By: Daemoen on Twitter
Tujuan tulisan ini adalah untuk memberikan contoh refleksi sejarah.
Sejarah bukan hanya kumpulan fakta2, tetapi sebuah pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi di masa silam?
Kenapa satu hal terjadi, tidak hal lain?
Umumnya refleksi sejarah yang diajarkan sekolah2 bertujuan ideologis, berusaha untuk memberikan pembenaran pada cara pandang tertentu. Untuk masa modern, umumnya untuk menguatkan nasionalisme dan sejenisnya. Cara pandang tersebut sering menjadi penghalang pengertian tentang apa yang terjadi sebenarnya.
Tiongkok beruntung karena mereka mempunyai tradisi histriografi dari ribuan tahun silam, terus menerus dijalankan tanpa terputus. Refleksi sejarah dilakukan terus menerus.
Tetapi refleksi sejarah yang dilakukan sejarahwan selama ribuan tahun silam umumnya juga punya tujuan praktis. Tujuan praktis refleksi sejarah Tiongkok secara umum adalah menemukan jawaban: Apa yang menyebabkan lahir dan runtuhnya dinasti2?
Umumnya sejarah satu dinasti ditulis setelah dinasti tersebut runtuh.
Jadi, dinasti penggantinya yang menulis sejarah dinasti terdahulu.
Karena itulah sikap kritis tinggi sekali. Mereka mencoba menemukan akar permasalahan dinasti terdahulu yang menyebabkannya runtuh. Itu juga menjadi pembenaran legitimasi dinasti yang menggantikannya (yang menulis sejarah).
Sesudah komunis menguasai China, refleksi sejarahpun diarahkan mengikuti garis Marxism, dengan analisa materialisme dialektrikal sejarah.
Dinasti awal Shang ditekankan bahwa mereka masyarakat pemilik budak, lalu berkembang, sampai menjadi masyarakat komunis menuju Utopia komunisme.
Tapi sekarang, refleksi yang ideologis semacam itu bahkan sudah tidak berlaku di China.
Bagaimana dengan Nusantara?
Sejarah Indonesia yang diajarkan di sekolah juga menuruti garis ini, difokuskan bahwa Indonesia sudah ada sejak dulu, Majapahit sudah mempersatukan Nusantara, dsb. Ya kira2 begitulah refleksi sejarah ala ideologi,
Ada satu adagium yang terkenal: Novelis Luo Guanzong (abad 14) menggunakannya sebagai membuka dalam novel sejarah Samkok:
NEGARA LAMA TERCERAI, AKAN BERSATU; YANG BERSATU, AKAN TERCERAI.
Adagium ini terkenal sekali di China sejak ratusan tahun silam, & berfungsi seolah2 seperti hukum alam.
Mereka sering melihat hal dari perspektif sangat panjang. Waktu China tercerai berai dulu, selalu ada faktor yang menyatukannya ulang.
Ini menjadi prinsip politik ONE CHINA saat ini
Memang benar, sejarah China itu seperti siklus penyatuan dan perpecahan secara berkesinambungan. Kenapa di Eropa, tidak terjadi penyatuan politik seperti di China?
Inilah pertanyaan awal yang ingin kita pertanyakan: Apa faktor yang membuat adagium Luo Guanzhong seakan-akan seperti hukum alam?
Seorang sejarahwan Amerika yang lahir di China, Ray Huang mencoba menjawab pertanyaan ini. Dia dulunya adalah seorang tentara Nasionalist yang bertempur melawan Jepang & kaum Komunis. Setelah perang dia ke Amerika belajar sejarah, dan menjadi professor sejarah di SUNY (New York).
Ray Huang menemukan bahwa faktor GEOGRAFI memegang peranan penting dalam pembentukan sejarah China.
Di China, faktor AIR itu selalu merupakan faktor utama dalam kehidupan, karena air bukan komoditi yang selalu tersedia disana. Saya pernah membuat kultwit tentang TANTANGAN GEOGRAFI di China untuk masa kini di;
https://twitter.com/Mentimoen/status/910357298182262789
Videonya bisa ditonton disini:
China has found a way to turn deserts into forests;
https://twitter.com/PsychologyDoc/status/910169407523102721
Dari sejarah diketahui sungai2 Kuning di China menjadi sumber penghidupan bagi rakyat, tetapi juga sumber petaka setiap tahun.
Setiap tahun banjir besar menggenang, meninggalkan sendimen kuning yang menyuburkan. Karena itulah dinamakan Sungai Kuning.
Diwaktu air banyak, sungai2 di China menenggelamkan desa2 dan kota2 di sekitarnya. Diwaktu kering, rakyat kelaparan karena tidak ada yang tumbuh di tanah kering kerontang.
Karena itulah, seluruh negeri benar2 tergantung dari management air ini.
Saking pentingnya air, mereka yang bisa mengatasi air dianggap pahlawan. Kaisar yang dikenal sebagai Yu The Great, menjadi legendaris karena dia berhasil mengatasi air, dan sampai sekarang disembah.
Pekerjaan managemen air ini pekerjaan raksasa. Misalnya, sistem irigasi Dujiangyan di Sichuan sdh berumur hampir 2300 thn, dan berfungsi terus menerus sampai sekarang. Kalo tidak salah, Mantan Presiden Megawati Soekarno pernah berkunjung kesana.
Sungai2 di China mengalir dari wilayah dataran tinggi di barat, sampai ke pantai Timur (atau selatan). Untuk membuat proyek raksasa ini, dibutuhkan kerjasama erat antara semua wilayah yang dilalui sungai tersebut.
Oleh karena itulah, sejarah menghendaki China selalu dimanage secara terpusat.
Setiap kali China terpecah, mula2 mungkin tidak terasa, tetapi kondisi ekonomi setiap negara kecil itu akan menurun, kelaparan terjadi, dan selalu menyebabkan pergolakan. Penyatuan menghentikan pergolakan, dan memajukan ekonomi.
Sinergi terjadi di China karena faktor geografi.
Karena itulah dalam sejarah terjadi berulang2 proses penyatuan kembali China. Itu disebabkan karena mereka yang di Mainland tidak mampu tahan terpisah, pekerjaan umum yang harus dilakukan antar propinsi mengharuskan proyek dalam satu atap manajemen.
Sampai sekarangpun proses managemen air dan lingkungan tanah kuning (loess) tersebut terus berlangsung. Misalnya proyek di Shaanxi ini, dataran tanah kuning yang tadinya benar kering, diubah kembali menjadi hijau untuk pertanian.
Hal seperti inilah yang berlangsung ribuan tahun disana.

Bisa dibilang China itu kebanyakan penduduk dibanding luas wilayah yang bisa digunakan untuk pertanian. Karena itulah usaha selalu dibutuhkan, dari ribuan tahun silam untuk mengatasi masalah2 ini. Gunung2 bisa kering, dan perlu usaha untuk memperbaiki.
Ok, kita sudah membahas separuh dari permasalahan sejarah di China, yaitu tendensi ke arah penyatuan. Lalu bagaimana dengan tendensi sebaliknya, kenapa bisa terpecah lagi?
Dan apa pula hubungan dengan judul tulisan ini, "Campuran Darah Srigala & Domba?"
Tulisan2 sebelumnya membahas tentang latar belakang faktor geografi yang menyebabkan China harus dibawah satu atap manajemen. Tulisan berikutnya akan membahas; "Kenapa China sanggup bertahan ribuan tahun, tidak seperti peradaban2 kuno lain dunia yang tumbang dan lenyap diganti dengan yang baru?"
Kekuatan yang menyatukan China adalah kekuatan peradaban.
Peradaban yang kompleks mengatur tata cara hidup, tata cara berkomunikasi, mengatur
hubungan antar personal dalam imperial tersebut.
Imperal ini punya banyak kekuatan, terutama sinergi. Tetapi juga banyak kelemahan.
Geografi China bukan hanya menantang secara fisik, tetapi juga menantang dari segi HUMAN GEOGRAPHY.
Di Utara China, ada padang luas, tempat tinggal banyak suku2 nomaden yang selalu ingin berperang/berantem. Dan mereka adalah yang terkuat di dunia, salah satunya menjadi Mongol pada abad ke 12.
Kenapa suku2 nomaden suka berperang?
Ada penelitian mengkalkulasi daya dukung habitat. Habitat di utara tidak mencukupi untuk kelangsungan hidup populasi. Sementara di selatan (China) terdapat kota2 dan dusun2 kaya. Jadi untuk bertahan, mereka harus menyerang dan merampok desa2 tersebut.
Seluruh sejarah China bisa dikatakan dibentuk oleh 2 faktor geografi utama ini: Physical Geography dan Human Geography dari utara. Sesudah sebuah dinasti berdiri, tantangan terbesar adalah mempertahankan diri dari para "barbarian" yang datang dari Utara. Tembok Besar China dibangun dulunya untuk tujuan pertahanan dari serangan para nomaden ini. Kekuatan nomaden ini tidak tanggung2, dan pernah sampai merusak Eropa dan menghancurkan Dinasti muslim di Baghdad. Itu adalah kekuatan barbarian terbesar yang pernah dialami dunia.
Kenapa peradaban ditempat lain ketika diserbu oleh kaum barbarian, sering hancur dan tidak bangun2 lagi, sedangkan di China terjadi sebaliknya? Sepertinya China itu agak kebal terhadap mereka, diserbu sakit, tapi sembuh lagi.
Kenapa hal itu terjadi?
Salah satu kelemahan peradaban adalah, PERADABAN MEMBUAT RAKYAT LEMAH SECARA FISIK. Karena orang2 beradab lebih banyak baca buku, lebih toleran, lebih sopan2 tingkahnya, dst,.. Beda dengan mereka yang tidak begitu beradab, yang lebih aggresif, gampang marah, gampang menghancurkan, dst,..
Sering di China melihat ini sebagai dikotomi SRIGALA dan DOMBA. Peradaban membuat manusia menjadi domba. Dan domba sering sekali tidak berdaya ketika menghadapi manusia mental srigala.
Banyak peradaban2 habis dihancurkan oleh barbarians, karena otot mereka sudah lembek, dan tida bisa berantem. Hubungan serigala dengan warga China itu hubungan love-hate. Dalam lagu2 digambarkan serigala sebagai musuh, tetapi dilain pihak mereka juga menaruh hormat besar pada srigala.
Novel 2014 oleh Jiang Rong, Wolf Totem, menggambarkan hubungan love hate ini dengan bagus sekali.
China sukses mengatasi ancaman barbarian secara jangka panjang karena 2 faktor. Pertama; sedari awal, strategi menghadapi barbarian tidak selalu bertempur head-to-head, tetapi dengan meng-china-kan mereka (sinification).
Pada dasarnya, arti sinification adalah memperkenalkan pola hidup pertanian atau perkotaan. Sekali sudah mulai bertani atau hidup di kota, maka segarang
apapun orang2 nomaden itu, akan jadi lembut seperti yang lain ??????
Etnis Han yang terlihat besar sekali, sebenarnya hasil campur baur dari banyak sekali suku2 nomaden utara. Suku2 itu tidak banyak bertambah besar, karena setiap kali selalu mengalami proses asimilasi kedalam masyarakat agrikultur, menjadi Chinese.
Ok, itu faktor pertama kenapa peradaban China berhasil mengatasi serangan barbarian, yaitu dengan bersifat fleksible & merangkul.
Caranya?
Hmm ini menarik...
Penguasa awal Dinasti Han melakukan itu dengan sukses dengan suku Xiongnu, dan pada era Han Wudi, baru diserbu habis.
Cara yang digunakan Kaisar2 Han awal adalah dengan menghampiri Xiongnu dan bilang: "Daripada kamu merampok kami, kenapa tidak sekalian kami berikan kamu apa yang kamu inginkan?"
Setelah itu dia mengirim secara teratur makanan2, dan barang2 mewah ke suku2 nomaden tersebut, sampai bertahun2.
Bagi suku2 nomaden itu adalah sesuatu yang masuk akal. Daripada repot2 merampok, ada yang mau mengantarkan harta, ya terima saja.
Setelah belasan tahun, mereka lupa cara berperang. Mereka suka makanan enak2, lalu hidup dekat2 petani, sampai akhirnya terasimilasi.
Mengalahkan tanpa menimbulkan rasa sakit ??????
Tetapi selalu sewaktu2 ketika pusat imperial lemah, umumnya karena korupsi, atau kaisarnya tidak becus, imperial runtuh. Banyak yang runtuh oleh serangan nomaden ini,
yang mendirikan dinasti2 baru nomaden.
Apakah warga China cepat2 mengusir mereka sebagai orang asing?
Tidak !!..
Ternyata flexibilitas orang China dengan menerima suku2 tersebut, dan bahkan mau diperintah oleh suku2 tersebut malah menambah suntikan darah srigala ke dalam domba.
Masyarakat yang tadinya letoy oleh peradaban, mendapat suntikan darah srigala yang beringas, sehingga membentuk campuran.
Inilah faktor kedua kenapa peradaban China mampu bertahan.
Karena secara rutin, peradaban yang menyebabkan orang2 impoten lemah itu mendapat suntikan darah serigala yang membangunkan mereka dari rasa puas diri, dan lebih beringas. Campuran darah srigala itu berfungsi ibarat VAKSIN. Sesudah divaksin dengan menggunakan penyakit yang sudah dilemahkan, seseorang akan kebal terhadap serangan
penyakit tersebut.
Proses inilah yang tidak terjadi pada peradaban lain ketika menghadapi serangan barbarian. Mereka frontal & habis.
Dalam terang inilah kita bisa melihat fungsi komunisme di China. Ideologi dari Barat itu berfungsi seperti serigala, menghancurkan, tetapi sekaligus menyuntikkan darah segar untuk negara tua peninggalan Dinasti Qing yang sudah capek, letoy dan impoten.
Tetiba rakyatnya bangkit seperti mendapat darah baru.
Ekses dari euphoria ini mahal, harus dibayar dalam era Revolusi Kebudayaan yang benar2 menghancurkan semua sendi2 masyarakat mereka. Budaya2 lama dihancurkan, para professional dan cendekia digebuk dipermalukan. Orang2 kota dipindah ke desa menjadi petani.
Tetapi heran, itu cuma terjadi dalam waktu beberapa tahun, lalu dengan cepat, situasi berubah lagi, cepat sekali, seakan2 mukjizat mereka bangun semua dari abu menjadi
masyarakat maju & modern.
Ekses Revolusi Kebudayaan seperti demam tinggi setelah vaksin, setelahnya badan menguat, dan makan menjadi lahap.
Tulisan ini saya maksudkan bukan hanya untuk memahami gerak sejarah China.
Tetapi juga terselip harapan, semoga bisa membuat kita semua berpikir tentang apa2 saja yang selama ini menjadi faktor yang menentukan pasang surut dalam sejarah Indonesia?
Dan bagimana kita bisa merekayasa proses berbangsa sehingga bisa maju lebih pesat?
sumber: https://twitter.com/Mentimoen/status/952391159988604929
tambahan; https://chirpstory.com/li/369702














Tidak ada komentar:
Posting Komentar