Kesehatan

Senin, 25 September 2017

Mengenal Sekte-Sekte dalam Agama Buddha



Agama Buddha memiliki banyak sekte/aliran karena:
1. Sang Buddha mengajarkan kepada banyak kelompok orang, ada yang masyarakat biasa, kaum terpelajar, kaum pertapa, para dewa, asura, dan sebagainya. Sang Buddha menyesuaikan materi yang diajarkan sesuai dengan pola pikir masing-masing kelompok yang berbeda.

2. Tiap-tiap manusia memiliki kecenderungan yang berbeda, baik minat maupun kebiasaannya. Hal ini menyebabkan cara setiap orang melihat ajaran Sang Buddha bisa dari berbagai sudut pandang, disesuaikan dengan mereka.

3. Masalah sekte/aliran, seperti halnya masalah agama, adalah masalah kesesuaian/kecocokan. Tentu saja hal ini berbeda pada setiap pribadi. Ajaran Sang Buddha amatlah luas, sehingga ada kelompok tertentu yang memiliki kecenderungan untuk memilih bagian atau tradisi tertentu dari ajaran Sang Buddha untuk dipraktekkan.

Sekte/aliran Buddha antara lain:
1. Theravada, adalah sekte yang dianggap paling dekat dengan tradisi awal perkembangan Buddhisme. Bagi Anda yang menyukai pola berpikir kritis, rasional dan menyelidik, silahkan memilih sekte ini.

2. Mahayana, adalah salah satu sekte yang amat dekat dengan tradisi, khususnya tradisi Tionghoa, karena sekte ini sejak dulu berkembang pesat di Tiongkok. Pembacaan nama-nama Buddha sangat lekat dengan sekte ini. Sesungguhnya, sekte ini memiliki banyak sub sekte, tetapi di Indonesia fenomena ini tidak menonjol.
Di Indonesia, sekte ini pernah berkembang pesat pada masa kejayaan Sriwijaya. Tentu saja pada saat itu, sekte ini lekat dengan tradisi Jawa Kuno. Sedangkan Mahayana yang berkembang sekarang di Indonesia diadopsi dari Mahayana orang Tionghoa.
Memang, ciri khas Mahayana adalah keterbukaan/penerimaan yang amat besar terhadap tradisi setempat. Sehingga tidak heran, secara statistik, sekte ini memiliki penganut terbesar.
Bagi yang suka hal-hal praktis dan tradisi dalam ajaran Buddha sangat cocok memilih sekte ini.

3. Tantrayana, adalah sekte yang paling berkembang di Tibet. Hal-hal yang tampak gaib di mata awam adalah ciri khas sekte ini. Sekte ini pun terbagi dalam sub-sub sekte. Bagi yang senang mendalami kegaiban dalam ajaran Buddha sangat cocok memilih sekte ini.

4. Tridharma, adalah sekte yang didirikan oleh kaum Buddhis yang selain kagum terhadap ajaran Buddha, juga amat terbuka terhadap filsafat Khonghucu dan kepercayaan Taoisme. Banyak kaum terpelajar yang tetap kental memelihara dengan kuat tradisi Tionghoa, memilih sekte ini.

5. Maitreya, adalah sekte yang berasal dari Taiwan. Banyak yang menganggap sekte ini telah menyimpang dari ajaran Buddha yang sesungguhnya, karena adanya misi keselamatan tunggal dari Buddha Maitreya, yaitu Buddha yang akan datang. Untuk mengikuti sekte ini, seseorang sangat dianjurkan bervegetarian dan menyebarkan misi Maitreya. Tata cara/upacara sembahyang sangat ditekankan dalam sekte ini. Jika Anda merasa cocok dengan aliran ini, silahkan memilih aliran ini.

6. Nichiren, adalah sekte yang berasal dari Jepang.
Maaf, saya tidak terlalu mengenal sekte ini.
Silahkan tanya pada praktisi setempat jika Anda membutuhkan informasi yang jelas.

7. Satya Buddhagama, adalah sekte yang didirikan oleh Master Lu Sheng Yen, seorang Amerika keturunan Tionghoa. Ajaran Lu Sheng Yen merupakan pengalaman-pengalaman spiritual Beliau seputar ajaran Buddha dan kepercayaan Taoisme. Jika Anda berminat berguru pada Beliau, silahkan memilih sekte ini.

8. Buddhayana, sebenarnya bukan sekte/aliran yang berdiri sendiri, karena Buddhayana pada awalnya bertujuan untuk menghindari adanya sektarian dan kefanatikan. Mereka sangat terbuka terhadap Theravada, Mahayana dan Tantrayana. Jika Anda tertarik dan sangat terbuka untuk mendalami ketiga tradisi ini, silahkan pilih Buddhayana.

9. Tradisional. Saya sangat ragu untuk memasukkan kalangan tradisional dalam salah satu sekte dalam agama Buddha. Tetapi, kenyataannya, itulah yang terjadi. Banyak umat Buddha yang mengaku beragama Buddha karena warisan tradisi (secara KTP beragama Buddha).
Mereka sembahyang kepada Buddha dan dewa-dewa kepercayaan setempat, tetapi sesungguhnya mereka tidak mengerti ajaran Buddha. Mereka kental sekali dengan kepercayaan kepada dewa-dewa setempat. Fenomena ini pula yang menyebabkan banyak generasi muda yang lebih memilih pindah agama, karena di mata mereka, agama Buddha sangat kuno dengan tradisi yang mirip berhala. Jika terpaksa, golongan ini bisa dikategorikan sebagai sekte Mahayana atau Tridharma.
Sebenarnya, aliran/sekte dalam agama Buddha sangat banyak dan beragam. Yang disebutkan di sini hanya beberapa yang saya ketahui. Silahkan cari tahu sendiri jika Anda berminat.

Aliran, sekte atau klan apapun bukan sesuatu yang luar biasa, keberagaman bukan hal yang buruk
Kalau bermunculannya beragam aliran atau sekte2, bukan hanya di agama Buddha saja_dan jika betul bertujuan untuk memberi manusia petunjuk-petunjuk menuju kehidupan yang sehat dan membahagiakan, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk seluruh umat manusia lewat berbagai macam jalan yang baik dan benar, apakah itu satu masalah?
Renungkanlah,...

Anda memilih agama apapun, salah satu faktor nya adalah karena adanya kecocokan saja.
Alam Semesta (atau Tuhan, atau Sunyata, jika bagi anda lebih srek) telah memberi petunjuk lewat banyak cara dan bentuk bahwa keanekaragaman itu adalah kodrat semua ciptaan Tuhan, sesuatu yang sunatulah. Keanekaragaman ini ada bukan untuk dipecahbelah dan diadubanteng, tapi untuk menyatu-dalam-kemajemukan, saling terikat pada matarantai sirkular interdependensi dan inter-relasi kehidupan yang mutualistik. Karena ada hal-hal yang khas dan unik, maka pluralitas menjadi niscaya. Tidak usah dibuat ribet dan rumit, kalau sesuatu itu memang sudah simpel. Kata sebuah kaidah fikih, “Yassiru walaa tu ‘assiru.” Ini kurang lebih serupa dengan ucapan mendiang Gus Dur yang sudah kita semua tahu, “Gitu aja kok repot!”
Beragama, apalagi agama Buddha yang menekankan welas asih tidak terbatas hanya pada manusia saja tetapi kasih sayang tidak terbatas kepada semua makhluk sewajarnya membuat anda menjadi insan yang makin baik, makin cerdas, makin visioner, makin bajik, makin bijak,
Dengan memilih beragama Buddha, alhasil kita bisa bermawas diri, mewaspadai diri, yang akan membuat kita akhirnya, setelah melewati usaha-usaha keras dan penuh disiplin, menjelma sebagai insan yang agung, insan kamil. Ego anda, keakuan anda, egotisme anda, perlahan mulai lenyap. Perlahan namun pasti, cinta kasih, kepedulian, bela rasa, empati, kebajikan, solidaritas, interkonektivitas, kehidupan dan kebahagiaan mulai bertumbuh, Itulah yang disebut bibit atau benih Buddha yang terdapat pada semua makhluk. Artinya, Anda telah menemukan Buddha / Kesadaran dalam diri anda.

“Pengambilan jarak” atau “ketidakmelekatan” (Pali/Sanskrit: nekkhamma) adalah sebuah metode psikoterapis dalam Buddhisme untuk membuat anda tetap dapat hidup stabil secara emosional sementara berbagai hal dalam dunia ini terus-menerus berubah dan berganti: suka berubah jadi duka dan duka berubah jadi suka, sukses berubah jadi kegagalan dan kegagalan berubah jadi sukses, sehat berubah jadi sakit dan sakit berubah jadi sehat, tawa berubah jadi tangis dan tangis berganti jadi tawa, kaya berubah jadi miskin dan miskin berubah jadi kaya, dan sebagainya.

Segala sesuatu itu impermanen. Tunduk pada hukum impermanensi akan dapat berdampak negatif pada emosi anda, khususnya ketika hukum impermanensi ini mengubah kehidupan anda, dari suka menjadi duka, dari kaya menjadi miskin, dari hidup menjadi mati, dari sukses menjadi gagal, dari senyum menjadi tangisan. Ketika orang menyadari impermanensi ini lalu mampu mengambil jarak terhadap semua peristiwa dalam kehidupan mereka, mereka ternyata dapat hidup dengan lebih baik, lebih bermoral, dan lebih sehat, mulai dari soal pemilihan pacar, pengendalian syahwat, hingga ke pemilihan menu makanan, dan seterusnya,

Orang yang menolak pluralitas sesungguhnya adalah orang yang tidak mengakui diri mereka sendiri, dan juga diri nabi-nabi junjungan mereka dan agama-agama mereka, memiliki keunikan, kekhasan. Semua hal dalam dunia ini, bagi orang semacam itu, seragam. Bagi mereka, apel sama dengan ketapel. Pesawat supersonik sama dengan jerawat kronik. Semua seragam dan tunggal. Hidup seperti itu pasti tidak enak. Karena mau menang sendiri. Menimbulkan stres dan depresi yang menyerang tubuh, emosi dan kognisi serentak. Sebaliknya, memandang kemajemukan warna-warni indah pelangi sehabis hujan sangat meneduhkan hati, menenteramkan jiwa, dan menyenangkan pikiran. Pelangi, pelangi, alangkah indahmu. Merah, kuning, hijau. Di langit yang biru. Pelukismu agung. Siapa gerangan? Tul gak?

Selain faktor genetik, juga ada faktor epigenetik yang membuat individu-individu dalam satu ikatan darah keluarga juga berbeda dalam banyak segi, karena berbagai pengalaman dan sikon kehidupan eksternal yang berbeda-beda (kehidupan sang bunda anda, misalnya) berpengaruh secara hormonal sejak anda masih dalam kandungan mama anda sebagai janin atau sebagai bayi yang belum lahir.

Jadi ya tak usah nabi-nabi dan agama-agama yang mereka masing-masing bangun dipertandingkan: adu hebat, adu sempurna, adu superior, adu kuat, adu cerdas, adu keras, adu suci, adu jumlah pengikut, dsb. BUAT APA??? ADU MENANG-MENANGAN?? ADU TEORY??, ADU ARGUMENT?? ADU UMAT? Akhirnya, ADU OTOT! astagaa,...!


Oh ya, kalau umat-umat beragama yang berbeda-beda itu mau bertanding, ya boleh dan malah bagus, asal mereka bertanding dengan cerdas, fair, terbuka, penuh respek, dan bermartabat, dalam dunia ekonomi, bisnis, pengembangan sains dan teknologi, kemajuan peradaban, gerakan ke angkasa luar untuk eksplorasi (kehidupan lain, kawasan yang bisa manusia nanti diami, dan barang tambang yang sudah ada atau tidak ada di Bumi), dan nilai-nilai agung kemanusiaan. Dalam bidang-bidang ini hendaklah kita semua menjadi pemain, bukan cuma penonton. Kompetisi sehat, cerdas, fair, dan bermarwah, tentu saja tidak terhindar.

Menurut APA, (American Psychological Association), jika iman dan kepercayaan seseorang kepada agamanya membuat orang itu tidak bisa mengambil keputusan yang benar, yang berlandaskan kesadaran moral dan akal sehat dan akal ilmiah, atas banyak soal penting dalam kehidupannya, orang itu harus dikategorikan sedang mengalami gangguan mental. Dalam sikon terkena gangguan mental ini, orang lain (seorang dokter misalnya) dapat mengintervensi untuk menolong orang itu demi kebaikannya dan kebaikan keluarganya.
Suatu kepercayaan yang kuat dan sangat bergairah pada pandangan pribadi, yang berakibat melumpuhkan kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan-keputusan yang sadar dan benar tentang hal-hal yang lazim menurut akal sehat, kini dapat digolongkan sebagai gangguan mental.”
Lewat studi ini ditemukan bahwa orang yang sangat taat beragama seringkali menderita rasa cemas, keresahan emosional, halusinasi, dan paranoia.


Oke, terakhir saya tambahkan:
Jika anda karena agama anda (aliran atau sekte apapun itu), anda menjadi orang yang lemah-lembut, kalem, relaks, penuh cinta kasih kepada semua manusia tanpa diskriminasi (karena alasan-alasan beda agama, beda aliran, beda orientasi seksual, dst), murah hati, toleran, cinta dan memperjuangkan kedamaian dan persaudaraan, selalu memakai akal sehat, dan cinta ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dalam kehidupan, dan ikut berjuang mempertahankan kehidupan dan memajukan peradaban, dan terus-menerus makin cerdas dan makin tegar dalam segala suka dan duka, maka jangan khawatir, anda sudah beragama dengan sehat, benar dan cerdas. Anda tidak sedang menderita gangguan jiwa.
Semua orang tahu, etika atau akhlak atau moralitas bersumber tidak hanya pada kitab-kitab suci atau hanya pada ajaran-ajaran agama. Banyak hal dalam alam ini yang bisa memberi manusia petunjuk-petunjuk tentang kearifan moral, termasuk juga ilmu pengetahuan.
Setiap Kitab Suci agama apapun memiliki kesalahan-kesalahan, tentu saja.

Agama saya sederhana, tidak rumit, yakni agama kebaikan hati.
Tidak ada dogma dan tidak ada hierarki.
Rumah ibadah saya ya dunia luas ini, tanpa dinding dan atap.
Kitab suci saya ya bentangan langit malam penuh bintang yang bercahaya, dikagumi dan dibaca semua orang, penuh misteri yang menawan hati.
Ritual saya ya baca buku-buku dan menulis, untuk mencerahkan dunia.
Syahadat saya, ya “Aku cinta umat manusia dan kehidupan.”
Tuhan saya ya sang Cinta Kasih Tanpa Batas.
Nabi saya ya diri saya sendiri untuk diri saya sendiri.
Doa saya ya seluruh gerak kehidupan saya.
Nyanyian rohani saya ya “Imagine” karya John Lennon.
Komunitas keimanan saya ya umat manusia sejagat.
Ikrar saya ya mengabdi demi kebajikan, kemanusiaan dan ilmu pengetahuan.

Mohon maaf jika nama penulis tidak saya lampir karena saya tidak mengutip dari 1 sumber saja.
Semoga membawa manfaat bagi semua makhluk
Salam Damai _/\_

Tidak ada komentar: