Kesehatan

Rabu, 18 Oktober 2017

Kesabaran dalam Ajaran Buddha




Tiga Jenis Kesabaran

       "Kesabaran adalah kebajikan," demikian kalimat bijak.
Jadi, apa kita  harus tersenyum meringis saja dan menanggung segalanya?
Kesabaran dalam  ajaran Buddha merupakan laku berdaya yang tidak berarti bahwa kita  menepa-selira segala hal, tetapi kita giat mengupayakan kesadaran kita untuk  memastikannya tidak jatuh ke dalam perasaan gelisah. Kesabaran memberi  kita kekuatan untuk berupaya memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang  lain, dan merupakan salah satu anasir yang mendorong langkah kita  menuju kebebasan dan pencerahan. 
Sikap menjangkau-jauh (kesempurnaan/paramita) ketiga adalah kesabaran,  suatu tataran citta, yang membuat kita tidak marah dan mampu menahan  berbagai kesulitan dan duka. Boleh saja kita diterpa segala celaka dari  orang lain, tapi hal itu tidak mengusik kita. Tidak berarti bahwa kita  tidak lagi punya musuh atau orang-orang yang mencoba mencelakai kita,  tapi itu berarti kita tidak marah, gusar, lesu semangat, atau sungkan  untuk menolong mereka.
Kalau kita selalu hilang sabar, bagaimana mungkin  kita bisa sungguh-sungguh menolong orang lain?

Ada tiga jenis kesabaran  di dalam sikap ini:
1. Tidak Kesal dengan Orang yang Mencelakai
Jenis kesabaran yang pertama adalah tidak kesal dengan orang yang  mencelakai.
Maksudnya di sini, bukan hanya orang-orang yang bertindak  negatif, tetapi juga mereka yang betul-betul jahat kepada kita, yang  memperlakukan kita dengan buruk, dan mencelakai kita, baik secara lahir  maupun batin. Bahkan termasuk orang-orang yang tidak berterima kasih  atau menghargai kita. Khususnya ketika kita menolong orang lain, amat  penting bagi kita untuk tidak marah pada mereka ketika mereka tidak  menerima nasihat kita atau ketika nasihat itu tidak berhasil. Ada banyak  orang yang amat sangat sulit ditolong; sehingga, alih-alih hilang sabar,  kita harus tahan menanggung semua kesulitan yang ada.
Kalau kita guru, kita tidak boleh kehilangan kesabaran kita terhadap  murid-murid kita, tidak peduli seberapa lambat atau tidak cerdas si  murid itu. Sebagai guru, baik yang mengajar Dharma atau lainnya, kita seyogianya mampu bersabar dan tidak gusar. Seperti mengajar seorang bayi: kita harus terampil; tidak bisa kita harap si bayi belajar secepat  orang dewasa.
2. Tahan Menanggung Duka
Jenis kesabaran yang kedua adalah menerima dan menanggung duka kita  sendiri – hal yang banyak dibicarakan oleh Shantidewa. Ia berkata, kalau  kita ada masalah yang dapat diselesaikan, tidak ada gunanya kita marah,  kesal, atau khawatir. Lakukan saja hal yang perlu dilakukan untuk  menyelesaikannya.
Namun, jika tidak ada yang dapat kita lakukan untuk  mengurus masalah itu, buat apa marah? 
Tidak ada gunanya. 
Seperti kalau  suhu udara dingin dan kita punya baju hangat. Buat apa kita mengeluh dan  marah karena suhunya dingin kalau kita bisa menambah lapis baju kita? 
Kalau kita tidak punya baju hangat, kesal dan marah juga tidak akan  menghangatkan badan kita.
Kita juga dapat melihat duka yang kita alami sebagai tanda terbakar  habisnya rintangan negatif.
Kita senang karena karma negatif tersebut  matang sekarang, dan bukan besok-besok dalam keadaan yang lebih parah.  Jadi, kita seperti terlepas dari karma dengan cara yang lebih ringan. 
Kalau kaki kita terantuk meja di ruang gelap dan rasanya sakit sekali –  ya, itu bagus, karena masih untung kaki kita tidak patah!
Cara pikir  seperti ini dapat membantu kita untuk tidak marah.
Lagi pula,  mengaduh-aduh dengan cara berlebihan ketika kaki kita sakit karena  terantuk pun tidak akan ada gunanya. Sekali pun ibu kita datang dan  mengusap-usapnya, sama saja, tetap sakit rasanya.
Sama juga ketika kita sedang mencoba mengerjakan sesuatu yang sangat  positif dan membangun, seperti saat kita memulai undur-diri panjang,  melakukan perjalanan untuk menolong orang lain, atau menyumbang tenaga  di sebuah kerja Dharma. Jika banyak rintangan dan kesulitan yang terjadi  di awal-awal, sebenarnya itu pertanda bagus. Ibaratnya, semua rintangan  terbakar habis sehingga sisanya akan berlangsung lancar. Kita  semestinya senang karena rintangan itu terbakar habis sekarang, daripada  jadi perkara yang lebih besar kelak.

       Shantidewa berkata bahwa duka dan masalah pun punya sifat baik.
Bukan  berarti kita jadi cari-cari masalah untuk menyiksa diri, tetapi saat  kita berduka, ada berbagai sifat baik yang dapat kita mengerti di situ.  Duka menipiskan kepongahan kita dan membuat kita jadi lebih rendah hati.  Duka juga membantu kita untuk mengembangkan welas asih (iba) bagi orang  lain yang didera masalah yang sama.
Kalau kita terjangkit penyakit  tertentu, rasanya seperti ada rasa memahami dan welas asih yang muncul  secara alami bagi sesama penderita.
Ketika kita tua, akhirnya kita dapat  betul-betul memahami sakitnya usia lanjut. Biasanya tidak bisa kita  berwelas asih kepada orang-orang lansia saat kita masih berusia 16 tahun  karena kita tidak bisa paham seperti apa rasanya usia 70 tahun itu.  Namun ketika kita sudah sampai ke titik usia itu dan mengalaminya semua,  maka kita jadi sangat berwelas asih dan berpengertian terhadap orang  lansia.
Juga, jika kita memahami sebab dan akibat berperilaku – karma – maka  ketika kita berduka, kita diingatkan untuk menghindari tindakan merusak. 
Mengapa?
Karena bertindak negatif adalah sebab bagi duka.
Kita jadi  didorong untuk lebih erat melibatkan diri pada tindakan membangun, yang  merupakan sebab dari kebahagiaan.
3. Tahan Menanggung Kesukaran Demi Dharma
Jenis kesabaran ketiga adalah tahan menanggung kesukaran yang ada ketika  mempelajari dan menjalankan Dharma. Berupaya mencapai pencerahan itu  butuh waktu yang begitu panjang dan daya upaya yang luar biasa besar,  dan kita harus makul (realistis) mengenai hal itu dan tidak lesu  semangat: kita harus bersabar dengan diri sendiri.
Penting sekali untuk memahami dan menerima bahwa sifat samsara itu naik  dan turun, bukan hanya dalam hal kelahiran kembali yang lebih tinggi dan  lebih rendah, tetapi secara umum memang senantiasa begitu. Kadang kita  merasa ingin berlatih, kadang tidak. Kadang latihan kita berjalan baik,  kadang tidak.
Mau bagaimana lagi?
Memang seperti itu lah samsara. 
Keadaan tidak akan selalu semakin baik setiap hari, jadi kita perlu  bersabar dan tidak lantas menyerah ketika hari kita tidak berjalan sesuai rencana.
Mungkin kita pikir kita telah menangani amarah dan tidak  akan pernah tersulut marah lagi, tetapi kemudian, tiba-tiba, sesuatu  terjadi dan kita marah lagi. Ya hal seperti itu memang bisa terjadi.  Amarah kita tidak akan tersingkirkan sepenuhnya sampai kita menjadi  orang yang terbebaskan, seorang Arahat. Jadi, kesabaran adalah kuncinya.

Shantidewa tentang Mengembangkan Kesabaran
Shantidewa menjelaskan sejumlah cara untuk mengembangkan kesabaran di dalam Memasuki Perilaku Bodhisattwa.
Mari kita lihat beberapa contohnya:
Kalau tangan kita terbakar api, kita tidak bisa marah pada api itu karena panasnya.
Itu memang sudah sifat api.
Demikian pula, mau bagaimana lagi dengan samsara?
Tentu saja orang akan mengecewakan kita,  orang akan melukai kita, segala sesuatu akan sulit adanya. Kalau kita  minta orang untuk melakukan sesuatu buat kita, kita harus sudah siap  bila ia mengerjakannya dengan keliru.
Kalau mereka mengerjakannya tidak dengan cara yang kita suka, itu salah siapa?
Itu salah kita sendiri karena terlalu malas dan meminta mereka yang mengerjakan.
Kalau pun kita  harus marah, kita harus marah pada kemalasan kita sendiri!
"Mau harap apa dari samsara" adalah kalimat berguna untuk diingat bagi  semua jenis kesabaran yang perlu kita kembangkan.
Apa kita pikir  kehidupan ini akan mudah dan segala hal akan berjalan lancar, selalu  untuk selamanya? Sifat dari setiap saat dari kehidupan kita adalah  samsara – dan itu sama dengan duka dan masalah yang berulang tanpa  terkendali. Jadi ketika keadaan tidak seperti yang kita inginkan, atau  orang menyakiti atau mengecewakan kita, tidak usah kaget.
Mau bagaimana  lagi?
Inilah sebab mengapa kita ingin keluar dari samsara itu.

Ibarat mengeluhkan bahwa musim salju itu gelap dan dingin.
Ya, mau  bagaimana lagi, namanya juga musim salju, tidak mungkin kita berharap  cuacanya baik, hangat, dan kita bisa mandi sinar matahari. Sama seperti  api yang sifatnya panas, dan tangan kita akan terbakar kalau terjilat lidahnya, musim salju itu akan gelap dan dingin. Jadi tidak ada gunanya  marah.
Cara lain yang dianjurkan Shantidewa adalah memandang orang lain seolah-olah mereka itu orang gila atau masih bayi.
Kalau orang gila atau  orang teler membentak kita, bila kita balas bentak, kita lebih gila  atau mabuk dari mereka, bukan?
Kalau anak kita yang usianya masih dua  tahun menjerit "Aku benci Mama/Papa!" ketika kita matikan televisi dan  menyuruhnya tidur, apakah itu kita masukkan ke dalam hati dan kemudian  marah dan kesal karena dia membenci kita?
Tidak, karena dia masih bayi. 
Kalau kita dapat melihat orang lain yang berbuat jahat seolah mereka itu  bayi yang sedang rewel atau orang gila, cara itu dapat membantu kita  untuk tidak marah pada mereka.

Selain itu, kalau seseorang menyusahkan kita, sangat berguna bila kita  memandang mereka sebagai guru kita. Kita semua tentu punya satu orang  menjengkelkan yang tampaknya tidak pernah bisa kita hindari, bukan?  Kalau kita sedang bersama mereka, pikirkan, "Orang ini adalah guru kesabaranku." Malah, kalau orang tidak membuat kita jengkel atau susah,  kita tidak akan pernah mampu belajar sabar, kita tidak pernah ditantang. 
Jadi, kita dapat melihat mereka ini sebagai orang yang amat baik karena  justru mereka memberi kita kesempatan. Yang Mulia Dalai Lama selalu  berkata bahwa para pemimpin negara Tiongkok adalah gurunya, dan bahwa  Mao Zedong adalah guru kesabarannya yang paling luar biasa.
Ringkasan
Setiap hari kita terpaku pada samsara, kita akan berjumpa dengan  permasalahan dan kegusaran. Kadang, keadaan berlangsung persis seperti  yang kita mau, dan kadang hidup ini serasa terpelintir di luar kendali.  Setiap upaya punya kemungkinan gagal, setiap teman punya kemungkinan  menjadi musuh. Tidak peduli seberapa banyak sudah kita tolong sahabat  kita, bisa saja ternyata dia menjelek-jelekkan kita di belakang.
Dalam keadaan semacam ini, tampaknya lumrah saja kalau kita marah, yang mendorong kita untuk yakin bahwa kalau musuh hancur kita akhirnya akan  menemukan kedamaian yang kita dambakan. Sayangnya, sekali pun kita  hancurkan musuh bebuyutan kita hari ini, besok dan lusa musuh baru akan  muncul.
Shantidewa menasihati kita untuk menutupi kaki kita sendiri ketimbang mencoba menutupi seisi planet ini dengan kulit. 
Artinya, tidak ada gunanya kita mencoba mengatasi semua musuh di luar  diri kita ketika yang paling perlu kita perbuat adalah menghancurkan  musuh di dalam diri kita sendiri – amarah.
Kulit di sini mengacu pada  kesabaran, jalan keluar yang membimbing kita untuk tahan menanggung  kesukaran yang ditimpakan orang lain kepada kita, dan kita akan kita  temukan di jalan kita menuju kebebasan.

Shantidewa atau Shantideva (nama lain Śantideva, Zh: 寂天) adalah seorang cendekiawan Buddhis yang berasal dari India pada abad ke-8. Ia adalah cendekiawan Universitas Nalanda dan seorang penganut filsafat Prasangika Madhyamaka.

Sumber: lupa :P

Tidak ada komentar: