Artikel ini memperbincangkan apa sebenarnya yang menjadi permasalahan perang dagang Amerika vs China. Masalahnya sudah bukan hanya urusan dagang, tetapi dalam artikel ini, hanya akan melihat dari segi perdagangan dan ekonomi.
Kalau mengikuti berita-berita tentang perang dagang, pembaca akan dibawa ke banyak faktor-faktor yang menjadi permasalahan kedua negara, misalnya: Defisit perdagangan Amerika terhadap China yang membengkak, masalah kepemilikan hak intelektual (IP), masalah cara dagang China yang dianggap tidak fair, dlsb. Tetapi sebenarnya, itu bukan masalah utama dari pergesekan kedua negara ini dalam urusan perdagangan dan ekonomi.
Kita akan bahas satu persatu masalah-masalah yang dikemukakan itu.
Pertama, defisit perdagangan yang membengkak.
Ini bukan masalah inti, China sudah menyatakan tidak masalah impor lebih.
Pada tahap perkembangan kini, China sudah mengerti untuk berkembang lebih jauh, mereka harus import jauh lebih banyak, dan memperbesar pasar dalam negeri. Ekonomi yang hanya berbasis ekspor itu ekonomi lemah, gampang terguncang oleh faktor-faktor eksternal.
Dalam hal ini Amrik dan China sepakat.
Sebaliknya, ekonomi yang mengimport lebih, asal bisa kuat bisa punya daya dikte yang besar.
Ini seperti Amerika saat ini, adalah negara pengimpor terbesar. Karena itu Trump bisa seenaknya mengancam sana-sini. Amrik bisa mengimpor besar-besaran, karena import dilakukan dalam mata uang USD.
Kedua, masalah IP (Intelektual Property).
China mengharuskan beberapa deal pembelian dari pihak luar mengikut-sertakan transfer teknologi.
Ini juga praktek biasa dari negara berkembang, misalnya Indonesia juga ingin transfer teknologi. Bedanya, China benar-benar sukses dalam hal ini.
Pada saat ini, China terlihat tidak bermasalah jika keharusan transfer teknologi dihapus karena dia tahu, dia juga saat ini menjadi pemilik teknologi besar. Jadi, dia malah diuntungkan kalau nanti aturan ini dibakukan, sehingga negara lain tidak meminta transfer teknologi darinya.
Soal IP lain seperti patent, merek, dlsb, sebenarnya China sudah bertahun-tahun menerapkan aturan ini secara ketat. Makanya jangan beli merk KW di China lalu coba dibawa keluar. Di airport bisa diperiksa, dan diminta bukti keaslian barang tersebut. Jadi, soal ini sama sekali tidak masalah.
Ketiga, cara bisnis tidak fair.
Ini benar, tetapi alasan China adalah, ini memang diijinkan oleh WTO. Dari segi GDP perkapita, China bukan negara maju, dan berhak mendapatkan perlakuan sebagai negara berkembang, seperti yang diijinkan waktu China masuk WTO. Jadi, sebagai negara berkembang, China dijinkan proteksi industri-industri tertentu dari persaingan dengann negara maju. Tahun 2001 ketika China masuk WTO, ini sama sekali tidak ada masalah, karena China masih lemah di semua bidang. Tetapi saat ini China sudah kuat, bahkan dalam beberapa bidang malah melebih negara maju
Karena China dilindungi aturan WTO inilah, maka Amrik bersikeras bilang WTO tidak fair, WTO perlu dirombak, perlu direformasi.
Tetapi aneh, China ternyata setuju, WTO perlu direformasi, perlu dibicarakan ulang.
Jadi, lagi-lagi ini tidak masalah, tetapi mengapa Amrik masih merasa tidak secure?
Setelah setahun perang dagang, terlihat bahwa permasalahan dagang dan ekonomi dengan China bukan hanya menyangkut masalah perdagangan. Ada sesuatu yang lebih dalam dari itu. Di titik inilah, China dan Amrik sukar untuk saling mengalah.
Jika hanya cuma urusan di atas, maka perang dagang gampang diberesin, dan no hard feelings. Segera merombak WTO, dan China sudah setuju untuk membeli produk Amrik lebih banyak walaupun di tempat lain ada tawaran lebih bagus.
OOT bentar. Soal perombakan WTO ini, negara-negara berkembang harus hati-hati. WTO dulu dibuat waktu negara-negara Barat lagi hot-hotnya liberalisme, dan guilty feeling karena sudah mengkoloni negara berkembang masih hangat, sehingga WTO dipenuhi pasal-pasal perlindungan untuk negara berkembang (yang tidak fair).
Sekarang dengan adnya proteksionisme Amerika, dan negara-negara Eropa juga lebih mulai melihat ke dalam diri sendiri, maka negara-negara berkembang tidak begitu lagi akan dianak-emaskan. Saya lihat beberapa negara berkembang membeo soal perombakan WTO, sangat naif dan tidak mikir.
Negara-negara berkembang seharusnya kompak dalam satu front memperjuangkan kepentingan mereka. Jangan dipaksa harus menerapkan IP secara ketat. Lha, kalian yang akan membayar terus ke negara maju. Jangan membeo cara pandang negara maju dalam soal ini, kalau mau lebih enak sih...
Pergesekan paling mendalam antara Amrik vs China adalah urusan STRUKTURAL SISTEM EKONOMI. Amerika menganut sistem kapitalisme liberal. Sistem ini berbasis teori-teori ekonomi yang sudah jadi ideologi. Dianggap ekonomi paling efisien jika dijalankan sesuai dengan kehendak pasar. Sedangkan China menganut sistem sosialisme, dimana Negara punya tanggung jawab untuk mendistribusikan kekayaan, dan tanggung jawab besar untuk memajukan ekonomi negara. Walaupun di bagian bawah, China menggunakan kapitalisme, di level atas, masih menggunakan sosialisme.
Sampai dekade terakhir ini, negara-negara Barat tidak bermasalah dengan sistem sosialisme, yang penting dagang dengan aturan yang ditetapkan oleh WTO.
Kenapa?
Karena menurut ajaran teori ekonomi liberalisme ini, sistem sosialisme tidak efisien, dan jika dibiarkan begitu saja pasti akan mengalami kegagalan.
Keruntuhan Uni Soviet dipandang sebagai bukti, sistem ekonomi sosialisme pasti gagal, dan sistem ekonomi liberalisme pasti sukses, dan itu bisa dibuktikan dengan teori-teori ekonomi.
Teori-teori ekonomi memperlihatkan bagaimana pasar bebas meningkatkan efisiensi kinerja ekonomi.
Semua iman pada kapitalisme liberal itu semakin pudar, ketika ekonomi China yang diperhitungkan akan hancur, kok malah terus berkembang? Kok sosialisme ini malah sukses? Bukankah campur tangan negara dalam menentukan kebijakan level perusahaan membuat ekonomi tidak efisien?
Dua tahun terakhir ini, pundit-pundir Barat mulai berpikir: "Ternyata kita salah duga, kita salah prediksi. Ekonomi China yang sosialis dengan campur tangan Negara akan sukses, dan menjadi ancaman terbesar paradigma kapitalisme liberal Barat.
China kemudian menjadi ancaman terbesar melebihi Rusia.
Muncullah China Hawks di Amrik, yang sekarang menjadi penasehat-penasehat Presiden Trump. Tujuan akhir mereka adalah, memaksa China menerapkan sistem ekonomi kapitalisme liberal.
Dan pada point ini, China menolak !!.
Karena bagaimanapun juga, China itu sosialis dengan cara pandang budaya tersendiri.
Dulu waktu Orba, Indonesia punya GBHN (Garis Besar Haluan Negara).
Itu adalah contoh dari perencanaan ekonomi oleh negara. Di Amrik tidak ada GBHN2an karena ekonomi dianggap paling bagus jika tidak direncanakan, tetapi diserahkan ke pasar.
China saat ini masih ber-GBHN-ria..
Amrik menolak pemerintah China mencanangkan garis besar haluan negara dalam bidang ekonomi. Pemerintah China dimnta jangan ikut campur menentukan arah ekonomi, harus diam saja seperti Amerika. Mengapa Amrik begitu ngotot agar pemerintah China tidak ikut campur tangan menentukan arah ekonomi? Karena, kalau sama-sama diam, Amrik yakin perusahaan-perusahaan Amrik akan menang melawan perusahaan-perusahaan China.
Dalam pandangan Amrik, pemerintah China menentukan haluan ekonomi, sedangkan dia tidak, membuat dua sistem bersaing tidak fair..
Posisi China adalah, urusan kami mencanangkan GBHN itu urusan kami. Kalau kamu rasa itu lebih bagus, yaa,. kamu canangkan juga GBHN sendiri.
Tetapi masalahnya, Amrik akan sukar mencanangkan GBHN seperti China. UU yang specific saja susah lolos dari Congress, didebatin terus, apalagi sesuatu yang besar seperti GBHN, itu tidak akan habis-habis berdebat.
Artinya, Amrik dalam posisi kurang menguntungkan, karena sistem politik tidak memungkinkannya mencanangkan GBHN. Dan kalaupun Amrik mencanangkan GBHN, itu berarti kemenangan sistem sosialisme, dimana Negara memegang peranan besar. Itu berarti kekalahan total sistem kapitalisme liberal berbasis pasar bebas. Kalau Amrik canangkan, berarti Amrik jadi China kedua.
Salah satu kejadian yang mentrigger kecemasan Amrik terhadap China adalah, pencanangan MADE IN CHINA 2025, dimana China ingin naik kelas ke industri high-tech beberapa tahun mendatang.
Tariff yang dikenakan oleh Amrik ke China saat ini difokuskan pada bidang-bidang yang diincar China dalam program MADE IN CHINA 2015. Tujuannya adalah menghambat tercapainya tujuan program tersebut.
Lanjut,.. mari kita flash back dari topik bahasan ke thread sebelum diatas sebelum bahas lebih lanjut.
Salah satu kejadian yang mentrigger kecemasan Amrik terhadap China adalah, pencanangan MADE IN CHINA 2025, dimana China ingin naik kelas ke industri high-tech beberapa tahun mendatang. ==>> Trump mengirim pejabat-pejabatnya ke Beijing untuk membicarakan syarat menghindari perang dagang. Bakalan alot, karena sekarang niat Amrik sudah ketahuan, ternyata bukan soal defisit perdagangan saja, tetapi tidak suka China meningkatkan diri dalam bidang industri teknologi tinggi.
https://www.nytimes.com/2018/04/30/business/china-trump-trade-talks.html
Bahkan Obama tidak mau terus terang dalam soal ini, karena sebenarnya memang tidak fair. Setiap negara seharusnya boleh mencoba meningkatkan kemampuan industri dan teknologinya.
Tetapi Trump tidak malu-malu untuk mengemukakannya, Pokoknya China tidak boleh terlalu cepat meningkatkan diri, karena itu merugikan US.
Administrasi Trump mempermasalahkan tekad China untuk meningkatkan kemampuan dalam teknologi kecerdasan buatan, semikonduktor, dan bidang-bidang high-tech lainnya. Mereka mempermasalahkan kebijakan pemerintah China yang mendukung peningkatan tersebut.
Apakah kebijakan Trump ini benar?
Well,.. itu hak Amrik sih untuk melakukannya. Lebih baik Trump terang-terangan seperti ini, daripada dipendam saja kekhawatirannya.
Ini sebenarnya friksi, bahwa bukan hanya antara Amrik vs China, tetapi antara ekonomi liberal vs ekonomi dengan planning negara.
Ingat era Orba?, yang menggunakan GBHN untuk membuat objektif tujuan pembangunan. Itu jelas-jelas bukan ekonomi pasar bebas, tetapi terencana. Demikian juga dengan Jepang waktu melejit, perencanaan industri dilakukan MITI (kementrian perdagangan & industri).
Pada dasarnya, penasehat-penasehat Trump ingin China mengikuti cara ekonomi model Amrik, dan meninggalkan perencanaan ekonomi oleh pemerintah. Tetapi itu adalah suatu hal yang tidak mungkin pemerintah China akan lakukan. Ekonomi sosialis seperti China tanpa campur tangan pemerintah itu nonsense.
Jadi akhirnya, untuk memperlihatkan betapa ketergantungan China pada Amrik, Trump membuat keputusan melarang perusahaan Amrik mensupply ZTE (industri peralatan telkom besar di China). Yang kena terutama Qualcomm, yang mensupply banyak ke ZTE.
ZTE langsung sempoyongan, karena supplier besar dipotong.
Kasus ZTE ini malah menguatkan tekad pemerintah China untuk mandiri dalam bidan teknologi. Bayangan indah-indah saling ketergantungan antara Amrik & China diganti dengan perasaan was-was, bahwa Amrik bisa memotong supply komponen high-tech ke China sesukanya.
Masalahnya sekarang adalah, saat ini teknologi semikonduktor memang bukan titik kekuatan di China. Teknologi semikonduktor itu tidak bisa dengan cepat dikuasai, itu lahir dari pengalaman penguasaan teknologi yang lama sekali.
Saat ini bisa dibilang, yang terbaik dalam teknologi ini adalah Intel di Amerika.
Amerika menjaga keunggulan mereka dalam teknologi semikonduktor dengan sangat rapi. Teknologi-teknologi produksi terbaru bahkan tidak bisa diekspor ke luar Amrik termasuk ke negara-negara sahabat. Karena jika teknologi ini dikuasai China, habislah keunggulan ini. Karena itu Amrik wajar khawatir.
Dalam kasus ZTE, China akan semakin ngotot menguasai teknologi ini. Pada dasarnya teknologi ini menyangkut 2 bidang besar, yaitu perancangan produk semikonduktor & proses manufacturing untuk membuat chip tersebut. Itu adalah dua teknologi yang berbeda, dan kedua-duanya, Amrik masih yang paling unggul Perusahaan seperti Intel, unggul di kedua jenis technologi tersebut, terutama di bidang proses manufacturing. Intel dikenal sebagai pioneer dalam proses manufacturing baru untuk semikonduktor. Tetapi umumnya perusahaan-perusahaan unggul cuma di satu bidang.
Qualcomm misalnya, produsen processor untuk smartphone utama.. Adalah perusahaan yang merancang chip processor, tanpa punya industri pembuatan chip. Produk-produk Qualcomm diproduksi di Taiwan, oleh perusahaan yang khusus manufacturing chip, yaitu TSMC. Industri-industri yang khusus manufacture chip ini dinamakan FAB. Fab didunia terbesar ada di Taiwan, yaitu TSMC. Mereka memproduksi berdasarkan pesanan dari perusahaan fabless, yang merancang chip.
FAB terbesar di China itu kapasitasnya cuma 10% dr TSMC, jadi China cukup terbelakang soal ini.
Permasalahan dengan mengembangkan industri fab adalah, investasinya raksasa, dan tingkat profit bisa sangat kecil karena kalau bukan pioneer teknologi, hasil produksinya itu sudah barang komoditi yang persaingannya dengan yang lain saling sikut.
Karena itulah, China bersikeras bahwa untuk sukses harus ada dukungan pemerintah.
Tanpa dukungan pemerintah, akan kesulitan memancing pendatang baru untuk masuk dalam industri ini. Beda dengan era waktu industri masih muda, setiap orang gampang masuk.
Karena itulah, Amrik ingin menekan China tidak dukung industrinya, karena dengan begitu, bisa dipastikan selamanya China tergantung sama Amrik
Bagi China, ini jelas dilemma. Mau terus hidup sekarang, tapi selamanya tergantung sama Amrik. Atau frontal diboikot Amrik sekarang?
Amrik memperkirakan China akan mundur untuk bertahan hidup.
Lalu, bagaimana strategi Xi Jinping dalam hal ini?
Kita akan lihat di hari-hari mendatang...
Jadi bisa dikatakan, dalam urusan perang dagang dengan China, Trump menemukan titik lemah China, yaitu: SEMIKONDUKTOR.
Ancamannya: Kalau kamu tidak mau beli kacang kedelai dan produk-produk kami lebih banyak, kami akan boikot semikonduktor buatmu. Walau China bisa tuntut ke WTO, tetapi apa gunanya?
Tanpa Trump sadari, ancaman boikot semikonduktor ke China, membuat banyak warga China semakin ingin melepaskan diri dari ketergantungan ke US.
Jack Ma, pendiri Alibaba, menyatakannya dengan jelas sekali...
Saat ini, dominasi semikonduktor Amrik terhadap dunia hampir 100%. Misalnya Amrik mau boikot Iran. Semua perusahaan dunia tidak boleh jual produk yang mengandung komponen Amrik ke Iran.
Alhasil, orang Iran langsung tidak bisa dapat komputer sama sekali, kecuali dengan cara selundupan.
Karena hampir semua komputer di dunia dijalankan dengan processor Intel, AMD, dan sejenisnya. Smartphone dan tablet-tablet juga umumnya menggunakan processor Amrik, seperti Qualcomm. Bahkan dalam produk Samsung, pasti ada elemen komponen Amriknya.
Inilah kehebatan Amrik waktu mereka memaksa boikot Iran dan Korut.
Tetapi karena China teman baik Iran dan Korut, maka ada perusahaan di China yang diam-diam mengirim barang ke Iran dan Korut. Gara-gara inilah ZTE dihukum amrik, didenda $1.9 milyard (Rp 27T). Walaupun sepertinya sudah dibayar, ZTE tetap diboikot karena katanya tidak cukup menghukum pegawainya yang mengirim produk.
Walaupun perusahaan di luar Amrik, tetap tidak bisa lepas dari gengaman hukum Amrik. Ini berlaku terutama perusahaan-perusahaan dalam bidang produk-produk semikonduktor, karena Amrik menguasai supply komponen-komponen paling utama.
Amrik takut kalau China sukses mengembangkan teknologi, mereka tidak ada kuasa lagi.
Dulu Amrik berkuasa sekali, bisa mengancam negara-negara lain dari segi finansial dlsb. Dengan menguatnya China, kekuasaan itu tergerus, karena negara-negara lain bisa minta bantuan ke China.
Sekarang yang masih dipegang Amrik adalah Semikonduktor.
Kalau itupun sampai lepas dari Amrik, maka jadilah dia harimau ompong.
Tanpa semikonduktor, maka boikot Amrik ke negara-negara lain itu bagaikan gigitan lebah, cukup menyakitkan tapi tidak mematikan.
Karena itulah, sekarang kita mengerti mengapa Amrik sekarang khawatir sekali kalau bidang ini dikuasai China. Itu melemahkan Amrik dari banyak segi, termasuk segi politik.
Sebenarnya program Made in China 2025 juga dibuat oleh Jerman dengan nama INDUSTRIE 4.0.
Pada dasarnya program itu berdasarkan ramalan akan terjadi Revolusi Industri versi 4.0. Cuma karena yang membuatnya adalah China, maka membuat banyak negara Barat agak kecut, ngeri-ngeri juga kalau China ikutan.
Kengerian ini beralasan. Setiap produk yg berhasil diproduksi China, maka tahap kedua adalah produksi massal dengan harga murah. Kalau semua jadi murah, lalu negara maju saat ini akan sukar mendapat term of trade yang bagus.
Akhirnya, di masa depan, kemakmuran dunia terdistribusi.
Sebelumnya sudah dibahas apa yang menjadi permasalahan inti pertarungan Amrik vs China, yaitu pada masalah struktural sistem ekonomi.
Sekarang kita bertanya:
Bagaimana cara China melakukan pengendalian arah perkembangan ekonomi dan teknologi?
Kok bisa sukses begitu?
MENGARAHKAN PERKEMBANGAN BISNIS & TEKNOLOGI - KASUS CHINA.
Tulisan ini memperbincangkan pengalaman China dalam mengarahkan perkembangan bisnis dan teknologi. Kenapa mereka sukses melakukan hal yang gagal dilakukan di tempat lain?
Thread ini adalah kelanjutan dari thread AMERIKA VS CHINA: ANTARA DUA PARADIGMA.
Pertanyaan mendasar yang mau dijawab dalam topik bahasan kita kali ini adalah, kenapa perencanaan terpusat di China berhasil, sedangkan itu sudah diwanti-wanti oleh teori ekonomi berbasis pasar bebas adalah cara yang tidak efisien?
Sebenarnya, teori ekonomi tidak salah, pasar bebas kalau dijalankan dengan baik, bisa menjadi mekanisme untuk perkembangan ekonomi. Kemana ekonomi dan teknologi berkembang, tergantung permintaan pasar dan arahan masing-masing pelaku ekonomi.
Dan INI JUGA BERLAKU DI CHINA.
Perencanaan ekonomi terpusat di China tidak selalu sukses, malah sering menjadi malapetaka seperti program
Lompatan Jauh Kedepan (
The Great Leap Forward) yang dicanangkan tahun 1958-1962, yang berakibat fatal, kelaparan dimana-mana, dan membuka jalan bagi Revolusi Kebudayaan.
Jadi untuk mengerti keberhasilan perencanaan ekonomi dekade-dekade belakangan ini, kita perlu tahu sejarah dan latar belakang budaya China. Dan bagaimana secara evousioner mereka menemukan resep yang lebih tepat untuk hal ini.
Satu ciri khas China sejak jaman dahulu kala adalah bahwa masyarakat disana sudah terbiasa dimobilisasi untuk pekerjaan besar.
Itu disebabkan faktor geografi, dimana banjir besar terjadi setiap tahun, warga harus mampu membuat bendungan besar. dlsbg
Tanpa itu mereka punah habis.
Kemampuan mobilisasi inilah yang menjadi ujung tombak keberhasilan Partai Komunis di China. Pada dasarnya, Mao Zedong bercita-cita tinggi, ingin secepatnya mengantar China menjadi negara maju, dan melakukan mobilisasi demi mobilisasi. Tetapi mobilisasi terpusat itu umumnya gagal, atau tidak menghasilkan hasil yang lumayan, karena banyak inefisiensi dimana-mana. Misalnya, waktu mobilisasi untuk industri logam, petani-petani kerja di industri, lalu sawah dan kebun terabaikan, datanglah bencana kelaparan.
Disinilah kita lihat, bahwa teori Adam Smith, bahwa ada Tangan Tak Terlihat yang akan mengatur ekonomi jika pasar dibiarkan bebas. Hukum Supply & Demand mendistribusikan sektor-sektor mana yang akan dikembangkan, semua menurut mekanisme pasar, tidak perlu campur tangan pemerintah.
Ekonomi China terpuruk dalam lembah yang dalam sekali di akhir 60an dan awal 70an, sampai kemudian Deng Xiaoping tampil menyelamatkan negara tersebut. Deng tetap berpegang pada prinsip sosialisme, tetapi menggunakan cara-cara pragmatis, rasional dan scientific. Deng menjabarkan teori-teorinya secara sederhana, misalnya "Tidak peduli kucing hitam atau putih, yang penting dia bisa menangkap tikus".
Prinsip ini bertujuan untuk menghentikan kekakuan pemikiran sosialisme ala komunis. Kalau cara-cara ekonomi kapitalisme bisa tangkap tikus, yaa,.. pakai saja.
Deng tidak bermasalah dengan mobilisasi dan perencanaan terpusat, asal dilakukan dengan rasional dan hati-hati. Dia menjabarkan bahwa kegagalan perencanaan ekonomi dan mobilisasi terdahulu adalah karena terlalu suka main hantam, cuma berdasarkan keyakinan belaka.
Deng dengan demikian mengedepankan pendekatan rasional dan scientific, yaitu pendekatan eksperimental. Jangan gegabah membuat kebijakan, di test dulu satu persatu sebelum diterapkan secara umum. Jadi kalau ada ide, terapkan dulu tingkat kampung, lalu kota kecil, dan lihat hasilnya.
Deng juga berpikir jangan merencanakan yang terlalu muluk di masa jauh di depan, tetapi selalu siaga merubah rancangan kalau dalam implementasi menghadirkan fakta lain.
Atau: Menyeberangi sungai sambil merasakan kerikil di telapak kaki.

Maxim sederhana dari Deng membuat perubahan besar dalam perencanaan pemerintah. Yang tadinya idealis jadi pragmatis dan berbasis empiris (pengalaman).
Semua hal harus dicoba dalam skala kecil dulu, lihat hasilnya, lalu baru membesar, atau ditinggalkan kalau memang tidak cocok.
Pada masa sesudah Deng, sampai dekade-dekade belakangan, umumnya petinggi China berasal dari lingkungan engineering (teknik). Karena mereka umumnya insinyur, mereka mengerti apa maksud Deng, mereka menjalankan negara seperti menjalankan laboratorium percobaan sains, rasional dan pragmatis. Para pejabat China juga dikenal membaca banyak sekali segala teori-teori Barat dari jaman dulu. Mereka mengundang ahli-ahli ekonomi Amrik ke China untuk memberikan ceramah. Mereka belajar dengan seksama, tetapi selalu skeptis dalam penerapan. Mereka harus melakukan eksperimen terlebih dahulu karena belum tentu teori itu cocok.
Pada awalnya, kebijakan ekonomi terpusat selain dilakukan dengan mobilisasi, juga dilakukan lewat perusahaan-perusahaan negara. Perusahaan-perusahaan BUMN itupun membesar, dan seperti perusahaan BUMN dimana-mana, terjadi pemborosan besar, inefisiensi dimana-mana.
Disini, kapitalisme liberal benar lagi...
Tetapi disamping perusahaan-perusahaan negara yang tidak efisien, Deng membuka jalan kedua, yaitu percepatan ekonomi lewat swasta, dengan membuka banyak wilayah-wilayah zona ekonomi khusus. Salah satu yang paling berhasil adalah Shenzhen, sekarang menjadi Ibukota hardware dunia.

Pada awalnya, pemerintah China tidak mengerti mau fokus pada bidang apa. Jadi mereka membuat prasarana, kota besar dengan kebijakan ekonomi khusus supaya para industrialis dan pedagang bersaing. Sambil mengamati, mereka melihat arah siapa yang menang, produk apa yang bagus..
Itu kemudian didorong.
Pemerintah mendorong lewat prasarana, dan membuat pameran-pameran Dagang Raksasa, seperti Canton Fair, dlsb. Pokoknya, jika kamu perlu listrik, kita bangun. Kalau kamu perlu jalan, kita buatkan. Infrastruktur dibangun berdasarkan kebutuhan, dan dibangun dengan cepat.
Akhirnya industrialis-industrialis kecil mengalami kemajuan.

Sambil pemerintah memilih bidang-bidang andalan. Bidang-bidang pertama terutama bidang-bidang militer, seperti industri pesawat tempur, kapal selam dlsb terus dikembangkan. Ini karena China diboikot Amrik dan sekutu, sehingga dia bangun sendiri. Pilihan itu bukan berdasarkan faktor ekonomi, tetapi security. Kemudian pemerintah secara strategik memilih bidang-bidang lain yang pasti harus dikuasai, adalah infrastruktur. Waktu awal, segala upaya didorong untuk menguasai teknologi kereta api cepat, kapal terbang penumpang, dlsb.
Tidak semua sukses dalam level yang sama.
Dengan cepat, teknologi kereta api cepat dikuasai, dan membangun jaringan terbesar di dunia. Teknologi kapal terbang penumpang berbeda hasilnya, tidak begitu sukses karena susah melawan AirBus dan Boeing. Sampai titik ini, negara-negara Barat mulai wanti-wanti dengan efek perencanaan pemerintah pusat Beijing. Tetapi masih belum benar-benar mentrigger mereka, karena bagaimanapun juga, itu masih dilakukan oleh perusahaan negara, dan sudah pasti perusahaan-perusahaan itu belum tentu efisien. Tetapi diam-diam pemerintah China belajar. Problemnya bagaimana cara pemerintah mengarahkan perkembangan teknologi massa? bukan sekedar yang dilakukan oleh perusahaan negara?

Pada tahun 2014, Premier Li Keqiang memberikan solusi China, dia jabarkan di Summer Davos di Tianjin.
Pidato berjudul "Creating New Dynamism Through Reform and Innovation" itu membosankan, seperti pidato pimpinan China pada umumnya, dengan jargon-jargon teknis dan birokratis.
Pidato ini tidak banyak dibahas di media, tetapi menjadi heboh di kalangan birokrat China.
Inilah ciri dari mobilisasi China, pidato itu dipelajari oleh birokrat-birokrat pembuat keputusan tingkat propinsi dan kota. Dan mereka mendiskusikan apa artinya, dan bagaimana implementasinya.
Akhirnya jadi jargon utama: MASS ENTREPRENEURSHIP & INNOVATION.
Jargon Kewiraswastaan dan Innovasi Massa ini cocok dengan jargon-jargon sosialisme yang mengagungkan kawula (massa). Jadi pemerintah China ingin mengalihkan ekonomi berbasis manufaktur ke ekonomi berbasis innovasi.
Soal bagaimana rinciannya, terserah masing-masing kota yang mau implementasi.
Pemerintah menjabarkan arah secara global, dan melakukan sosialisasi sampai ke tingkat bawah.
Kemudian pemerintah memilih beberapa cabang andalan yang harus dikuasai segera.
Misalnya, dipilih bahwa salah satu bidang itu adalah bidang AI (Kecerdasan Buatan).

Nah, kalau dulu mau menguasai teknologi kapal selam, nuklir dlsb gampang. Pemerintah memerintahkan atau membuat perusahaan negara BUMN untuk itu.
Tapi itu dianggap tidak efisien, sekarang bagaimana usaha itu bisa dilemparkan pada masyarakat? Bagaimana caranya membuat kawula berbondong-bondong menguasai AI?
Ok,.. perlu prasarana.
Untuk itu birokrat tingkat kota seperti Guo Hong berinisiatif menciptakan Silicon Valley di Beijing. Hasilnya kemudian menginspirasi kota-kota lain yang memulai tempat pengembangan high-tech di masing-masing kota.
Lihat kisahnya di thread ini:
Sejak minggu lalu New York Times meluncurkan serial proyek untuk menjawab pertanyaan: Bagaimana China melakukannya?
Bagaimana bisa China melompat dari salah satu negara paling miskin ke posisi saat ini?
Entah terjawab atau tidak, tapi berita ini bagus untuk dibaca.
https://www.nytimes.com/interactive/2018/11/18/world/asia/china-rules.html
Max Fisher mencoba menjelaskan proses-proses yang dilakukan oleh proyek China Rules ini. Bisa dibaca di bawah. Walaupun mereka belum benar-benar menjawab, tetapi setidaknya cukup memberikan gambaran. Memang pertanyaan ini susah dijawab...
https://www.nytimes.com/2018/11/24/reader-center/china-rules-economy-special-section.html
Kaifu Lee, mantan boss Google China, yang mengikuti perkembangan booming high-tech disana, memberikan gambaran yang lebih komplit dalam buku-bukunya: Mukjizat China itu hasil gado-gado antara karakter warga disana plus kerja birokrat yang cemerlang dan berani mengambil resiko.
Misalnya, Kaifu Lee menjabarkan bagaimana Guo Hong, birokrat di Beijing, single-handedly merancang dan merubah wilayah Zhongguancun Beijing menjadi Silicon Valley Utara.
*China punya beberapa Silicon Valley. Yang Selatan di Shenzhen, tempatnya Tencent dlsb.

Sebelum membuat proyek di Zhongguancun, Lee menceritakan bagaimana Guo Hong belajar, ingin tahu banyak tentang dinamisme dan mekanisme di Silicon Valley di San Francisco.
Ngumpul-ngumpul ngobrol dengan banyak innovator, dan dari sana dia mengajukan proyek yang penuh resiko dan sukses.
Saat ini Zhongguancun terdapat lebih dari 9000 perusahaan high tech, beberapa puluh startup mencapai level unicorn (bernilai lebih dari US$1 milyar).
Guo memulai kerjaannya tahun 2010.
Dalam 8 tahun dia merubah wajah dan kinerja Zhongguancun.
https://www.scmp.com/tech/start-ups/article/2172713/zhongguancun-beijings-innovation-hub-centre-chinas-aim-become-tech
Hanya dalam beberapa tahun perubahan cepat sekali terjadi di China. Sputnik moment dalam bidang kecerdasan buatan terjadi tahun 2016 / 2017, ketika juara Go China, Ke Jie 18 tahun, bertekuk lutut dihadapan komputer AlphaGo dari Google, dihadapan puluhan juta pemirsa.
Pada saat itu, Ke Jie yg awalnya optimis, setelah beberapa jam gagal mengalahkan AlphaGo, dan akhirnya menangis dihadapan puluhan juta penonton.
Pada saat itulah, tetiba banyak sekali innovator, pemerintah, entrepreneur lompat masuk dalam bidang AI (kecerdasan buatan).

Oleh Kaifu Lee, moment seperti ini dia namakan Sputnik Moment bagi China dalam bidang AI.
Tiba-tiba dukungan pemerintah terhadap pengembangan AI diberikan secara total, mereka sadar mereka tidak akan bisa survive di masa depan tanpa AI.
Inside-inside seperti inilah yang mungkin belum diulas oleh NYT.
Mengulas perkembangan ekonomi dan teknologi di China hanya berbasis angka-angka statistik akan menghasilkan hasil seperti para pundit-pundit sebelumnya, yaitu gagal. Negeri ini sudah mengecoh ratusan pundit-pundit dunia selama puluhan tahun.
Seharusnya mereka mulai melihat dibelakang angka-angka statistik.
Menarik dengan perkembangan AI di China, pabrik-pabrik manufacture mulai tutup, tetapi tempatnya diganti jadi pabrik lain, yaitu pabrik dada. Laporan NYT juga bagus melihat bahwa salah satu faktor kesuksesan China dalam AI adalah tenaga kerja relatif murah untuk jadi buruh pabrik data.
Pemerintah sediakan tempat usaha, tetapi bagaimana caranya supaya para startup mau berbondong-bondong menubruk bidang yang diincar pemerintah seperti AI?
Pemerintah China melakukannya dengan mekansme financing.
Pemerintah ikut serta dalam permodalan startup yang akan dibuat jika startup itu ada di bidang yang sedang diincar pemerintah.
Misalnya, startup perlu $100K, pemerintah ikut serta dalam permodalan $40K. Sehingga meringankan para pioneer pembuat startup. Kemudian., Dalam waktu tertentu sesudah beroperasi, misalnya setelah 4 tahun, akan dilakukan valuasi nilai usaha. Jika startup gagal, ya pemerintah rugi $40K, berarti itu meringankan kerugian pemulai startup.
Jika misalnya startup sukses, dan nilai usaha menjadi naik 2x lipat, maka., Jika startup sukses, dengan nilai usaha 2x semula, pemerintah akan melepas kepemilikannya dengan ambil keuntungan nominal seperti 10%. Jadi pioneer yang sudah untung karena startup sukses, modalnya naik 2x lipat, masih diberi kesempatan membeli kembali saham pemerintah dengan nilai rendah.
Sudah tentu tawaran ini menggiurkan, lagipula pemerintah akan membantu sebisanya untuk perijinan, dlsbg. Dengan demikian, yang startup dalam bidang yang diusahakan pemerintah akan ramai. Ribuan startup dalam satu cluster area kecil membuat komunitas kecil dalam bidang sempit seperti AI.
Ketika kamu berhasil mengumpulkan para ahli dalam bidang yang sama, sama-sama di satu tempat berdekatan, mereka akan gila-gilaan bersaing, berdiskusi. Setiap ngopi mendengar pihak lain sedang lakukan ini dan itu. Akhirnya dengan cepat bidang AI merambak di China, dari usaha besar dan startup. Keberhasilan pemerintah China dalam memfokuskan pengembangan wiraswasta inilah yang kemudian membuka mata Amerika. Dalam waktu singkat, AI yang tadinya andalan Amerika, mulai terlihat tergeser oleh China. Singkat sekali, cuma 2 tahun...
Menurut pakar AI Kaifu Lee yang juga mantan CEO Google China, kira-kira status AI China dan Amerika adalah sebagai berikut; Saat ini China menang di Perception AI, seri di Internet AI, dalam 5 tahun akan menang atau seri disemuanya kecuali Business AI.

Setelah keberhasilan yang cepat sekali tersebut, pundit-pundit di Amrik mulai ribut soal terancamnya posisi amerika, dan pendapat umum itu mengalami galvinisasi sampai yang terjadi hari ini, perang dagang yang berpengaruh secara global.
Point dari pemerintah Amrik adalah, menuduh cara-cara pemerintah China melakukan percepatan penguasaan teknologi dan kewiraswastaan ini tidak fair, karena Amerika tidak bisa melakukannya.
Jadi, China diminta berhenti memprovokasi massa supaya berinovasi seperti itu, harus menerapkan pasar bebas.
Peran pemerintah dalam kapitalisme liberal adalah seperti anjing penjaga.
Anjing ini menjaga mekanisme supaya fair, menghukum yang curang.
Pemerintah tidak boleh ikut-ikutan dalam proses menggerakkan innovasi seperti ini.
Terakhir, kembali ke topik utama,..
China tidak akan mundur dari paradigma sosialisme, karena itu menyangkut seluruh alasan eksistensi partai komunis China. Pelaku bisnis disana setuju bahwa ada strategi bersama.
Permintaan untuk meninggalkan paradigm sosialisme seperti ini sama saja meminta Amrik meninggalkan Konstitusi.
Larry Summers, penasehat ekonomi Obama, dipublish di WP. Juga memperlihatkan kebingungan yang dijabarkan di atas tadi. Apakah dianggap fair, pemerintah China harus merubah sistem politiknya menjadi demokrasi liberal seperti Barat?
https://www.washingtonpost.com/opinions/can-anything-hold-back-chinas-economy/2018/12/03/9140fc06-f726-11e8-8c9a-860ce2a8148f_story.html?noredirect=on&utm_term=.81b8695a6287

Kelihatannya China diminta bukan hanya untuk menyesuaikan diri dengan cara berdagang, tetapi juga total sistem politik.
Penumpukan kekuasaan politik di tangan Xi Jinping dianggap bermasalah, juga urusan politik internal China dianggap bermasalah.
Larry Summers cukup jujur, memperlihatkan kalaupun China mengikuti semua permintaan Amrik, ekonominya akan terus berkembang dan ekonomi Amrik akan jauh lebih kecil daripada China nantinya.
Dan ini tidak bisa diterima orang Amerika, bagaimana cara menahan China?
Sebenarnya, akhirnya semua ketegangan ini lahir dari ketakutan pada prospek ekonomi China berkembang melampaui Amerika, dan posisi Amerika di dunia akan turun.
Tetapi adakah alternatif lain? Gimana caranya menahan laju perkembangan China sampai tidak akan melebihi Amerika?
Kelihatan sekali bahkan sampai tingkat elite-elite Amerika bisa menerima kenyataan bahwa Amerika tidak mungkin menjadi superpower terbesar selamanya, maka ketegangan dengan China akan terus berlangsung. Dan semoga tidak sampai perang fisik.
Semakin cepat sadar, semakin baik, fokus pada perbaikan dunia.
Opini Larry Summers di atas punya bobot tinggi, karena dikalangan rekan-rekannya, dia dianggap jeniusnya ekonomi di Amerika, punya pengalaman segudang. Kira-kira levelnya mirip dengan Henry Kissinger dalam bidang politik internasional.
Kalau 5G itu bukan rebutan, tetapi perkembangan 5G di China lebih pesat, dan perusahaan-preusahaan Amerika takut kalah. Karena itulah digunakan alasan security untuk menjegal penggunaan 5G dari China di negara-negara sekutu..
TAMAT !!
Sumber:
https://threadreaderapp.com/thread/1069749763799703552.html
https://threadreaderapp.com/thread/1069775447783825408.html