Kesehatan

Rabu, 21 Februari 2018

Konsep Buddhis Mahayana dan hubungannya dengan kehidupan kita sekarang.

Karena yang akan di sampaikan disini lebih bersifat teori, jadi, saudara/i sekalian memeriksanya saja sendiri (  ehipassiko ) untuk kemudian berusaha untuk menerapkannya.

Mahayana Buddhisme ( Dà shèng fójiào ), artinya itu Kendaraan Besar. 
Muncul di India Utara, setelah Buddha parinibbana 500 tahun, di India, para bhiksu2, karena harus berhadapan dengan kaum pertapa, para Brahmana, mereka melihat dan menginterpretasikan Sabda Buddha yang sesuai dengan keadaan pada waktu itu, kemudian mengembangkan filsafatnya.

Mengapa disebut Mahayana (Kendaraan Besar)?
Perumpamaan yang paling sederhana, yang paling sering dipakai katakan begini:
Kita, dalam satu kesempatan dan satu waktu ada 50 orang,.. kita jalan,.. jalan berhari-hari,.. cape, lapar, dlsbg. Setelah sekian lama kita jalan, di tempat yang jauh kita melihat oase, air di padang pasir.
Jadi, diantara kita ada yang berteriak; "Tuh, disana ada air." Trus masing2 dari kita lari kearah sana dan kita minum.
Ketika sedang minum melepas dahaga, ada beberapa orang yang sudah sampai ditempat itu, waktu dia minum dia teringat; "Ohh iya, diantara kita banyak orang yang tua yang ketinggalan". Lalu,.. beberapa orang ini kembali lagi untuk membantu mereka yang kesulitan
untuk sampai ke tempat air tersebut. Membantu,..
Jadi kesimpulannya, Kendaraan besar disini adalah; "Diri sendiri berusaha, tetapi pada waktu diri sendiri berusaha, juga timbul kepedulian.
Nah, disini akan terbentang suatu masalah yang bersifat filosofis, yang bersifat dialektika. Sebelum itu, pengertian Hinayana Buddhisme, itu dikenalkan kepada Kaum Sarvastivada dan Kaum Theravada.

Mengapa mereka disebut Hinayana?, 
Karena mereka hanya memperjuangkan untuk diri mereka sendiri. Ini bukan suatu masalah yang perlu diperdebatkan, tetapi perlu dimengerti; "Bagaimana kita menolong orang lain, sedangkan menolong diri kita sendiri saja tidak bisa?"
Cara berpikir yang pertama itu dianggap pragmatis, realistis. "Bagaimana saya bisa membantu orang, berbagi makanan, sedangkan saya hanya punya 1 bungkus nasi?", tetapi, menurut Mahayana Buddhisme; "Pada waktu kita membebaskan diri kita sendiri, kita juga berusaha membantu orang lain.
Jadi dia dialektik lho, seperti ketika kita jalan, tidak mungkin kaki kita kedua2nya melangkah, pasti kita jatuh. Kalau diam, gak maju dong. Oleh karena itu, pada waktu kita membebaskan diri kita, waktu kita memperbaiki diri kita sendiri, kita juga berusaha peduli pada orang lain. Jadi, tidak bisa bilang 'bagaimana kita mau membebaskan orang lain, kita juga belum bisa membebaskan diri kita sendiri.'
Di dalam Sutta, Sang Buddha pernah membuat perumpamaan seperti berikut; ketika kita jalan di pinggir sungai, ada orang kecebur dan teriak minta tolong. Kalau kita bisa berenang, itu bukan masalah. Tapiii , kebetulan kita tidak bisa berenang, bagaimana? Kita bisa berteriak minta tolong sama orang, atau kita ambil tali atau bambu,. menolong,.. gitu lho .
Jadi, gak bisa bilang; "Aduh, boro2 aku nolong dia, aku sendiri juga tidak bisa berenang.", secara ilmu pengetahuan, umumnya nolongin orang kecebut itu sangat riskan, kita bisa ditarik sama dia, apalagi yang berenangnya kurang pandai.
Nah, itulah awal mulanya munculnya Kendaraan Besar, disaat kita berlatih menyeberang, dalam waktu bersamaan kita juga mengangkat orang menuju Pantai Seberang, menuju Nirvana. Oke?, ide yang sangat mulia.

Selanjutnya timbul gagasan Bodhisatva.
Yang disebut Bodhisatva itu siapa?, jangan salah pengertian. Kalau kita tidak mengerti, ya sudah,.. jangan menyerang.
Banyak orang tidak tahu tetapi sok mengkritik.

Pengertian Bodhisatva di dalam Buddhis Mahayana itu ada dua; 
1. Kita semua adalah Bodhisatva. 
Sepanjang kita datang ke vihara, mengangkat kedua tangan kita didepan altar Buddha kita berucap dengan kesungguhan hati, "Namo Buddhaya", kita sudah Buddhis.
Gak usah dikepret, gak usah pake sumpah serapah, gak usah pake kartu upasaka, dlsbg,. kita Buddhis secara spiritual. Apalagi pake baca lagi kalimat: "Hanya kepada Buddha aku berlindung dalam Dharma dan Sangha.",
nah, kita ini dikelompokkan Bodhisatva, pada suatu saat dalam perjalanan hidup kita ini, entah kapan,.. kalau kita memang lahir lagi kembali menjadi manusia, kesempatan untuk membersihkan diri itu ada.
Namun, satu hal yang harus dipertahankan disini, semua Buddhis, dari orde manapun juga harus mengakui bahwa konsep waktu harus diterima, yaitu;
- kita pernah lahir dulu
- kita telah lahir sekarang
- dan kita akan lahir lagi nanti.
Agama2 samawi yang tidak mengenal kelahiran kembali. Kalau diberitahu, dia akan bingung, karena mereka bukan Buddhis, apa sih yang dimaksud dengan kelahiran kembali, khan sudah mati, kapan lahir lagi, dst,..
Kita juga sering mendengar secara formalitas semacam doa dalam upacara kematian; "Semoga almarhum/h terlahir di alam berikutnya, melanjutkan kehidupan berikutnya."
Walaupun itu hanya ucapan, tetapi sebagai Buddhis, kita harus mengakui, karena kalau Buddhis tidak mengakui konsep waktu, dia tidak akan mengerti Dharma Sang Buddha.
Karena konsep waktu itu juga menjelaskan mengapa ada orang lahir di dunia ini agung dan mulia, mengapa orang baik lahir di dunia ini cepat mati, orang jahat malah gak mati-mati,. dst.
Karena ini menyangkut masalah lampau, yang sekarang kita lihat dan yang akan datang, itu yang harus diperhatikan.
Jadi, dengan kata lain, kita ini calon Bodhisatva, calon Buddha, entah kapan,.. karena bagaimanapun juga hanya manusia yang bisa mencapai keBuddhaan menurut terminologi theologi Buddhis meskipun istilah theologi itu juga kurang tepat.

2. Mereka yang memang mengkhususkan diri, melatih diri di dalam Bodhisatva, sehingga kita juga mengenal adanya Bodhisatva Sila. Itu bisa dilihat di dalam Sutra Mahayana di dalam Maha Brahma Jalla Sutta.
Salah satu Bodhisatva Sila menekankan, siapapun juga yang melatih diri, yang namanya orang, mutlak dia harus vegetarian, dia harus ciak cai.
Di dalam Aliran Buddhis Selatan, baik dalam Sarvastivada, Mahasanghika atau Theravada pada Buddhisme, yang ditekankan hanya tiga makanan bersih ( Sān qīng lóu ( 三清樓 )).
~ Sepanjang mata kita tidak melihat binatang itu disembelih,
~ Sepanjang kuping kita tidak mendengar binatang itu tidak disembelih,
~ Sepanjang bukan niat kita binatang itu disembelih, binatang itu boleh dimakan.

Mahayana berpendapat TIDAK BISA !! No compromise !!, karena, begitu kita terlibat dalam aksi yang melibatkan diri baik secara langsung ataupun tidak langsung di dalam pembunuhan, itu berarti kelahiran kembali akan menyulitkan kita menuju pencerahan.
Ini yang kita pahami.
Tapi, selingannya harus dimengerti juga, tradisi vegetarian itu berasal dari India, sebenarnya pada saat Buddha masih ada, banyak pertapa Brahmana pun vegetarian dan tradisi vegetarian ini kemudian dibawa dan dikembangkan sampai ke China, dst.

China adalah satu Negara yang sangat menitik-beratkan Kebudayaan Kuliner.
Konon masakan China itu ada sekitar 4.000 macam tersebar di seluruh dunia.
Jadi ketika tepung terigu, gandum, kentang, dlsbg diperkenalkan, itu khan datang dari Barat, dari India, dari Timur Tengah, dst,.. ya mereka masak dan kembangkan. Jadi kalau melihat daging ayam dari terigu, jangan ngomel,.  "Apa tuh orang vegetarian masih melekat, makan daging2an ayam, sop rendang bisa mirip sekali wanginya, sate, dslbg, banyak khan yang terbuat dari tepung terigu,. Itu adalah Kebudayaan, tidak ada hubungannya dengan masalah agama.
Hendaknya, Umat Buddha bisa ngerti, itu Culture.
Yang tukang masak tahu dech, yang pernah pergi ke Eropa atau Amerika tahu, di Eropa yang bisa nandingin masakan China cuman Prancis. Di Asia Tenggara yang bisa nandingin masak cuman Thai.
Coba baca sejarah orang Inggris pada awalnya, yang namanya kalau masak itu kalau bukan direbus ya dibakar, dipanggang.
Kalau China, cara masaknya bisa dikukus, di chwe, goreng, steam dengan segala macam bumbunya. Maka jangan heran kalau kebudayaan kuliner China jauh lebih unggul.

Nah, itulah yang disebut Konsep Bodhisatva tentang vegetarian, tidak berpartisipasi di dalam pembunuhan, tentunya,.. idealnya,..  bisa vegetarian, harus bisa welas asih.

500 tahun setelah Buddha parinirwana, Nagarjuna pernah berkata: "Lepasnya Maitri Karuna, Dharma Sang Buddha akan kehilangan sukmanya.
Artinya, di dalam Dharma Sang Buddha, yang paling dijunjung tinggi adalah Maitri Karuna, Metta Karuna.
Ingat, umat Buddha juga seyogyanya tahu, pengertian metta karuna itu bukan hanya antara manusia terhadap manusia, tetapi manusia terhadap binatang dan makhluk halus juga.
Makanya penyembelihan, qurban, di dalam Dharma Buddha itu sama sekali tidak bisa diterima. Jadi, Buddhis, terhadap Dewa, terhadap manusia, terhadap binatang, terhadap makhluk halus, harus mengembangkan metta karuna. Dia punya keunggulan disana, keunggulan Buddhis adalah Metta karuna.
Berat lho, tidak ketemu orang saja ngomel, apalagi ketemu orang :P
Nah, karena metta karuna yang merupakan keunggulan Buddhis yang paling berat, kita harus berlatih.


~ Bersambung* ke judul berikutnya: "Kedudukan Bodhisatva yang Agung Lebih Tinggi dari Dewa,.lebih dari Arahat"
Semoga Buddha dan Bodhisatva serta Mahasatva melindungi kita.
Salam Damai _/\_

Tidak ada komentar: