Karena yang akan di sampaikan disini lebih bersifat teori, jadi, saudara/i sekalian memeriksanya saja sendiri ( ehipassiko ) untuk kemudian berusaha untuk menerapkannya.
Mahayana Buddhisme ( Dà shèng fójiào ), artinya itu Kendaraan Besar.
Muncul di India Utara, setelah Buddha parinibbana 500 tahun, di India, para bhiksu2, karena harus berhadapan dengan kaum pertapa, para Brahmana, mereka melihat dan menginterpretasikan Sabda Buddha yang sesuai dengan keadaan pada waktu itu, kemudian mengembangkan filsafatnya.
Mengapa disebut Mahayana (Kendaraan Besar)?
Perumpamaan yang paling sederhana, yang paling sering dipakai katakan begini:
Kita, dalam satu kesempatan dan satu waktu ada 50 orang,.. kita jalan,.. jalan berhari-hari,.. cape, lapar, dlsbg. Setelah sekian lama kita jalan, di tempat yang jauh kita melihat oase, air di padang pasir.
Jadi, diantara kita ada yang berteriak; "Tuh, disana ada air." Trus masing2 dari kita lari kearah sana dan kita minum.
Ketika sedang minum melepas dahaga, ada beberapa orang yang sudah sampai ditempat itu, waktu dia minum dia teringat; "Ohh iya, diantara kita banyak orang yang tua yang ketinggalan". Lalu,.. beberapa orang ini kembali lagi untuk membantu mereka yang kesulitan
untuk sampai ke tempat air tersebut. Membantu,..
Jadi kesimpulannya, Kendaraan besar disini adalah; "Diri sendiri berusaha, tetapi pada waktu diri sendiri berusaha, juga timbul kepedulian.
Nah, disini akan terbentang suatu masalah yang bersifat filosofis, yang bersifat dialektika. Sebelum itu, pengertian Hinayana Buddhisme, itu dikenalkan kepada Kaum Sarvastivada dan Kaum Theravada.
Mengapa mereka disebut Hinayana?,
Karena mereka hanya memperjuangkan untuk diri mereka sendiri. Ini bukan suatu masalah yang perlu diperdebatkan, tetapi perlu dimengerti; "Bagaimana kita menolong orang lain, sedangkan menolong diri kita sendiri saja tidak bisa?"
Cara berpikir yang pertama itu dianggap pragmatis, realistis. "Bagaimana saya bisa membantu orang, berbagi makanan, sedangkan saya hanya punya 1 bungkus nasi?", tetapi, menurut Mahayana Buddhisme; "Pada waktu kita membebaskan diri kita sendiri, kita juga berusaha membantu orang lain.
Jadi dia dialektik lho, seperti ketika kita jalan, tidak mungkin kaki kita kedua2nya melangkah, pasti kita jatuh. Kalau diam, gak maju dong. Oleh karena itu, pada waktu kita membebaskan diri kita, waktu kita memperbaiki diri kita sendiri, kita juga berusaha peduli pada orang lain. Jadi, tidak bisa bilang 'bagaimana kita mau membebaskan orang lain, kita juga belum bisa membebaskan diri kita sendiri.'
Di dalam Sutta, Sang Buddha pernah membuat perumpamaan seperti berikut; ketika kita jalan di pinggir sungai, ada orang kecebur dan teriak minta tolong. Kalau kita bisa berenang, itu bukan masalah. Tapiii , kebetulan kita tidak bisa berenang, bagaimana? Kita bisa berteriak minta tolong sama orang, atau kita ambil tali atau bambu,. menolong,.. gitu lho .
Jadi, gak bisa bilang; "Aduh, boro2 aku nolong dia, aku sendiri juga tidak bisa berenang.", secara ilmu pengetahuan, umumnya nolongin orang kecebut itu sangat riskan, kita bisa ditarik sama dia, apalagi yang berenangnya kurang pandai.
Nah, itulah awal mulanya munculnya Kendaraan Besar, disaat kita berlatih menyeberang, dalam waktu bersamaan kita juga mengangkat orang menuju Pantai Seberang, menuju Nirvana. Oke?, ide yang sangat mulia.
Selanjutnya timbul gagasan Bodhisatva.
Yang disebut Bodhisatva itu siapa?, jangan salah pengertian. Kalau kita tidak mengerti, ya sudah,.. jangan menyerang.
Banyak orang tidak tahu tetapi sok mengkritik.
Pengertian Bodhisatva di dalam Buddhis Mahayana itu ada dua;
1. Kita semua adalah Bodhisatva.
Sepanjang kita datang ke vihara, mengangkat kedua tangan kita didepan altar Buddha kita berucap dengan kesungguhan hati, "Namo Buddhaya", kita sudah Buddhis.
Gak usah dikepret, gak usah pake sumpah serapah, gak usah pake kartu upasaka, dlsbg,. kita Buddhis secara spiritual. Apalagi pake baca lagi kalimat: "Hanya kepada Buddha aku berlindung dalam Dharma dan Sangha.",
nah, kita ini dikelompokkan Bodhisatva, pada suatu saat dalam perjalanan hidup kita ini, entah kapan,.. kalau kita memang lahir lagi kembali menjadi manusia, kesempatan untuk membersihkan diri itu ada.
Namun, satu hal yang harus dipertahankan disini, semua Buddhis, dari orde manapun juga harus mengakui bahwa konsep waktu harus diterima, yaitu;
- kita pernah lahir dulu
- kita telah lahir sekarang
- dan kita akan lahir lagi nanti.
Agama2 samawi yang tidak mengenal kelahiran kembali. Kalau diberitahu, dia akan bingung, karena mereka bukan Buddhis, apa sih yang dimaksud dengan kelahiran kembali, khan sudah mati, kapan lahir lagi, dst,..
Kita juga sering mendengar secara formalitas semacam doa dalam upacara kematian; "Semoga almarhum/h terlahir di alam berikutnya, melanjutkan kehidupan berikutnya."
Walaupun itu hanya ucapan, tetapi sebagai Buddhis, kita harus mengakui, karena kalau Buddhis tidak mengakui konsep waktu, dia tidak akan mengerti Dharma Sang Buddha.
Karena konsep waktu itu juga menjelaskan mengapa ada orang lahir di dunia ini agung dan mulia, mengapa orang baik lahir di dunia ini cepat mati, orang jahat malah gak mati-mati,. dst.
Karena ini menyangkut masalah lampau, yang sekarang kita lihat dan yang akan datang, itu yang harus diperhatikan.
Jadi, dengan kata lain, kita ini calon Bodhisatva, calon Buddha, entah kapan,.. karena bagaimanapun juga hanya manusia yang bisa mencapai keBuddhaan menurut terminologi theologi Buddhis meskipun istilah theologi itu juga kurang tepat.
2. Mereka yang memang mengkhususkan diri, melatih diri di dalam Bodhisatva, sehingga kita juga mengenal adanya Bodhisatva Sila. Itu bisa dilihat di dalam Sutra Mahayana di dalam Maha Brahma Jalla Sutta.
Salah satu Bodhisatva Sila menekankan, siapapun juga yang melatih diri, yang namanya orang, mutlak dia harus vegetarian, dia harus ciak cai.
Di dalam Aliran Buddhis Selatan, baik dalam Sarvastivada, Mahasanghika atau Theravada pada Buddhisme, yang ditekankan hanya tiga makanan bersih ( Sān qīng lóu ( 三清樓 )).
~ Sepanjang mata kita tidak melihat binatang itu disembelih,
~ Sepanjang kuping kita tidak mendengar binatang itu tidak disembelih,
~ Sepanjang bukan niat kita binatang itu disembelih, binatang itu boleh dimakan.
Mahayana berpendapat TIDAK BISA !! No compromise !!, karena, begitu kita terlibat dalam aksi yang melibatkan diri baik secara langsung ataupun tidak langsung di dalam pembunuhan, itu berarti kelahiran kembali akan menyulitkan kita menuju pencerahan.
Ini yang kita pahami.
Tapi, selingannya harus dimengerti juga, tradisi vegetarian itu berasal dari India, sebenarnya pada saat Buddha masih ada, banyak pertapa Brahmana pun vegetarian dan tradisi vegetarian ini kemudian dibawa dan dikembangkan sampai ke China, dst.
China adalah satu Negara yang sangat menitik-beratkan Kebudayaan Kuliner.
Konon masakan China itu ada sekitar 4.000 macam tersebar di seluruh dunia.
Jadi ketika tepung terigu, gandum, kentang, dlsbg diperkenalkan, itu khan datang dari Barat, dari India, dari Timur Tengah, dst,.. ya mereka masak dan kembangkan. Jadi kalau melihat daging ayam dari terigu, jangan ngomel,. "Apa tuh orang vegetarian masih melekat, makan daging2an ayam, sop rendang bisa mirip sekali wanginya, sate, dslbg, banyak khan yang terbuat dari tepung terigu,. Itu adalah Kebudayaan, tidak ada hubungannya dengan masalah agama.
Hendaknya, Umat Buddha bisa ngerti, itu Culture.
Yang tukang masak tahu dech, yang pernah pergi ke Eropa atau Amerika tahu, di Eropa yang bisa nandingin masakan China cuman Prancis. Di Asia Tenggara yang bisa nandingin masak cuman Thai.
Coba baca sejarah orang Inggris pada awalnya, yang namanya kalau masak itu kalau bukan direbus ya dibakar, dipanggang.
Kalau China, cara masaknya bisa dikukus, di chwe, goreng, steam dengan segala macam bumbunya. Maka jangan heran kalau kebudayaan kuliner China jauh lebih unggul.
Nah, itulah yang disebut Konsep Bodhisatva tentang vegetarian, tidak berpartisipasi di dalam pembunuhan, tentunya,.. idealnya,.. bisa vegetarian, harus bisa welas asih.
500 tahun setelah Buddha parinirwana, Nagarjuna pernah berkata: "Lepasnya Maitri Karuna, Dharma Sang Buddha akan kehilangan sukmanya.
Artinya, di dalam Dharma Sang Buddha, yang paling dijunjung tinggi adalah Maitri Karuna, Metta Karuna.
Ingat, umat Buddha juga seyogyanya tahu, pengertian metta karuna itu bukan hanya antara manusia terhadap manusia, tetapi manusia terhadap binatang dan makhluk halus juga.
Makanya penyembelihan, qurban, di dalam Dharma Buddha itu sama sekali tidak bisa diterima. Jadi, Buddhis, terhadap Dewa, terhadap manusia, terhadap binatang, terhadap makhluk halus, harus mengembangkan metta karuna. Dia punya keunggulan disana, keunggulan Buddhis adalah Metta karuna.
Berat lho, tidak ketemu orang saja ngomel, apalagi ketemu orang :P
Nah, karena metta karuna yang merupakan keunggulan Buddhis yang paling berat, kita harus berlatih.
~ Bersambung* ke judul berikutnya: "Kedudukan Bodhisatva yang Agung Lebih Tinggi dari Dewa,.lebih dari Arahat"
Semoga Buddha dan Bodhisatva serta Mahasatva melindungi kita.
Salam Damai _/\_
Kesehatan
Rabu, 21 Februari 2018
Minggu, 04 Februari 2018
AKHIR PERJALANAN SPIRITUAL
Kitab Suci bisa salah.
Bukan hanya terjemahannya yang bisa salah melainkan naskah aslinya juga. Sama saja seperti tulisan saya dan tulisan Anda yang bisa salah.
Semua tulisan manusia bisa salah.
Termasuk yang disucikan oleh sesamamu manusia dan Anda kenal sebagai Kitab Suci.
Dianggap bukan buatan manusia melainkan jatuh dari atas langit. Tiba-tiba muncul berbentuk bohlam menyala di dalam kepala, atau terasa seolah arang panas di lidah. Begitu terangnya atau begitu panasnya sehingga anda dipaksa untuk mengeluarkannya lewat ucapan atau tulisan.
Mulut yang terbuka atau jari yang bergerak. Melahirkan kata-kata yang dipercaya berasal dari Allah, Krishna, Kristus, Sabdo Palon, dlsbg,.. Bisa saja salah. Mungkin separuhnya salah, atau bahkan seluruhnya.
Yang tidak bisa salah cuma batu sepotong.
Benda mati. Tidak menghasilkan apapun sehingga tidak bisa salah. Makanya di semua peradaban ada batunya. Inilah yang abadi. Tidak pernah salah, kekal selamanya. Walaupun bisa dirusak kalau sudah berbentuk patung atau masih polos. Berhala dalam agama anda.
Jadi jangan salah kaprah lagi. Semua kitab baik yang disucikan maupun tidak adalah produk peradaban. Hasil budaya manusia. Olah budi dan olah daya. Olah pikir dan olah raga. Tidak ada yang sempurna, selalu ada cacatnya. Cacat bawaan tidak harus membuat anda rendah diri. Cukup rendah hati saja, mengakui keterbatasan anda menciptakan kitab suci.
Yesus sebagai Allah juga cuma pemanis bibir.
Simbolik.
Tidak perlu menjadikan anda nyengar-nyengir tidak jelas ketika berhadapan dengan orang Kristen. Saya kasih tahu, Yesus adalah manusia, sama seperti Anda. Allah adalah keabadian, yang juga ada di dalam Anda, dan Anda di dalam keabadian.
Ingat hukum kekekalan energi yang sudah terbuktikan. Dan hukum kekekalan kesadaran yang belum terbuktikan. Mungkin tidak bisa dibuktikan karena Anda tidak bisa bersaksi sudah pernah mati dan sekarang jadi orang lain. Kalau tidak mau dianggap gila,.. jangan lakukan itu !!.
Walaupun saya juga tahu banyak dari Anda yang mengaku reinkarnasi dari tokoh masa lalu.
Kalau Anda percaya reinkarnasi, artinya Anda abadi.
Ada Allah di dalam anda, dan anda di dalam Allah. Allah cuma kata bantu.
Konsep.
Yang ada cuma Anda. Yesus sebagai Allah juga begitu.
Tujuannya adalah untuk mengingatkan Anda bahwa Yesus adalah simbol manusia, simbol Anda. Yang merupakan bagian dari Allah. Bagian dari keabadian.
Begitu pengertian saya. Tentu saja tidak ada sembah-menyembah disini.
Yang Anda namakan menyembah cuma action doang. Yang penting adalah kelakuan Anda tertib.
Anda bisa melihat siapa yang sudah makrifat dan siapa yang masih syariat. Tidak perlu disalahkan, karena tiap orang menapaki jalan spiritualnya sendiri.
Saya hanya merasa perlu membuka jalan bagi anda yang sudah sampai agar tidak dilecehkan oleh mereka. Dengan berbagai bahasa cuma begini saja pokok spiritualitas, ujungnya berbuat baik kepada diri sendiri dan sesama. Itu kalau anda mau jujur dan tanpa pamrih. Kalau mau dibisniskan juga bisa, tapi saya pikir kita disini sudah muak dengan yang begituan. Tidak bermanfaat lagi. Jebakan Batman yang dipasang juga ada, yaitu memberikan anda teka teki. Supaya pikiran anda kacau dan tidak bisa fokus. Sehingga bisa dikendalikan lagi dan masuk perangkap. Makanya saya bilang fokus. Fokus di kepala Anda sehingga Allah atau apapun namanya bisa tetap ada.
Allah tempatnya di kepala, simbol dari Niat. Keinginan.
Makanya ada mantera yang berbunyi kun fayakun. Amin, jadilah.
Semuanya berasal dari kepala anda yang menggunakan kata Allah.
Saya buka seperti ini saja sudah membuat mereka gatal-gatal, dipikirnya saya ingin menjadi Nabi baru. Padahal saya tidak mau. Tidak mau menjadi nabi baru ataupun nabi lama. Karena saya tahu setiap orang dari Anda adalah Nabi atau Nabiah.
Anda mampu bernubuwwah.
Gunakan kepala anda, rasakan, lalu ucapkan.
Itulah nubuwwah.
Anda bernubuwwah. Gunanya bagi hidup anda sendiri dan orang lain. Bukan untuk dijual dan dijadikan dagangan baru, aliran baru dari agama lama. Kita tidak begitu. Tidak memaksa orang untuk masuk kotak dan menjadi zombie di dalam kotak agamanya masing-masing.
Anda semua manusia bebas. Bisa menentukan apa yang terbaik bagi diri anda sendiri. Menurut saya itulah kemauan Allah yang menciptakan Anda serupa dengan dirinya. Manusia diciptakan sesuai dengan citra Allah. Punya sifat seperti Allah, yaitu kesadaran Anda yang bisa berpikir.
Diciptakan dengan cara dicampur dengan tanah, yang tidak abadi karena setelah jadi tubuh, Anda akan bisa membusuk, kering dan jadi tanah lagi. Itulah asal-muasalnya, kisah penciptaannya.
Memang pemikiran. Tertulis di kitab suci Yahudi yang tertua. Orang-orang Yahudi sudah tahu makanya mereka cerdas. Kenapa Anda harus kalah dari orang Yahudi?
Kita belajar spiritualitas umum tanpa perlu saling mengkafirkan. Tanpa perlu debat yang bisa dilakukan di banyak group debat agama. Disini cukup tahu fakta, debatnya di tempat lain. Seperti fakta tentang banyaknya gedung gereja yang membuat anda heran. Orang Kristen sendiri tidak heran karena setiap organisasi gereja punya gedung sendiri-sendiri. Di satu wilayah kecil bisa ada gedung Gereja Batak, Gereja Jawa, Gereja Katolik, Gereja Pentakosta. Dan banyak lagi. Masing-masing punya jemaat sendiri yg tidak bisa dicampurkan. Ibadah sendiri-sendiri dan tidak seperti umat Islam yang bisa masuk masjid apa saja.
Bukan dilarang !!, tetapi umatnya sendiri yang tidak mau.
Masing-masing punya komunitas.
Tidak mau bercampur kecuali khusus dalam ibadah bersama.
Seperti ibadah hari raya Paskah dan Natal yang diadakan di gedung-gedung olahraga berkapasitas puluhan ribu orang. Tradisinya seperti itu sejak ratusan tahun lalu. Sejak berakhirnya perang agama antara sesama orang Kristen. Dulu maunya cuma ada satu gereja, tetapi ribut. Sekarang banyak gereja dan bisa damai. Mungkin Islam bisa meniru yang seperti itu, dan bukan menghancurkan masjid-masjid Ahmadiyah yang memang eksklusif. Hanya untuk orang Ahmadiyah saja, walaupun anda juga bisa masuk dan ikut kalau mau. Sama seperti anda bisa masuk ke gedung gereja dari aliran Kristen yang mana saja.
Tidak pernah dilarang !!.
Intinya, setiap orang bebas beribadah dengan gayanya sendiri.
Tanpa pemaksaan.
Termasuk memaksa orang untuk beribadah di satu masjid saja. Atau beribadah di satu gereja saja. Beribadah di satu masjid mungkin bisa. Beribadah di satu gereja tidak bisa. Komunitasnya berlainan. Cara ibadahnya berbeda-beda. Kristen Batak tidak bisa dicampur dengan Kristen Jawa. Katolik tidak bisa dicampur dengan Protestan. Pentakosta yang berisik itu tidak bisa dicampur dengan aliran lainnya. Ada lagi gereja Mormon, Saksi Yehuwa dan Christian Science yang statusnya Kristen remang-remang. Semua eksis, tanpa ribut. Orang-orang Yahudi juga begitu. Punya tempat ibadah sendiri untuk masing-masing aliran. Mungkin cuma Islam yang memaksakan satu tempat ibadah. Dikiranya semua agama seperti itu. Sebagian besar tidak. Sebagian besar agama di dunia terdiri dari banyak aliran yang tidak saling mengganggu.
Intinya cuma kesadaran dan kelakuan.
Suwung itu kesadaran.
Yang sadar thok itu.
Sadar bahwa Anda sadar.
Cukup rasakan saja bahwa Anda sadar.
Dan itulah meditasi, bisa dilakukan setiap saat.
Dengan fokus di bagian kepala. Jadi memang bukan menyembah apapun. Tidak ada sembah-menyembah dalam spiritualitas yang asli. Menyembah cuma ada dalam spiritualitas palsu. Karena Anda tidak menyembah apapun. Anda cuma merasakan kesadaran anda. Pakai gaya menyembah versi apapun tetap saja kesadaran anda sama. Seperti pakai baju dengan bermacam gaya. Bisa ganti baju tapi anda tetap orang yang sama. Cuma begini saja inti spiritualitas manusia sebelum ditambah dengan berbagai lagu. Lagu minta rezeki, minta anak, minta pasangan seksual, minta ganti kelamin, minta naik jabatan, minta menang pilkada. Yang tentu saja tidak dilarang asal dilakukan dengan baik dan benar. Dimulai dari niat di kepala anda.
Bahkan anda bisa tarik manteranya.
Mantera suwung adalah suku kata ung. Ung atau hung. Terkadang menjadi hong. Di Hindu Buddha ini suku kata om. Di Timur Tengah menjadi am.
Semua tentang kepala anda yang hening dan bisa meniatkan sesuatu.
Mensuwungkan. Mengomkan. Mengamkan. Atau mengaminkan.
Pengucapan dilakukan oleh mulut Anda, didengar oleh telinga, masuk kembali ke kepala, dan berputar terus. Suwung. Anda bisa suwung dan bertanya. Dengarkan jawabannya.
Jangan duduk membungkuk dan kepala miring-miring ketika anda melakukan ritual keagamaan yang sama saja nilainya dengan meditasi. Fokus bukan di amalannya, bukan di dada, melainkan di kepala. Cukup rasakan kesadaran anda yang adanya di kepala setiap kali berdoa, meditasi, wirid, novena.
Ketahuilah bahwa amalan, doa, mantera, Allah dan Dewa Dewi cuma alat bantu agar anda bisa fokus di kepala. Tapi anda selalu dijatuhkan, disuruh menunduk dan fokus di dada. Makanya anda terpuruk sampai sekarang.
Jangan lagi !!.
Mulailah duduk dengan punggung tegak, kepala lurus menghadap ke depan. Rasakan bagian kepala Anda. Bisa di dahi atau di puncak kepala. Dan itulah yang saya maksudkan dengan Meditasi Mata Ketiga. Bisa pakai pembungkus dari agama apapun. Tidak masalah asal anda tetap fokus di bagian kepala.
Tidak akan ada yang berani bilang Anda sesat kalau soal teknik olah spiritual.
Sesat itu soal politik.
Kenapa Ahmadiyah dan Gafatar dianggap sesat?
Oh, karena pendiri aliran-aliran ini mengaku sebagai Imam Mahdi, yaitu Al Masih yang datang kembali ke bumi sesuai janjinya 2000 tahun lalu kepada murid-muridnya di Yerusalem. Isa Al Masih atau Yesus Kristus naik ke atas langit di hadapan murid-muridnya. Sambil terangkat ke atas dia memberkati mereka. Murid-muridnya memandang terus, seperti domba kehilangan induknya, sampai tiba-tiba muncul Malaikat yang berkata: "Wahai manusia, mengapa engkau bersedih hati? Ketahuilah, Yesus yang terangkat naik ke langit akan datang kembali ke bumi seperti engkau melihatNya naik." Dengan kata lain, kedatangan Isa Al Masih akan tiba-tiba.
Tidak disangka.
Muncul tanpa anda perkirakan, dan selalu dari atas. Atau dari bagian kepala.
Dan mengingat Yesus Kristus hidup di dalam murid-muridnya, termasuk Anda dan saya, maka kedatangan Yesus Kristus yang kedua kalinya berarti terSADARnya Anda bahwa Yesus sudah datang sebagai Anda. Sebagai tetangga anda. Sebagai musuh anda. Semuanya Yesus.
Semuanya Imam Mahdi.
Semuanya berhak memerintah diri sendiri dengan cara yang baik dan benar.
Semuanya berhak membuang syariat, seperti Yesus yang membuang syariat Yahudi. Kalau tidak pas tinggal buang. Tanpa merasa takut kepada Allah karena Yesus sudah mengajarkan bahwa Allah adalah Bapamu. Atau yang menjadikanmu ada. Lebih tepatnya melahirkan kesadaranmu. Kesadaranmu selalu ada karena bapamu selalu ada besertamu.
Demikianlah pengertian spiritualnya yang secara implisit dimengerti oleh orang Kristen kecuali oleh mereka yang terlalu bebal. Atau menjadi korban hipnotis para pendeta yang ingin memperkaya diri sendiri mengkhotbahkan tentang Yesus tanpa mau kasih tahu bahwa Yesus bisa datang setiap saat menjadi Anda. Dan Yesus inilah yang perannya begitu penting di dalam Islam.
Selalu dijadikan alasan munculnya mereka yang mengaku sebagai Imam Mahdi.
Imam Mahdi di dalam Islam adalah Yesus Kristus yang datang untuk kedua kalinya. Karena Islam memang mengharapkan kembalinya Yesus. Jadi jangan salah kaprah mengira Islam anti Yesus. Kepercayaan dalam Islam mengharapkan datangnya kembali Yesus. Sayangnya tidak pernah mengajarkan bahwa Yesus cuma simbol dari tiap orang yang percaya.
Sudah datang kembali. Imam Mahdi atau Yesus Kristus yang datang kedua kalinya adalah setiap orang. Bukan hanya pendiri Ahmadiyah dan Gafatar. Kalau Anda sudah sadar, Andalah Al Masih itu. Sederhana dan tidak menghebohkan.
Biasa saja, sangat umum, terjadi dimana-mana.
Anda juga bisa mengubah konsep Allah kalau mau.
God is Dead dari Friedrich Nietzsche bukan Tuhan Telah Mati seperti terjemahan di bahasa Indonesia, melainkan Allah Telah Mati.
Maksudnya, "konsep" Allah telah mati.
Begitu pengertiannya.
Bisa mati karena bisa lahir.
Konsep Allah dilahirkan oleh orang Yahudi yang kita duga pelarian dari India. Membawa Dewa Brahma dan Dewi Saraswati di dalam otak mereka, karena terjadi ribuan tahun sebelum konsep Wisnu diformulasikan. Apalagi konsep Siwa. Yang pertama muncul itu konsep Brahma. Yang menjadi Abram atau Abraham di kepercayaan Yahudi. Simbol dari naluri anda. Sex, makan minum dan bertahan hidup. Bukan tentang welas asih atau Wisnu yang baru muncul kemudian. Nenek moyang Yahudi sudah keluar dari India ketika konsep Wisnu dikembangkan. Makanya mereka mengembangkan konsep kasih sayang dengan gaya mereka sendiri. Gaya Timur Tengah. Dikembangkan oleh nabi-nabi Yahudi, dan bukan oleh para pujangga seperti di India. Sampai kepada Yesus masih berada di cakra jantung atau Wisnu. Tapi Yesus berjanji untuk datang kembali ke dunia untuk membawa kesadaran diri. Ego yang sudah terasah sehingga tidak suka membedakan orang. Tobat diskriminasi SARA dan LGBT. Ego seperti itulah yang dinamakan Siwa. Baru muncul di abad ke 20, bergerak perlahan sampai mencapai anda yang semula ragu-ragu, mengira itu Setan. Karena konsep Allah memang sudah mati. Allah yang naluriah dan lebay sudah mati. Digantikan oleh Allah yang sadar. Punya tanggung-jawab bahwa hidup ini bukan hanya sex dan makan minum. Bukan hanya mencintai dan dicintai. Tapi lebih dari itu. Yang belum bisa kita lihat jelas sekarang. Harus dilihat satu persatu, orang per orang.
Ketika anda menyadari bahwa andalah itu, tat tvam asi, Yesus yg datang kembali ke dunia,
Imam Mahdi atau Al Masih sebagai anda sendiri, barulah akan anda lihat jelas.
Sejelas-jelasnya anda mau bikin apa. Asal jangan bikin agama baru saja. Kita tidak perlu yang itu.
Orang spiritual yang kena delusi juga banyak. Buat saya tidak masalah asal tidak mendiskriminasi. Membedakan perlakuan terhadap SARA dan LGBT. Kalau mendiskriminasi artinya tingkatnya terlalu rendah untuk bergabung disini. Sebagian sudah didepak keluar supaya belajar di tempat yang sesuai dengan tingkatnya. Sampai sadar dan tobat sendiri. Mereka masuk kategori pemosting video dan gambar porno. Tidak Pancasilais. Jarang saya bicara seperti ini, mengakui terus terang bahwa tingkatan spiritual memang ada. Orang yang suka meninggikan diri itu pejalan spiritual kelas bawah. Merasa sangat spiritual padahal pemula. Bukan di group kita saja, tetapi di banyak group di facebook. Mereka terjebak di cakra jantung. Mulut manis tapi hati busuk. Dan energinya terasa sekali. Yang juga jarang saya ungkapkan.
Ya, saya bisa deteksi energi anda.
Tapi saya harapkan agar anda berubah, bertransformasi, mengubah kebusukan hati anda menjadi keharuman.
Harum namanya. sayangnya tidak bisa instant.
Perlu waktu sampai anda terbanting berkali-kali. Sampai jiwa kotor anda yang tinggi hati itu mati. Sehingga lahir yang bersih, dengan nama Imam Mahdi.
Yang tak lain dan tak bukan cuma anda sendiri.
Sadar bahwa anda manusia biasa walaupun secara spiritual sudah berstatus Imam Mahdi.
Setiap orang dari anda bisa.
Saya harapkan langsung bisa.
Saya percaya bisa. Jadi jangan ngeyel lagi.
Akhir perjalanan spiritual adalah merasa biasa saja.
Rasanya biasa saja, tidak spesial.
Akhir Perjalanan Spiritual
Ditulis oleh: LEONARDO RIMBA
3 FEBRUARI 2016
Jumat, 02 Februari 2018
SEJARAH TIONGKOK: CAMPURAN DARAH SERIGALA & DOMBA.
SEJARAH TIONGKOK: CAMPURAN DARAH SRIGALA & DOMBA.
By: Daemoen on Twitter
By4 jam yang laluTulisan ini bukan bertujuan membahas rincian sejarah, tetapi untuk memahami SEJARAH MAKRO Tiongkok, faktor2 apa saja yang berkontribusi dalam membentuk perjalanan sejarah bangsa itu?
Tujuan tulisan ini adalah untuk memberikan contoh refleksi sejarah.
Sejarah bukan hanya kumpulan fakta2, tetapi sebuah pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi di masa silam?
Kenapa satu hal terjadi, tidak hal lain?
Umumnya refleksi sejarah yang diajarkan sekolah2 bertujuan ideologis, berusaha untuk memberikan pembenaran pada cara pandang tertentu. Untuk masa modern, umumnya untuk menguatkan nasionalisme dan sejenisnya. Cara pandang tersebut sering menjadi penghalang pengertian tentang apa yang terjadi sebenarnya.
Tiongkok beruntung karena mereka mempunyai tradisi histriografi dari ribuan tahun silam, terus menerus dijalankan tanpa terputus. Refleksi sejarah dilakukan terus menerus.
Tetapi refleksi sejarah yang dilakukan sejarahwan selama ribuan tahun silam umumnya juga punya tujuan praktis. Tujuan praktis refleksi sejarah Tiongkok secara umum adalah menemukan jawaban: Apa yang menyebabkan lahir dan runtuhnya dinasti2?
Umumnya sejarah satu dinasti ditulis setelah dinasti tersebut runtuh.
Jadi, dinasti penggantinya yang menulis sejarah dinasti terdahulu.
Karena itulah sikap kritis tinggi sekali. Mereka mencoba menemukan akar permasalahan dinasti terdahulu yang menyebabkannya runtuh. Itu juga menjadi pembenaran legitimasi dinasti yang menggantikannya (yang menulis sejarah).
Sesudah komunis menguasai China, refleksi sejarahpun diarahkan mengikuti garis Marxism, dengan analisa materialisme dialektrikal sejarah.
Dinasti awal Shang ditekankan bahwa mereka masyarakat pemilik budak, lalu berkembang, sampai menjadi masyarakat komunis menuju Utopia komunisme.
Tapi sekarang, refleksi yang ideologis semacam itu bahkan sudah tidak berlaku di China.
Bagaimana dengan Nusantara?
Sejarah Indonesia yang diajarkan di sekolah juga menuruti garis ini, difokuskan bahwa Indonesia sudah ada sejak dulu, Majapahit sudah mempersatukan Nusantara, dsb. Ya kira2 begitulah refleksi sejarah ala ideologi,
Ada satu adagium yang terkenal: Novelis Luo Guanzong (abad 14) menggunakannya sebagai membuka dalam novel sejarah Samkok:
NEGARA LAMA TERCERAI, AKAN BERSATU; YANG BERSATU, AKAN TERCERAI.
Adagium ini terkenal sekali di China sejak ratusan tahun silam, & berfungsi seolah2 seperti hukum alam.
Mereka sering melihat hal dari perspektif sangat panjang. Waktu China tercerai berai dulu, selalu ada faktor yang menyatukannya ulang.
Ini menjadi prinsip politik ONE CHINA saat ini
Memang benar, sejarah China itu seperti siklus penyatuan dan perpecahan secara berkesinambungan. Kenapa di Eropa, tidak terjadi penyatuan politik seperti di China?
Inilah pertanyaan awal yang ingin kita pertanyakan: Apa faktor yang membuat adagium Luo Guanzhong seakan-akan seperti hukum alam?
Seorang sejarahwan Amerika yang lahir di China, Ray Huang mencoba menjawab pertanyaan ini. Dia dulunya adalah seorang tentara Nasionalist yang bertempur melawan Jepang & kaum Komunis. Setelah perang dia ke Amerika belajar sejarah, dan menjadi professor sejarah di SUNY (New York).
Ray Huang menemukan bahwa faktor GEOGRAFI memegang peranan penting dalam pembentukan sejarah China.
Di China, faktor AIR itu selalu merupakan faktor utama dalam kehidupan, karena air bukan komoditi yang selalu tersedia disana. Saya pernah membuat kultwit tentang TANTANGAN GEOGRAFI di China untuk masa kini di;
https://twitter.com/Mentimoen/status/910357298182262789
Videonya bisa ditonton disini:
China has found a way to turn deserts into forests;
https://twitter.com/PsychologyDoc/status/910169407523102721
Di masa lalu, walau tantangannya agak berbeda, tetapi tidak kalah rumitnya. Pegunungan Himalaya dan pegunungan di Utara memang membuat geografi China menjadi unik.
Dari sejarah diketahui sungai2 Kuning di China menjadi sumber penghidupan bagi rakyat, tetapi juga sumber petaka setiap tahun.
Setiap tahun banjir besar menggenang, meninggalkan sendimen kuning yang menyuburkan. Karena itulah dinamakan Sungai Kuning.
Diwaktu air banyak, sungai2 di China menenggelamkan desa2 dan kota2 di sekitarnya. Diwaktu kering, rakyat kelaparan karena tidak ada yang tumbuh di tanah kering kerontang.
Karena itulah, seluruh negeri benar2 tergantung dari management air ini.
Saking pentingnya air, mereka yang bisa mengatasi air dianggap pahlawan. Kaisar yang dikenal sebagai Yu The Great, menjadi legendaris karena dia berhasil mengatasi air, dan sampai sekarang disembah.
Pekerjaan managemen air ini pekerjaan raksasa. Misalnya, sistem irigasi Dujiangyan di Sichuan sdh berumur hampir 2300 thn, dan berfungsi terus menerus sampai sekarang. Kalo tidak salah, Mantan Presiden Megawati Soekarno pernah berkunjung kesana.
Sungai2 di China mengalir dari wilayah dataran tinggi di barat, sampai ke pantai Timur (atau selatan). Untuk membuat proyek raksasa ini, dibutuhkan kerjasama erat antara semua wilayah yang dilalui sungai tersebut.
Oleh karena itulah, sejarah menghendaki China selalu dimanage secara terpusat.
Setiap kali China terpecah, mula2 mungkin tidak terasa, tetapi kondisi ekonomi setiap negara kecil itu akan menurun, kelaparan terjadi, dan selalu menyebabkan pergolakan. Penyatuan menghentikan pergolakan, dan memajukan ekonomi.
Sinergi terjadi di China karena faktor geografi.
Karena itulah dalam sejarah terjadi berulang2 proses penyatuan kembali China. Itu disebabkan karena mereka yang di Mainland tidak mampu tahan terpisah, pekerjaan umum yang harus dilakukan antar propinsi mengharuskan proyek dalam satu atap manajemen.
Sampai sekarangpun proses managemen air dan lingkungan tanah kuning (loess) tersebut terus berlangsung. Misalnya proyek di Shaanxi ini, dataran tanah kuning yang tadinya benar kering, diubah kembali menjadi hijau untuk pertanian.
Hal seperti inilah yang berlangsung ribuan tahun disana.

Bisa dibilang China itu kebanyakan penduduk dibanding luas wilayah yang bisa digunakan untuk pertanian. Karena itulah usaha selalu dibutuhkan, dari ribuan tahun silam untuk mengatasi masalah2 ini. Gunung2 bisa kering, dan perlu usaha untuk memperbaiki.
Ok, kita sudah membahas separuh dari permasalahan sejarah di China, yaitu tendensi ke arah penyatuan. Lalu bagaimana dengan tendensi sebaliknya, kenapa bisa terpecah lagi?
Dan apa pula hubungan dengan judul tulisan ini, "Campuran Darah Srigala & Domba?"
Tulisan2 sebelumnya membahas tentang latar belakang faktor geografi yang menyebabkan China harus dibawah satu atap manajemen. Tulisan berikutnya akan membahas; "Kenapa China sanggup bertahan ribuan tahun, tidak seperti peradaban2 kuno lain dunia yang tumbang dan lenyap diganti dengan yang baru?"
Kekuatan yang menyatukan China adalah kekuatan peradaban.
Peradaban yang kompleks mengatur tata cara hidup, tata cara berkomunikasi, mengatur
hubungan antar personal dalam imperial tersebut.
Imperal ini punya banyak kekuatan, terutama sinergi. Tetapi juga banyak kelemahan.
Geografi China bukan hanya menantang secara fisik, tetapi juga menantang dari segi HUMAN GEOGRAPHY.
Di Utara China, ada padang luas, tempat tinggal banyak suku2 nomaden yang selalu ingin berperang/berantem. Dan mereka adalah yang terkuat di dunia, salah satunya menjadi Mongol pada abad ke 12.
Kenapa suku2 nomaden suka berperang?
Ada penelitian mengkalkulasi daya dukung habitat. Habitat di utara tidak mencukupi untuk kelangsungan hidup populasi. Sementara di selatan (China) terdapat kota2 dan dusun2 kaya. Jadi untuk bertahan, mereka harus menyerang dan merampok desa2 tersebut.
Seluruh sejarah China bisa dikatakan dibentuk oleh 2 faktor geografi utama ini: Physical Geography dan Human Geography dari utara. Sesudah sebuah dinasti berdiri, tantangan terbesar adalah mempertahankan diri dari para "barbarian" yang datang dari Utara. Tembok Besar China dibangun dulunya untuk tujuan pertahanan dari serangan para nomaden ini. Kekuatan nomaden ini tidak tanggung2, dan pernah sampai merusak Eropa dan menghancurkan Dinasti muslim di Baghdad. Itu adalah kekuatan barbarian terbesar yang pernah dialami dunia.
Kenapa peradaban ditempat lain ketika diserbu oleh kaum barbarian, sering hancur dan tidak bangun2 lagi, sedangkan di China terjadi sebaliknya? Sepertinya China itu agak kebal terhadap mereka, diserbu sakit, tapi sembuh lagi.
Kenapa hal itu terjadi?
Salah satu kelemahan peradaban adalah, PERADABAN MEMBUAT RAKYAT LEMAH SECARA FISIK. Karena orang2 beradab lebih banyak baca buku, lebih toleran, lebih sopan2 tingkahnya, dst,.. Beda dengan mereka yang tidak begitu beradab, yang lebih aggresif, gampang marah, gampang menghancurkan, dst,..
Sering di China melihat ini sebagai dikotomi SRIGALA dan DOMBA. Peradaban membuat manusia menjadi domba. Dan domba sering sekali tidak berdaya ketika menghadapi manusia mental srigala.
Banyak peradaban2 habis dihancurkan oleh barbarians, karena otot mereka sudah lembek, dan tida bisa berantem. Hubungan serigala dengan warga China itu hubungan love-hate. Dalam lagu2 digambarkan serigala sebagai musuh, tetapi dilain pihak mereka juga menaruh hormat besar pada srigala.
Novel 2014 oleh Jiang Rong, Wolf Totem, menggambarkan hubungan love hate ini dengan bagus sekali.
China sukses mengatasi ancaman barbarian secara jangka panjang karena 2 faktor. Pertama; sedari awal, strategi menghadapi barbarian tidak selalu bertempur head-to-head, tetapi dengan meng-china-kan mereka (sinification).
Pada dasarnya, arti sinification adalah memperkenalkan pola hidup pertanian atau perkotaan. Sekali sudah mulai bertani atau hidup di kota, maka segarang
apapun orang2 nomaden itu, akan jadi lembut seperti yang lain ??????
Etnis Han yang terlihat besar sekali, sebenarnya hasil campur baur dari banyak sekali suku2 nomaden utara. Suku2 itu tidak banyak bertambah besar, karena setiap kali selalu mengalami proses asimilasi kedalam masyarakat agrikultur, menjadi Chinese.
Ok, itu faktor pertama kenapa peradaban China berhasil mengatasi serangan barbarian, yaitu dengan bersifat fleksible & merangkul.
Caranya?
Hmm ini menarik...
Penguasa awal Dinasti Han melakukan itu dengan sukses dengan suku Xiongnu, dan pada era Han Wudi, baru diserbu habis.
Cara yang digunakan Kaisar2 Han awal adalah dengan menghampiri Xiongnu dan bilang: "Daripada kamu merampok kami, kenapa tidak sekalian kami berikan kamu apa yang kamu inginkan?"
Setelah itu dia mengirim secara teratur makanan2, dan barang2 mewah ke suku2 nomaden tersebut, sampai bertahun2.
Bagi suku2 nomaden itu adalah sesuatu yang masuk akal. Daripada repot2 merampok, ada yang mau mengantarkan harta, ya terima saja.
Setelah belasan tahun, mereka lupa cara berperang. Mereka suka makanan enak2, lalu hidup dekat2 petani, sampai akhirnya terasimilasi.
Mengalahkan tanpa menimbulkan rasa sakit ??????
Tetapi selalu sewaktu2 ketika pusat imperial lemah, umumnya karena korupsi, atau kaisarnya tidak becus, imperial runtuh. Banyak yang runtuh oleh serangan nomaden ini,
yang mendirikan dinasti2 baru nomaden.
Apakah warga China cepat2 mengusir mereka sebagai orang asing?
Tidak !!..
Ternyata flexibilitas orang China dengan menerima suku2 tersebut, dan bahkan mau diperintah oleh suku2 tersebut malah menambah suntikan darah srigala ke dalam domba.
Masyarakat yang tadinya letoy oleh peradaban, mendapat suntikan darah srigala yang beringas, sehingga membentuk campuran.
Inilah faktor kedua kenapa peradaban China mampu bertahan.
Karena secara rutin, peradaban yang menyebabkan orang2 impoten lemah itu mendapat suntikan darah serigala yang membangunkan mereka dari rasa puas diri, dan lebih beringas. Campuran darah srigala itu berfungsi ibarat VAKSIN. Sesudah divaksin dengan menggunakan penyakit yang sudah dilemahkan, seseorang akan kebal terhadap serangan
penyakit tersebut.
Proses inilah yang tidak terjadi pada peradaban lain ketika menghadapi serangan barbarian. Mereka frontal & habis.
Dalam terang inilah kita bisa melihat fungsi komunisme di China. Ideologi dari Barat itu berfungsi seperti serigala, menghancurkan, tetapi sekaligus menyuntikkan darah segar untuk negara tua peninggalan Dinasti Qing yang sudah capek, letoy dan impoten.
Tetiba rakyatnya bangkit seperti mendapat darah baru.
Ekses dari euphoria ini mahal, harus dibayar dalam era Revolusi Kebudayaan yang benar2 menghancurkan semua sendi2 masyarakat mereka. Budaya2 lama dihancurkan, para professional dan cendekia digebuk dipermalukan. Orang2 kota dipindah ke desa menjadi petani.
Tetapi heran, itu cuma terjadi dalam waktu beberapa tahun, lalu dengan cepat, situasi berubah lagi, cepat sekali, seakan2 mukjizat mereka bangun semua dari abu menjadi
masyarakat maju & modern.
Ekses Revolusi Kebudayaan seperti demam tinggi setelah vaksin, setelahnya badan menguat, dan makan menjadi lahap.
Tulisan ini saya maksudkan bukan hanya untuk memahami gerak sejarah China.
Tetapi juga terselip harapan, semoga bisa membuat kita semua berpikir tentang apa2 saja yang selama ini menjadi faktor yang menentukan pasang surut dalam sejarah Indonesia?
Dan bagimana kita bisa merekayasa proses berbangsa sehingga bisa maju lebih pesat?
sumber: https://twitter.com/Mentimoen/status/952391159988604929
tambahan; https://chirpstory.com/li/369702
By: Daemoen on Twitter
By4 jam yang laluTulisan ini bukan bertujuan membahas rincian sejarah, tetapi untuk memahami SEJARAH MAKRO Tiongkok, faktor2 apa saja yang berkontribusi dalam membentuk perjalanan sejarah bangsa itu?
Tujuan tulisan ini adalah untuk memberikan contoh refleksi sejarah.
Sejarah bukan hanya kumpulan fakta2, tetapi sebuah pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi di masa silam?
Kenapa satu hal terjadi, tidak hal lain?
Umumnya refleksi sejarah yang diajarkan sekolah2 bertujuan ideologis, berusaha untuk memberikan pembenaran pada cara pandang tertentu. Untuk masa modern, umumnya untuk menguatkan nasionalisme dan sejenisnya. Cara pandang tersebut sering menjadi penghalang pengertian tentang apa yang terjadi sebenarnya.
Tiongkok beruntung karena mereka mempunyai tradisi histriografi dari ribuan tahun silam, terus menerus dijalankan tanpa terputus. Refleksi sejarah dilakukan terus menerus.
Tetapi refleksi sejarah yang dilakukan sejarahwan selama ribuan tahun silam umumnya juga punya tujuan praktis. Tujuan praktis refleksi sejarah Tiongkok secara umum adalah menemukan jawaban: Apa yang menyebabkan lahir dan runtuhnya dinasti2?
Umumnya sejarah satu dinasti ditulis setelah dinasti tersebut runtuh.
Jadi, dinasti penggantinya yang menulis sejarah dinasti terdahulu.
Karena itulah sikap kritis tinggi sekali. Mereka mencoba menemukan akar permasalahan dinasti terdahulu yang menyebabkannya runtuh. Itu juga menjadi pembenaran legitimasi dinasti yang menggantikannya (yang menulis sejarah).
Sesudah komunis menguasai China, refleksi sejarahpun diarahkan mengikuti garis Marxism, dengan analisa materialisme dialektrikal sejarah.
Dinasti awal Shang ditekankan bahwa mereka masyarakat pemilik budak, lalu berkembang, sampai menjadi masyarakat komunis menuju Utopia komunisme.
Tapi sekarang, refleksi yang ideologis semacam itu bahkan sudah tidak berlaku di China.
Bagaimana dengan Nusantara?
Sejarah Indonesia yang diajarkan di sekolah juga menuruti garis ini, difokuskan bahwa Indonesia sudah ada sejak dulu, Majapahit sudah mempersatukan Nusantara, dsb. Ya kira2 begitulah refleksi sejarah ala ideologi,
Ada satu adagium yang terkenal: Novelis Luo Guanzong (abad 14) menggunakannya sebagai membuka dalam novel sejarah Samkok:
NEGARA LAMA TERCERAI, AKAN BERSATU; YANG BERSATU, AKAN TERCERAI.
Adagium ini terkenal sekali di China sejak ratusan tahun silam, & berfungsi seolah2 seperti hukum alam.
Mereka sering melihat hal dari perspektif sangat panjang. Waktu China tercerai berai dulu, selalu ada faktor yang menyatukannya ulang.
Ini menjadi prinsip politik ONE CHINA saat ini
Memang benar, sejarah China itu seperti siklus penyatuan dan perpecahan secara berkesinambungan. Kenapa di Eropa, tidak terjadi penyatuan politik seperti di China?
Inilah pertanyaan awal yang ingin kita pertanyakan: Apa faktor yang membuat adagium Luo Guanzhong seakan-akan seperti hukum alam?
Seorang sejarahwan Amerika yang lahir di China, Ray Huang mencoba menjawab pertanyaan ini. Dia dulunya adalah seorang tentara Nasionalist yang bertempur melawan Jepang & kaum Komunis. Setelah perang dia ke Amerika belajar sejarah, dan menjadi professor sejarah di SUNY (New York).
Ray Huang menemukan bahwa faktor GEOGRAFI memegang peranan penting dalam pembentukan sejarah China.
Di China, faktor AIR itu selalu merupakan faktor utama dalam kehidupan, karena air bukan komoditi yang selalu tersedia disana. Saya pernah membuat kultwit tentang TANTANGAN GEOGRAFI di China untuk masa kini di;
https://twitter.com/Mentimoen/status/910357298182262789
Videonya bisa ditonton disini:
China has found a way to turn deserts into forests;
https://twitter.com/PsychologyDoc/status/910169407523102721
Dari sejarah diketahui sungai2 Kuning di China menjadi sumber penghidupan bagi rakyat, tetapi juga sumber petaka setiap tahun.
Setiap tahun banjir besar menggenang, meninggalkan sendimen kuning yang menyuburkan. Karena itulah dinamakan Sungai Kuning.
Diwaktu air banyak, sungai2 di China menenggelamkan desa2 dan kota2 di sekitarnya. Diwaktu kering, rakyat kelaparan karena tidak ada yang tumbuh di tanah kering kerontang.
Karena itulah, seluruh negeri benar2 tergantung dari management air ini.
Saking pentingnya air, mereka yang bisa mengatasi air dianggap pahlawan. Kaisar yang dikenal sebagai Yu The Great, menjadi legendaris karena dia berhasil mengatasi air, dan sampai sekarang disembah.
Pekerjaan managemen air ini pekerjaan raksasa. Misalnya, sistem irigasi Dujiangyan di Sichuan sdh berumur hampir 2300 thn, dan berfungsi terus menerus sampai sekarang. Kalo tidak salah, Mantan Presiden Megawati Soekarno pernah berkunjung kesana.
Sungai2 di China mengalir dari wilayah dataran tinggi di barat, sampai ke pantai Timur (atau selatan). Untuk membuat proyek raksasa ini, dibutuhkan kerjasama erat antara semua wilayah yang dilalui sungai tersebut.
Oleh karena itulah, sejarah menghendaki China selalu dimanage secara terpusat.
Setiap kali China terpecah, mula2 mungkin tidak terasa, tetapi kondisi ekonomi setiap negara kecil itu akan menurun, kelaparan terjadi, dan selalu menyebabkan pergolakan. Penyatuan menghentikan pergolakan, dan memajukan ekonomi.
Sinergi terjadi di China karena faktor geografi.
Karena itulah dalam sejarah terjadi berulang2 proses penyatuan kembali China. Itu disebabkan karena mereka yang di Mainland tidak mampu tahan terpisah, pekerjaan umum yang harus dilakukan antar propinsi mengharuskan proyek dalam satu atap manajemen.
Sampai sekarangpun proses managemen air dan lingkungan tanah kuning (loess) tersebut terus berlangsung. Misalnya proyek di Shaanxi ini, dataran tanah kuning yang tadinya benar kering, diubah kembali menjadi hijau untuk pertanian.
Hal seperti inilah yang berlangsung ribuan tahun disana.

Bisa dibilang China itu kebanyakan penduduk dibanding luas wilayah yang bisa digunakan untuk pertanian. Karena itulah usaha selalu dibutuhkan, dari ribuan tahun silam untuk mengatasi masalah2 ini. Gunung2 bisa kering, dan perlu usaha untuk memperbaiki.
Ok, kita sudah membahas separuh dari permasalahan sejarah di China, yaitu tendensi ke arah penyatuan. Lalu bagaimana dengan tendensi sebaliknya, kenapa bisa terpecah lagi?
Dan apa pula hubungan dengan judul tulisan ini, "Campuran Darah Srigala & Domba?"
Tulisan2 sebelumnya membahas tentang latar belakang faktor geografi yang menyebabkan China harus dibawah satu atap manajemen. Tulisan berikutnya akan membahas; "Kenapa China sanggup bertahan ribuan tahun, tidak seperti peradaban2 kuno lain dunia yang tumbang dan lenyap diganti dengan yang baru?"
Kekuatan yang menyatukan China adalah kekuatan peradaban.
Peradaban yang kompleks mengatur tata cara hidup, tata cara berkomunikasi, mengatur
hubungan antar personal dalam imperial tersebut.
Imperal ini punya banyak kekuatan, terutama sinergi. Tetapi juga banyak kelemahan.
Geografi China bukan hanya menantang secara fisik, tetapi juga menantang dari segi HUMAN GEOGRAPHY.
Di Utara China, ada padang luas, tempat tinggal banyak suku2 nomaden yang selalu ingin berperang/berantem. Dan mereka adalah yang terkuat di dunia, salah satunya menjadi Mongol pada abad ke 12.
Kenapa suku2 nomaden suka berperang?
Ada penelitian mengkalkulasi daya dukung habitat. Habitat di utara tidak mencukupi untuk kelangsungan hidup populasi. Sementara di selatan (China) terdapat kota2 dan dusun2 kaya. Jadi untuk bertahan, mereka harus menyerang dan merampok desa2 tersebut.
Seluruh sejarah China bisa dikatakan dibentuk oleh 2 faktor geografi utama ini: Physical Geography dan Human Geography dari utara. Sesudah sebuah dinasti berdiri, tantangan terbesar adalah mempertahankan diri dari para "barbarian" yang datang dari Utara. Tembok Besar China dibangun dulunya untuk tujuan pertahanan dari serangan para nomaden ini. Kekuatan nomaden ini tidak tanggung2, dan pernah sampai merusak Eropa dan menghancurkan Dinasti muslim di Baghdad. Itu adalah kekuatan barbarian terbesar yang pernah dialami dunia.
Kenapa peradaban ditempat lain ketika diserbu oleh kaum barbarian, sering hancur dan tidak bangun2 lagi, sedangkan di China terjadi sebaliknya? Sepertinya China itu agak kebal terhadap mereka, diserbu sakit, tapi sembuh lagi.
Kenapa hal itu terjadi?
Salah satu kelemahan peradaban adalah, PERADABAN MEMBUAT RAKYAT LEMAH SECARA FISIK. Karena orang2 beradab lebih banyak baca buku, lebih toleran, lebih sopan2 tingkahnya, dst,.. Beda dengan mereka yang tidak begitu beradab, yang lebih aggresif, gampang marah, gampang menghancurkan, dst,..
Sering di China melihat ini sebagai dikotomi SRIGALA dan DOMBA. Peradaban membuat manusia menjadi domba. Dan domba sering sekali tidak berdaya ketika menghadapi manusia mental srigala.
Banyak peradaban2 habis dihancurkan oleh barbarians, karena otot mereka sudah lembek, dan tida bisa berantem. Hubungan serigala dengan warga China itu hubungan love-hate. Dalam lagu2 digambarkan serigala sebagai musuh, tetapi dilain pihak mereka juga menaruh hormat besar pada srigala.
Novel 2014 oleh Jiang Rong, Wolf Totem, menggambarkan hubungan love hate ini dengan bagus sekali.
China sukses mengatasi ancaman barbarian secara jangka panjang karena 2 faktor. Pertama; sedari awal, strategi menghadapi barbarian tidak selalu bertempur head-to-head, tetapi dengan meng-china-kan mereka (sinification).
Pada dasarnya, arti sinification adalah memperkenalkan pola hidup pertanian atau perkotaan. Sekali sudah mulai bertani atau hidup di kota, maka segarang
apapun orang2 nomaden itu, akan jadi lembut seperti yang lain ??????
Etnis Han yang terlihat besar sekali, sebenarnya hasil campur baur dari banyak sekali suku2 nomaden utara. Suku2 itu tidak banyak bertambah besar, karena setiap kali selalu mengalami proses asimilasi kedalam masyarakat agrikultur, menjadi Chinese.
Ok, itu faktor pertama kenapa peradaban China berhasil mengatasi serangan barbarian, yaitu dengan bersifat fleksible & merangkul.
Caranya?
Hmm ini menarik...
Penguasa awal Dinasti Han melakukan itu dengan sukses dengan suku Xiongnu, dan pada era Han Wudi, baru diserbu habis.
Cara yang digunakan Kaisar2 Han awal adalah dengan menghampiri Xiongnu dan bilang: "Daripada kamu merampok kami, kenapa tidak sekalian kami berikan kamu apa yang kamu inginkan?"
Setelah itu dia mengirim secara teratur makanan2, dan barang2 mewah ke suku2 nomaden tersebut, sampai bertahun2.
Bagi suku2 nomaden itu adalah sesuatu yang masuk akal. Daripada repot2 merampok, ada yang mau mengantarkan harta, ya terima saja.
Setelah belasan tahun, mereka lupa cara berperang. Mereka suka makanan enak2, lalu hidup dekat2 petani, sampai akhirnya terasimilasi.
Mengalahkan tanpa menimbulkan rasa sakit ??????
Tetapi selalu sewaktu2 ketika pusat imperial lemah, umumnya karena korupsi, atau kaisarnya tidak becus, imperial runtuh. Banyak yang runtuh oleh serangan nomaden ini,
yang mendirikan dinasti2 baru nomaden.
Apakah warga China cepat2 mengusir mereka sebagai orang asing?
Tidak !!..
Ternyata flexibilitas orang China dengan menerima suku2 tersebut, dan bahkan mau diperintah oleh suku2 tersebut malah menambah suntikan darah srigala ke dalam domba.
Masyarakat yang tadinya letoy oleh peradaban, mendapat suntikan darah srigala yang beringas, sehingga membentuk campuran.
Inilah faktor kedua kenapa peradaban China mampu bertahan.
Karena secara rutin, peradaban yang menyebabkan orang2 impoten lemah itu mendapat suntikan darah serigala yang membangunkan mereka dari rasa puas diri, dan lebih beringas. Campuran darah srigala itu berfungsi ibarat VAKSIN. Sesudah divaksin dengan menggunakan penyakit yang sudah dilemahkan, seseorang akan kebal terhadap serangan
penyakit tersebut.
Proses inilah yang tidak terjadi pada peradaban lain ketika menghadapi serangan barbarian. Mereka frontal & habis.
Dalam terang inilah kita bisa melihat fungsi komunisme di China. Ideologi dari Barat itu berfungsi seperti serigala, menghancurkan, tetapi sekaligus menyuntikkan darah segar untuk negara tua peninggalan Dinasti Qing yang sudah capek, letoy dan impoten.
Tetiba rakyatnya bangkit seperti mendapat darah baru.
Ekses dari euphoria ini mahal, harus dibayar dalam era Revolusi Kebudayaan yang benar2 menghancurkan semua sendi2 masyarakat mereka. Budaya2 lama dihancurkan, para professional dan cendekia digebuk dipermalukan. Orang2 kota dipindah ke desa menjadi petani.
Tetapi heran, itu cuma terjadi dalam waktu beberapa tahun, lalu dengan cepat, situasi berubah lagi, cepat sekali, seakan2 mukjizat mereka bangun semua dari abu menjadi
masyarakat maju & modern.
Ekses Revolusi Kebudayaan seperti demam tinggi setelah vaksin, setelahnya badan menguat, dan makan menjadi lahap.
Tulisan ini saya maksudkan bukan hanya untuk memahami gerak sejarah China.
Tetapi juga terselip harapan, semoga bisa membuat kita semua berpikir tentang apa2 saja yang selama ini menjadi faktor yang menentukan pasang surut dalam sejarah Indonesia?
Dan bagimana kita bisa merekayasa proses berbangsa sehingga bisa maju lebih pesat?
sumber: https://twitter.com/Mentimoen/status/952391159988604929
tambahan; https://chirpstory.com/li/369702
Langganan:
Postingan (Atom)














