Kesehatan
Rabu, 18 Oktober 2017
Kesabaran dalam Ajaran Buddha
Tiga Jenis Kesabaran
"Kesabaran adalah kebajikan," demikian kalimat bijak.
Jadi, apa kita harus tersenyum meringis saja dan menanggung segalanya?
Kesabaran dalam ajaran Buddha merupakan laku berdaya yang tidak berarti bahwa kita menepa-selira segala hal, tetapi kita giat mengupayakan kesadaran kita untuk memastikannya tidak jatuh ke dalam perasaan gelisah. Kesabaran memberi kita kekuatan untuk berupaya memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, dan merupakan salah satu anasir yang mendorong langkah kita menuju kebebasan dan pencerahan.
Sikap menjangkau-jauh (kesempurnaan/paramita) ketiga adalah kesabaran, suatu tataran citta, yang membuat kita tidak marah dan mampu menahan berbagai kesulitan dan duka. Boleh saja kita diterpa segala celaka dari orang lain, tapi hal itu tidak mengusik kita. Tidak berarti bahwa kita tidak lagi punya musuh atau orang-orang yang mencoba mencelakai kita, tapi itu berarti kita tidak marah, gusar, lesu semangat, atau sungkan untuk menolong mereka.
Kalau kita selalu hilang sabar, bagaimana mungkin kita bisa sungguh-sungguh menolong orang lain?
Ada tiga jenis kesabaran di dalam sikap ini:
1. Tidak Kesal dengan Orang yang Mencelakai
Jenis kesabaran yang pertama adalah tidak kesal dengan orang yang mencelakai.
Maksudnya di sini, bukan hanya orang-orang yang bertindak negatif, tetapi juga mereka yang betul-betul jahat kepada kita, yang memperlakukan kita dengan buruk, dan mencelakai kita, baik secara lahir maupun batin. Bahkan termasuk orang-orang yang tidak berterima kasih atau menghargai kita. Khususnya ketika kita menolong orang lain, amat penting bagi kita untuk tidak marah pada mereka ketika mereka tidak menerima nasihat kita atau ketika nasihat itu tidak berhasil. Ada banyak orang yang amat sangat sulit ditolong; sehingga, alih-alih hilang sabar, kita harus tahan menanggung semua kesulitan yang ada.
Kalau kita guru, kita tidak boleh kehilangan kesabaran kita terhadap murid-murid kita, tidak peduli seberapa lambat atau tidak cerdas si murid itu. Sebagai guru, baik yang mengajar Dharma atau lainnya, kita seyogianya mampu bersabar dan tidak gusar. Seperti mengajar seorang bayi: kita harus terampil; tidak bisa kita harap si bayi belajar secepat orang dewasa.
2. Tahan Menanggung Duka
Jenis kesabaran yang kedua adalah menerima dan menanggung duka kita sendiri – hal yang banyak dibicarakan oleh Shantidewa. Ia berkata, kalau kita ada masalah yang dapat diselesaikan, tidak ada gunanya kita marah, kesal, atau khawatir. Lakukan saja hal yang perlu dilakukan untuk menyelesaikannya.
Namun, jika tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mengurus masalah itu, buat apa marah?
Tidak ada gunanya.
Seperti kalau suhu udara dingin dan kita punya baju hangat. Buat apa kita mengeluh dan marah karena suhunya dingin kalau kita bisa menambah lapis baju kita?
Kalau kita tidak punya baju hangat, kesal dan marah juga tidak akan menghangatkan badan kita.
Kita juga dapat melihat duka yang kita alami sebagai tanda terbakar habisnya rintangan negatif.
Kita senang karena karma negatif tersebut matang sekarang, dan bukan besok-besok dalam keadaan yang lebih parah. Jadi, kita seperti terlepas dari karma dengan cara yang lebih ringan.
Kalau kaki kita terantuk meja di ruang gelap dan rasanya sakit sekali – ya, itu bagus, karena masih untung kaki kita tidak patah!
Cara pikir seperti ini dapat membantu kita untuk tidak marah.
Lagi pula, mengaduh-aduh dengan cara berlebihan ketika kaki kita sakit karena terantuk pun tidak akan ada gunanya. Sekali pun ibu kita datang dan mengusap-usapnya, sama saja, tetap sakit rasanya.
Sama juga ketika kita sedang mencoba mengerjakan sesuatu yang sangat positif dan membangun, seperti saat kita memulai undur-diri panjang, melakukan perjalanan untuk menolong orang lain, atau menyumbang tenaga di sebuah kerja Dharma. Jika banyak rintangan dan kesulitan yang terjadi di awal-awal, sebenarnya itu pertanda bagus. Ibaratnya, semua rintangan terbakar habis sehingga sisanya akan berlangsung lancar. Kita semestinya senang karena rintangan itu terbakar habis sekarang, daripada jadi perkara yang lebih besar kelak.
Shantidewa berkata bahwa duka dan masalah pun punya sifat baik.
Bukan berarti kita jadi cari-cari masalah untuk menyiksa diri, tetapi saat kita berduka, ada berbagai sifat baik yang dapat kita mengerti di situ. Duka menipiskan kepongahan kita dan membuat kita jadi lebih rendah hati. Duka juga membantu kita untuk mengembangkan welas asih (iba) bagi orang lain yang didera masalah yang sama.
Kalau kita terjangkit penyakit tertentu, rasanya seperti ada rasa memahami dan welas asih yang muncul secara alami bagi sesama penderita.
Ketika kita tua, akhirnya kita dapat betul-betul memahami sakitnya usia lanjut. Biasanya tidak bisa kita berwelas asih kepada orang-orang lansia saat kita masih berusia 16 tahun karena kita tidak bisa paham seperti apa rasanya usia 70 tahun itu. Namun ketika kita sudah sampai ke titik usia itu dan mengalaminya semua, maka kita jadi sangat berwelas asih dan berpengertian terhadap orang lansia.
Juga, jika kita memahami sebab dan akibat berperilaku – karma – maka ketika kita berduka, kita diingatkan untuk menghindari tindakan merusak.
Mengapa?
Karena bertindak negatif adalah sebab bagi duka.
Kita jadi didorong untuk lebih erat melibatkan diri pada tindakan membangun, yang merupakan sebab dari kebahagiaan.
3. Tahan Menanggung Kesukaran Demi Dharma
Jenis kesabaran ketiga adalah tahan menanggung kesukaran yang ada ketika mempelajari dan menjalankan Dharma. Berupaya mencapai pencerahan itu butuh waktu yang begitu panjang dan daya upaya yang luar biasa besar, dan kita harus makul (realistis) mengenai hal itu dan tidak lesu semangat: kita harus bersabar dengan diri sendiri.
Penting sekali untuk memahami dan menerima bahwa sifat samsara itu naik dan turun, bukan hanya dalam hal kelahiran kembali yang lebih tinggi dan lebih rendah, tetapi secara umum memang senantiasa begitu. Kadang kita merasa ingin berlatih, kadang tidak. Kadang latihan kita berjalan baik, kadang tidak.
Mau bagaimana lagi?
Memang seperti itu lah samsara.
Keadaan tidak akan selalu semakin baik setiap hari, jadi kita perlu bersabar dan tidak lantas menyerah ketika hari kita tidak berjalan sesuai rencana.
Mungkin kita pikir kita telah menangani amarah dan tidak akan pernah tersulut marah lagi, tetapi kemudian, tiba-tiba, sesuatu terjadi dan kita marah lagi. Ya hal seperti itu memang bisa terjadi. Amarah kita tidak akan tersingkirkan sepenuhnya sampai kita menjadi orang yang terbebaskan, seorang Arahat. Jadi, kesabaran adalah kuncinya.
Shantidewa tentang Mengembangkan Kesabaran
Shantidewa menjelaskan sejumlah cara untuk mengembangkan kesabaran di dalam Memasuki Perilaku Bodhisattwa.
Mari kita lihat beberapa contohnya:
Kalau tangan kita terbakar api, kita tidak bisa marah pada api itu karena panasnya.
Itu memang sudah sifat api.
Demikian pula, mau bagaimana lagi dengan samsara?
Tentu saja orang akan mengecewakan kita, orang akan melukai kita, segala sesuatu akan sulit adanya. Kalau kita minta orang untuk melakukan sesuatu buat kita, kita harus sudah siap bila ia mengerjakannya dengan keliru.
Kalau mereka mengerjakannya tidak dengan cara yang kita suka, itu salah siapa?
Itu salah kita sendiri karena terlalu malas dan meminta mereka yang mengerjakan.
Kalau pun kita harus marah, kita harus marah pada kemalasan kita sendiri!
"Mau harap apa dari samsara" adalah kalimat berguna untuk diingat bagi semua jenis kesabaran yang perlu kita kembangkan.
Apa kita pikir kehidupan ini akan mudah dan segala hal akan berjalan lancar, selalu untuk selamanya? Sifat dari setiap saat dari kehidupan kita adalah samsara – dan itu sama dengan duka dan masalah yang berulang tanpa terkendali. Jadi ketika keadaan tidak seperti yang kita inginkan, atau orang menyakiti atau mengecewakan kita, tidak usah kaget.
Mau bagaimana lagi?
Inilah sebab mengapa kita ingin keluar dari samsara itu.
Ibarat mengeluhkan bahwa musim salju itu gelap dan dingin.
Ya, mau bagaimana lagi, namanya juga musim salju, tidak mungkin kita berharap cuacanya baik, hangat, dan kita bisa mandi sinar matahari. Sama seperti api yang sifatnya panas, dan tangan kita akan terbakar kalau terjilat lidahnya, musim salju itu akan gelap dan dingin. Jadi tidak ada gunanya marah.
Cara lain yang dianjurkan Shantidewa adalah memandang orang lain seolah-olah mereka itu orang gila atau masih bayi.
Kalau orang gila atau orang teler membentak kita, bila kita balas bentak, kita lebih gila atau mabuk dari mereka, bukan?
Kalau anak kita yang usianya masih dua tahun menjerit "Aku benci Mama/Papa!" ketika kita matikan televisi dan menyuruhnya tidur, apakah itu kita masukkan ke dalam hati dan kemudian marah dan kesal karena dia membenci kita?
Tidak, karena dia masih bayi.
Kalau kita dapat melihat orang lain yang berbuat jahat seolah mereka itu bayi yang sedang rewel atau orang gila, cara itu dapat membantu kita untuk tidak marah pada mereka.
Selain itu, kalau seseorang menyusahkan kita, sangat berguna bila kita memandang mereka sebagai guru kita. Kita semua tentu punya satu orang menjengkelkan yang tampaknya tidak pernah bisa kita hindari, bukan? Kalau kita sedang bersama mereka, pikirkan, "Orang ini adalah guru kesabaranku." Malah, kalau orang tidak membuat kita jengkel atau susah, kita tidak akan pernah mampu belajar sabar, kita tidak pernah ditantang.
Jadi, kita dapat melihat mereka ini sebagai orang yang amat baik karena justru mereka memberi kita kesempatan. Yang Mulia Dalai Lama selalu berkata bahwa para pemimpin negara Tiongkok adalah gurunya, dan bahwa Mao Zedong adalah guru kesabarannya yang paling luar biasa.
Ringkasan
Setiap hari kita terpaku pada samsara, kita akan berjumpa dengan permasalahan dan kegusaran. Kadang, keadaan berlangsung persis seperti yang kita mau, dan kadang hidup ini serasa terpelintir di luar kendali. Setiap upaya punya kemungkinan gagal, setiap teman punya kemungkinan menjadi musuh. Tidak peduli seberapa banyak sudah kita tolong sahabat kita, bisa saja ternyata dia menjelek-jelekkan kita di belakang.
Dalam keadaan semacam ini, tampaknya lumrah saja kalau kita marah, yang mendorong kita untuk yakin bahwa kalau musuh hancur kita akhirnya akan menemukan kedamaian yang kita dambakan. Sayangnya, sekali pun kita hancurkan musuh bebuyutan kita hari ini, besok dan lusa musuh baru akan muncul.
Shantidewa menasihati kita untuk menutupi kaki kita sendiri ketimbang mencoba menutupi seisi planet ini dengan kulit.
Artinya, tidak ada gunanya kita mencoba mengatasi semua musuh di luar diri kita ketika yang paling perlu kita perbuat adalah menghancurkan musuh di dalam diri kita sendiri – amarah.
Kulit di sini mengacu pada kesabaran, jalan keluar yang membimbing kita untuk tahan menanggung kesukaran yang ditimpakan orang lain kepada kita, dan kita akan kita temukan di jalan kita menuju kebebasan.
Shantidewa atau Shantideva (nama lain Śantideva, Zh: 寂天) adalah seorang cendekiawan Buddhis yang berasal dari India pada abad ke-8. Ia adalah cendekiawan Universitas Nalanda dan seorang penganut filsafat Prasangika Madhyamaka.
Sumber: lupa :P
Hubungan Psychotherapist & Neuroscientist, Sains dan Keagamaan dengan Dharma Buddha.
“Mengapa ajaran Buddha?”
Penting bagi kita untuk memahami terlebih dahulu bahwa ketika kita berbicara tentang Ajaran Buddha, kita akan menemukan banyak sisi yang berbeda untuk itu. Di satu sisi terdapat sisi-sisi yang bisa kita sebut sebagai Sains dan hubungannya dengan pandangan Buddha, Psychotherapist & Neuroscientist dalam Dhamma Buddha, dan Buddha dalam konteks keagamaan (Keagamaan Buddha).
Ketika kita berbicara tentang Sains, ini mengacu pada hal-hal yang logic; bagaimana kita mengetahui sesuatu hal, dan utamanya pandangan tentang kenyataan_bagaimana alam semesta terjadi, materi dan energi, dlsb., hal-hal semacam hubungan antara zat. Semua ini berhubungan dengan pokok-pokok sains, dan ajaran Buddha memiliki banyak hal untuk ditawarkan dalam ranah-ranah tersebut.
Sedangkan Psychotherapist & Neuroscientist dalam Pandangan Buddha berhubungan dengan berbagai macam tataran perasaan, terutama perasaan-perasaan gelisah yang menyebabkan banyak sekali ketidak-bahagiaan pada kita (kemarahan, kecemburuan, keserakahan, dst.).
Dan ajaran Buddha sangat kaya dalam cara-cara untuk menghadapi masalah-masalah yang muncul dari perasaan-perasaan gelisah ini.
Keagamaan Buddha, di sisi ini, berhubungan dengan berbagai unsur upacara, mantra, doa-doa; ini menyangkut pokok-pokok seperti kelahiran kembali.
Dan itu pun merupakan ranah yang sangat kaya.
Ketika kita bertanya; “Mengapa ajaran Buddha?"
"Apa yang kita butuhkan dari ajaran Buddha di dunia kontemporer ini?”
Maka kita perlu melihat secara khusus pada hubungan Sains dan Dhamma Buddha serta hubungan antara Psychotherapist dengan Dhamma Buddha.
Jika ada yang tertarik pada sisi-sisi yang lebih bersifat keagamaan pada ajaran Buddha, itu juga bagus; tak masalah. Tapi pada umumnya tidaklah mudah berpindah ke agama lain jika kita dibesarkan dalam satu agama, dan bagi kebanyakan orang ini menyebabkan pertentangan dalam diri mereka, pertentangan kesetiaan, dan khususnya bisa menyebabkan masalah/konflik pada waktu yang cukup lama. Kita akan menjadi sangat bingung tentang apa yang sebenarnya kita percaya.
Oleh karena itu, kita perlu sangat berhati-hati sebagai orang yang tumbuh dalam budaya dan tradisi-tradisi turun-temurun dan lalu tiba-tiba memilih berpaling ke sisi-sisi keagamaan Buddha, karena ada masalah-masalah lain yang bisa muncul di sana, seperti takhyul dan mengharapkan hal-hal ajaib dari upacara-upacara Keagamaan Buddha, dlsbg.
Jadi jauh lebih baik, lebih disarankan, setidaknya pada permulaan, untuk memusatkan pada sisi-sisi Sains dan ilmu kejiwaan/psikologi Buddha terlebih dahulu. Ini adalah ranah-ranah yang bisa dipadukan dengan sangat baik ke dalam tradisi-tradisi atau kehidupan modern manapun dengan sedikit pertentangan.
Mari kita meninjau sebagian kecil sisi-sisi Sains dan kesamaannya dengan Dhamma Buddha.
Sains Buddha
Mantiq (Bahasa Arab) atau Logic (Bahasa Inggris). diambil dari kata”Logos” bahasa Yunani.
adalah alat atau dasar yang penggunaannya akan menjaga kesalahan dalam berpikir.
Lebih jelasnya, Mantiq merupakan upaya agar seseorang dapat berpikir dengan cara yang benar, sehingga seseorang yang menggunakannya akan selamat dari cara berpikir salah.
Manusia sebagai makhluk yang berpikir tidak akan lepas dari berpikir. Namun, saat berpikir, manusia seringkali dipengaruhi oleh berbagai tendensi, emosi, subyektifitas dan lainnya sehingga ia tidak dapat berpikir jernih, logis dan obyektif. Mantiq merupakan upaya agar seseorang dapat berpikir dengan cara yang benar, tidak keliru.
Mantiq atau berpikir logis, masuk akal, logika, adalah bagian yang sangat penting dari latihan Dhamma Buddha, bahkan ajaran ini bisa dipelajari dalam kerangka adu pendapat.
Lalu apa tujuan adu pendapat?
Tujuan adu pendapat bukanlah untuk mengalahkan lawan Anda, untuk membuktikan bahwa lawan Anda salah. Pokok dari adu pendapat adalah ada sekelompok orang yang menyatakan suatu kedudukan atau pemahaman tertentu pada salah satu dari ajaran-ajaran, dan orang lainnya menantang pemahaman mereka dan berusaha menguji orang itu untuk melihat seberapa teguh mereka dalam pemahaman itu.
Jika Anda meyakini ini atau itu, maka logikanya hal lain muncul dari itu.
Dan jika apa yang muncul dari itu adalah 'omong kosong', 'tidak masuk akal', dst, maka itu berarti ada yang salah dengan pemahaman Anda.
Ini sangat penting !!
Karena jika kita berusaha memahami sesuatu secara mendalam menyangkut kebenaran-kebenaran mendasar dari kenyataan, misalnya ketidak-tetapan, maka kita ingin memikirkannya secara mendalam dan menjadikannya bagian dari cara kita memandang dunia.
Segala sesuatu berubah dari waktu ke waktu, dan itulah hal yang penting untuk dipahami dalam kerangka kedamaian batin kita.
Sebagai contoh;
Kita membeli komputer baru, dan pada akhirnya komputer itu rusak, dan kita menjadi sangat gusar: “Mengapa harus rusak?” dan sebagainya. Tapi jika Anda berpikir tentang itu secara logika, alasan komputer itu rusak adalah karena benda itu dibuat. Karena komputer itu dibuat dari begitu banyak bagian dan begitu banyak benda yang saling terhubung, maka komputer itu sangat tidak kokoh, dan tentu saja pada suatu saat komputer itu akan rusak.
Bahkan ketika kita bertemu seseorang dan kita mengembangkan pertemanan yang kuat atau bahkan hubungan dekat, pada akhirnya hubungan itu berakhir, maka akan timbul pertanyaan;
"Mengapa hubungan itu berakhir?"
"Mengapa hubungan itu putus?", dlsbg.
Kita putus karena kita bertemu !!.
Setiap waktu setelah kita bertemu, unsur-sebab dan keadaan dalam kehidupan kita dan orang itu berubah. Unsur-sebab yang mendukung pertemanan awal kita tidak ada lagi, dan pertemanan itu bergantung pada semua keadaan tersebut, jadi ketika keadaan itu berakhir, yaaa.., tentu saja hubungan itu akan berakhir, karena keadaan-keadaan yang mendukungnya telah berubah.
Jadi, peristiwa terakhir yang bagi kita menjadi penyebab putusnya hubungan itu, misal percekcokan, adalah satu-satunya keadaan yang mengakibatkan pertemanan itu berakhir.
Jika bukan keadaan ini, itu pastilah hal lain.
Tapi sebab sebenarnya hubungan itu berakhir adalah karena hubungan itu dimulai.
Demikian juga dalam kerangka kehidupan kita (inilah sikap Sang Buddha terhadap kematian):
Apa alasan kita mati?
Alasannya adalah karena kita dilahirkan.
Penyakit atau kecelakaan hanyalah unsur-sebab kematian.
Jika Anda lahir, Anda mati !!.
Sederhana.
Itulah kenyataan.
Inilah sisi-sisi Sains Buddha, dan ini mantiqi, logika, kenyataan.
Jadi, jika dalam sebuah adu pendapat, lawan Anda akan menguji pemahaman Anda tentang ini dan berusaha menemukan celah-celah dalam penjelasan Anda:
“Ya, Anda bisa berkata, ‘Jika aku tidak memakan ini atau tidak pergi ke tempat ini, aku tidak akan mati.’”
Sedangkan lawan Anda akan berkata, “Ya, tapi di sana mungkin ada unsur-sebab lain.
Karena kamu lahir, kamu akan mati.”
Demikianlah., melalui akal pikiran, melalui adu pendapat, orang akan sampai pada pemahaman pasti tanpa keraguan apapun (“Apakah begini, atau begitu?”). Dengan cara ini, pemahaman kita menjadi sangat kokoh, sangat teguh. Apabila setelah itu kita melakukan meditasi atau hal lain, cara ini menjadi jauh lebih manjur. Jadi jenis pembahasan, adu pendapat, dan berpikir logis ini sangat membantu siapapun dalam keadaan apapun.
Seringkali kita berpikir dengan cara-cara yang sangat tidak jernih; kita tidak memikirkan akibat dari tindakan kita atau akibat dari cara berpikir kita. Jika kita bisa belajar untuk berpikir secara logika, melihat sebuah kejadian sebagai kenyataan, masalah-masalah dalam hidup kita akan jauh berkurang.
Inilah satu sisi dari Sains Buddha.
Dalam kerangka kenyataan, satu pokok yang telah kita bahas adalah tentang ketidak=kekalan.
Segala sesuatu berubah dari waktu ke waktu dan bergerak semakin dekat dan semakin dekat menuju titik akhirnya.
Inilah kenyataan.
Inilah kebenaran tentang umur kita.
Kita bisa berpikir, “Oh, setiap hari aku semakin tua” dan berpikir, “Baiklah”, tapi berapa banyak dari kita yang setiap hari berpikir bahwa: “Aku semakin dekat dengan kematianku.
Itu juga kenyataan bukan?
Itulah kenyataan !!
Tapi jika kita menyadari itu, bahwa setiap hari kita semakin dekat dengan kematian kita dan bahwa kematian bisa terjadi kapanpun_yang adalah benar, maka kita tidak akan menyia-nyakan waktu kita. Kita tidak akan menunda sesuatu sampai besok, besok, besok, tapi kita menggunakan hidup kita secara bermakna. Dan yang paling bermakna adalah berusaha bermanfaat bagi orang lain.
Inilah kenyataan !!.
Dan sangatlah berguna untuk berpikir, “Jika ini adalah hari terakhirku, apa yang ingin kulakukan pada hari terakhir ini? Bagaimana aku menggunakannya secara bermakna?”
Kita tidak pernah tahu kapan hari terakhir kita.
Kita bisa saja tertabrak mobil ketika meninggalkan ruangan.
Ini TIDAK dimaksudkan untuk membuat tertekan; ini dimaksudkan supaya kita menggunakan waktu kita secara jauh lebih bermakna.
Mari mengambil contoh lain dalam kerangka kenyataan.
Bayangkan kita berada dalam sebuah lift bersama sepuluh orang lain, dan lift itu macet. Aliran listriknya putus, dan kita terjebak di dalam lift bersama sepuluh orang itu sepanjang hari.
Bagaimana kita akan menghadapi semua orang itu?
Jika kita mulai bertengkar, jika kita mulai berdebat, dan seterusnya, keadaan di lift itu akan menjadi seperti neraka.
Satu-satunya cara bisa selamat adalah apabila semua orang saling membantu, rukun, dan bersikap baik satu sama lain, karena kita semua sama-sama terjebak !!
Kita semua terjebak dalam keadaan yang sama.
Ini mantiq !!
Ini masuk akal, bukan?
Kemudian coba kita kembangkan lagi ke seisi planet: seisi planet ini ibarat lift yang besar bernama planet bumi, dan kita semua terjebak di planet ini. Jika kita saling berdebat dan bertengkar dengan orang lain, keadaan hanya menjadi menyedihkan bagi semua orang.
Maka satu-satunya cara agar kita bisa selamat adalah semua orang bersikap bersahabat dan baik dan membantu satu sama lain, karena kita semua di sini dan kita semua berada dalam keadaan yang sama. Kita menghirup udara yang sama; kita berbagi laut, air, dan daratan yang sama.
Kita semua berada dalam lift yang sama, di planet yang sama, Planet Samsara.
Demikianlah.
Inilah kenyataan yang sejalan jika kita menggunakan akal dan berpikir logis.
Kita memiliki banyak khayalan dan pembayangan.
Kita bayangkan kita dan orang-orang dan dunia ini menjadi ada dengan segala macam cara yang mustahil. Kita membayangkan itu, dan tampak seolah-olah seperti inilah hal-hal itu menjadi ada, tapi ini tidak sesuai dengan kenyataan; ini hanyalah khayalan kita, pembayangan kita.
Sebagai contoh;
Saya mungkin berpikir bahwa saya bisa melakukan suatu tindakan dan ini tidak memiliki akibat apapun. Jadi, “Aku bisa saja tidak mencari pendidikan yang baik, aku bisa saja bermalas-malasan, dan ini tidak akan berakibat apapun pada hidupku; aku tetap akan sukses.” Atau bahwa “Aku bisa saja terlambat, atau aku bisa saja berkata kejam kepadamu, dan ini tidak akan berakibat apapun.” Banyak orang menganggap orang lain tidak punya rasa. Mereka tidak pernah berpikir bahwa apa yang mereka katakan mungkin melukai orang lain. Jadi “Aku bisa saja terlambat, dan itu tidak masalah.” Ya, ini bukan kenyataan. Ini adalah pembayangan khayalan tentang sebab dan akibat.
Tapi kenyataannya adalah semua orang memiliki rasa, seperti saya, dan apa yang saya katakan dan bagaimana saya bertindak terhadap Anda akan memengaruhi rasa-rasa Anda, seperti bagaimana Anda memperlakukan saya dan bicara kepada saya memengaruhi rasa-rasa saya. Itulah kenyataan, bukan? Semakin kita memahami itu dan tetap mewaspadai itu, semakin kita memiliki kepedulian terhadap orang lain. Kita peduli tentang bagaimana kita berpengaruh terhadap mereka, dan oleh karenanya kita mengubah perilaku kita.
Atau saya bisa membayangkan bahwa saya ada secara bebas dari orang lain.
Ini juga bukan kenyataan, bukan?
Jika saya berpikir seperti itu, maka saya akan berpikir, “Aku semestinya selalu mendapatkan yang kuinginkan. Aku adalah orang yang paling penting. Jadi aku semestinya selalu dilayani lebih dulu sebelum orang lain di restoran ini,” dan jika kita tidak mendapat apa yang kita inginkan, kita menjadi sangat buncah, sangat marah. Tapi masalahnya tentu saja adalah semua orang berpikir bahwa mereka orang yang paling penting dan tak seorang pun akan setuju bahwa kita yang paling penting. Ini adalah pembayangan kita. Ini adalah khayalan kita. Ini bukan kenyataan. Tak seorang pun menjadi pusat alam semesta. Tak seorang pun menjadi yang paling penting. Kita semua setara dalam arti bahwa semua orang ingin disukai, tak seorang pun ingin tidak disukai. Semua orang di restoran yang menunggu untuk dilayani ingin menyantap makanan mereka, bukan hanya aku. Semua orang yang menunggu di kantor dokter ingin mendapat giliran, bukan hanya aku. Kita setara. Sekali lagi inilah kenyataan.
Sains Buddha dan Sains Barat
Ini adalah bagian dari sains Buddha, memahami kenyataan dan oleh karenanya mengubah perilaku kita. Tentu saja ada unsur-unsur lain dalam ajaran Buddha tentang kenyataan. Sangat menarik bagaimana para ilmuwan Barat mulai mendapati bahwa banyak pokok dalam sains Buddha adalah benar – cara-cara pandang yang berbeda pada hal-hal yang belum mereka tinjau sebelumnya.
Sebagai contoh, dalam sains Barat kita memiliki hukum kekekalan zat dan energi: zat dan energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan, hanya berubah bentuk. Jika kita berpikir dalam kerangka itu, yang mengikuti secara mantiqi adalah bahwa tidak ada awal dan tidak ada akhir. Ketika kita berpikir dalam kerangka Big Bang, maka kita mungkin berpikir Big Bang tidak berasal dari apapun – ia bermula dari ketiadaan – tapi sudut pandang Buddha mengatakan ada sesuatu sebelum Big Bang. Ajaran Buddha tidak bermasalah dengan Big Bang sebagai awal dari alam semesta ini, tapi telah ada alam semesta yang tak terhitung sebelumnya, dan akan ada alam semesta-alam semesta yang tak terhitung setelahnya. Dan sains Barat perlahan-lahan juga mulai berpikir dalam kerangka ini. Ini juga mantiq dari sudut pandang mendasar sains Barat.
Lagi-lagi di sini kita sampai pada mantik.
Jika Anda percaya bahwa zat dan energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan tapi hanya berubah bentuk, maka Anda sepenuhnya tidak teguh secara mantik apabila menyatakan, “Tapi alam semesta ini berawal dengan Big Bang.” Ini adalah contoh yang jelas dari penerapan mantik Buddha dan adu pendapat pada pandangan-pandangan yang kita miliki dalam sains Barat.
Salah satu pernyataan utama dalam sains Buddha adalah hubungan antara citta dan zat.
Citta dan zat saling berkaitan.
Anda tidak bisa menyempitkan citta hanyalah otak atau suatu reaksi kimiawi.
Anda tahu, masalahnya adalah ketika Anda menggunakan kata citta, Anda cenderung memikirkannya sebagai suatu benda, tapi itu bukan wawasan Buddha. Wawasan Buddha berbicara tentang kegiatan batin. Dan kegiatan batin_yang berarti mengetahui hal-hal_bisa kita jelaskan sebagai suatu reaksi kimiawi dan kelistrikan di dalam otak, tapi kita juga bisa kita gambarkan dari sudut pandang pengalaman, dan sudut pandang pengalaman inilah yang kita bicarakan ketika kita bicara tentang citta.
Para ilmuwan kedokteran menemukan yang dikatakan ajaran Buddha adalah benar, bahwa tataran citta kita, mutu dari pengalaman hidup kita, akan memengaruhi kesehatan ragawi kita. Jika kita memiliki kedamaian citta, ketenangan batin... Itu berarti terbebas dari selalu khawatir dan mengeluh dan berpikir secara sangat negatif dan pesimistis. Jika kita berpikir dalam cara-cara negatif, ini berbahaya bagi kesehatan. Sedangkan jika kita bersikap optimistis, baik, dan memikirkan orang lain, ramah, tenang – ini memperkuat tata guna kekebalan tubuh kita, dan ini mendukung bagi kesehatan yang lebih baik. Sains kedokteran, di berbagai pusat di seluruh dunia, melakukan penelitian tentang ini, dan mereka mendapati bahwa yang dikatakan ajaran Buddha adalah benar, bahwa tataran citta kita memengaruhi tubuh, jadi ini memengaruhi zat. Dan kini di Barat, kita memiliki banyak kegiatan dengan menggunakan apa yang kita kenal sebagai meditasi “kewaspadaan” untuk mengendalikan rasa sakit untuk membantu orang-orang mengatasi tekanan, rasa sakit, keadaan-keadaan sulit.
Ini pada dasarnya mempertahankan pemusatan pada pernapasan, yang menjaga kita tetap tenang.
Ini menghubungkan kita dengan bumi, sedikit banyak, pada unsur ragawi, sehingga Anda tidak terlalu buncah tentang berpikir, “Aku, aku, aku dan rasa sakitku dan kekhawatiranku” dan “Aku sangat buncah.” Ini menenangkan seseorang dan amat sangat membantu untuk pengendalian rasa sakit. Jadi kita pastinya tidak perlu menganut agama Buddha agar mendapat manfaat dari cara-cara semacam itu.
Demikianlah sains Buddha.
Ilmu Kejiwaan (Psikologi) dalam Dhamma Buddha
Ilmu Kejiwaan Buddha berhubungan dengan bagaimana kita mengetahui hal-hal, dengan kata lain sains pengetahuan (perbedaan antara kejiwaan dan sains tidak begitu kaku). Jadi kita memiliki kajian tentang cara-cara mengetahui – bagaimana kita mengetahui sesuatu? – dan juga memiliki cara berhadapan dengan masalah-masalah perasaan. Inilah dua ranah kejiwaan dalam pandangan Buddha.
Cara-Cara Mengetahui Hal-Hal
Hal yang sangat penting adalah mampu mengenali perbedaan antara cara-cara yang sah dalam memahami dan cara-cara yang tidak sah dalam memahami atau mengetahui hal-hal. Ajaran Buddha memiliki banyak penjelasan tentang ini. Cara yang sah untuk mengetahui hal-hal diartikan sebagai suatu cara mengetahui yang tepat dan tegas. Tepat berarti bahwa sesuatu itu benar – sesuatu itu sesuai dengan kenyataan, ia bisa dibenarkan oleh orang lain. Dan tegas berarti bahwa kita yakin, kita pasti. Ini bukan tataran citta: "Ya, mungkin seperti ini, atau mungkin seperti itu, tapi aku tidak benar-benar tahu."--------------------------------------------------------------------
Jadi apa cara yang sah untuk mengetahui hal-hal? Kita bisa melakukannya dengan yang dikenal sebagai pencerapan lugas. Ini adalah melihat, mendengar, membaui, mencecap, dan merasakan suatu sensasi ragawi (dan kita juga bisa mengalami ini dalam mimpi, maka ini adalah batin). Jadi ketika kita melihat seseorang, ini harus sah. Ini tidak selalu sah: "Kupikir aku melihat sesuatu di sana, tapi aku tidak yakin." "Kupikir aku melihatmu dalam kerumunan itu, tapi aku tidak yakin. Kupikir aku melihatmu, tapi ternyata itu orang lain.” “Kupikir kamu mengatakan ini, tapi mungkin aku salah dengar.” Itu tidak sah, bukan? Ini tidak tepat dan tegas.
Dan di sana bisa saja ada banyak sebab terjadinya penyimpangan. Seperti jika saya melepas kacamata saya dan yang saya lihat hanya sesuatu yang kabur di depan saya. Tapi sesuatu itu tidak kabur, bukan? Ada yang salah dengan mata saya, dan itulah mengapa sesuatu itu tampak menyimpang. Jika saya bertanya pada orang lain, "Apakah Anda melihat sesuatu yang kabur di sana?" Mereka akan mengatakan tidak, sehingga saya akan tahu bahwa ini adalah salah.
Jadi kita memiliki pencerapan lugas, dan di sini kita berbicara tentang pencerapan yang tepat dan tegas.
Yang juga sah adalah pemahaman penyimpulan. Ini pun harus cara yang sah, bukan cara yang keliru. Penyimpulan. Penalaran. "Di mana ada asap di situ ada api" adalah contoh bakunya. Anda melihat asap keluar dari cerobong di gunung yang jauh. Jadi kita memiliki pencerapan yang sah – Anda melihat asapnya – dan kita dapat menyimpulkan api (kita tidak benar-benar melihat apinya). Di mana ada asap, pasti ada api. Jadi itu sah.
Tapi ada beberapa hal yang tidak bisa Anda ketahui dengan mantik, seperti nama orang yang tinggal di rumah itu, dan untuk itu Anda perlu sumber keterangan yang sah. Itu juga merupakan jenis penyimpulan – bahwa orang ini adalah sumber keterangan yang sah, oleh karena itu yang mereka katakan adalah benar. Contoh terbaik untuk itu adalah: "Kapan hari ulang tahunku?" Tidak mungkin kita tahu hari ulang tahun kita dengan sendirinya. Satu-satunya cara kita mengetahui hari ulang tahun kita adalah dengan bertanya pada ibu kita atau melihat catatan, itulah sumber keterangan yang sah.
Ada banyak rupa penyimpulan. Ada penyimpulan berdasarkan kaidah yang sudah dikenal luas: Anda mendengar bunyi. Bagaimana Anda tahu bahwa itu sebuah kata? Dan bagaimana Anda tahu apa makna kata itu? Itu adalah proses yang sangat menakjubkan jika Anda memikirkannya. Kita hanya mendengar bunyi, tapi karena kita mengetahui kaidah tertentu, ketika mendengar bunyi ini kita menyimpulkan bahwa itu adalah bunyi dari sebuah kata, dan kita menyimpulkan bahwa bunyi ini memiliki makna tertentu. Tentu saja kita harus memeriksa karena kadang-kadang kita berpikir bahwa seseorang memiliki suatu maksud dari apa yang ia katakan padahal sebenarnya yang dimaksud orang itu sama sekali berbeda.
Inilah yang kita bicarakan ketika kita berbicara tentang sisi kejiwaan Buddha ini, sains pengetahuan. Kita harus memeriksa. "Aku menyimpulkan dari apa yang kamu katakan bahwa inilah yang kamu maksud, tapi apakah ini benar atau tidak?" Sangat sering kita salah memahami apa makna ucapan orang lain, bukan? Seseorang berkata, "Aku mencintaimu," dan kita bisa berpikir itu berarti ia secara perkelaminan tertarik pada kita, padahal bukan itu maknanya. Banyak kesalahpahaman karena penyimpulan yang keliru seperti itu.
Jadi jika itu penyimpulan yang sah, itu tepat dan tegas.
Praduga tidaklah sah. "Aku menduga inilah yang kamu maksud, tapi aku tidak yakin." Praduga pada dasarnya adalah menebak. "Saya kira inilah yang Anda maksud." Ini bisa saja benar, bisa saja salah, tapi tidak tegas. "Saya pikir inilah yang Anda maksud." Itulah praduga. Tapi kita tidak yakin.
Lalu ada keragu-raguan: "Apakah maksud Anda ini, atau itu?" Kita plin-plan.
Ada juga pengetahuan yang menyimpang, di mana kita memikirkan sesuatu yang sepenuhnya keliru. Ini sama sekali bukan yang dimaksud orang itu.
Demikianlah bagaimana pengetahuan bekerja, dan ajaran Buddha berbicara sangat banyak tentang hal ini. Ini amat sangat berguna bagi kita untuk memahami, dari segala jenis latar belakang, "Apakah cara saya mengetahui hal ini benar atau salah?" Jika saya masih belum yakin, maka saya perlu menyadarinya dan berusaha memperbaikinya, berusaha mencari tahu lagi apa itu kenyataan. Jadi ini sangat berguna bagi siapapun. Anda tidak memerlukan upacara-upacara dan agama Buddha untuk ini.
Perasaan-Perasaan yang Gelisah
Kemudian pokok utama lain dalam kejiwaan Buddha adalah mengenai perasaan-perasaan. Kita memiliki perasaan-perasaan positif dan negatif. Yang negatif adalah perasaan-perasaan yang gelisah, mereka mengganggu kedamaian cita kita. Kita bicara tentang hal-hal seperti kemarahan. Pengertiannya adalah bahwa ini merupakan tataran cita yang, ketika ia muncul, menyebabkan kita kehilangan kedamaian cita – sehingga kita menjadi sedikit buncah, sedikit gugup – dan ini menyebabkan kita kehilangan pengendalian-diri. Jadi ketika kita marah, tenaga kita terganggu – Anda bisa merasakannya. Kemudian kita mengatakan dan melakukan hal-hal yang nantinya kita sesali. Kita bertindak secara kompulsif.
Dalam ajaran Buddha, kita sering mendengar tentang karma. Dan yang dibicarakan karma adalah unsur kompulsif pada perilaku kita ini berdasarkan kebiasaan sebelumnya. Jadi ketika kita memiliki kemelekatan yang besar atau hasrat atau keserakahan, maka sekali lagi kita tidak tenang – kita buncah karena kita ingin memiliki sesuatu – dan lagi-lagi kita tidak memiliki pengendalian-diri, seperti cokelat itu, yang saya harus memakannya.
Itulah perasaan-perasaan yang gelisah. Tapi di sisi lain, ada perasaan-perasaan yang positif. Ajaran Buddha tidak mengatakan untuk menyingkirkan semua perasaan Anda. Ada hal-hal seperti kasih, yang merupakan keinginan bagi orang lain untuk bahagia dan memiliki sebab-sebab kebahagiaan terlepas dari apa yang mereka lakukan, terlepas dari bagaimana mereka memperlakukan saya atau orang-orang yang saya kasihi. Ada welas asih, keinginan agar orang lain terbebas dari penderitaan dan sebab-sebab penderitaan. Ada kesabaran. Ada rasa hormat. Jadi ada banyak perasaan positif. Kita perlu belajar untuk dapat membedakan antara yang membangun dan yang merusak dalam perasaan-perasaan kita dan dalam cara kita bertindak. Dan ajaran Buddha sangat kaya dalam mengajarkan tidak hanya semua tataran perasaan yang berbeda-beda ini sehingga kita bisa mengenali mereka, tetapi juga kaya dalam cara untuk membantu kita untuk menyingkirkan tataran-tataran cita yang mengganggu ini.
Anda ingat kita tadi berbicara tentang kesalahan-kesalahan pemahaman, tentang pembayangan-pembayangan tentang sesuatu yang tidak nyata? Salah satu pembayangan yang paling menonjol adalah tentang cara kita mengada. Seperti yang saya katakan, dalam gaya yang sangat sederhana, kita berpikir bahwa kita adalah orang yang paling penting, bahwa kita mengada secara padu oleh diri kita sendiri, dan kita harus selalu mendapatkan yang kita inginkan, dan semua orang harus menyukai kita. Yang sangat menarik adalah berpikir dalam kerangka: "Tidak semua orang menyukai Buddha, jadi mengapa aku harus mengharapkan semua orang menyukaiku?" Sebuah pernyataan yang sangat berguna untuk diingat.
Jadi, bagaimanapun, kita berpikir dalam kerangka: "Aku adalah hal padu yang duduk di dalam kepalaku, pemilik suara yang terus berbunyi di dalam kepalaku, khawatir tentang apa yang semestinya kulakukan?Apa yang orang pikirkan tentang aku?"Seolah-olah ada aku kecil duduk di dalam kepala kita melihat semua keterangan yang muncul pada layar dan pengeras suara dari indra-indra kita dan menekan tombol-tombol yang membuat tubuh kita bergerak atau wicara kita berkata: “Sekarang aku akan melakukan ini. Sekarang aku akan mengatakan itu.” Ini merupakan kesalahan pemahaman yang mengganggu tentang diri kita sendiri. Bagaimana kita tahu ini mengganggu? Karena kita semua merasa tidak aman. Berpikir seperti itu, ada ketidakamanan dan kekhawatiran tentang diri kita sendiri: "Apa yang orang pikirkan tentang aku?" Dst., dst.
Sehingga yang terjadi adalah kita memiliki pembayangan-pembayangan ini tidak hanya tentang diri kita sendiri melainkan tentang segala sesuatu di sekitar kita. Kita melihat berbagai macam benda, dan kita melebih-lebihkan mutu-mutu baik yang mereka miliki. Kita bahkan membayangkan mutu-mutu baik yang tidak mereka memiliki. Seperti saat kita jatuh cinta dengan seseorang, "Dia adalah orang yang paling elok di dunia." Kita sepenuhnya mengabaikan segala kekurangan yang mungkin mereka miliki. "Dia adalah orang tercantik dan idaman yang pernah kutemui." Dan kemudian jika kita tidak memilikinya, hasrat yang mendamba: "Aku harus mendapatkannya sebagai rekanku, sebagai temanku." Dan jika kita memilikinya sebagai teman kita, kemelekatan (kita tidak mau melepaskannya) dan keserakahan (kita ingin mendapatkan lebih banyak dan lebih banyak waktu bersamanya).
Ini adalah tataran cita yang mengganggu, bukan? Kita perlu melihat kenyataan: setiap orang punya titik-titik kekuatan, titik-titik kelemahan. Kita sering berpikir, dan ini sama sekali tidak nyata, bahwa: "Aku adalah orang yang paling penting. Jadi akulah satu-satunya orang dalam hidupmu. Kamu harus memberikan seluruh waktumu kepadaku," dan kita sepenuhnya lupa bahwa mereka memiliki orang lain dalam hidup mereka, hal-hal lain yang mereka terlibat di dalamnya, bukan hanya kita. Kita pun menjadi marah. Kita merasa tidak aman. Dan jika mereka tidak menelepon kita, kita membesar-besarkan mutu negatif dari hal itu, dan kita tidak ingin melihat satupun mutu baik dari hubungan kita dengan orang ini. Dan kita marah; kita ingin lepas dari ini, kita membentak mereka, "Mengapa kamu tidak meneleponku? Mengapa kamu tidak datang?" Ini berdasar pada adanya aku kecil, bahwa aku semestinya selalu mendapatkan yang kuinginkan, aku semestinya menjadi orang yang paling penting, dan ketidaknyataan bahwa akulah satu-satunya orang dalam hidupnya.
Ajaran Buddha memberikan uraian yang sangat jelas tentang apa yang membuat buncah, apa yang keliru, dalam berpikir dan merasakan dengan cara ini. Karena cita kita membuat hal-hal tampak seperti itu, dan masalahnya adalah kita percaya bahwa itu sesuai dengan kenyataan. Kita memiliki semua cara ini untuk, sedikit banyak, menggembungkan balon khayalan kita. Ini mungkin terasa seolah-olah sayalah satu-satunya orang yang ada, karena ketika saya menutup mata, saya tidak bisa lagi melihat orang lain tapi suara di dalam kepala saya masih ada. Tapi ini konyol. Ini bukan kenyataan. Ini tidak sesuai dengan kenyataan. Anda tidak berhenti ada ketika saya menutup mata. Inilah kejiwaan dasar ajaran Buddha.
Mengembangkan Kasih dan Welas Asih
Kita memiliki banyak cara untuk mengembangkan kasih dan welas asih yang diajarkan dalam ajaran Buddha, dan siapapun bisa memperoleh manfaat dari cara-cara ini (tanpa mengikuti unsur-unsur keagamaan Buddha). Kasih dan welas asih didasarkan pada pemahaman bahwa semua orang adalah setara: semua orang ingin bahagia, tak seorang pun ingin tidak bahagia. Semua orang suka menjadi bahagia. Tak seorang pun suka menjadi tidak bahagia. Kita semua sama.
Kita semua saling terkait. Seluruh hidup saya bergantung pada kebaikan dan kerja orang lain. Coba kita pikirkan semua orang yang terlibat dalam menumbuhkan makanan yang kita makan, mengangkutnya, membawanya ke toko-toko. Lalu ada orang-orang yang membangun jalan dan orang-orang yang membangun truk yang membawa makanan itu. Dan dari mana logamnya berasal? Seseorang harus menambang logam untuk membuat truk. Bagaimana dengan karet untuk bannya? Darimana asalnya? Begitu banyak orang yang terlibat dalam industri itu juga. Dan bagaimana dengan minyak tanah dan dinosaurus dan sebagainya yang tubuhnya membusuk dan menghasilkan minyak tanah ini? Jika kita berpikir seperti itu, kita melihat bahwa kita sepenuhnya saling terkait dan bergantung pada orang lain. Dan ini menjadi lebih jelas dalam kerangka perekonomian global kita.
Atas dasar pemahaman kesetaraan dan saling ketergantungan kita dengan semua orang, maka kita berpikir dalam kerangka: "Apapun masalah yang ada, itu harus dipecahkan." Karena seperti pernah dikatakan seorang guru besar Buddha dari India, "Masalah dan penderitaan tidak punya pemilik; penderitaan perlu disingkirkan, bukan karena itu penderitaan saya atau penderitaan Anda – itu harus disingkirkan karena menyakiti.” Maka ketika ada masalah dengan lingkungan, misalnya, ini bukan hanya masalah saya atau masalah Anda; ini masalah semua orang. Tidak ada pemilik masalah. Ini harus dipecahkan karena ini adalah masalah, semata-mata karena ini adalah masalah dan menyusahkan semua orang.
Demikianlah, kita mengembangkan kasih dan welas asih dalam cara yang tidak ada hubungannya dengan agama, melainkan sepenuhnya berdasar pada mantik dan kenyataan.
Keagamaan Buddha
Ketika kita bertanya, "Mengapa ajaran Buddha?" ada sisi-sisi yang membuat ajaran Buddha sesuai bagi kita di dunia Barat, yakni sisi-sisi sains dan sisi-sisi kejiwaan. Sedangkan bagi sebagian kita orang Barat, kita mungkin juga mendapati sisi-sisi keagamaan dari manfaat ajaran Buddha – upacara-upacara, ajaran-ajaran tentang kelahiran kembali, doa-doa, dan sebagainya. Tapi seperti saya katakan, sangat penting untuk memeriksa secara saksama apa alasan kita untuk ketertarikan ini. Apakah itu hanya pesona pada keeksotisannya? Apakah kita mencari semacam mukjizat? Apakah kita melakukannya sebagai pemberontakan terhadap orang tua atau tradisi kita? Apakah kita melakukannya hanya karena tren masa kini; yang disebut "keren" ketika terlibat dengan ajaran Buddha? Ini bukan alasan-alasan yang sah, karena mereka tidak bertahan, mereka tidak teguh. Jika kita tertarik dan kita mendapati bahwa ini bermanfaat bagi kita (ajaran Buddha membantu saya menjadi orang yang lebih ramah, lebih welas asih), dan ini melengkapi sisi-sisi sains dan kejiwaannya – dan itu sangat penting, bahwa ini diperlukan untuk melengkapi sisi-sisi sains dan kejiwaannya, bukan menggantikannya – tetapi jika sisi-sisi keagamaan memiliki ciri-ciri tersebut bagi kita, maka ini baik.
Seperti itulah kita membedakan sains, kejiwaan, dan keagamaan Buddha
Pertanyaan-Pertanyaan tentang Cita dan Kelahiran Kembali
Ketika kita berbicara tentang kelahiran kembali, kita menggunakan gagasan tentang cita. Seberapa banyak ini tumpang-tindih dengan gagasan tentang jiwa?
Ketika kita berbicara tentang kelahiran kembali, kita berbicara tentang cita. Seberapa banyak itu tumpang-tindih dengan jiwa? Kita harus memahami apa yang kita maksud dengan cita dan apa yang kita maksud dengan jiwa.
Kelahiran kembali berbicara tentang kelangsungan. Seperti zat dan energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan tapi hanya berubah bentuk, kegiatan batin subjektif perorangan kita pun tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan. Tidak masuk akal ia muncul dari ketiadaan. Dan jika tiap kejadian menghasilkan kejadian berikutnya dalam kelangsungan, maka tidak masuk akal baginya berakhir dan berubah menjadi ketiadaan. Tentu saja selalu ada suatu dukungan ragawi bagi kegiatan batin itu, tapi ini bisa saja merupakan energi yang amat sangat halus; ini tidak harus tubuh nyata dengan otak. Jadi inilah yang berlangsung dari masa kehidupan ke masa kehidupan ke masa kehidupan, bahkan ke sifat Buddha, kelangsungan kegiatan batin subjektif perorangan, yang bisa saja sangat halus atau sangat nyata, banyak tingkat-tingkatnya, tapi ini berlangsung dari waktu ke waktu ke waktu tanpa jeda.
Lalu, ketika kita berbicara tentang soul (jiwa), tentu saja itu adalah kata Barat. Dan dalam berbagai bahasa – bahasa-bahasa Barat juga – kita memiliki kata untuk cita, kita memiliki kata untuk sukma, kita memiliki kata untuk jiwa. Mereka tidak mirip satu sama lain, bahkan dalam bahasa-bahasa Barat, dan agama-agama yang berbeda akan mengartikan jiwa secara berlainan dalam bahasa yang berbeda-beda. Dan kemudian dalam agama-agama Barat ada hubungan antara jiwa dan Tuhan. Dan dalam agama-agama India kita memiliki atman, dan lagi-lagi dengan gagasan yang berbeda-beda tentang atman. Jadi sulit untuk menyamaratakan kata jiwa.
Tapi yang jauh lebih mudah untuk dibahas adalah aku, wawasan tentang aku – bukan wawasan tentang aku, tapi apakah aku? Aku atau diri adalah sesuatu yang kita semua memilikinya, tetapi kita membayangkannya pada cara-cara ia mengada yang tidak sesuai dengan kenyataan. Seolah-olah ada semacam akuyang padu, seperti koper yang diikatkan pada ban berjalan, yang melewati seluruh hidup kita dan memasuki kehidupan kita berikutnya juga. Ini sangat menarik: Anda melihat foto bayi Anda, dan berkata, “Itu aku.” Apa yang aku dari foto itu? Setiap sel dalam tubuh kita telah berubah. Cara berpikir, cara mengetahui hal-hal, sepenuhnya berbeda dengan ketika kita masih bayi. Namun kita mengatakan, "Itu aku." Lalu apakah aku? Aku adalah kata yang dicapkan pada semua hal yang berubah dalam hidup kita. Dan aku bukanlah foto-foto ini, tapi kata aku mengacu pada sesuatu yang berdasar pada semua waktu yang berbeda-beda dalam hidupku, yang selalu berubah dari waktu ke waktu.
Contoh yang saya selalu gunakan adalah film, misalnya Star Wars. Apa itu Star Wars? Kita berkata, "Aku menonton Star Wars," tapi bisakah kita menonton seluruh film dalam satu waktu? Tidak. Setiap waktu dari film itu, itukah Star Wars? Ya. Ini adalah waktu dari film Star Wars. Star Wars tidak sama pada tiap-tiap waktu dari film itu. Star Wars bukan hanya judul "Star Wars." Nama "Star Wars" memang merujuk pada sebuah film – ada film Star Wars – tetapi Anda tidak dapat menemukannya di salah satu bagian dari gulungan plastik film itu, Anda tidak dapat menemukannya di salah satu adegan, tapi film itu ada sebagai perubahan dari waktu ke waktu ke waktu.
Aku atau diri juga seperti itu. Ada kata aku. Ini mengacu pada sesuatu – Aku duduk di sini; aku melakukan ini; aku sedang berbicara denganmu. Tapi ini tidak sama dengan citaku atau dengan tubuhku atau salah satu waktu dari itu. Tapi atas dasar kelangsungan tubuh dan cita, kita bisa mencap ini dengan aku. Ini bukan kamu. Ini berubah dari waktu ke waktu, dan itu tidak padu. Jadi apakah Anda ingin menyebutnya jiwa? Bagaimana Anda ingin menyebutnya?
Apa istilah yang digunakan oleh Buddha Shakyamuni dalam bahasa Sanskerta atau Pali untuk hal ini?
Istilah yang digunakan oleh Buddha adalah anata dalam bahasa Pali atau anatman dalam bahasa Sanskerta, yang adalah “bukan atman” seperti ditegaskan oleh aliran-aliran filsafat India lain. Aliran-aliran filsafat India lainnya menegaskan atman sebagai sesuatu yang bersifat jumud (ia tidak pernah berubah dan tidak terpengaruh oleh apapun), tidak terbagi (yang berarti atman seluas alam semesta, atman sama dengan Brahma, seluruh alam semesta, atau atman bagaikan sepercik kehidupan), dan yang bisa mengada secara terpisah dari tubuh dan cita dalam tataran pembebasan.
Sebagian filsafat India menegaskan bahwa jenis atman ini memiliki kesadaran. Itu adalah aliran Samkhya. Dan aliran Nyaya mengatakan bahwa atman tidak memiliki kesadaran. Aliran yang menyatakan atman memiliki kesadaran berkata bahwa ia hanya mendiami tubuh ini dan memakai otaknya. Dan aliran yang menyatakan atman tidak memiliki kesadaran berkata bahwa ia memasuki tubuh dan bahwa kesadaran itu hanya muncul karena landasan ragawi tubuh ini.
Itulah pandangan-pandangan yang Buddha sangkal ketika ia berkata, "Tiada atman." Maksud Buddha adalah tiada atman dalam arti sebagaimana dijelaskan dan ditegaskan oleh aliran-aliran lain itu. Tapi atman itu ada, diri itu ada, tetapi ia mengada dalam cara yang berbeda – yang disebut dengan "diri yang lazim," "atman yang lazim."
Jika seseorang memercayai kelahiran kembali dan mereka berkata mereka akan dilahirkan kembali, akan seberapa besar keyakinan mereka bahwa semua ciri dan semua data yang terkandung dalam kesadaran mereka akan berlanjut ke kehidupan mereka berikutnya.
Pertama-tama, ajaran Buddha menegaskan bahwa kelahiran kembali adalah tanpa awal – tidak berawal – yang berarti kita memiliki kebiasaan-kebiasaan dan naluri-naluri dari masa kehidupan yang tanpa akhir. Jadi, bergantung pada banyak sekali unsur, hanya sebagian dari naluri dan kecenderungan ini yang akan mewujud dalam suatu masa kehidupan tertentu. Tentu ini bukan berarti semua naluri dan pembelajaran seseorang dari kehidupan terdahulu akan mewujud lagi dalam masa kehidupan berikutnya meskipun kita dilahirkan kembali sebagai manusia dengan kelahiran kembali manusia yang mulia, yang jarang terjadi. Banyak yang bergantung pada apa yang kita pikirkan dan tataran cita kita ketika kita mati. Dan kemudian semua suasana dan keadaan kehidupan kita berikutnya, yang tidak terbatas hanya pada keadaan-keadaan keluarga kita, tapi di sana bisa saja terjadi kelaparan, bisa terjadi perang – di sana bisa saja ada banyak hal yang akan memengaruhi sesuatu yang akan mewujud.
Maka, sangatlah penting untuk berusaha memberi penekanan utama kehidupan kita pada pikiran-pikiran positif, bukan pikiran-pikiran atau perilaku negatif, dan mati dengan tenang, kedamaian cita, serta pikiran dan niat positif untuk dapat terus berjalan pada jalan rohani kita.
Persembahan
Mungkin ini waktu yang tepat untuk mengakhiri. Semoga segala pemahaman, segala kekuatan positif yang muncul dari penyajian ini bisa semakin mendalam dan semakin dalam.
Itu mungkin terdengar seperti sisi keagamaan Buddha, tetapi juga cukup sains. Jika Anda mengalami pertemuan yang menyenangkan dengan seseorang, dan Anda mendapatkan percakapan yang positif dan bermakna, dan berakhir dengan dering telepon, maka semua energinya hanya akan lenyap dan Anda sepenuhnya lupa pada percakapan positif yang Anda lakukan sebelumnya. Tapi jika kita mengakhiri interaksi dengan berpikir "Semoga ini membawa pengaruh positif bagiku," maka rasa positif itu, pemahaman itu, menyertai kita dan dapat membantu kita dalam hidup kita. Dengan cara itulah kita mengakhiri pembahasan ini, dan itu adalah cara yang sangat berguna untuk mengakhiri interaksi positif dengan siapa saja.
------------------------
Buddhisme, Sains, dan Psikologi - Oleh Dr. Alexander Berzin
Disalin dari catatan; "hah, gak usah disebut dech. Nama fanspage nya gak nyambung.
Transkripsi seminar, Sofia, Bulgaria, 2012
Minggu, 08 Oktober 2017
Thalasemia Ditanggung JKN BPJS Kesehatan,
Apakah pengobatan thalasemia ditanggung fuel oleh JKN?
Ini dijamin tidak, itu dijamin tidak?
Itu yang kerap kita dengar, itu juga yang kerap dijadikan alasan bagi Rumah Sakit ketika sulit menjelaskannya kepada pasien.
Begini:
Sistem pergantian BPJS Kesehatan, itu menggunakan sistem paket yang dinamakan sistem INA CBG's.
Berapa tarif pergantian paketnya tergantung dari;
1. Rawat jalan atau rawat inap.
Khusus untuk penanganan thalasemia, rawat jalan bisa ditagihkan sebagai rawat inap.
2. Diagnosa utama penyakitnya, dan diagnosa sekunder.
3. Kategori/kualifikasi Rumah Sakitnya.
Kelas rujukan nasional, kelas A, kelas B, kelas C dan kelas D.
Contoh: dirawat/ditangani di Rumah Sakit kelas D tentu saja tarif pergantiannya lebih rendah dibanding dirawat di Rumah Sakit kelas A.
4. Iuran kelas rawat kartu BPJSnya.
Tarif pergantian untuk iuran kelas 1 tentu lebih besar dari kelas 3/PBI.
5. Region BPJS-nya. Tarif pergantian di Jakarta tentu beda dengan di Papua. dsbg.
Nah, itu yang perlu di pahami.
Jadi, mau pakai obat berapa banyak, mau pakai darah berapa kantong, mau cek lab apa saja, itu semua TIDAK akan mempengaruhi tarif pergantiannya.
Ingat Sistem Paket. !!!
Contoh kasus thalasemia;
~ Thaller 1, pake darah 2 kantong, cek ferritine, cek hb, ditangani 1 hari.
~ Thaller 2, pake darah 4 kantong, tidak cek ferritine, cek hb, sgbt, s got, ditangani 3 hari.
Tarif pergantian oleh BPJS Kesehatan akan sama saja!!.
Karena diagnosa nya sama, Rumah Sakit nya juga sama, dst, dst,..
Misal; Rumah Sakit kelas D region xxx, diagnosa thalasemia, kelas 3, tarif pergantiannya per paket (diluar obat kelasi besi, ini tarifnya terpisah).
Katakanlah 1,2 juta per orang per bulan.
Maka mau thaller yang menggunakan satu kantong, pergantiannya tetap 1,2 juta.
Mau menggunakan 6 kantong tetap pergantiannya 1,2 juta.
Nah, loh,.. 6 kantong darah saja bisa 1,8 juta rupiah, apa Rumah Sakit tidak akan rugi dan atau bangkrut?
Ya, mungkin saja kalau semua pasiennya seperti itu, butuh kantong darahnya banyak.
Kenyataannya khan tidak semua pasien memerlukan darah sebanyak itu.
Bagaimana kalau kita balik?.
Bagaimana jika rata2 thaller hanya membutuhkan 1 - 2 kantong darah saja?,
bukankah Rumah Sakit malah akan diuntungkan?
Nah, itu semua tergantung dari kebijakan Rumah Sakitnya.
Bukan urusan BPJS Kesehatan.
Bagaimana kalau Rumah Sakit tersebut belum bisa cek ferritine?
Apakah bisa dijamin BPJS kalau cek di lab luar?
Itu yang sering kita dengar juga.
Sekali lagi, Jawabnya; Itu tergantung dari kebijakan Rumah Sakitnya, bukan BPJS Kesehatan.
Kenapa?,
Karena BPJS Kesehatan tahunya membayar pergantian itu ke Rumah Sakit yang bersangkutan dengan SISTEM PAKET !!, tidak ada urusannya dengan lab luar.
Kalau Rumah Sakitnya mau membayar ke lab luar untuk cek ferritine (mungkin jarang), maka itu bisa terjadi, bisa dilakukan.
Kalau pihak Rumah Sakit-nya tidak bersedia membayar ke pihak luar, maka biaya cek ferritine itu menjadi tanggungan pihak thaller itu sendiri.
Semoga bisa jelas, BPJS Kesehatan itu menggunakan pergantian tarif paket ke Rumah Sakit yang bersangkutan.
Apa saja yang akan dilakukan Rumah Sakit dalam penanganan thalasemia, itu tergantung dari Rumah Sakit itu sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan BPJS Kesehatan.
Itu adalah keprofesionalan dari pihak Rumah Sakit itu sendiri.
Tambahan;
Artikel diatas di buat berdasarkan aturan pmk tahun 2014.
.
Kini sudah keluar aturan pmk no 64 tahun 2016.
.
Ada perubahan yang cukup menyolok/berarti ;
.
1. Tagihan rawat jalan kini terpisah dengan rawat inap... ( jadi aturan sebelumnya dimana rawat jalan boleh ditagihkan tarif rawat inap, sudah ditiadakan)
.
2. Tariff rs pemerintah dan tariff rs swasta kini berbeda ( kalau dulu sama )
.
3. Tariff topup untuk obat khelasi zat besi, dibedakan antara rawat jalan dan rawat inap ( kalau dulu disamakan )
.
4. Pembagian regional ada perubahan, dibanding aturan sebelumnya, yang terkena itu daerah Kalimantan.
.
Aturan yang lainnya belum terlihat perubahan aturannya...
.
Salam Perjuangan _/|\_
Judul; Thalasemia Ditanggung JKN BPJS Kesehatan,
Posted by Sucipto Kuncoro at 1:40:00 AM
Repost by Andrianto Gandhi.
Sumber;
http://www.pasiensehat.com/…/thalasemia-ditanggung-jkn-bpjs…
Terkait; https://www.lapor.go.id/…/prosedur-penyediaan-darah-bagi-pa…
https://inacbg.blogspot.co.id/…/prosedur-klaim-bpjs-pelayan…
http://www.pdpersi.co.id/content/news.php…
Langganan:
Postingan (Atom)


