"Tao berada dalam diri kita sendiri, di luar diri kita tidak terdapat Tao".
"Di dalam sanubari saya terdapat Buddha, bila tidak memiliki benih Buddha, dimanakah saya dapat menemukan Buddha?"
Orang jaman dahulu percaya bahwa melalui metode latihan spiritual, manusia mampu melampaui kondisi manusia biasa. Sebuah kondisi lebih tinggi yang memberikan seseorang sukacita dan pengetahuan yang unik, terbebas dari penderitaan dan ilusi dunia.
Untuk mencapai kondisi tersebut, diperlukan kejujuran moral, pengendalian hasrat, dan penggunaan tekhnik khusus untuk memperbaiki pikiran dan tubuh. Berbagai aliran kultivasi muncul, masing-masing menawarkan jalan spiritualnya sendiri. Tradisi ini diturunkan dari para Master kepada Siswa-siswanya, tetapi yang paling unik adalah yang bisa mencapai kondisi tersebut dengan usaha dan metodenya sendiri.
Berlatih, membina diri artinya berupaya memperbaiki diri dan menjalani hidup secara harmonis dengan selalu mendekatkan diri pada prinsip-prinsip Universal Sejati, Baik, Bijak, dan Sabar.
Pemahaman setiap orang terhadap prinsip-prinsip universal adalah unik dan terus berkembang seiring dengan terus belajar dan berlatih. Tidak ada "standart keyakinan" yang harus diadopsi oleh seseorang. Setiap orang berasumsi dan menerapkan prinsip-prinsip tersebut dengan caranya sendiri.
Untuk mengkultivasi pikiran, kita wajib menerapkan prinsip-prinsip universal dalam setiap aspek kehidupan; menjadi lebih jujur, belas kasih dan sabar dalam pikiran, perkataan dan tindakan.
"Mencari ke dalam diri" adalah ungkapan yang sederhana, tetapi ketika kita sungguh-sungguh dapat melakukannya, bahkan pada hal-hal kecil, itu akan mengubah pandangan kita dan membuat segalanya di sekitar kita terlihat berbeda dan lebih baik. Kita akan lebih mudah menghadapi dan menangani konflik dengan sesama_mencari kedalam diri (intropeksi diri) untuk menemukan kekurangan diri, menjadi lebih jujur dan memiliki keberanian untuk mengatakan hal-hal yang sebelumnya kita khawatirkan tidak ingin didengar oleh orang lain. Sampai pada suatu level dimana kita bisa membiarkan berbagai hal mengalir apa adanya, dan melihatnya dari sudut pandang orang lain,..
Intropeksi diri menyadarkan kita bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik secara keseluruhan, menjadi lebih positif dalam berpikir, sehat secara psikis dan fisik, lebih bahagia dan lebih memperhatikan orang lain dibandingkan sebelumnya.
Tao ( 道 ), dalam huruf mandarin terdiri dari dua titik ' 丷 ', yang adalah simbol dari dualitas, artinya "yin" dan "yang" atau plus dan minus. Plus dan minus juga berarti Tao, didalam plus terdapat minus, didalam minus terdapat plus. Bila hanya minus tidak akan ada perubahan perkembangan, dan bila hanya ada plus tak akan ada proses pertumbuhan. Yang artinya bisa disamakan dengan perubahan dalam dualitas. Tapi dalam praktek, yang minus tetaplah minus, yang seharusnya plus tetaplah plus. Itulah Realitas.
Kita juga bisa menemukan kesamaan dalam Buddhisme; Demikian yang kudengar:
"Ketika kita mampu melampaui dualitas, kita akan jelas melihat bahwa ada sesuatu yang nyata. Tapi yang tidak nyata itu tidak bertentangan dengan yang nyata. Apa yang tidak nyata hanya tidak nyata. Ini adalah di luar realitas, terpisah dari realitas. Tapi itu bukan dan tidak dapat bertentangan dengan realitas. Sesuatu yang nyata tidak dapat memiliki lawannya. Tidak ada yang bisa mengancam yang nyata. Dengan demikian, langkah pertama pada jalan spiritual adalah untuk melampaui dualitas."
Ibarat kita mengendarai mobil, jika memang waktunya perlahan, maka kemudikanlah dengan perlahan. Jika waktunya harus mengemudi cepat, maka kemudikanlah dengan cepat. Jika sebaliknya akan timbul masalah.
Di bawah dua titik yin-yang terdapat garis ' 一 ', (baca 'yi') artinya "Esa", ialah target paling akhir yang dicari dan dituntut oleh berbagai agama dan berbagai aliran filsafat.
Maka Konfusianisme mengajarkan untuk konsisten dengan Keesaan, Agama Buddha berpendapat kembali kepada yang Esa, Taoisme berpendapat mempertahankan yang Esa. Esa (bukan "EKA" (yang artinya satu)) adalah keseluruhan, termasuk yang asli dan yang palsu. Dari sini kita dapat bayangkan betapa pentingnya arti "Esa", bahkan ada orang-orang yang mengerahkan seluruh kehidupannya untuk mencari yang Esa ini.
Dalam aksara Mandarin ' 人 ' (baca ren) = manusia setelah mendapatkan yang Esa ' 一 ' , akan menjadi ' 大 ' (baca da) = besar. Lalu yang Esa ini, jika dikembangkan sesuai dengan kehendak alam, maka akan menjadi ' 天 ' (baca Thien) = langit dan mencapat suatu taraf terpadunya alam semesta dengan manusia tersebut.
Para Nabi bersabda: "Apabila Langit mendapatkan yang Esa akan menjadi bening, bila bumi mendapatkan yang Esa akan menjadi tentram, bila manusia mendapatkan yang Esa akan menjadi SUCI, kembali ke alamiahnya, menyatu dengan alam.
Lalu kita telaah lagi huruf Tao ini, dibawah garis ' 一 ' terdapat huruf ' 自 ' (baca zi) - artinya diri sendiri, yang berarti Tao berada dalam diri kita sendiri, di luar diri kita tidak terdapat Tao seperti tertera dalam Kitab "Liu Cu Than Cing" (Sutra Altar Patriacha ke-6); "Bila kita meninggalkan Tao, sepanjang hidup takkan melihat adanya Tao", Dhamma Buddha mengatakan "Semua makhluk memiliki benih Buddha dalam dirinya", Konfusianisme: "Tao tidak menjauhkan manusia, manusia sendiri yang menjauhkan Tao", Yesus berkata; "Tuhan bersama dengan saya".
Semua pernyataan itu sama maknanya, hanya pengutaraannya saja yang berbeda. Seperti apa yang dikatakan: "Di dalam sanubari saya terdapat Buddha, bila tidak memiliki benih Buddha, dimanakah saya dapat menemukan Buddha?". Semua pernyataan-pernyataan itu mengingatkan kita agar kita mencari yang Esa itu kedalam diri, jangan mencari di luar.
Lanjut,..
Mari kita gabung ketiga huruf ini; ' 丷, 一, 自 ', tiga huruf ini, bila dihimpun menjadi satu jadilah huruf ' 首 ' (baca sou) - artinya yang pertama/utama. Disini berarti dari langit sampai ke bumi, hanya Tao yang paling mulia. "Berkelana mencari jalan hidup di dunia fana ini, hanya membina diri dalam Tao yang paling tiada salahnya".
Sejak dahulu kala, yang membuat kita selalu terkenang dalam sanubari adalah orang-orang yang berhasil mencapai kesempurnaan dan kembali ke asalnya, meninggalkan nama harum di dunia ini. "Lakukanlah hal-hal besar, jangan hanya jadi pembesar", ~Sun Yat Sen.
Lanjut membedah aksara Tao
disebelah kiri terdapat huruf ' 辶 ' - (baca chuo), mirip orang berdiri mengayuh diatas sampan yang berarti harus dilaksanakan. Berdiri di perahu tetapi tidak mendayung maka perahu tidak akan bergerak. Tao bukan untuk buah bibir, tapi harus disimpan di hati dan dihayati, direnungkan.
Tao adalah kesadaran yang timbul dari sanubari yang telah memperoleh keesaan/Pencerahan.
Ibarat setelah minum, barulah kita dapat merasakan dingin atau panasnya secangkir minuman. Bila Tao hanya dibaca di mulut saja tapi tidak dilaksanakan, lain di mulut lain di hati, maka bagi diri sendiri ataupun bagi masyarakat tidak ada gunanya. Tapi kalau dibaca dan dilaksanakan seumur hidup, akan berguna bagi diri sendiri dan orang banyak. "Jika tiada budi kebajikan yang tinggi, maka Tao takkan tertampak nan mulia padanya.
"TAO" ( 道 ) adalah hakekat kebenaran dari seluruh jagad raya, oleh karena itu, Tao boleh juga dikatakan Kebenaran atau Aturan Semesta Alam Tanpa Batas. Tao tiada bentuk dan tiada wujud, tiada suara, tiada bau, tidak dapat dilihat, tak dapat digambarkan. Tapi bila jagad raya tidak terdapat Tao, maka semuanya tidak dapat berproses, mengalami perubahan dan tidak akan berkelanjutan. Dalam Dhamma Buddha kita menyebutnya: "Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang yang artinya "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak".
Tao berada di langit, di bumi, di benda, ada di masalah-masalah, dan di segalanya. Di dalam tubuh manusia Tao dikenal sebagai Hati Nurani. Bila ada seseorang yang melakukan hal-hal yang berlawanan dengan hati nurani dan kebenaran Tao, maka dikatakan perbuatannya telah membelakangi kehendak Semesta Alam.
Tao adalah kebenaran yang takkan berubah. Jagad raya berubah, manusia dan segala masalah juga selalu mengalami perubahan, hanya Tao yang setelah berjuta tahun tidak pernah berubah. Dalam Buddhisme dikenal sebagai salah satu dari Tiga Corak Universal (Tilakhana) yakni anicca. Konon, ribuan tahun yang lalu, bila seseorang memperoleh Tao, maka ia menjadi orang yang tercerahkan, bila memperoleh Pencerahan, mereka dikenal sebagai orang suci. Bila memperoleh Pencerahan, bertambah kebijaksanaan, naluri, feeling, hal-hal bersifat abstrak yang biasanya disebut instinct semakin peka, dlsbg. Oleh karena itu, "Barang siapa tahu jalan ini, mereka dapat kembali ke asalnya, tidak tersesat kembali ke lingkaran samsara, menderita kelahiran berulang atau terjatuh ke alam rendah".
Seperti diutarakan diatas, Kebenaran (Tao) ini, bila terdapat di langit, maka jadilah hukum-hukum langit, di bumi jadilah hukum bumi, di dalam tubuh manusia, jadilah apa yang disebut Budi Pekerti, Kebaikan Hati, di masalah-masalah menjadi Aturan, di dalam kebendaan menjadi hukum alam, di dalam karya tulis juga terdapat aturan-aturan tertulis.
Bila langit kehilangan aturan, bintang-bintang akan bertabrakan, bila bumi kehilangan aturan, terjadilah tanah longsor, bencana banjir, dlsbg. Bila manusia kehilangan aturan menjadi tidak manusiawi, hanya sebuah karya tulis yang tiada aturan, tiada pengaruh yang luas, ..
Maka di dalam alam semesta ini, semua hal dan benda bila terdapat aturan akan kedamaian akan terwujud, tetapi bila kehilangan aturan akan menjadi bencana, angkara murka dan celaka.
' 理 ' (baca li) = aturan/rasional, harus mendapatkan ' 一 ' yang Esa, kalau kehilangan ' 一 ' (Esa), akan menjadi ' 埋 ' (baca mai) = terpendam. ' 理 ' (baca li) = aturan/rasional yang ' 埋 ' aturan apapun yang terpendam tidak akan ada gunanya.
Pepatah mengatakan; "Berpegang pada aturan, dapat berkelana di seluruh dunia, tiada aturan setindak pun sulit".
Tao juga bisa diartikan Jalan, jalan ini adalah satu-satunya jalan Pembebasan menuju Pencerahan Akal Budi.
Konon, pada jaman dahulu, bila seseorang ingin mendapatkan Tao, ia harus meninggalkan keluarganya, hartanya, kariernya, seorang diri menempuh jalan yang jauh dan terpencil karena Tao di jaman dulu masih tersembunyi, untuk memperoleh Tao sangatlah sulit. Sampai pada suatu waktu, beberapa orang yang telah berkali-kali membina diri dan timbunan kebajikannya di kehidupan-kehidupan lampau sebelumnya sudah cukuplah yang bisa berhasil memperoleh Tao dan SADAR bahwa Tao tidak berjarak dengan diri kita sendiri seperti di sebutkan diatas "Tao berada dalam diri kita sendiri, di luar diri kita tidak terdapat Tao".
"Di dalam sanubari saya terdapat Buddha, bila tidak memiliki benih Buddha, dimanakah saya dapat menemukan Buddha?"
Bersambung,..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar