadang hidup ini serasa terpelintir di luar kendali.  Setiap upaya punya kemungkinan gagal, setiap teman punya kemungkinan  menjadi musuh. Tidak peduli seberapa banyak sudah kita tolong sahabat  kita, bisa saja ternyata dia menjelek-jelekkan kita di belakang.
Dalam keadaan semacam ini, tampaknya lumrah saja kalau kita marah, yang mendorong kita untuk yakin bahwa kalau musuh hancur kita akhirnya akan  menemukan kedamaian yang kita dambakan. Sayangnya, sekali pun kita  hancurkan musuh bebuyutan kita hari ini, besok dan lusa musuh baru akan  muncul.
Shantidewa menasihati kita untuk menutupi kaki kita sendiri ketimbang mencoba menutupi seisi planet ini dengan kulit. 
Artinya, tidak ada gunanya kita mencoba mengatasi semua musuh di luar  diri kita ketika yang paling perlu kita perbuat adalah menghancurkan  musuh di dalam diri kita sendiri – amarah.
Kulit di sini mengacu pada  kesabaran, jalan keluar yang membimbing kita untuk tahan menanggung  kesukaran yang ditimpakan orang lain kepada kita, dan kita akan kita  temukan di jalan kita menuju kebebasan.

Shantidewa atau Shantideva (nama lain Śantideva, Zh: 寂天) adalah seorang cendekiawan Buddhis yang berasal dari India pada abad ke-8. Ia adalah cendekiawan Universitas Nalanda dan seorang penganut filsafat Prasangika Madhyamaka.

Sumber: lupa :P

Hubungan Psychotherapist & Neuroscientist, Sains dan Keagamaan dengan Dharma Buddha.

   

    “Mengapa ajaran Buddha?”
Penting bagi kita untuk memahami terlebih dahulu bahwa ketika kita berbicara tentang Ajaran Buddha, kita akan menemukan banyak sisi yang berbeda untuk itu. Di satu sisi terdapat sisi-sisi yang bisa kita sebut sebagai Sains dan hubungannya dengan pandangan Buddha, Psychotherapist & Neuroscientist dalam Dhamma Buddha, dan Buddha dalam konteks keagamaan (Keagamaan Buddha).

Ketika kita berbicara tentang Sains, ini mengacu pada hal-hal yang logic; bagaimana kita mengetahui sesuatu hal, dan utamanya  pandangan tentang kenyataan_bagaimana alam semesta terjadi, materi dan energi, dlsb.,  hal-hal semacam hubungan antara zat. Semua ini berhubungan dengan pokok-pokok sains, dan ajaran Buddha memiliki banyak  hal untuk ditawarkan dalam ranah-ranah tersebut.
Sedangkan Psychotherapist & Neuroscientist dalam Pandangan Buddha berhubungan dengan berbagai macam tataran  perasaan, terutama perasaan-perasaan gelisah yang menyebabkan banyak sekali ketidak-bahagiaan pada kita (kemarahan, kecemburuan, keserakahan, dst.).
Dan ajaran Buddha sangat kaya dalam cara-cara untuk menghadapi masalah-masalah yang muncul dari perasaan-perasaan gelisah ini.
Keagamaan Buddha, di sisi ini, berhubungan dengan berbagai unsur  upacara, mantra, doa-doa; ini menyangkut pokok-pokok seperti kelahiran kembali. 
Dan itu pun merupakan ranah yang sangat kaya.

Ketika kita bertanya; “Mengapa ajaran Buddha?"
"Apa yang kita butuhkan  dari ajaran Buddha di dunia kontemporer ini?”
Maka kita perlu melihat secara khusus pada hubungan Sains dan Dhamma Buddha serta hubungan antara Psychotherapist dengan Dhamma Buddha.
Jika ada yang tertarik pada sisi-sisi yang lebih bersifat keagamaan pada ajaran Buddha, itu juga bagus; tak masalah. Tapi pada umumnya  tidaklah mudah berpindah ke agama lain jika kita dibesarkan dalam satu agama, dan bagi kebanyakan orang ini menyebabkan pertentangan dalam diri  mereka, pertentangan kesetiaan, dan khususnya bisa menyebabkan masalah/konflik pada waktu yang cukup lama. Kita akan menjadi sangat bingung tentang apa yang sebenarnya kita percaya.
Oleh karena itu, kita perlu sangat berhati-hati sebagai orang yang tumbuh dalam budaya dan tradisi-tradisi turun-temurun dan lalu tiba-tiba memilih berpaling ke sisi-sisi keagamaan Buddha, karena ada masalah-masalah lain yang bisa muncul di sana, seperti takhyul dan mengharapkan hal-hal ajaib dari upacara-upacara Keagamaan Buddha, dlsbg.
Jadi  jauh lebih baik, lebih disarankan, setidaknya pada permulaan, untuk  memusatkan pada sisi-sisi Sains dan ilmu kejiwaan/psikologi Buddha terlebih dahulu. Ini adalah ranah-ranah yang bisa dipadukan dengan sangat baik ke dalam tradisi-tradisi atau kehidupan modern manapun dengan sedikit pertentangan.

Mari kita meninjau sebagian kecil sisi-sisi Sains dan kesamaannya dengan Dhamma Buddha.

Sains Buddha

Mantiq (Bahasa Arab) atau Logic (Bahasa Inggris). diambil dari kata”Logos” bahasa Yunani.
adalah alat atau dasar yang penggunaannya akan menjaga kesalahan dalam berpikir.
Lebih jelasnya, Mantiq merupakan upaya agar seseorang dapat berpikir dengan cara yang benar, sehingga seseorang yang menggunakannya akan selamat dari cara berpikir salah.
Manusia sebagai makhluk yang berpikir tidak akan lepas dari berpikir. Namun, saat berpikir, manusia seringkali dipengaruhi oleh berbagai tendensi, emosi, subyektifitas dan lainnya sehingga ia tidak dapat berpikir jernih, logis dan obyektif. Mantiq merupakan upaya agar seseorang dapat berpikir dengan cara yang benar, tidak keliru.
Mantiq atau berpikir logis, masuk akal, logika, adalah bagian yang sangat penting dari latihan Dhamma Buddha, bahkan ajaran ini bisa dipelajari dalam kerangka adu pendapat.

Lalu apa  tujuan adu pendapat?
Tujuan adu pendapat bukanlah untuk mengalahkan lawan Anda, untuk membuktikan bahwa lawan Anda salah. Pokok dari adu pendapat adalah ada sekelompok orang yang menyatakan suatu kedudukan atau pemahaman tertentu pada salah satu dari ajaran-ajaran, dan orang lainnya menantang pemahaman mereka dan  berusaha menguji orang itu untuk melihat seberapa teguh mereka dalam  pemahaman itu.
Jika Anda meyakini ini atau itu, maka logikanya hal lain muncul dari itu.
Dan jika apa yang muncul dari itu adalah 'omong kosong', 'tidak masuk akal', dst, maka itu berarti ada yang salah dengan pemahaman Anda.
Ini  sangat penting !!
Karena jika kita berusaha memahami sesuatu secara mendalam menyangkut kebenaran-kebenaran mendasar dari kenyataan, misalnya ketidak-tetapan, maka kita ingin memikirkannya secara mendalam dan menjadikannya bagian dari cara kita memandang dunia.
Segala sesuatu berubah dari waktu ke waktu, dan itulah hal yang penting untuk dipahami dalam kerangka kedamaian batin kita.
Sebagai  contoh;
Kita membeli komputer baru, dan pada akhirnya komputer itu  rusak, dan kita menjadi sangat gusar: “Mengapa harus rusak?” dan sebagainya. Tapi jika Anda berpikir tentang itu secara logika, alasan  komputer itu rusak adalah karena benda itu dibuat. Karena komputer itu  dibuat dari begitu banyak bagian dan begitu banyak benda yang saling terhubung, maka komputer itu sangat tidak kokoh, dan tentu saja pada  suatu saat komputer itu akan rusak.
Bahkan ketika kita bertemu seseorang dan kita mengembangkan  pertemanan yang kuat atau bahkan hubungan dekat, pada akhirnya hubungan itu berakhir, maka akan timbul pertanyaan;
"Mengapa hubungan itu berakhir?"
"Mengapa hubungan itu putus?", dlsbg.
Kita putus karena kita bertemu !!.

Setiap waktu setelah kita bertemu, unsur-sebab dan keadaan dalam kehidupan kita dan orang itu berubah. Unsur-sebab yang mendukung pertemanan awal kita tidak ada lagi, dan pertemanan itu bergantung pada semua keadaan tersebut, jadi ketika  keadaan itu berakhir, yaaa.., tentu saja hubungan itu akan berakhir, karena  keadaan-keadaan yang mendukungnya telah berubah.
Jadi, peristiwa terakhir yang bagi kita menjadi penyebab putusnya hubungan itu, misal percekcokan, adalah satu-satunya keadaan yang mengakibatkan pertemanan itu berakhir.
Jika bukan keadaan ini, itu pastilah hal lain.
Tapi sebab sebenarnya hubungan itu berakhir adalah karena hubungan itu  dimulai.

Demikian juga dalam kerangka kehidupan kita (inilah sikap Sang Buddha terhadap kematian):
Apa alasan kita mati?
Alasannya adalah karena kita  dilahirkan.
Penyakit atau kecelakaan hanyalah unsur-sebab kematian.
Jika  Anda lahir, Anda mati !!.
Sederhana.
Itulah kenyataan.
Inilah sisi-sisi Sains Buddha, dan ini mantiqi, logika, kenyataan.
Jadi, jika dalam sebuah adu pendapat, lawan Anda akan menguji pemahaman Anda tentang ini dan berusaha menemukan celah-celah dalam penjelasan Anda:
“Ya, Anda bisa berkata, ‘Jika aku tidak memakan ini atau tidak pergi ke tempat ini, aku tidak akan mati.’”
Sedangkan lawan Anda akan berkata, “Ya, tapi di sana mungkin ada unsur-sebab lain.
Karena kamu lahir, kamu akan mati.”

Demikianlah., melalui akal pikiran, melalui adu pendapat, orang akan sampai pada pemahaman pasti tanpa keraguan apapun (“Apakah begini, atau begitu?”). Dengan cara ini, pemahaman kita menjadi sangat kokoh, sangat teguh.  Apabila setelah itu kita melakukan meditasi atau hal lain, cara ini  menjadi jauh lebih manjur. Jadi jenis pembahasan, adu pendapat, dan berpikir logis ini sangat membantu siapapun dalam keadaan apapun.
Seringkali  kita berpikir dengan cara-cara yang sangat tidak jernih; kita tidak  memikirkan akibat dari tindakan kita atau akibat dari cara berpikir kita. Jika kita bisa belajar untuk berpikir secara logika, melihat sebuah kejadian sebagai kenyataan, masalah-masalah dalam hidup kita akan jauh berkurang.
Inilah satu sisi dari Sains Buddha.

Dalam kerangka kenyataan, satu pokok yang telah kita bahas adalah tentang ketidak=kekalan.
Segala sesuatu berubah dari waktu ke waktu dan bergerak semakin dekat dan semakin dekat menuju titik  akhirnya.
Inilah kenyataan.
Inilah kebenaran tentang umur kita.
Kita  bisa berpikir, “Oh, setiap hari aku semakin tua” dan berpikir,  “Baiklah”, tapi berapa banyak dari kita yang setiap hari berpikir bahwa:  “Aku semakin dekat dengan kematianku.
Itu juga kenyataan bukan?
Itulah kenyataan !!
Tapi jika kita  menyadari itu, bahwa setiap hari kita semakin dekat dengan kematian kita dan bahwa kematian bisa terjadi kapanpun_yang adalah benar, maka kita tidak akan menyia-nyakan waktu kita. Kita tidak akan menunda  sesuatu sampai besok, besok, besok, tapi kita menggunakan hidup kita  secara bermakna. Dan yang paling bermakna adalah berusaha bermanfaat  bagi orang lain.
Inilah kenyataan !!.
Dan sangatlah berguna untuk berpikir, “Jika ini adalah hari terakhirku, apa yang ingin kulakukan pada hari  terakhir ini? Bagaimana aku menggunakannya secara bermakna?”
Kita  tidak pernah tahu kapan hari terakhir kita.
Kita bisa saja tertabrak  mobil ketika meninggalkan ruangan.
Ini TIDAK dimaksudkan untuk  membuat tertekan; ini dimaksudkan supaya kita menggunakan waktu  kita secara jauh lebih bermakna.

Mari mengambil contoh lain dalam kerangka kenyataan.
Bayangkan kita berada dalam sebuah lift bersama sepuluh orang lain, dan lift itu macet. Aliran listriknya putus, dan kita terjebak di dalam lift bersama sepuluh orang itu sepanjang hari.
Bagaimana kita akan menghadapi semua orang itu?
Jika kita mulai bertengkar, jika kita mulai berdebat, dan seterusnya, keadaan di lift itu akan menjadi seperti neraka.
Satu-satunya cara bisa selamat adalah apabila semua orang saling membantu, rukun, dan bersikap baik satu sama lain, karena kita semua sama-sama terjebak !!
Kita semua terjebak dalam  keadaan yang sama.
Ini mantiq !!
Ini masuk akal, bukan?
Kemudian coba kita kembangkan lagi ke seisi planet: seisi planet ini ibarat lift yang besar bernama planet bumi, dan kita semua terjebak di planet ini. Jika kita saling berdebat  dan bertengkar dengan orang lain, keadaan hanya menjadi menyedihkan bagi semua orang.
Maka satu-satunya cara agar kita bisa selamat adalah  semua orang bersikap bersahabat dan baik dan membantu satu sama lain,  karena kita semua di sini dan kita semua berada dalam keadaan yang sama.  Kita menghirup udara yang sama; kita berbagi laut, air, dan daratan  yang sama.
Kita semua berada dalam lift yang sama, di planet yang sama, Planet Samsara.
Demikianlah.
Inilah kenyataan yang sejalan jika kita menggunakan akal dan berpikir logis.

Kita memiliki banyak khayalan dan pembayangan.
Kita  bayangkan kita dan orang-orang dan dunia ini menjadi ada dengan segala macam cara yang mustahil. Kita membayangkan itu, dan tampak seolah-olah  seperti inilah hal-hal itu menjadi ada, tapi ini tidak sesuai dengan kenyataan;  ini hanyalah khayalan kita, pembayangan kita.

Sebagai contoh;
Saya mungkin berpikir bahwa saya bisa melakukan suatu  tindakan dan ini tidak memiliki akibat apapun. Jadi, “Aku bisa saja  tidak mencari pendidikan yang baik, aku bisa saja bermalas-malasan, dan  ini tidak akan berakibat apapun pada hidupku; aku tetap akan sukses.”  Atau bahwa “Aku bisa saja terlambat, atau aku bisa saja berkata kejam  kepadamu, dan ini tidak akan berakibat apapun.” Banyak orang menganggap  orang lain tidak punya rasa. Mereka tidak pernah berpikir bahwa apa yang  mereka katakan mungkin melukai orang lain. Jadi “Aku bisa saja  terlambat, dan itu tidak masalah.” Ya, ini bukan kenyataan. Ini adalah  pembayangan khayalan tentang sebab dan akibat.
Tapi kenyataannya adalah  semua orang memiliki rasa, seperti saya, dan apa yang saya katakan dan  bagaimana saya bertindak terhadap Anda akan memengaruhi rasa-rasa Anda,  seperti bagaimana Anda memperlakukan saya dan bicara kepada saya  memengaruhi rasa-rasa saya. Itulah kenyataan, bukan? Semakin kita  memahami itu dan tetap mewaspadai itu, semakin kita memiliki kepedulian  terhadap orang lain. Kita peduli tentang bagaimana kita berpengaruh  terhadap mereka, dan oleh karenanya kita mengubah perilaku kita.
Atau saya bisa membayangkan bahwa saya ada secara bebas dari orang  lain.
Ini juga bukan kenyataan, bukan?
Jika saya berpikir seperti itu,  maka saya akan berpikir, “Aku semestinya selalu mendapatkan yang  kuinginkan. Aku adalah orang yang paling penting. Jadi aku semestinya  selalu dilayani lebih dulu sebelum orang lain di restoran ini,” dan jika  kita tidak mendapat apa yang kita inginkan, kita menjadi sangat buncah,  sangat marah. Tapi masalahnya tentu saja adalah semua orang berpikir  bahwa mereka orang yang paling penting dan tak seorang pun akan setuju  bahwa kita yang paling penting. Ini adalah pembayangan kita. Ini adalah  khayalan kita. Ini bukan kenyataan. Tak seorang pun menjadi pusat alam  semesta. Tak seorang pun menjadi yang paling penting. Kita semua setara  dalam arti bahwa semua orang ingin disukai, tak seorang pun ingin tidak  disukai. Semua orang di restoran yang menunggu untuk dilayani ingin  menyantap makanan mereka, bukan hanya aku. Semua orang yang menunggu di  kantor dokter ingin mendapat giliran, bukan hanya aku. Kita setara.  Sekali lagi inilah kenyataan.

Sains Buddha dan Sains Barat
Ini adalah bagian dari sains Buddha, memahami kenyataan dan oleh  karenanya mengubah perilaku kita. Tentu saja ada unsur-unsur lain dalam  ajaran Buddha tentang kenyataan. Sangat menarik bagaimana para ilmuwan  Barat mulai mendapati bahwa banyak pokok dalam sains Buddha adalah benar  – cara-cara pandang yang berbeda pada hal-hal yang belum mereka tinjau  sebelumnya.
Sebagai contoh, dalam sains Barat kita memiliki hukum kekekalan zat  dan energi: zat dan energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan,  hanya berubah bentuk. Jika kita berpikir dalam kerangka itu, yang  mengikuti secara mantiqi adalah bahwa tidak ada awal dan tidak ada  akhir. Ketika kita berpikir dalam kerangka Big Bang, maka kita mungkin  berpikir Big Bang tidak berasal dari apapun – ia bermula dari ketiadaan –  tapi sudut pandang Buddha mengatakan ada sesuatu sebelum Big Bang.  Ajaran Buddha tidak bermasalah dengan Big Bang sebagai awal dari alam  semesta ini, tapi telah ada alam semesta yang tak terhitung sebelumnya,  dan akan ada alam semesta-alam semesta yang tak terhitung setelahnya.  Dan sains Barat perlahan-lahan juga mulai berpikir dalam kerangka ini.  Ini juga mantiq dari sudut pandang mendasar sains Barat.
Lagi-lagi di  sini kita sampai pada mantik.
Jika Anda percaya bahwa zat dan energi  tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan tapi hanya berubah bentuk,  maka Anda sepenuhnya tidak teguh secara mantik apabila menyatakan, “Tapi  alam semesta ini berawal dengan Big Bang.” Ini adalah contoh yang jelas  dari penerapan mantik Buddha dan adu pendapat pada pandangan-pandangan  yang kita miliki dalam sains Barat.
Salah satu pernyataan utama dalam sains Buddha adalah hubungan antara  citta dan zat.
Citta dan zat saling berkaitan.
Anda tidak bisa  menyempitkan citta hanyalah otak atau suatu reaksi kimiawi.
Anda tahu,  masalahnya adalah ketika Anda menggunakan kata citta, Anda cenderung memikirkannya sebagai suatu benda, tapi itu bukan wawasan Buddha. Wawasan Buddha berbicara tentang kegiatan batin. Dan kegiatan  batin_yang berarti mengetahui hal-hal_bisa kita jelaskan sebagai  suatu reaksi kimiawi dan kelistrikan di dalam otak, tapi kita juga bisa  kita gambarkan dari sudut pandang pengalaman, dan sudut pandang  pengalaman inilah yang kita bicarakan ketika kita bicara tentang  citta.
Para ilmuwan kedokteran menemukan yang dikatakan ajaran Buddha adalah  benar, bahwa tataran citta kita, mutu dari pengalaman hidup kita, akan  memengaruhi kesehatan ragawi kita. Jika kita memiliki kedamaian citta,  ketenangan batin... Itu berarti terbebas dari selalu khawatir dan  mengeluh dan berpikir secara sangat negatif dan pesimistis. Jika kita  berpikir dalam cara-cara negatif, ini berbahaya bagi kesehatan.  Sedangkan jika kita bersikap optimistis, baik, dan memikirkan orang  lain, ramah, tenang – ini memperkuat tata guna kekebalan tubuh kita, dan  ini mendukung bagi kesehatan yang lebih baik. Sains kedokteran, di  berbagai pusat di seluruh dunia, melakukan penelitian tentang ini, dan  mereka mendapati bahwa yang dikatakan ajaran Buddha adalah benar, bahwa  tataran citta kita memengaruhi tubuh, jadi ini memengaruhi zat. Dan kini  di Barat, kita memiliki banyak kegiatan dengan menggunakan apa yang kita  kenal sebagai meditasi “kewaspadaan” untuk mengendalikan rasa sakit  untuk membantu orang-orang mengatasi tekanan, rasa sakit,  keadaan-keadaan sulit.
Ini pada dasarnya mempertahankan pemusatan pada  pernapasan, yang menjaga kita tetap tenang.
Ini menghubungkan kita  dengan bumi, sedikit banyak, pada unsur ragawi, sehingga Anda tidak  terlalu buncah tentang berpikir, “Aku, aku, aku dan rasa sakitku dan  kekhawatiranku” dan “Aku sangat buncah.” Ini menenangkan seseorang dan  amat sangat membantu untuk pengendalian rasa sakit. Jadi kita pastinya  tidak perlu menganut agama Buddha agar mendapat manfaat dari cara-cara  semacam itu.
Demikianlah sains Buddha.

Ilmu Kejiwaan (Psikologi) dalam Dhamma Buddha

Ilmu Kejiwaan Buddha berhubungan dengan bagaimana kita mengetahui hal-hal,  dengan kata lain sains pengetahuan (perbedaan antara kejiwaan dan sains  tidak begitu kaku). Jadi kita memiliki kajian tentang cara-cara  mengetahui – bagaimana kita mengetahui sesuatu? – dan juga memiliki cara  berhadapan dengan masalah-masalah perasaan. Inilah dua ranah kejiwaan dalam pandangan Buddha.
Cara-Cara Mengetahui Hal-Hal
Hal yang sangat penting adalah mampu mengenali perbedaan antara  cara-cara yang sah dalam memahami dan cara-cara yang tidak sah dalam  memahami atau mengetahui hal-hal. Ajaran Buddha memiliki banyak  penjelasan tentang ini. Cara yang sah untuk mengetahui hal-hal diartikan  sebagai suatu cara mengetahui yang tepat dan tegas. Tepat berarti bahwa  sesuatu itu benar – sesuatu itu sesuai dengan kenyataan, ia bisa  dibenarkan oleh orang lain. Dan tegas berarti bahwa kita yakin, kita  pasti. Ini bukan tataran citta: "Ya, mungkin seperti ini, atau mungkin  seperti itu, tapi aku tidak benar-benar tahu."--------------------------------------------------------------------
Jadi apa cara yang sah untuk mengetahui hal-hal? Kita bisa  melakukannya dengan yang dikenal sebagai pencerapan lugas. Ini adalah  melihat, mendengar, membaui, mencecap, dan merasakan suatu sensasi  ragawi (dan kita juga bisa mengalami ini dalam mimpi, maka ini adalah  batin). Jadi ketika kita melihat seseorang, ini harus sah. Ini tidak  selalu sah: "Kupikir aku melihat sesuatu di sana, tapi aku tidak yakin."  "Kupikir aku melihatmu dalam kerumunan itu, tapi aku tidak yakin.  Kupikir aku melihatmu, tapi ternyata itu orang lain.” “Kupikir kamu  mengatakan ini, tapi mungkin aku salah dengar.” Itu tidak sah, bukan?  Ini tidak tepat dan tegas.
Dan di sana bisa saja ada banyak sebab terjadinya penyimpangan.  Seperti jika saya melepas kacamata saya dan yang saya lihat hanya  sesuatu yang kabur di depan saya. Tapi sesuatu itu tidak kabur, bukan?  Ada yang salah dengan mata saya, dan itulah mengapa sesuatu itu tampak  menyimpang. Jika saya bertanya pada orang lain, "Apakah Anda melihat  sesuatu yang kabur di sana?" Mereka akan mengatakan tidak, sehingga saya  akan tahu bahwa ini adalah salah.
Jadi kita memiliki pencerapan lugas, dan di sini kita berbicara tentang pencerapan yang tepat dan tegas.
Yang juga sah adalah pemahaman penyimpulan. Ini pun harus cara yang  sah, bukan cara yang keliru. Penyimpulan. Penalaran. "Di mana ada asap  di situ ada api" adalah contoh bakunya. Anda melihat asap keluar dari  cerobong di gunung yang jauh. Jadi kita memiliki pencerapan yang sah –  Anda melihat asapnya – dan kita dapat menyimpulkan api (kita tidak  benar-benar melihat apinya). Di mana ada asap, pasti ada api. Jadi itu  sah.
Tapi ada beberapa hal yang tidak bisa Anda ketahui dengan mantik,  seperti nama orang yang tinggal di rumah itu, dan untuk itu Anda perlu  sumber keterangan yang sah. Itu juga merupakan jenis penyimpulan – bahwa  orang ini adalah sumber keterangan yang sah, oleh karena itu yang  mereka katakan adalah benar. Contoh terbaik untuk itu adalah: "Kapan  hari ulang tahunku?" Tidak mungkin kita tahu hari ulang tahun kita  dengan sendirinya. Satu-satunya cara kita mengetahui hari ulang tahun  kita adalah dengan bertanya pada ibu kita atau melihat catatan, itulah  sumber keterangan yang sah.
Ada banyak rupa penyimpulan. Ada penyimpulan berdasarkan kaidah yang  sudah dikenal luas: Anda mendengar bunyi. Bagaimana Anda tahu bahwa itu  sebuah kata? Dan bagaimana Anda tahu apa makna kata itu? Itu adalah  proses yang sangat menakjubkan jika Anda memikirkannya. Kita hanya  mendengar bunyi, tapi karena kita mengetahui kaidah tertentu, ketika  mendengar bunyi ini kita menyimpulkan bahwa itu adalah bunyi dari sebuah  kata, dan kita menyimpulkan bahwa bunyi ini memiliki makna tertentu.  Tentu saja kita harus memeriksa karena kadang-kadang kita berpikir bahwa  seseorang memiliki suatu maksud dari apa yang ia katakan padahal  sebenarnya yang dimaksud orang itu sama sekali berbeda.
Inilah yang kita bicarakan ketika kita berbicara tentang sisi  kejiwaan Buddha ini, sains pengetahuan. Kita harus memeriksa. "Aku  menyimpulkan dari apa yang kamu katakan bahwa inilah yang kamu maksud,  tapi apakah ini benar atau tidak?" Sangat sering kita salah memahami apa  makna ucapan orang lain, bukan? Seseorang berkata, "Aku mencintaimu,"  dan kita bisa berpikir itu berarti ia secara perkelaminan tertarik pada  kita, padahal bukan itu maknanya. Banyak kesalahpahaman karena  penyimpulan yang keliru seperti itu.
Jadi jika itu penyimpulan yang sah, itu tepat dan tegas.
Praduga tidaklah sah. "Aku menduga inilah yang kamu maksud, tapi aku  tidak yakin." Praduga pada dasarnya adalah menebak. "Saya kira inilah  yang Anda maksud." Ini bisa saja benar, bisa saja salah, tapi tidak  tegas. "Saya pikir inilah yang Anda maksud." Itulah praduga. Tapi kita  tidak yakin.
Lalu ada keragu-raguan: "Apakah maksud Anda ini, atau itu?" Kita plin-plan.
Ada juga pengetahuan yang menyimpang, di mana kita memikirkan sesuatu  yang sepenuhnya keliru. Ini sama sekali bukan yang dimaksud orang itu.
Demikianlah bagaimana pengetahuan bekerja, dan ajaran Buddha  berbicara sangat banyak tentang hal ini. Ini amat sangat berguna bagi  kita untuk memahami, dari segala jenis latar belakang, "Apakah cara saya  mengetahui hal ini benar atau salah?" Jika saya masih belum yakin, maka  saya perlu menyadarinya dan berusaha memperbaikinya, berusaha mencari  tahu lagi apa itu kenyataan. Jadi ini sangat berguna bagi siapapun. Anda  tidak memerlukan upacara-upacara dan agama Buddha untuk ini.
Perasaan-Perasaan yang Gelisah
Kemudian pokok utama lain dalam kejiwaan Buddha adalah mengenai  perasaan-perasaan. Kita memiliki perasaan-perasaan positif dan negatif.  Yang negatif adalah perasaan-perasaan yang gelisah, mereka mengganggu  kedamaian cita kita. Kita bicara tentang hal-hal seperti kemarahan.  Pengertiannya adalah bahwa ini merupakan tataran cita yang, ketika ia  muncul, menyebabkan kita kehilangan kedamaian cita – sehingga kita  menjadi sedikit buncah, sedikit gugup – dan ini menyebabkan kita  kehilangan pengendalian-diri. Jadi ketika kita marah, tenaga kita  terganggu – Anda bisa merasakannya. Kemudian kita mengatakan dan  melakukan hal-hal yang nantinya kita sesali. Kita bertindak secara  kompulsif.
Dalam ajaran Buddha, kita sering mendengar tentang karma. Dan yang  dibicarakan karma adalah unsur kompulsif pada perilaku kita ini  berdasarkan kebiasaan sebelumnya. Jadi ketika kita memiliki kemelekatan  yang besar atau hasrat atau keserakahan, maka sekali lagi kita tidak  tenang – kita buncah karena kita ingin memiliki sesuatu – dan lagi-lagi  kita tidak memiliki pengendalian-diri, seperti cokelat itu, yang saya  harus memakannya.
Itulah perasaan-perasaan yang gelisah. Tapi di sisi lain, ada  perasaan-perasaan yang positif. Ajaran Buddha tidak mengatakan untuk  menyingkirkan semua perasaan Anda. Ada hal-hal seperti kasih, yang  merupakan keinginan bagi orang lain untuk bahagia dan memiliki  sebab-sebab kebahagiaan terlepas dari apa yang mereka lakukan, terlepas  dari bagaimana mereka memperlakukan saya atau orang-orang yang saya  kasihi. Ada welas asih, keinginan agar orang lain terbebas dari  penderitaan dan sebab-sebab penderitaan. Ada kesabaran. Ada rasa hormat.  Jadi ada banyak perasaan positif. Kita perlu belajar untuk dapat  membedakan antara yang membangun dan yang merusak dalam  perasaan-perasaan kita dan dalam cara kita bertindak. Dan ajaran Buddha  sangat kaya dalam mengajarkan tidak hanya semua tataran perasaan yang  berbeda-beda ini sehingga kita bisa mengenali mereka, tetapi juga kaya  dalam cara untuk membantu kita untuk menyingkirkan tataran-tataran cita  yang mengganggu ini.
Anda ingat kita tadi berbicara tentang kesalahan-kesalahan pemahaman,  tentang pembayangan-pembayangan tentang sesuatu yang tidak nyata? Salah  satu pembayangan yang paling menonjol adalah tentang cara kita mengada.  Seperti yang saya katakan, dalam gaya yang sangat sederhana, kita  berpikir bahwa kita adalah orang yang paling penting, bahwa kita mengada  secara padu oleh diri kita sendiri, dan kita harus selalu mendapatkan  yang kita inginkan, dan semua orang harus menyukai kita. Yang sangat  menarik adalah berpikir dalam kerangka: "Tidak semua orang menyukai  Buddha, jadi mengapa aku harus mengharapkan semua orang menyukaiku?"  Sebuah pernyataan yang sangat berguna untuk diingat.
Jadi, bagaimanapun, kita berpikir dalam kerangka: "Aku adalah hal  padu yang duduk di dalam kepalaku, pemilik suara yang terus berbunyi di  dalam kepalaku, khawatir tentang apa yang semestinya kulakukan?Apa yang orang pikirkan tentang aku?"Seolah-olah ada aku kecil  duduk di dalam kepala kita melihat semua keterangan yang muncul pada  layar dan pengeras suara dari indra-indra kita dan menekan tombol-tombol  yang membuat tubuh kita bergerak atau wicara kita berkata: “Sekarang  aku akan melakukan ini. Sekarang aku akan mengatakan itu.” Ini merupakan  kesalahan pemahaman yang mengganggu tentang diri kita sendiri.  Bagaimana kita tahu ini mengganggu? Karena kita semua merasa tidak aman.  Berpikir seperti itu, ada ketidakamanan dan kekhawatiran tentang diri  kita sendiri: "Apa yang orang pikirkan tentang aku?" Dst., dst.
Sehingga yang terjadi adalah kita memiliki pembayangan-pembayangan  ini tidak hanya tentang diri kita sendiri melainkan tentang segala  sesuatu di sekitar kita. Kita melihat berbagai macam benda, dan kita  melebih-lebihkan mutu-mutu baik yang mereka miliki. Kita bahkan  membayangkan mutu-mutu baik yang tidak mereka memiliki. Seperti saat  kita jatuh cinta dengan seseorang, "Dia adalah orang yang paling elok di  dunia." Kita sepenuhnya mengabaikan segala kekurangan yang mungkin  mereka miliki. "Dia adalah orang tercantik dan idaman yang pernah  kutemui." Dan kemudian jika kita tidak memilikinya, hasrat yang  mendamba: "Aku harus mendapatkannya sebagai rekanku, sebagai temanku."  Dan jika kita memilikinya sebagai teman kita, kemelekatan (kita tidak  mau melepaskannya) dan keserakahan (kita ingin mendapatkan lebih banyak  dan lebih banyak waktu bersamanya).
Ini adalah tataran cita yang mengganggu, bukan? Kita perlu melihat  kenyataan: setiap orang punya titik-titik kekuatan, titik-titik  kelemahan. Kita sering berpikir, dan ini sama sekali tidak nyata, bahwa:  "Aku adalah orang yang paling penting. Jadi akulah satu-satunya orang  dalam hidupmu. Kamu harus memberikan seluruh waktumu kepadaku," dan kita  sepenuhnya lupa bahwa mereka memiliki orang lain dalam hidup mereka,  hal-hal lain yang mereka terlibat di dalamnya, bukan hanya kita. Kita  pun menjadi marah. Kita merasa tidak aman. Dan jika mereka tidak  menelepon kita, kita membesar-besarkan mutu negatif dari hal itu, dan  kita tidak ingin melihat satupun mutu baik dari hubungan kita dengan  orang ini. Dan kita marah; kita ingin lepas dari ini, kita membentak  mereka, "Mengapa kamu tidak meneleponku? Mengapa kamu tidak datang?" Ini  berdasar pada adanya aku kecil, bahwa aku semestinya selalu  mendapatkan yang kuinginkan, aku semestinya menjadi orang yang paling  penting, dan ketidaknyataan bahwa akulah satu-satunya orang dalam  hidupnya.
Ajaran Buddha memberikan uraian yang sangat jelas tentang apa yang  membuat buncah, apa yang keliru, dalam berpikir dan merasakan dengan  cara ini. Karena cita kita membuat hal-hal tampak seperti itu, dan  masalahnya adalah kita percaya bahwa itu sesuai dengan kenyataan. Kita  memiliki semua cara ini untuk, sedikit banyak, menggembungkan balon  khayalan kita. Ini mungkin terasa seolah-olah sayalah satu-satunya orang  yang ada, karena ketika saya menutup mata, saya tidak bisa lagi melihat  orang lain tapi suara di dalam kepala saya masih ada. Tapi ini konyol.  Ini bukan kenyataan. Ini tidak sesuai dengan kenyataan. Anda tidak  berhenti ada ketika saya menutup mata. Inilah kejiwaan dasar ajaran  Buddha.
Mengembangkan Kasih dan Welas Asih

Kita memiliki banyak cara untuk mengembangkan kasih dan welas asih  yang diajarkan dalam ajaran Buddha, dan siapapun bisa memperoleh manfaat  dari cara-cara ini (tanpa mengikuti unsur-unsur keagamaan Buddha).  Kasih dan welas asih didasarkan pada pemahaman bahwa semua orang adalah  setara: semua orang ingin bahagia, tak seorang pun ingin tidak bahagia.  Semua orang suka menjadi bahagia. Tak seorang pun suka menjadi tidak  bahagia. Kita semua sama.
Kita semua saling terkait. Seluruh hidup saya bergantung pada  kebaikan dan kerja orang lain. Coba kita pikirkan semua orang yang  terlibat dalam menumbuhkan makanan yang kita makan, mengangkutnya,  membawanya ke toko-toko. Lalu ada orang-orang yang membangun jalan dan  orang-orang yang membangun truk yang membawa makanan itu. Dan dari mana  logamnya berasal? Seseorang harus menambang logam untuk membuat truk.  Bagaimana dengan karet untuk bannya? Darimana asalnya? Begitu banyak  orang yang terlibat dalam industri itu juga. Dan bagaimana dengan minyak  tanah dan dinosaurus dan sebagainya yang tubuhnya membusuk dan  menghasilkan minyak tanah ini? Jika kita berpikir seperti itu, kita  melihat bahwa kita sepenuhnya saling terkait dan bergantung pada orang  lain. Dan ini menjadi lebih jelas dalam kerangka perekonomian global  kita.
Atas dasar pemahaman kesetaraan dan saling ketergantungan kita dengan  semua orang, maka kita berpikir dalam kerangka: "Apapun masalah yang  ada, itu harus dipecahkan." Karena seperti pernah dikatakan seorang guru  besar Buddha dari India, "Masalah dan penderitaan tidak punya pemilik;  penderitaan perlu disingkirkan, bukan karena itu penderitaan saya atau  penderitaan Anda – itu harus disingkirkan karena menyakiti.” Maka ketika  ada masalah dengan lingkungan, misalnya, ini bukan hanya masalah saya  atau masalah Anda; ini masalah semua orang. Tidak ada pemilik masalah.  Ini harus dipecahkan karena ini adalah masalah, semata-mata karena ini  adalah masalah dan menyusahkan semua orang.
Demikianlah, kita mengembangkan kasih dan welas asih dalam cara yang  tidak ada hubungannya dengan agama, melainkan sepenuhnya berdasar pada  mantik dan kenyataan.
Keagamaan Buddha

Ketika kita bertanya, "Mengapa ajaran Buddha?" ada sisi-sisi yang  membuat ajaran Buddha sesuai bagi kita di dunia Barat, yakni sisi-sisi  sains dan sisi-sisi kejiwaan. Sedangkan bagi sebagian kita orang Barat,  kita mungkin juga mendapati sisi-sisi keagamaan dari manfaat ajaran  Buddha – upacara-upacara, ajaran-ajaran tentang kelahiran kembali,  doa-doa, dan sebagainya. Tapi seperti saya katakan, sangat penting untuk  memeriksa secara saksama apa alasan kita untuk ketertarikan ini. Apakah  itu hanya pesona pada keeksotisannya? Apakah kita mencari semacam  mukjizat? Apakah kita melakukannya sebagai pemberontakan terhadap orang  tua atau tradisi kita? Apakah kita melakukannya hanya karena tren masa  kini; yang disebut "keren" ketika terlibat dengan ajaran Buddha? Ini  bukan alasan-alasan yang sah, karena mereka tidak bertahan, mereka tidak  teguh. Jika kita tertarik dan kita mendapati bahwa ini bermanfaat bagi  kita (ajaran Buddha membantu saya menjadi orang yang lebih ramah, lebih  welas asih), dan ini melengkapi sisi-sisi sains dan kejiwaannya – dan  itu sangat penting, bahwa ini diperlukan untuk melengkapi sisi-sisi  sains dan kejiwaannya, bukan menggantikannya – tetapi jika sisi-sisi  keagamaan memiliki ciri-ciri tersebut bagi kita, maka ini baik.
Seperti itulah kita membedakan sains, kejiwaan, dan keagamaan Buddha
Pertanyaan-Pertanyaan tentang Cita dan Kelahiran Kembali

Ketika kita berbicara tentang kelahiran kembali, kita menggunakan  gagasan tentang cita. Seberapa banyak ini tumpang-tindih dengan gagasan  tentang jiwa?
Ketika kita berbicara tentang kelahiran kembali, kita berbicara  tentang cita. Seberapa banyak itu tumpang-tindih dengan jiwa? Kita harus  memahami apa yang kita maksud dengan cita dan apa yang kita maksud dengan jiwa.
Kelahiran kembali berbicara tentang kelangsungan. Seperti zat dan  energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan tapi hanya berubah  bentuk, kegiatan batin subjektif perorangan kita pun tidak dapat  diciptakan maupun dimusnahkan. Tidak masuk akal ia muncul dari  ketiadaan. Dan jika tiap kejadian menghasilkan kejadian berikutnya dalam  kelangsungan, maka tidak masuk akal baginya berakhir dan berubah  menjadi ketiadaan. Tentu saja selalu ada suatu dukungan ragawi bagi  kegiatan batin itu, tapi ini bisa saja merupakan energi yang amat sangat  halus; ini tidak harus tubuh nyata dengan otak. Jadi inilah yang  berlangsung dari masa kehidupan ke masa kehidupan ke masa kehidupan,  bahkan ke sifat Buddha, kelangsungan kegiatan batin subjektif  perorangan, yang bisa saja sangat halus atau sangat nyata, banyak  tingkat-tingkatnya, tapi ini berlangsung dari waktu ke waktu ke waktu  tanpa jeda.
Lalu, ketika kita berbicara tentang soul (jiwa), tentu saja itu adalah kata Barat. Dan dalam berbagai bahasa – bahasa-bahasa Barat juga – kita memiliki kata untuk cita, kita memiliki kata untuk sukma, kita memiliki kata untuk jiwa. Mereka tidak mirip satu sama lain, bahkan dalam bahasa-bahasa Barat, dan agama-agama yang berbeda akan mengartikan jiwa secara  berlainan dalam bahasa yang berbeda-beda. Dan kemudian dalam  agama-agama Barat ada hubungan antara jiwa dan Tuhan. Dan dalam  agama-agama India kita memiliki atman, dan lagi-lagi dengan gagasan yang berbeda-beda tentang atman. Jadi sulit untuk menyamaratakan kata jiwa.
Tapi yang jauh lebih mudah untuk dibahas adalah aku, wawasan tentang aku – bukan wawasan tentang aku, tapi apakah aku? Aku atau diri adalah  sesuatu yang kita semua memilikinya, tetapi kita membayangkannya pada  cara-cara ia mengada yang tidak sesuai dengan kenyataan. Seolah-olah ada  semacam akuyang padu, seperti koper yang diikatkan pada ban  berjalan, yang melewati seluruh hidup kita dan memasuki kehidupan kita  berikutnya juga. Ini sangat menarik: Anda melihat foto bayi Anda, dan  berkata, “Itu aku.” Apa yang aku dari foto itu? Setiap sel  dalam tubuh kita telah berubah. Cara berpikir, cara mengetahui hal-hal,  sepenuhnya berbeda dengan ketika kita masih bayi. Namun kita mengatakan,  "Itu aku." Lalu apakah aku? Aku adalah kata yang dicapkan pada semua hal yang berubah dalam hidup kita. Dan aku bukanlah foto-foto ini, tapi kata aku mengacu pada sesuatu yang berdasar pada semua waktu yang berbeda-beda dalam hidupku, yang selalu berubah dari waktu ke waktu.
Contoh yang saya selalu gunakan adalah film, misalnya Star Wars. Apa itu Star Wars?  Kita berkata, "Aku menonton Star Wars," tapi bisakah kita menonton  seluruh film dalam satu waktu? Tidak. Setiap waktu dari film itu,  itukah Star Wars? Ya. Ini adalah waktu dari film Star Wars. Star Wars tidak sama pada tiap-tiap waktu dari film itu. Star Wars bukan hanya judul "Star Wars." Nama "Star Wars" memang merujuk pada sebuah film – ada film Star Wars –  tetapi Anda tidak dapat menemukannya di salah satu bagian dari gulungan  plastik film itu, Anda tidak dapat menemukannya di salah satu adegan,  tapi film itu ada sebagai perubahan dari waktu ke waktu ke waktu.
Aku atau diri juga seperti itu. Ada kata aku.  Ini mengacu pada sesuatu – Aku duduk di sini; aku melakukan ini; aku  sedang berbicara denganmu. Tapi ini tidak sama dengan citaku atau dengan  tubuhku atau salah satu waktu dari itu. Tapi atas dasar kelangsungan  tubuh dan cita, kita bisa mencap ini dengan aku. Ini bukan kamu. Ini berubah dari waktu ke waktu, dan itu tidak padu. Jadi apakah Anda ingin menyebutnya jiwa? Bagaimana Anda ingin menyebutnya?
Apa istilah yang digunakan oleh Buddha Shakyamuni dalam bahasa Sanskerta atau Pali untuk hal ini?
Istilah yang digunakan oleh Buddha adalah anata dalam bahasa Pali atau anatman dalam  bahasa Sanskerta, yang adalah “bukan atman” seperti ditegaskan oleh  aliran-aliran filsafat India lain. Aliran-aliran filsafat India lainnya  menegaskan atman sebagai sesuatu yang bersifat jumud (ia tidak pernah  berubah dan tidak terpengaruh oleh apapun), tidak terbagi (yang berarti  atman seluas alam semesta, atman sama dengan Brahma, seluruh alam  semesta, atau atman bagaikan sepercik kehidupan), dan yang bisa mengada  secara terpisah dari tubuh dan cita dalam tataran pembebasan.
Sebagian filsafat India menegaskan bahwa jenis atman ini memiliki  kesadaran. Itu adalah aliran Samkhya. Dan aliran Nyaya mengatakan bahwa  atman tidak memiliki kesadaran. Aliran yang menyatakan atman memiliki  kesadaran berkata bahwa ia hanya mendiami tubuh ini dan memakai otaknya.  Dan aliran yang menyatakan atman tidak memiliki kesadaran berkata bahwa  ia memasuki tubuh dan bahwa kesadaran itu hanya muncul karena landasan  ragawi tubuh ini.
Itulah pandangan-pandangan yang Buddha sangkal ketika ia berkata,  "Tiada atman." Maksud Buddha adalah tiada atman dalam arti sebagaimana  dijelaskan dan ditegaskan oleh aliran-aliran lain itu. Tapi atman itu  ada, diri itu ada, tetapi ia mengada dalam cara yang berbeda – yang  disebut dengan "diri yang lazim," "atman yang lazim."
Jika seseorang memercayai kelahiran kembali dan mereka berkata mereka  akan dilahirkan kembali, akan seberapa besar keyakinan mereka bahwa  semua ciri dan semua data yang terkandung dalam kesadaran mereka akan  berlanjut ke kehidupan mereka berikutnya.
Pertama-tama, ajaran Buddha menegaskan bahwa kelahiran kembali adalah  tanpa awal – tidak berawal – yang berarti kita memiliki  kebiasaan-kebiasaan dan naluri-naluri dari masa kehidupan yang tanpa  akhir. Jadi, bergantung pada banyak sekali unsur, hanya sebagian dari  naluri dan kecenderungan ini yang akan mewujud dalam suatu masa  kehidupan tertentu. Tentu ini bukan berarti semua naluri dan  pembelajaran seseorang dari kehidupan terdahulu akan mewujud lagi dalam  masa kehidupan berikutnya meskipun kita dilahirkan kembali sebagai  manusia dengan kelahiran kembali manusia yang mulia, yang jarang  terjadi. Banyak yang bergantung pada apa yang kita pikirkan dan tataran  cita kita ketika kita mati. Dan kemudian semua suasana dan keadaan  kehidupan kita berikutnya, yang tidak terbatas hanya pada  keadaan-keadaan keluarga kita, tapi di sana bisa saja terjadi kelaparan,  bisa terjadi perang – di sana bisa saja ada banyak hal yang akan  memengaruhi sesuatu yang akan mewujud.
Maka, sangatlah penting untuk berusaha memberi penekanan utama  kehidupan kita pada pikiran-pikiran positif, bukan pikiran-pikiran atau  perilaku negatif, dan mati dengan tenang, kedamaian cita, serta pikiran  dan niat positif untuk dapat terus berjalan pada jalan rohani kita.
Persembahan

Mungkin ini waktu yang tepat untuk mengakhiri. Semoga segala  pemahaman, segala kekuatan positif yang muncul dari penyajian ini bisa  semakin mendalam dan semakin dalam.
Itu mungkin terdengar seperti sisi keagamaan Buddha, tetapi juga  cukup sains. Jika Anda mengalami pertemuan yang menyenangkan dengan  seseorang, dan Anda mendapatkan percakapan yang positif dan bermakna,  dan berakhir dengan dering telepon, maka semua energinya hanya akan  lenyap dan Anda sepenuhnya lupa pada percakapan positif yang Anda  lakukan sebelumnya. Tapi jika kita mengakhiri interaksi dengan berpikir  "Semoga ini membawa pengaruh positif bagiku," maka rasa positif itu,  pemahaman itu, menyertai kita dan dapat membantu kita dalam hidup kita.  Dengan cara itulah kita mengakhiri pembahasan ini, dan itu adalah cara  yang sangat berguna untuk mengakhiri interaksi positif dengan siapa  saja.
------------------------
Buddhisme, Sains, dan Psikologi - Oleh Dr. Alexander Berzin
Disalin dari catatan; "hah, gak usah disebut dech. Nama fanspage nya gak nyambung.
Transkripsi seminar, Sofia, Bulgaria, 2012

Minggu, 08 Oktober 2017

Thalasemia Ditanggung JKN BPJS Kesehatan,



Apakah pengobatan thalasemia ditanggung fuel oleh JKN? 
Ini dijamin tidak, itu dijamin tidak?
Itu yang kerap kita dengar, itu juga yang kerap dijadikan alasan bagi Rumah Sakit ketika sulit menjelaskannya kepada pasien.
Begini:
Sistem pergantian BPJS Kesehatan, itu menggunakan sistem paket yang dinamakan sistem INA CBG's.
Berapa tarif pergantian paketnya tergantung dari;
1. Rawat jalan atau rawat inap.
    Khusus untuk penanganan thalasemia, rawat jalan bisa ditagihkan sebagai rawat inap.
2. Diagnosa utama penyakitnya, dan diagnosa sekunder.
3. Kategori/kualifikasi Rumah Sakitnya.
    Kelas rujukan nasional, kelas A, kelas B, kelas C dan kelas D.
    Contoh: dirawat/ditangani di Rumah Sakit kelas D tentu saja tarif pergantiannya lebih rendah              dibanding dirawat di Rumah Sakit kelas A.
4. Iuran kelas rawat kartu BPJSnya.
    Tarif pergantian untuk iuran kelas 1 tentu lebih besar dari kelas 3/PBI.
5. Region BPJS-nya. Tarif pergantian di Jakarta tentu beda dengan di Papua. dsbg.

Nah, itu yang perlu di pahami.
Jadi, mau pakai obat berapa banyak, mau pakai darah berapa kantong, mau cek lab apa saja, itu semua TIDAK akan mempengaruhi tarif pergantiannya.
Ingat Sistem Paket. !!!
Contoh kasus thalasemia;
~ Thaller 1, pake darah 2 kantong, cek ferritine, cek hb, ditangani 1 hari.
~ Thaller 2, pake darah 4 kantong, tidak cek ferritine, cek hb, sgbt, s got, ditangani 3 hari.
Tarif pergantian oleh BPJS Kesehatan akan sama saja!!.
Karena diagnosa nya sama, Rumah Sakit nya juga sama, dst, dst,..

Misal; Rumah Sakit kelas D region xxx, diagnosa thalasemia, kelas 3, tarif pergantiannya per paket (diluar obat kelasi besi, ini tarifnya terpisah).
Katakanlah 1,2 juta per orang per bulan.
Maka mau thaller yang menggunakan satu kantong, pergantiannya tetap 1,2 juta.
Mau menggunakan 6 kantong tetap pergantiannya 1,2 juta.
Nah, loh,.. 6 kantong darah saja bisa 1,8 juta rupiah, apa Rumah Sakit tidak akan rugi dan atau bangkrut?
Ya, mungkin saja kalau semua pasiennya seperti itu, butuh kantong darahnya banyak.
Kenyataannya khan tidak semua pasien memerlukan darah sebanyak itu.
Bagaimana kalau kita balik?.
Bagaimana jika rata2 thaller hanya membutuhkan 1 - 2 kantong darah saja?,
bukankah Rumah Sakit malah akan diuntungkan?

Nah, itu semua tergantung dari kebijakan Rumah Sakitnya.
Bukan urusan BPJS Kesehatan.

Bagaimana kalau Rumah Sakit tersebut belum bisa cek ferritine? 
Apakah bisa dijamin BPJS kalau cek di lab luar?
Itu yang sering kita dengar juga.
Sekali lagi, Jawabnya; Itu tergantung dari kebijakan Rumah Sakitnya, bukan BPJS Kesehatan.
Kenapa?,
Karena BPJS Kesehatan tahunya membayar pergantian itu ke Rumah Sakit yang bersangkutan dengan SISTEM PAKET !!, tidak ada urusannya dengan lab luar.

Kalau Rumah Sakitnya mau membayar ke lab luar untuk cek ferritine (mungkin jarang), maka itu bisa terjadi, bisa dilakukan.
Kalau pihak Rumah Sakit-nya tidak bersedia membayar ke pihak luar, maka biaya cek ferritine itu menjadi tanggungan pihak thaller itu sendiri.

Semoga bisa jelas, BPJS Kesehatan itu menggunakan pergantian tarif paket ke Rumah Sakit yang bersangkutan.
Apa saja yang akan dilakukan Rumah Sakit dalam penanganan thalasemia, itu tergantung dari Rumah Sakit itu sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan BPJS Kesehatan.
Itu adalah keprofesionalan dari pihak Rumah Sakit itu sendiri.

Tambahan;
Artikel diatas di buat berdasarkan aturan pmk tahun 2014.
.
Kini sudah keluar aturan pmk no 64 tahun 2016.
.
Ada perubahan yang cukup menyolok/berarti ;
.
1. Tagihan rawat jalan kini terpisah dengan rawat inap... ( jadi aturan sebelumnya dimana rawat jalan      boleh ditagihkan tarif rawat inap, sudah ditiadakan)
.
2. Tariff rs pemerintah dan tariff rs swasta kini berbeda ( kalau dulu sama )
.
3. Tariff topup untuk obat khelasi zat besi, dibedakan antara rawat jalan dan rawat inap ( kalau dulu        disamakan )
.
4. Pembagian regional ada perubahan, dibanding aturan sebelumnya, yang terkena itu daerah                  Kalimantan.
.
Aturan yang lainnya belum terlihat perubahan aturannya...
.
Salam Perjuangan _/|\_


Judul; Thalasemia Ditanggung JKN BPJS Kesehatan,

Posted by Sucipto Kuncoro at 1:40:00 AM
Repost by Andrianto Gandhi.
Sumber;
http://www.pasiensehat.com/…/thalasemia-ditanggung-jkn-bpjs…
Terkait; https://www.lapor.go.id/…/prosedur-penyediaan-darah-bagi-pa…
https://inacbg.blogspot.co.id/…/prosedur-klaim-bpjs-pelayan…
http://www.pdpersi.co.id/content/news.php…

Senin, 25 September 2017

Mengenal Sekte-Sekte dalam Agama Buddha



Agama Buddha memiliki banyak sekte/aliran karena:
1. Sang Buddha mengajarkan kepada banyak kelompok orang, ada yang masyarakat biasa, kaum terpelajar, kaum pertapa, para dewa, asura, dan sebagainya. Sang Buddha menyesuaikan materi yang diajarkan sesuai dengan pola pikir masing-masing kelompok yang berbeda.

2. Tiap-tiap manusia memiliki kecenderungan yang berbeda, baik minat maupun kebiasaannya. Hal ini menyebabkan cara setiap orang melihat ajaran Sang Buddha bisa dari berbagai sudut pandang, disesuaikan dengan mereka.

3. Masalah sekte/aliran, seperti halnya masalah agama, adalah masalah kesesuaian/kecocokan. Tentu saja hal ini berbeda pada setiap pribadi. Ajaran Sang Buddha amatlah luas, sehingga ada kelompok tertentu yang memiliki kecenderungan untuk memilih bagian atau tradisi tertentu dari ajaran Sang Buddha untuk dipraktekkan.

Sekte/aliran Buddha antara lain:
1. Theravada, adalah sekte yang dianggap paling dekat dengan tradisi awal perkembangan Buddhisme. Bagi Anda yang menyukai pola berpikir kritis, rasional dan menyelidik, silahkan memilih sekte ini.

2. Mahayana, adalah salah satu sekte yang amat dekat dengan tradisi, khususnya tradisi Tionghoa, karena sekte ini sejak dulu berkembang pesat di Tiongkok. Pembacaan nama-nama Buddha sangat lekat dengan sekte ini. Sesungguhnya, sekte ini memiliki banyak sub sekte, tetapi di Indonesia fenomena ini tidak menonjol.
Di Indonesia, sekte ini pernah berkembang pesat pada masa kejayaan Sriwijaya. Tentu saja pada saat itu, sekte ini lekat dengan tradisi Jawa Kuno. Sedangkan Mahayana yang berkembang sekarang di Indonesia diadopsi dari Mahayana orang Tionghoa.
Memang, ciri khas Mahayana adalah keterbukaan/penerimaan yang amat besar terhadap tradisi setempat. Sehingga tidak heran, secara statistik, sekte ini memiliki penganut terbesar.
Bagi yang suka hal-hal praktis dan tradisi dalam ajaran Buddha sangat cocok memilih sekte ini.

3. Tantrayana, adalah sekte yang paling berkembang di Tibet. Hal-hal yang tampak gaib di mata awam adalah ciri khas sekte ini. Sekte ini pun terbagi dalam sub-sub sekte. Bagi yang senang mendalami kegaiban dalam ajaran Buddha sangat cocok memilih sekte ini.

4. Tridharma, adalah sekte yang didirikan oleh kaum Buddhis yang selain kagum terhadap ajaran Buddha, juga amat terbuka terhadap filsafat Khonghucu dan kepercayaan Taoisme. Banyak kaum terpelajar yang tetap kental memelihara dengan kuat tradisi Tionghoa, memilih sekte ini.

5. Maitreya, adalah sekte yang berasal dari Taiwan. Banyak yang menganggap sekte ini telah menyimpang dari ajaran Buddha yang sesungguhnya, karena adanya misi keselamatan tunggal dari Buddha Maitreya, yaitu Buddha yang akan datang. Untuk mengikuti sekte ini, seseorang sangat dianjurkan bervegetarian dan menyebarkan misi Maitreya. Tata cara/upacara sembahyang sangat ditekankan dalam sekte ini. Jika Anda merasa cocok dengan aliran ini, silahkan memilih aliran ini.

6. Nichiren, adalah sekte yang berasal dari Jepang.
Maaf, saya tidak terlalu mengenal sekte ini.
Silahkan tanya pada praktisi setempat jika Anda membutuhkan informasi yang jelas.

7. Satya Buddhagama, adalah sekte yang didirikan oleh Master Lu Sheng Yen, seorang Amerika keturunan Tionghoa. Ajaran Lu Sheng Yen merupakan pengalaman-pengalaman spiritual Beliau seputar ajaran Buddha dan kepercayaan Taoisme. Jika Anda berminat berguru pada Beliau, silahkan memilih sekte ini.

8. Buddhayana, sebenarnya bukan sekte/aliran yang berdiri sendiri, karena Buddhayana pada awalnya bertujuan untuk menghindari adanya sektarian dan kefanatikan. Mereka sangat terbuka terhadap Theravada, Mahayana dan Tantrayana. Jika Anda tertarik dan sangat terbuka untuk mendalami ketiga tradisi ini, silahkan pilih Buddhayana.

9. Tradisional. Saya sangat ragu untuk memasukkan kalangan tradisional dalam salah satu sekte dalam agama Buddha. Tetapi, kenyataannya, itulah yang terjadi. Banyak umat Buddha yang mengaku beragama Buddha karena warisan tradisi (secara KTP beragama Buddha).
Mereka sembahyang kepada Buddha dan dewa-dewa kepercayaan setempat, tetapi sesungguhnya mereka tidak mengerti ajaran Buddha. Mereka kental sekali dengan kepercayaan kepada dewa-dewa setempat. Fenomena ini pula yang menyebabkan banyak generasi muda yang lebih memilih pindah agama, karena di mata mereka, agama Buddha sangat kuno dengan tradisi yang mirip berhala. Jika terpaksa, golongan ini bisa dikategorikan sebagai sekte Mahayana atau Tridharma.
Sebenarnya, aliran/sekte dalam agama Buddha sangat banyak dan beragam. Yang disebutkan di sini hanya beberapa yang saya ketahui. Silahkan cari tahu sendiri jika Anda berminat.

Aliran, sekte atau klan apapun bukan sesuatu yang luar biasa, keberagaman bukan hal yang buruk
Kalau bermunculannya beragam aliran atau sekte2, bukan hanya di agama Buddha saja_dan jika betul bertujuan untuk memberi manusia petunjuk-petunjuk menuju kehidupan yang sehat dan membahagiakan, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk seluruh umat manusia lewat berbagai macam jalan yang baik dan benar, apakah itu satu masalah?
Renungkanlah,...

Anda memilih agama apapun, salah satu faktor nya adalah karena adanya kecocokan saja.
Alam Semesta (atau Tuhan, atau Sunyata, jika bagi anda lebih srek) telah memberi petunjuk lewat banyak cara dan bentuk bahwa keanekaragaman itu adalah kodrat semua ciptaan Tuhan, sesuatu yang sunatulah. Keanekaragaman ini ada bukan untuk dipecahbelah dan diadubanteng, tapi untuk menyatu-dalam-kemajemukan, saling terikat pada matarantai sirkular interdependensi dan inter-relasi kehidupan yang mutualistik. Karena ada hal-hal yang khas dan unik, maka pluralitas menjadi niscaya. Tidak usah dibuat ribet dan rumit, kalau sesuatu itu memang sudah simpel. Kata sebuah kaidah fikih, “Yassiru walaa tu ‘assiru.” Ini kurang lebih serupa dengan ucapan mendiang Gus Dur yang sudah kita semua tahu, “Gitu aja kok repot!”
Beragama, apalagi agama Buddha yang menekankan welas asih tidak terbatas hanya pada manusia saja tetapi kasih sayang tidak terbatas kepada semua makhluk sewajarnya membuat anda menjadi insan yang makin baik, makin cerdas, makin visioner, makin bajik, makin bijak,
Dengan memilih beragama Buddha, alhasil kita bisa bermawas diri, mewaspadai diri, yang akan membuat kita akhirnya, setelah melewati usaha-usaha keras dan penuh disiplin, menjelma sebagai insan yang agung, insan kamil. Ego anda, keakuan anda, egotisme anda, perlahan mulai lenyap. Perlahan namun pasti, cinta kasih, kepedulian, bela rasa, empati, kebajikan, solidaritas, interkonektivitas, kehidupan dan kebahagiaan mulai bertumbuh, Itulah yang disebut bibit atau benih Buddha yang terdapat pada semua makhluk. Artinya, Anda telah menemukan Buddha / Kesadaran dalam diri anda.

“Pengambilan jarak” atau “ketidakmelekatan” (Pali/Sanskrit: nekkhamma) adalah sebuah metode psikoterapis dalam Buddhisme untuk membuat anda tetap dapat hidup stabil secara emosional sementara berbagai hal dalam dunia ini terus-menerus berubah dan berganti: suka berubah jadi duka dan duka berubah jadi suka, sukses berubah jadi kegagalan dan kegagalan berubah jadi sukses, sehat berubah jadi sakit dan sakit berubah jadi sehat, tawa berubah jadi tangis dan tangis berganti jadi tawa, kaya berubah jadi miskin dan miskin berubah jadi kaya, dan sebagainya.

Segala sesuatu itu impermanen. Tunduk pada hukum impermanensi akan dapat berdampak negatif pada emosi anda, khususnya ketika hukum impermanensi ini mengubah kehidupan anda, dari suka menjadi duka, dari kaya menjadi miskin, dari hidup menjadi mati, dari sukses menjadi gagal, dari senyum menjadi tangisan. Ketika orang menyadari impermanensi ini lalu mampu mengambil jarak terhadap semua peristiwa dalam kehidupan mereka, mereka ternyata dapat hidup dengan lebih baik, lebih bermoral, dan lebih sehat, mulai dari soal pemilihan pacar, pengendalian syahwat, hingga ke pemilihan menu makanan, dan seterusnya,

Orang yang menolak pluralitas sesungguhnya adalah orang yang tidak mengakui diri mereka sendiri, dan juga diri nabi-nabi junjungan mereka dan agama-agama mereka, memiliki keunikan, kekhasan. Semua hal dalam dunia ini, bagi orang semacam itu, seragam. Bagi mereka, apel sama dengan ketapel. Pesawat supersonik sama dengan jerawat kronik. Semua seragam dan tunggal. Hidup seperti itu pasti tidak enak. Karena mau menang sendiri. Menimbulkan stres dan depresi yang menyerang tubuh, emosi dan kognisi serentak. Sebaliknya, memandang kemajemukan warna-warni indah pelangi sehabis hujan sangat meneduhkan hati, menenteramkan jiwa, dan menyenangkan pikiran. Pelangi, pelangi, alangkah indahmu. Merah, kuning, hijau. Di langit yang biru. Pelukismu agung. Siapa gerangan? Tul gak?

Selain faktor genetik, juga ada faktor epigenetik yang membuat individu-individu dalam satu ikatan darah keluarga juga berbeda dalam banyak segi, karena berbagai pengalaman dan sikon kehidupan eksternal yang berbeda-beda (kehidupan sang bunda anda, misalnya) berpengaruh secara hormonal sejak anda masih dalam kandungan mama anda sebagai janin atau sebagai bayi yang belum lahir.

Jadi ya tak usah nabi-nabi dan agama-agama yang mereka masing-masing bangun dipertandingkan: adu hebat, adu sempurna, adu superior, adu kuat, adu cerdas, adu keras, adu suci, adu jumlah pengikut, dsb. BUAT APA??? ADU MENANG-MENANGAN?? ADU TEORY??, ADU ARGUMENT?? ADU UMAT? Akhirnya, ADU OTOT! astagaa,...!


Oh ya, kalau umat-umat beragama yang berbeda-beda itu mau bertanding, ya boleh dan malah bagus, asal mereka bertanding dengan cerdas, fair, terbuka, penuh respek, dan bermartabat, dalam dunia ekonomi, bisnis, pengembangan sains dan teknologi, kemajuan peradaban, gerakan ke angkasa luar untuk eksplorasi (kehidupan lain, kawasan yang bisa manusia nanti diami, dan barang tambang yang sudah ada atau tidak ada di Bumi), dan nilai-nilai agung kemanusiaan. Dalam bidang-bidang ini hendaklah kita semua menjadi pemain, bukan cuma penonton. Kompetisi sehat, cerdas, fair, dan bermarwah, tentu saja tidak terhindar.

Menurut APA, (American Psychological Association), jika iman dan kepercayaan seseorang kepada agamanya membuat orang itu tidak bisa mengambil keputusan yang benar, yang berlandaskan kesadaran moral dan akal sehat dan akal ilmiah, atas banyak soal penting dalam kehidupannya, orang itu harus dikategorikan sedang mengalami gangguan mental. Dalam sikon terkena gangguan mental ini, orang lain (seorang dokter misalnya) dapat mengintervensi untuk menolong orang itu demi kebaikannya dan kebaikan keluarganya.
Suatu kepercayaan yang kuat dan sangat bergairah pada pandangan pribadi, yang berakibat melumpuhkan kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan-keputusan yang sadar dan benar tentang hal-hal yang lazim menurut akal sehat, kini dapat digolongkan sebagai gangguan mental.”
Lewat studi ini ditemukan bahwa orang yang sangat taat beragama seringkali menderita rasa cemas, keresahan emosional, halusinasi, dan paranoia.


Oke, terakhir saya tambahkan:
Jika anda karena agama anda (aliran atau sekte apapun itu), anda menjadi orang yang lemah-lembut, kalem, relaks, penuh cinta kasih kepada semua manusia tanpa diskriminasi (karena alasan-alasan beda agama, beda aliran, beda orientasi seksual, dst), murah hati, toleran, cinta dan memperjuangkan kedamaian dan persaudaraan, selalu memakai akal sehat, dan cinta ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dalam kehidupan, dan ikut berjuang mempertahankan kehidupan dan memajukan peradaban, dan terus-menerus makin cerdas dan makin tegar dalam segala suka dan duka, maka jangan khawatir, anda sudah beragama dengan sehat, benar dan cerdas. Anda tidak sedang menderita gangguan jiwa.
Semua orang tahu, etika atau akhlak atau moralitas bersumber tidak hanya pada kitab-kitab suci atau hanya pada ajaran-ajaran agama. Banyak hal dalam alam ini yang bisa memberi manusia petunjuk-petunjuk tentang kearifan moral, termasuk juga ilmu pengetahuan.
Setiap Kitab Suci agama apapun memiliki kesalahan-kesalahan, tentu saja.

Agama saya sederhana, tidak rumit, yakni agama kebaikan hati.
Tidak ada dogma dan tidak ada hierarki.
Rumah ibadah saya ya dunia luas ini, tanpa dinding dan atap.
Kitab suci saya ya bentangan langit malam penuh bintang yang bercahaya, dikagumi dan dibaca semua orang, penuh misteri yang menawan hati.
Ritual saya ya baca buku-buku dan menulis, untuk mencerahkan dunia.
Syahadat saya, ya “Aku cinta umat manusia dan kehidupan.”
Tuhan saya ya sang Cinta Kasih Tanpa Batas.
Nabi saya ya diri saya sendiri untuk diri saya sendiri.
Doa saya ya seluruh gerak kehidupan saya.
Nyanyian rohani saya ya “Imagine” karya John Lennon.
Komunitas keimanan saya ya umat manusia sejagat.
Ikrar saya ya mengabdi demi kebajikan, kemanusiaan dan ilmu pengetahuan.

Mohon maaf jika nama penulis tidak saya lampir karena saya tidak mengutip dari 1 sumber saja.
Semoga membawa manfaat bagi semua makhluk
Salam Damai _/\_

Rabu, 13 September 2017

Meditasi Sederhana

Anda mau bermeditasi? 
Ya! 
Tapi, sulitkah? 
Jangan khawatir, semua orang bisa bermeditasi. 
Jika anda dengan berdisiplin berlatih meditasi dengan dua teknik yang diuraikan di bawah ini, anda akhirnya akan tumbuh menjadi seorang manusia yang selfless, tidak egoistik, dan universalis. Selain itu, otak anda akan makin sehat, daya kerjanya makin kuat, dan ini akhirnya akan berdampak positif pada keseluruhan tubuh anda. 
Sungguhkah? 
Ya, sungguh. 
Mari kita mulai.


                                   
                                             Lewat meditasi, Anda menyatu dengan alam, dan alam dengan Anda


       Pertama-tama, carilah sebuah ruang atau sebuah tempat yang tenang, yang menjauhkan anda dari semua gangguan yang mungkin timbul, dan aliran udara di ruangan lancar dan menyegarkan tubuh. 

Meditasi di alam terbuka yang tenang dan asri, sangat membantu dan mempermudah konsentrasi. 
Ambillah posisi duduk yang paling nyaman bagi anda untuk bermeditasi. 
Umumnya orang yang bermeditasi mengambil posisi duduk bersila (posisi teratai,padma asana), dengan batang tubuh tegak lurus, mulai dari pinggang, ke punggung, sampai ke leher dan kepala. 
Anda dapat menggunakan sebuah bantal untuk tempat duduk anda untuk membuat anda nyaman, enak, santai dan relaks ketika bermeditasi. Atau anda duduk langsung di atas sebuah lantai tanpa alas apapun.

       Setelah anda mengambil posisi yang relaks dan nyaman, mulailah pejamkan kedua mata anda. 

Tenangkan nafas anda, seperti tenangnya permukaan air di danau yang asri, tanpa gangguan. 
Pertama-tama, rasakan sungguh-sungguh persentuhan bagian tubuh anda dengan bantal atau lantai yang anda duduki. Lalu, bangunlah kesadaran bahwa anda memiliki tubuh, dengan memulai memindai tubuh anda lewat kesadaran, pikiran dan perasaan anda. 
Pindailah (dengan merasakan) seluruh tubuh anda, mulai dari ujung-ujung jari-jemari kedua belah kaki anda, lalu terus bergerak ke betis-betis anda, terus naik, sampai ke perut, pinggang, punggung, kedua belah tangan, terus ke atas sampai ke ujung-ujung kepala anda. 
Selanjutnya lakukan hal yang sama dari arah yang sebaliknya: mulai dari ujung-ujung kepala terus ke bawah sampai ke ujung-ujung jari-jemari kedua kaki anda. Lakukanlah pemindaian seluruh tubuh anda ini sampai lima kali bolak-balik, dengan tenang dan teratur. Setelah memindai bagian demi bagian tubuh anda, lakukanlah tiga kali pemindaian serentak atas keseluruhan tubuh anda. 
Pemindaian ini bertujuan untuk membangun kesadaran anda yang lebih dalam bahwa anda memiliki tubuh, atau bahwa anda dan tubuh anda satu adanya.

        Sesudah kesadaran kesatuan anda dan tubuh anda terbangun, arahkanlah konsentrasi anda sekarang pada nafas anda, pada tarikan dan hembusan nafas anda. Jadikan tarikan dan hembusan nafas anda lewat kedua lubang hidung sebagai fokus pikiran anda terus-menerus. Anda memantau, mengamati dan mengikuti gerak nafas masuk dan nafas keluar anda, dalam kurun yang cukup (30 menit per 1 latihan meditasi).


Fokus: pernafasan 


       Tarikan dan hembusan nafas yang anda perhatikan secara terkonsentrir bisa tarikan dan hembusan yang biasa atau yang alamiah, sebagaimana tubuh anda jalankan sehari-hari. Ketahuilah, dalam sehari kita bernafas lebih dari 25.000 kali. Bisa juga tarikan dan hembusan yang tidak alamiah: anda menarik nafas dalam-dalam dengan tenang lewat kedua lubang hidung dan memasukkan udara (lewat jalan pernafasan) ke dalam rongga perut anda sampai rongga ini kembung, lalu, setelah menahannya beberapa detik, menghembuskannya tenang dan perlahan dengan mengempiskan rongga perut anda perlahan-lahan sehingga udara di dalamnya habis keluar lewat jalur pernafasan. Lalu tarik kembali nafas anda dalam-dalam, penuhi rongga perut anda dengan oksigen, kemudian hembuskan kembali untuk mengosongkannya lewat kedua lubang hidung anda. Ulangi terus-menerus kegiatan menarik dan menghembuskan nafas ini, dengan konsentrasi penuh. Beri jarak waktu 2-3 detik tahan nafas antara setiap tarikan dan setiap hembusan. Menyadari pernafasan itu sangat penting. Rahib Buddhist Thich Nhat Hanh menyatakan, “Perasaan-perasaan kita datang dan pergi seperti awan-awan di langit. Pernafasan yang disadari adalah jangkarku.” Maksudnya jelas: dengan menyadari pernafasan, anda akan tahu di lautan perasaan mana anda perlu melabuhkan diri anda, dan di lautan perasaan mana anda perlu terus berlayar untuk meninggalkannya.

Menyadari pernafasan saja, lalu sudah? 

Ya, tekniknya begitu saja, sederhana, tetapi sulit sekali dilakukan, dan hasilnya akan luar biasa. 
Bagaimana mungkin?

       Teknik meditasi sederhana itu sulit dilakukan, karena anda akan menemukan fakta bahwa sulit sekali menjaga pikiran anda terfokus pada masuk dan keluarnya nafas anda lewat kedua lubang hidung. Pikiran anda itu bak seekor monyet yang suka meloncat dan melompat ke sana ke mari, tidak terkendali. Atau bak sebuah layangan putus yang terbang ke sana ke mari ditiup angin kencang. Atau bak sebongkah kelapa tua yang diombang-ambingkan ombat laut ke sana dan ke mari, tidak bertujuan. Tapi lewat kesungguhan hati dan latihan yang kontinyu, lama kelamaan anda akan mulai bisa mengonsentrasikan pikiran anda pada nafas anda. Perlahan tapi pasti, lewat latihan terus-menerus, anda akan mencapai keadaan terkonsentrasi penuh ke nafas anda sebagai titik pusatnya, bak sebutir peluru atau sebilah anak panah melesat dengan terkonsentrasi menuju titik pusat sasaran yang ada di depan, tanpa halangan apapun. Ada metode-metode bernafas yang bisa membantu anda berkonsentrasi./1/ Dan, jika konsentrasi penuh pada pernafasan ini sudah mulai dicapai, akibatnya pada diri anda akan luar biasa. 

Bagaimana bisa? 
Ya, bisa. Yakinlah!  



                          Pikiran kita itu kerap tak terkendali, bergerak ke sana dan ke sini bak layangan putus

       Apa akibat meditasi dengan teknik di atas bagi diri anda? Ketika anda perlahan menarik udara dari luar ke dalam hidung anda, sebetulnya anda menarik oksigen yang tersedia dalam alam untuk masuk ke dalam diri anda. Nah, ketika anda melakukan ini, bangunkanlah kesadaran dalam diri anda terus-menerus bahwa alam raya, lewat oksigen yang anda hirup, berada dalam diri anda. Alam menyatu dengan anda.

      Dan ketika anda menghembuskan kembali udara dalam rongga dada atau dalam rongga perut anda ke luar diri anda, anda memasukkan diri anda ke dalam alam. Anda masuk dan berada di dalam alam raya. Anda menyatu dengan alam.

       Jadi, lewat meditasi dengan teknik pengamatan pernafasan, anda sebetulnya sedang membangun dan mempertahankan kesadaran bahwa anda dan alam raya tidak terpisah, tetapi menyatu dalam momen-momen meditatif yang sedang anda jalankan dan terus mengalir. Anda menyatu dengan alam, dengan biosfir, dengan Bumi, dan dengan semua benda langit lain dalam jagat raya, dan dengan jagat raya itu sendiri. Ketika kesadaran ini muncul dan menetap dalam meditasi anda, anda akan mengalami rasa damai luar biasa, dan tubuh anda terasa tidak ada lagi karena kesadaran spasial anda yang terbatas mulai lenyap, dan anda mulai merasakan kesatuan diri anda dengan jagat raya dari momen ke momen sementara anda sedang bermeditasi. Pengalaman mental semacam ini dapat dinamakan pengalaman menyatu dengan dimensi-dimensi transenden jagat raya ini.


       Kalau dalam kegiatan memindai seluruh tubuh anda di awal tadi membuat anda merasakan kesatuan diri anda dan tubuh anda, maka lewat konsentrasi pada keluar dan masuknya nafas lewat kedua lubang hidung anda, anda akan merasakan dengan makin dalam kesatuan anda dengan alam, dengan Bumi, dan dengan jagat raya. 

        Lewat latihan meditasi yang terus-menerus dengan teknik ini, anda dibiasakan untuk terus-menerus menyadari dari saat ke saat, dari momen ke momen meditatif anda, bahwa anda adalah alam raya dan alam raya adalah anda.

         Kesadaran semacam ini, jika terus-menerus dibangun dan diperkuat dalam diri anda, lewat latihan meditasi yang kontinyu dan berdisiplin, akan membuat anda menjadi seorang manusia yang universalis: Anda mulai melihat diri anda milik semua makhluk hidup, milik semua manusia, milik semua agama, milik seluruh Bumi, milik seluruh jagat raya. Ego anda, keakuan anda, egotisme anda, mulai lenyap, dan anda mulai masuk ke dalam alam shunyata, kekosongan,emptiness, alam yang di dalamnya anda self-less, tidak memiliki ego yang introvert lagi, melainkan anda menyatu dengan sang ego universal: cinta kasih, kepedulian, bela rasa, empati, kebajikan, solidaritas, interkonektivitas, kehidupan dan kebahagiaan. Anda mulai memasuki gerbang pembebasan dan pencerahan, gerbang nibbana, sekarang ini dalam kehidupan anda.Shunyata atau emptiness atau kekosongan adalah kondisi tanpa ego, dan inilah jalan masuk kenibbana, kondisi kehidupan sejati.

        Dunia akan bisa diubah, jika anda masing-masing mulai mau bermeditasi dengan teknik memantau dan menyadari pernafasan anda. Yakinlah!


        Jika anda sudah masuk ke tahap yang makin tenang dan relaks sementara anda menarik dan menghembuskan nafas anda lewat hidung anda, frekuensi gelombang otak anda perlahan-lahan masuk ke kategori theta (4-8 Hz), dan anda mengalami relaksasi yang dalam, deep relaxation.Kondisi ini diperlukan setiap orang khususnya setelah seharian bekerja keras dalam suasana yang serba kompetitif dan menekan, atau saat sedang berada dalam suatu situasi dan kondisi yang menekan perasaan dan mengganggu pikiran. Untuk mencapai kondisi relaksasi yang dalam, metode bernafas yang dinamakan Pernafasan Lautan akan sangat menolong. Langkah-langkahnya berikut ini. Mula-mula tenangkan seluruh pikiran, perasaan dan gerak pernafasan anda, dan pejamkan kedua mata anda. Fokuskan seluruh energi dan usaha anda pada tarikan nafas yang panjang dan perlahan dan penuh melalui kedua lubang hidung anda, sampai rongga dada anda penuh sepenuh-penuhnya dengan oksigen. Tahan dua sampai tiga detik. Selanjutnya, biarkan secara alamiah dan perlahan seluruh udara dalam rongga dada anda keluar lewat mulut. Bersikaplah pasif saat udara meninggalkan rongga dada melalui mulut dengan mengeluarkan bunyi seperti deru pasang surut ombak laut./2/ 



Fokus: gerak-gerik pikiran


       Tentu dalam berkonsentrasi pada keluar masuknya nafas anda, anda akan menemukan juga konsentrasi anda ini kerap buyar, pikiran anda bergerak ke mana-mana tanpa anda bisa kontrol sebelumnya. Ya, itu memang kerap terjadi. Tapi jangan khawatir. Saat itu terjadi, dan anda menyadarinya bahwa itu terjadi, anda siap masuk ke meditasi dengan teknik yang kedua: yakni teknik tidak melawan semua gerak-gerik pikiran dan gerak-gerik perasaan anda, tetapi memantaunya saja, mengamatinya saja, mengikutinya saja, menemukan dan memahaminya saja, tanpa melawannya, tanpa melekatkan diri anda kepadanya, tetapi selaras dengannya. Lewat teknik ini, yang dinamakan meditasi keterjagaan (Pali/Sanskrit: vipassana), anda dilatih untuk selalu sepenuhnya terbuka pada semua isi pikiran dan perasaan anda yang mengalir dari momen ke momen meditasi anda. Terus terbuka, sama seperti langit selalu terbuka, tidak pernah tertutup, sejauh-jauhnya dan sedalam-dalamnya anda memandang.

       Ke manapun pikiran dan perasaan anda bergerak, pantaulah saja, amati saja, jangan melekat kepada keduanya, sampai akhirnya anda sendiri tiba pada kesadaran bahwa anda adalah pikiran anda, bahwa anda adalah perasaan anda, bahwa ada harmoni yang kokoh antara anda dan pikiran dan perasaan anda. Anda menyatu dan harmonis dengan pikiran dan perasaan anda. Anda adalah pikiran dan perasaan anda. Pikiran dan perasaan anda adalah diri anda sendiri. Saat harmoni ini tercapai, semua impuls destruktif dalam jiwa anda akan makin berkurang lalu akan lenyap sama sekali secara alamiah. Bagaimana bisa?

        Ya, bisa, sebab setelah sekian waktu dalam meditasi anda mempertahankan harmoni antara kesadaran-diri anda dan berbagai pikiran dan perasaan anda, dan frekuensi gelombang otak anda makin mendekati gelombang theta (4-8 Hz) menuju ke gelombang delta (1-3 Hz), pikiran dan perasaan anda makin tenang, makin kalem, makin santai, makin relaks, makin jernih, makin bersih, menuju kemurnian yang senantiasa masih harus terus dicapai dan diperoleh./3/ Relaksasi yang dalam mulai anda masuki saat gelombang otak anda mencapai gelombang theta. Para rahib Buddhis Tibet bahkan dalam meditasi bisa mencapai kondisi gelombang delta, yang pada orang kebanyakan hanya dicapai saat tidur sangat nyenyak tanpa mimpi. Dalam kondisinya yang murni, bersih, kalem, relaks, alamiah, dan tenang, pikiran dan perasaan anda sebenarnya ingin membahagiakan anda, bukan ingin menyengsarakan anda, bukan ingin mendukakan anda. Saat kondisi ini anda capai, duka anda berhasil taklukkan. Kedamaian mengisi seluruh diri anda. Kondisi ini sungguh-sungguh real, dan anda perlu mengalaminya sendiri dalam kesadaran anda. Power untuk mencapai kondisi terbebaskan ini ada dalam diri anda sendiri, dikembangkan dan dipertahankan lewat meditasi yang kontinyu dan berdisiplin.The power is within you, not without!  



                                                                                      Grafik empat kategori gelombang otak  

        Karena terfokus atau terjaga pada isi pikiran dan perasaan serta pencerapan seluruh indra anda pada momen-momen kekinian anda dalam meditasi vipassana, maka anda menyadari bahwa semua isi pikiran, perasaan dan persepsi indrawi adalah kondisi-kondisi mental yang sementara saja, karena semuanya terus bergerak, mengalir dari momen ke momen meditatif anda, tidak menetap, terus berubah dan berganti, impermanen. Tentang aspek impermanensi yang disadari dalam meditasi vipassana ini, Esther K. Papies dkk menyatakan bahwa

“Perhatian yang terjaga (‘mindful attention’), sebagai suatu komponen sentral dari meditasi ‘mindfulness’ atau meditasi keterjagaan, dapat dibayangkan sebagai keadaan di mana orang menyadari pikiran-pikiran dan pengalaman-pengalaman mereka dan dapat mengamati semuanya sebagai kejadian-kejadian mental yang sementara saja, tidak permanen.”/4/

       Kesadaran yang terus-menerus diperkuat lewat latihan-latihan meditasi keterjagaan bahwa semua “peristiwa mental” anda adalah hal-hal yang sementara saja, terus mengalir dan berubah, akan membuat anda masuk ke tahap kesadaran yang lebih tinggi bahwa anda haruslah tidak melekatkan diri anda pada hal apapun dalam dunia ini yang anda pahami lewat akal anda dan lewat semua persepsi indrawi anda, yang melibatkan berbagai aktivitas neural kognitif dalam otak anda. 

      “Pengambilan jarak” atau “ketidakmelekatan” (Pali/Sanskrit: nekkhamma) adalah sebuah metode psikoterapis dalam Buddhisme untuk membuat anda tetap dapat hidup stabil secara emosional sementara berbagai hal dalam dunia ini terus-menerus berubah dan berganti: suka berubah jadi duka dan duka berubah jadi suka, sukses berubah jadi kegagalan dan kegagalan berubah jadi sukses, sehat berubah jadi sakit dan sakit berubah jadi sehat, tawa berubah jadi tangis dan tangis berganti jadi tawa, kaya berubah jadi miskin dan miskin berubah jadi kaya, dan sebagainya. 

       Segala sesuatu itu impermanen. Tunduk pada hukum impermanensi akan dapat berdampak negatif pada emosi anda, khususnya ketika hukum impermanensi ini mengubah kehidupan anda, dari suka menjadi duka, dari kaya menjadi miskin, dari hidup menjadi mati, dari sukses menjadi gagal, dari senyum menjadi tangisan. Ketika orang menyadari impermanensi ini lalu mampu mengambil jarak terhadap semua peristiwa dalam kehidupan mereka, mereka ternyata dapat hidup dengan lebih baik, lebih bermoral, dan lebih sehat, mulai dari soal pemilihan pacar, pengendalian syahwat, hingga ke pemilihan menu makanan, dan seterusnya, seperti yang telah ditemukan dalam penelitian lab dan lapangan yang dilakukan Esther K. Papies dkk yang sudah dirujuk di atas. 
       Ada satu poin lagi yang sangat penting. Yang tidak permanen itu bukan hanya semua kejadian di luar diri anda, dunia eskternal, tetapi juga diri anda sendiri, dunia internal mental anda, yakni pikiran, kecerdasan, nalar, kesadaran, memori, perasaan, emosi, serta semua persepsi indrawi anda tentang semua fenomena dalam dunia ini. Secara keseluruhan, semua fakultas mental ini dapat dimasukkan ke dalam satu kata saja, “mind” atau “dunia mental” atau dunia “benak” anda. Semua fakultas mental anda ini pun impermanen, tidak statis, tetapi dinamis, dapat terus-menerus disusun dan dibentuk ulang, “malleable”, selalu berubah, fleksibel, impermanen. Sebagai salah satu fakultas mental manusia yang sangat penting, kecerdasan (“intelligence”) juga bersifat “malleable”, dinamis, fleksibel, dan terdiri atas banyak jenis, majemuk. Tentang kecerdasan yang majemuk ini, saya sudah membeberkannya panjang lebar di tempat lain./5/ Perhatikan apa yang dikatakan Ray Kurzweil, seorang inventor dan futuris terkemuka saat ini, dalam buku barunya How to Create a Mind: The Secret of Human Thought Revealed (2012), tentang kekuatan kecerdasan. Dia menulis,  



“Sebagai fenomena terpenting dalam jagat raya, kecerdasan mampu mengatasi pembatasan-pembatasan yang ditimbulkan oleh alam, dan mampu mentransformasi dunia di dalam gambarnya sendiri. Di tangan manusia, kecerdasan kita telah memampukan kita untuk menaklukkan keterbatasan-keterbatasan peninggalan biologis kita dan untuk mengubah diri kita sendiri di dalam prosesnya. Kitalah satu-satunya spesies yang dapat melakukan hal itu.”/6/
Kecerdasan yang ada pada kita mampu untuk terus-menerus melipatgandakan kekuatannya sendiri dalam waktu yang sangat cepat. Tentang ini, perhatikan apa yang juga dikatakan Kurzweil:
“Melalui suatu proses yang pada dirinya sendiri terus berulang dan tidak pernah berakhir (“recursive process”), kita mampu untuk membangun ide-ide yang dari saat ke saat selalu makin kompleks. Sejumlah sangat besar ide yang terhubung satu sama lain lewat proses yang rekursif ini kita namakan pengetahuan (“knowledge”). Hanya manusia, homo sapiens, yang memiliki suatu basis pengetahuan yang pada dirinya sendiri terus berevolusi, bertumbuh dan berkembang secara eksponensial, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya.”/7/
Jika begitu keadaannya, maka meditasi vipassana atau meditasi keterjagaan adalah suatu sarana dan medium penting untuk anda dapat bertumbuh menjadi orang yang memiliki pikiran yang terbuka terus-menerus, tidak dogmatis, membuka diri sepenuhnya pada berbagai pembaruan pemikiran dan berbagai perspektif dalam memandang dan mengubah dunia ini; alhasil kecerdasan dan wawasan anda akan terus-menerus tumbuh, makin meningkat dan meluas.

Metode “mindfulness” oleh Ellen J. Langer sudah diterapkan dalam dunia pendidikan sejak 1997. Dalam bukunya The Power of Mindful Learning, dia membedakan pendekatan pembelajaran yang “mindful”, yang senantiasa “terjaga”, dan pendekatan pembelajaran yang “mindless”, yang (saya parafrasiskan) terus-menerus “tertidur”. Pendekatan yang “mindful” mendorong semua peserta pembelajaran untuk mencapai tiga karakteristik mental: pertama, mampu terus-menerus menciptakan kategori-kategori baru; kedua, selalu membuka diri pada informasi-informasi baru; ketiga, menyadari lebih dari satu perspektif. Sebaliknya, pendekatan yang “mindless”, “tertidur”, membuat orang terperangkap pada kategori-kategori lama; berkelakuan serba otomatis sehingga gagal memperhatikan sinyal-sinyal baru; dan bertindak berdasarkan hanya satu perspektif tunggal./8/

Langer juga menyebut pembelajaran “mindfulness” yang ditawarkannya sebagai “sideways learning” (“pembelajaran diagonal”), yang mencakup ciri-ciri: keterbukaan pada hal-hal yang baru; siaga terhadap pembedaan-pembedaan; kepekaan terhadap konteks-konteks yang berlainan; kesadaran (implisit atau pun eksplisit) terhadap perspektif-perspektif yang majemuk; memusatkan diri pada masa kini./9/

Jadi, sudah kita ketahui bahwa meditasi keterjagaan, yang dilandaskan pada filosofi impermanensi segala sesuatu, mampu menjadikan anda seorang yang kreatif dan inovatif dalam berpikir dan menafsirkan dan mentransformasi dunia dan kehidupan ini. Kemampuan-kemampuan untuk selalu terjaga kelihatan dan menjadi nyata dalam kehidupan sehari-sehari di luar meditasi; dus, kehidupan real sehari-hari anda menjadi meditasi “mindful” itu sendiri. Inilah yang Langer namakan “post-meditative mindfulness”, yang dicapai lewat latihan-latihan meditasi atau pun lebih langsung lewat perhatian anda kepada segala hal yang baru dan lewat kemampuan untuk mempertanyakan segala asumsi lama. Alhasil, tulisnya, “menjadi ‘mindful’ berarti anda berada di masa kini, dengan kemampuan untuk memperhatikan semua hal yang menakjubkan yang semula anda tidak sadari kalau hal-hal itu sudah ada di depan anda.”/10/

Pada suatu kesempatan di tahun 2000, Ellen J. Langer mengajukan sebuah permintaan supaya setiap orang di setiap saat dan di setiap situasi mampu mencapai kondisi “mindful” dalam semua fakultas mental mereka dan mempertahankan sikap dan perilaku yang selalu “terjaga”./11/ Tidak mustahil anda akan dapat memenuhi permintaannya ini jika anda berdisiplin menjalankan latihan meditasi keterjagaan.

Ada banyak manfaat lainnya yang diberikan meditasi vipassana. Nanti di bawah akan saya daftarkan. Sudah anda ketahui, dalam meditasi ini, anda bisa melihat dan merasakan sendiri, tanpa mengintervensi, mana pikiran dan perasaan yang potensial akan merusak diri anda dan mana pikiran dan perasaan yang potensial akan membangun diri anda. Anda menjadi pengamat yang aktif, bukan yang pasif; anda responsif, tapi tidak reaktif. Lihat, pantau, dan rasakan saja semuanya, tanpa melawan atau menolak atau memberi reaksi emosional atau melekatkan diri anda, dalam momen-momen kekinian meditatif anda.

Anda akan menemukan dan mengalami fakta ini: kemampuan yang makin kuat dan mantap dalam mengenali dan mengamati gerak-gerik dan perilaku semua pikiran dan perasaan anda dalam meditasi, akan juga menjadi kemampuan sehari-hari anda sementara anda aktif bekerja di dunia yang real, dunia yang menurut kebanyakan orang kejam, keras dan membuyarkan konsentrasi. Jika anda, sekali lagi saya tekankan, sudah tiba pada kemampuan ini, kehidupan sehari-hari anda, di manapun juga anda berada, berubah menjadi meditasi itu sendiri. Kemampuan untuk melihat dan menemukan mana pikiran dan perasaan yang membangun dan mana pikiran dan perasaan yang merusak, akan menjadikan anda seorang individu yang berkualitas dalam masyarakat. Kualitas kehidupan anda akan makin meningkat karena kesadaran nurani anda makin dipertajam dari saat ke saat, lewat latihan meditasi jangka panjang.

Jika anda berhasil dengan tenang mengamati dan mengikuti gerak-gerik pikiran dan perasaan anda, tanpa melekat pada keduanya, kembalilah lagi ke meditasi teknik yang pertama di atas, yakni berkonsentrasi kembali pada keluar dan masuknya nafas anda lewat kedua lubang hidung anda. Jika meditasi dengan teknik pertama ini buyar lagi, saat pikiran dan perasaan anda muncul kembali, bergerak ke sana ke mari tidak terkendali, maka dengan sadar anda perlu masuk kembali ke meditasi teknik kedua: mengamati dan mengikuti ke manapun pikiran dan perasaan anda bergerak.
 

Apa yang sebetulnya terjadi? Tampaknya, pada satu sisi, anda tidak bisa mengendalikan gerak-gerik pikiran dan perasaan anda karena anda membiarkan keduanya bergerak bebas menurut kemauan masing-masing. Tetapi, pada sisi lain, anda sebetulnya tetap menjadi sang master atas pikiran dan perasaan anda sendiri, karena anda dapat mengikuti keduanya ke manapun keduanya bergerak. Pikiran dan perasaan anda bebas bergerak sendiri, tetapi tidak pernah keduanya berada di luar pemantauan dan pengamatan anda. Anda sang master atas pikiran dan perasaan anda sendiri. Sang master yang baik dan unggul membiarkan murid-muridnya bebas mengembangkan pikiran mereka sendiri, tetapi selalu dapat mengikuti dan mengamati dan memahami ke mana pikiran-pikiran mereka sedang bergerak. Anda sungguh seperti sebuah mesin radar yang peka dan tajam, yang bisa memantau dan mengikuti semua pesawat yang bergerak dengan bebas menurut kemauan mereka sendiri. Pikiran besar anda memantau berbagai pikiran kecil anda lainnya. Inilah kemampuan yang dalam psikologi dinamakanmetakognisi, yakni pikiran kita tentang pikiran kita sendiri. 



Metakognisi 

Nancy Chick menjelaskan metakognisi sebagai pikiran tentang pikiran kita sendiri, yang mengacu ke proses-proses yang digunakan dalam merencanakan dan memahami pemahaman, pengertian dan kinerja, yang ada dalam pikiran, dan mencakup suatu kesadaran kritis tentang pikiran-pikiran sendiri dan diri sendiri sebagai orang yang belajar dan berpikir./12/ Dr. Steve Flaming menyatakan bahwa aktivitas metakognitif berlangsung setiap saat dalam kehidupan kita sehari-hari, saat kita memikirkan dalam-dalam pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, penilaian-penilaian, dan keputusan-keputusan kita sendiri, dengan menafsirkan akurasi dan validitas semuanya di sepanjang hari. Dia menegaskan bahwa metakognisi adalah suatu kapasitas neural yang fundamental bagi pengenalan atas diri sendiri lewat pengenalan atas isi pikiran-pikiran kita sendiri. Dengan kata lain, metakognisi adalah kemampuan kognitif kita untuk bermawas diri lewat perenungan-perenungan dan pengenalan terus-menerus atas pikiran-pikiran kita sendiri. Kemampuan neural metakognisi berpusat pada korteks anterior prefrontalis (yang merupakan korteks unik homo sapiens, yang tidak dimiliki spesies kera-kera besar)./13/ 

Lewat metakognisi yang dilatih dalam meditasi dan diteruskan dalam kehidupan real sehari-hari, anda mampu membedakan dengan tajam mana hal yang baik dan mana hal yang buruk, yang muncul dalam semua pikiran dan perasaan anda, baik saat anda bermeditasi maupun saat anda sedang sibuk bekerja sehari-hari di dunia real. Nurani anda dipertajam. Lewat metakognisi, anda mampu mengenali dan menyadari semua isi pikiran dan isi perasaan anda. Anda menjadi orang yang makin kenal-diri, makin sadar-diri, makin eling, makin introspektif. Guru spiritual India, alm. Osho (dikenal juga sebagai Bhagwan Shree Rajneesh) menyatakan bahwa lewat meditasi, semua topeng anda akan terlepas, dan anda dibawa ke pencarian dan penemuan bagaimana sebenarnya wajah asli anda. Lewat metakognisi, anda membangun harmoni dan kesatuan dengan semua isi pikiran dan isi perasaan anda. Anda menjadi seorang yang berjiwa utuh, penuh kepercayaan diri, dan tenang dan teduh, tidak pernah meledak-ledak, kata-kata dan perbuatan-perbuatan menyatu. Lewat metakognisi, anda bukan saja dapat mengenali semua isi pikiran dan isi perasaan anda, tapi juga mampu berpikir mentransendir ruang dan waktu anda sendiri. Anda menjadi seorang yang visioner dan berpikiran dalam dan luas. Jika semua kemampuan yang ditimbulkan oleh metakognisi yang terus dilatih ini disatukan, disinergikan, anda dari saat ke saat akan berubah menjadi manusia sejati, insan kamil, orang yang tercerahkan, menjadi buddha sendiri. Tidak ada satupun buddha yang tidak bermeditasi.

Dengan menyatu dengan jagat raya (lewat latihan meditasi teknik pertama), dan dengan menjadi radar atas semua pikiran dan perasaan anda, dengan menjadi sang master yang baik dan unggul atas semua isi pikiran dan perasaan anda (lewat latihan meditasi teknik kedua), anda perlahan-lahan akan berubah menjadi suatu personalitas yang mengagumkan, yang dapat membawa perubahan-perubahan penting bagi lingkungan kehidupan anda, lewat pikiran-pikiran anda yang mencerahkan dan lewat karya-karya besar anda.

Sesungguhnya, meditasi akan membuat anda bisa hidup dengan berkualitas. Bermeditasilah dengan berdisiplin dalam kehidupan anda; dan jangan lupa kehidupan itu sendiri seharusnya sebuah meditasi aktif. Saat anda dengan relaks duduk bermeditasi, entah di alam terbuka atau di dalam sebuah ruangan, anda ibaratnya sedang belajar berenang di sebuah kolam renang atau di sebuah danau indah yang airnya tenang, tanpa ombak. Setelah sekian waktu anda menjadi mahir berenang dengan berbagai gaya di danau yang asri tanpa ombak atau di kolam renang yang airnya tenang, anda masih harus mendemonstrasikan kemampuan renang anda di lautan-lautan yang bergelombang besar, yakni di dalam lautan-lautan kehidupan nyata sehari-hari dalam dunia luas ini. Jadi, hiduplah dalam dunia ini dengan meditatif, selalu. Berdiam dirilah tetapi juga sibuklah. Buatlah diri anda sangat sibuk sekaligus juga tidak melakukan apa-apa. 



                                                         Terjaga dan bermawasdiri... gerbang ke pengenalan diri sendiri!



Apa kata neurosains? 

Sekarang saya perlu sampaikan kepada anda apa kesimpulan sains mengenai meditasi. Sudah dikaji oleh neurosains, meditasi dengan teknik-teknik di atas, jika intensif dan kontinyu dilakukan dalam jangka panjang, akan berpengaruh pada struktur-struktur neural dalam otak kita: lobus frontalis dan hippokampus ternyata membesar, dan keadaan ini membuat si praktisi mengalami penajaman rasionalitas dan penalaran, makin imajinatif, kreatif dan penuh cinta, dan mencegah kepikunan dini. Selain itu, thalamus dalam otak diaktifkan terus dan keadaan ini membuat si praktisi terus-menerus merasa satu dengan alam dan isi pikirannya sejalan dengan realitas atau menghasilkan realitas seperti yang dipikirkan./14/

Selain itu, meditasi dengan teknik-teknik di atas ditemukan bermanfaat untuk mengendalikan rasa sakit yang kronis dan mencegah kambuhnya depresi. Manfaat ini didapat karena lewat meditasi terjadi peningkatan kontrol terhadap ritme-ritme alfa kortikol dalam otak, alhasil proses-proses pengelolaan informasi dalam otak seperti rasa sakit dan kondisi-kondisi emosi yang negatif saat orang terkena depresi menjadi terkendali. Selain itu, meditasi membantu si praktisi dalam mengorganisasi aliran-aliran informasi pada umumnya dalam otak./15/

Studi-studi di Universitas Harvard terhadap meditasi pemantauan pikiran dan kemawasdirian atau keterjagaan (mindfulness meditation) dengan menggunakan mesin MRI tiba pada sejumlah temuan. Meditasi teknik ini mempertebal kawasan korteks serebral yang terhubung dengan perhatian dan keutuhan emosional, merangsang peningkatan materi abu-abu (gray matter) otak dalam struktur hippokampus, yakni bagian otak yang berkaitan dengan kesadaran diri, belarasa dan sikap mawas diri. Sebaliknya, meditasi teknik ini menurunkan kepekatan materi abu-abu dalam amygdala yang diketahui sebagai bagian otak yang berperan penting dalam menimbulkan stres dan rasa cemas./16/ 

Jadi, berlatihlah meditasi. Jangan diabaikan. Tidak berlebihan jika saya menyatakan bahwa meditasi adalah sebuah jalan cerdas untuk mencapai pertumbuhan spiritual yang makin penuh dari saat ke saat. Meditasi akan membuat anda cerdas sekaligus bajik dalam beragama, jika anda menjalankannya dengan tekad kuat dan berdisiplin. Lewat meditasi, anda akan tahu bagaimana membangun watak dan kecerdasan anda, akhlak dan ilmu pengetahuan anda, supaya semuanya bermanfaat buat orang banyak, buat dunia ini, sekarang. Dan lewat meditasi juga anda akan dapat hidup lebih sehat dari hari ke hari, dalam tubuh dan dalam mental anda. Konon di suatu kesempatan sang Buddha ditanya seseorang, “Wahai sang Arif, apa yang anda telah peroleh dari meditasi?” Sang Buddha menjawab, “Tidak ada! Tapi, baiklah aku katakan kepadamu, lewat meditasi aku telah kehilangan amarah, rasa cemas, depresi, rasa tidak aman, dan rasa takut terhadap usia tua dan kematian!”  

Meditasi itu, sekali lagi, terbukti secara klinis menyehatkan kehidupan kita. Tidak ada neurosaintis satupun yang menilai meditasi negatif. Bahkan neurosaintis Sam Harris yang ateis memuji manfaat meditasi “mindfulness” (Pali: vipassana, atau sati), cuma dia wanti-wanti meminta supaya meditasi ini jangan direcoki oleh agama atau supernaturalisme apapun. Hemat saya, karena vipassana berasal dari Buddhisme pada era India kuno, tentu saja filosofi Buddhis dan pandangan sains India kuno tentang otak tidak bisa dilepas dari meditasi teknik ini. Bagi Harris, teknik ini menguntungkan karena dapat diajarkan dan dilatih dengan cara-cara yang sepenuhnya sekular, dan dapat juga dibawa ke konteks keilmuwan./17/ Mengenai manfaat meditasi ini, dia menyatakan hal berikut ini:

“Saya umumnya merekomendasikan sebuah metode meditasi yang dinamakanvipassana. Lewat metode ini, orang mengembangkan suatu bentuk konsentrasi pikiran yang dengan luas dikenal sebagai ‘mindfulness’ (“keterjagaan” atau “kemawasdirian”). Tidak ada sesuatupun yang menakutkan atau irasional menyangkut metode meditasi ini. Literatur mengenai manfaat psikologis metode ini kini sangat banyak. Keterjagaan sesungguhnya adalah suatu konsentrasi dan perhatian yang jernih, tanpa prasangka, dan tidak terombang-ambing terhadap isi kesadaran, entah kesadaran ini menyenangkan atau malah menyakitkan. Jika kualitas pikiran yang semacam ini dikembangkan, telah terbukti ini akan mengurangi rasa sakit, kecemasan, dan depresi; juga meningkatkan berbagai fungsi kognitif; dan bahkan menghasilkan perubahan-perubahan di dalam kepekatan materi abu-abu di bagian-bagian otak yang berhubungan dengan pembelajaran dan memori, regulasi emosi, dan kesadaran-diri.”/18/
Meskipun demikian, saya ingin tekankan, meditasi bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, tetapi sarana dan wahana untuk tiba pada wellnesswellbeingserenityhealthkindnessselflessness,and longevity. Tetapi meditasi saja tidak cukup. Efektivitas sarana dan wahana apapun selalu bergantung pada si pemakainya. Tidak ada yang ajaib, magis atau paranormal pada meditasi. Untuk anda menjadi seorang manusia yang penuh kebajikan dan cinta kepada segala yang hidup, selain meditasi diperlukan komitmen penuh dari anda untuk anda mengabdikan diri anda bagi umat manusia dan dunia tanpa pamrih. Tanpa komitmen ini, sekalipun anda rajin bermeditasi, anda masih bisa terjebak dalam kebencian dan perilaku kekerasan.  

Saya ingin memberitahu anda apa kata Dalai Lama ke-14 tentang meditasi. Katanya, meditasi terbaik yang manusia bisa capai adalah tidur nyenyak. Ya, kita semua tahu, tidur nyenyak sangat perlu dengan teratur kita alami setiap malam, karena berdampak positif pada kesehatan jiwa dan raga kita. Tanpa tidur nyenyak yang teratur, khususnya jika anda menderita insomnia (baik primer maupun sekunder), anda akan mengalami banyak masalah kesehatan, yang akhirnya akan berpengaruh buruk pada perilaku dan segala aktivitas anda di siang hari, dan akan memperpendek usia anda. Tetapi menurut pengalaman saya sendiri, jika dua teknik meditasi yang sudah diuraikan di atas dapat dengan baik dan teratur kita lakukan, keberhasilan kita dalam bermeditasi ini akan juga berdampak positif pada kualitas tidur kita. Sebaiknya anda juga tahu, sebuah riset mutakhir atas prasangka-prasangka rasial dan sexis dan prasangka-prasangka primordial lain, lewat metode Implicit Association Test (IAT) yang dilengkapi dengan tidur nyenyak subjek-subjek yang sedang diteliti, berhasil menemukan fakta ini: tidur nyenyak yang di dalamnya semua memori yang terbentuk selama segala aktivitas yang baru kita lakukan terkonsolidasi, ternyata mampu mengurangi perilaku rasis dan sexis. Artinya, tidur nyenyak juga akan ikut memampukan anda untuk menjadi warga dunia./19/ Dari situ, apakah pertanyaannya bisa dibalik: Apakah orang beragama yang sangat sering marah-marah dan histeris dalam masyarakat, sebetulnya orang-orang yang susah tidur nyenyak di malam hari? 

Jadi, berlatihlah dengan tekun dua teknik meditasi yang sudah dibeberkan di atas, dan tidurlah dengan nyenyak setiap malam. Dengan tiga hal ini, anda akan hidup jauh lebih sehat, jauh lebih sukses, jauh lebih berbahagia, jauh lebih cerdas, jauh lebih arif, jauh lebih berwawasan, dan jauh lebih manusiawi. 

Lambat-laun anda akan menjadi seorang insan kamil.  

Jakarta, 2 Agustus 2015 
ioanes rakhmat