Kesehatan
Sabtu, 10 November 2018
AMUKAN ASMARA
JATUH CINTA
Siapa yang belum pernah merasakan?, mari sejenak tinggalkan dulu urusan politik yang sebenarnya bukan urusan kita dan tanggalkan dulu debat jubah keagamaan untuk seterusnya,.. baca ini.
Jatuh cinta awalnya memang tidak sengaja, selanjutnya yang terjadi adalah mampetnya pusat-pusat rasional di otak karena gelombang dopamin dan oksitosin.
Secara neurologis, jatuh cinta pada pandangan pertama memang ada, tapi yaa,.. tidak selalu kedua pihak mengalami hal yang sama pada saat yang sama.
Kita ini sebenarnya jauh lebih mudah ditebak dari yang kita kira. Kalau ada yang bilang cinta tidak bisa ditebak, yaa,.. karena dia tidak tahu neurologi saja.
Sepanjang evolusi sebagai spesies, otak kita sudah belajar cara memilih pasangan tersehat, yang paling mungkin memberi keturunan, inilah awal mula cinta.
Otak kita menuntun kepada pasangan yang sumber daya dan komitmennya dapat membantu keturunan kita untuk bertahan hidup. Banyak pelajaran yang diperoleh laki-laki dan perempuan di masa purba kemudian sandinya tersimpan dalam otak modern kita sebagai sirkuit-sirkuit cinta neurologis Sirkuit-sirkuit cinta di otak ini sudah ada sejak kita lahir, kemudian diaktifkan di masa pubertas oleh campuran berbagai neurotransmiter yang bekerja dengan cepat.
Sirkuit cinta yang sudah tersusun di otak secara evolusioner sangat anggun.
Otak kita secara otomatis akan menaksir pasangan yang potensial.
Tentu saja, yang disebut pasangan potensional bagi tiap individu pada akhirnya sangat beragam, tapi pada mulanya adalah untuk ketahanan hidup.
Kalau ada si doi yang sesuai dengan "daftar harapan" leluhur kita, kita akan merasakan sengatan kimia yang membuat pusing akibat rasa ketertarikan.
Daftar harapan leluhur kita tentang pasangan-pasangan kita, tersimpan rapih di kromosom yang tersembunyi jauh dalam inti setiap sel. Inilah yang kita kenal sebagai Nafas Kehidupan.
Sengatan berbagai neurotransmitter (senyawa kimia saraf) cinta ini bekerja seakurat sinar laser. Proses ini dikenal sebagai Amukan Asmara atau Jatuh Cinta.
Inilah langkah awal dalam cara kuno membentuk ikatan pasangan, dan membuka gerbang-gerbang ke program "percumbuan-perkawinan-pengasuhan" di otak kita.
Beruntunglah bila ada dua orang yang secara bersama-sama mengalami sengatan neurotransmiter2 cinta sehingga tidak bertepuk sebelah tangan, saling jatuh cinta.
Pasangan yang terkena sengatan kimia cinta secara bersamaan, mereka akan menghadapi kegelisahan, kekhawatiran, dan kegembiraan yang menumpulkan pikiran.
Sebetulnya mereka tidak bisa mengendalikan semua itu, karena saat-saat seperti itu, gejala biologislah yang sedang membangun masa depan mereka bersama.
Perlu diingat bahwa manusia menghabiskan lebih dari 99% dari sekian juta tahun (yang diperlukan untuk berevolusi) dengan hidup dalam kondisi yang primitif. Sehingga sebagai akibatnya, sirkuit-sirkuit otak kita memang berkembang untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi nenek moyang manusia jaman dulu.
Tantangan terpenting yang dihadapi nenek moyang kita adalah masalah reproduksi. Jangan heran kalau sampai sekarang dorongan punya anak sebanyak-banyaknya masih ada. Masalah reproduksi bukan hanya masalah punya anak, juga untuk memastikan bahwa anak-anak itu akan hidup cukup lama untuk menyebarkan gen-gen kita.
Nenek-kakek moyang yang pilihan pasangannya menghasilkan lebih banyak keturunan yang mampu bertahan hidup, berarti berhasil menurunkan gen-gen mereka.
Alhasil, sistem otak mereka, khususnya yang mengembangkan kemampuan untuk "ketertarikan percumbuan" lebih sukses dalam soal reproduksi ini.
Nenek-kakek moyang dengan langkah reproduksi yang salah, tidak meninggalkan jejak di masa depan spesies. Mereka punah ditengah perjalanan evolusi.
Akibatnya, struktur otak para leluhur dengan konsep reproduksi dari jaman purba itu lah yang jadi struktur standart bagi manusia modern.
Nah, aktifitas "sirkuit percumbuan" dalam otak kita inilah yang sekarang dikenal sebagai 'Jatuh Cinta’.
Yang tentu saja ada di luar jangkauan kesadaran.
to be continued....
Sirkuit percumbuan dalam otak yang terbentuk sepanjang jutaan tahun ini mendasari kecenderungan memilih pasangan. Tiap individu adalah unik.
Hal ini juga yang mendasari kenapa seseorang mempunyai pilihan tipe-tipe tertentu yang berbeda. Tiap orang punya kecenderungan berbeda.
Nah kerja senyawa-senyawa kimia di otak lah yang menghasilkan sensasi berjuta rasa di saat-saat jatuh cinta, otak emosi meluap dan otak rasional mandeg.
Meski otak laki-laki dan perempuan merespon secara beda, tapi jatuh cinta adalah salah satu perilaku atau keadaan otak yang paling tidak rasional bagi keduanya
Otak yang jatuh cinta menjadi 'tidak logis’ dalam gelora asmara. Akibatnya otak benar-benar buta "kekurangan" si doi. Ini di luar kesadaran !!.
"Kasmaran Gila" itu sekarang menjadi keadaan otak yang terdokumentasi, yang berbagi sirkuit-sirkuit otak dengan keadaan obsesi, mania, mabuk, haus, dan lapar.
Keadaan yang tidak karuan ini bukan hasil kerja satu macam emosi, tetapi perpaduan dari beberapa emosi yang menguat dan beberapa emosi yang lain melemah.
Area jatuh cinta di otak ini sebenarnya merupakan sistem motivasi yang berbeda dengan area dorongan seks, tapi saling bertumpang tindih emosinya.
Aktivitas otak yang jatuh cinta membara ini dibahan-bakari hormon-hormon dan neurotransmiter2 seperti dopamin, estrogen, oksitosin dan testosteron.
Sirkuit-sirkuit otak yang diaktifkan saat jatuh cinta sama dengan area-area otak seorang pecandu narkoba yang sedang parah-parahnya (sakaw) mengharap suntikan-suntikan selanjutnya.
Pada saat ini, Amigdala (sistem siaga-takut) dan anterior cinguli cortex (sistem khawatir-berfikir kritis) di otak benar-benar dimatikan ketika sirkuit cinta aktif.
Mirip orang minum ekstasi, kewaspadaan yang normalnya dimiliki manusia terhadap orang tak dikenal justru dimatikan dan semua sirkuit cinta dihidupkan.
Jadi, sebenarnya, jatuh cinta dengan asmara menggebu adalah mabuk ekstasi yang alami. Bagi yang suka obatan "alami" sering-sering saja jatuh cinta :D
Berbagai gejala klasik saat awal jatuh cinta sama dengan efek awal narkoba seperti: amfetamin, kokain, dan candu seperti heroin dan morfin.
Obat-obat tadi memicu sirkuit reward (pahala) di otak yang menimbulkan pelepasan dan efek kimiawi yang sama dengan efek jatuh cinta asmara yang membara.
Pendapat bahwa orang bisa ketagihan cinta, tidak salah. Orang kasmaran, khususnya 6 bulan pertama, selalu inginkan kegembiraan meluap-luap dari kebersamaan. Jatuh cinta pada 6 bulan pertama juga memunculkan rasa saling bergantung yang kuat. Setelah itu ya,.. mulai turun. :P
Penelitian-penelitian tentang otak yang jauh cinta, memperlihatkan bahwa keadaan otak kasmaran secara ngawur ini berlangsung selama ±6-8 bulan pertama.
Mabok cinta begitu kuatnya sehingga kepentingan, kebahagiaan dan hidup orang yang dicintai itu jadi sama pentingnya bahkan melebihi diri sendiri.
Selama fase awal cinta ini, seseorang bisa menghafal setiap detail kekasihnya.
Perpisahan setelah pertemuan bagaikan perjuangan hidup-mati. Tersiksa saat perpisahan fisik pada orang jatuh cinta bukan sekedar fantasi. Ini adalah rasa sakit akibat berkurangnya beberapa neurotransmiter.
Banyak orang bahkan tidak menyadari betapa terikatnya atau betapa cintanya sampai-sampai mereka merasakan sentakan saat kekasih tidak ada di dekatnya.
Banyak yang terbiasa menganggap kerinduan orang jatuh cinta bersifat psikologis, sebenarnya bersifat fisik. Seperti kondisi otak kekurangan narkoba
Selama perpisahan inilah, pada orang-orang yg mabuk cinta, motivasi untuk bersatu lagi bisa mencapai puncaknya di otak
Tapi begitu bertemu kembali, semua komponen dalam ikatan cinta itu dapat dipulihkan oleh membanjirnya dopamin dan oksitosin.
Aktivitas seperti membelai, mencium, menatap dan memeluk dapat memulihkan ikatan kimia cinta dan kepercayaan di otak
Tindakan mendekap/berpelukan melepaskan oksitosin di otak, khususnya pada perempuan, menimbulkan kecenderungan percaya orang yang memeluk.
Saking tidak logisnya, sampai-sampai lebih percaya rayuan laki-laki yang baru dikenal beberapa hari ketimbang nasihat orang tua sendiri. :(
Dari sebuah penelitian mengenai pelukan, oksitosin secara alami dikeluarkan di otak setelah satu pelukan berdurasi 20 detik. Tidak percaya? Cobak saja :D
Oksitosin menguatkan ikatan antara orang-orang yang berpelukan itu memicu sejumlah sirkuit kepercayaan di otak.
Jadi, para perempuan, jangan biarkan seorang laki-laki memelukmu, kecuali kamu punya rencana mempercayainya :)
Sentuhan, tatapan, berciuman dan orgasme seksual juga melepaskan oksitosin dalam otak perempuan. Tapi tidak pada laki2 :)
Estrogen dan progesteron juga memunculkan efek ikatan ini di dalam otak perempuan dengan meningkatkan oksitosin dan dopamin. Kesiapan perempuan untuk jatuh cinta yang kemudian membentuk keterikatan emosi, dapat dipengaruhi variasi sirkuit otak tiap individu.
Variasi-variasi sirkuit di otak perempuan ini disebabkan oleh faktor genetik, pengalaman dan keadaan hormon di otak masing-masing.
Saat badai asmara surut, sirkuit aman mengendor di otak perempuan, timbullah rasa curiga yang berlebihan kepada pasangan, posesif habis deh :)
Trus, bisakah kaum perempuan mengalami jatuh cinta yang berjuta rasanya ini berulang-ulang dalam hidupnya? Tentu saja bisa! Kepada laki-laki yang lain tapi :)
Perempuan bisa jatuh cinta berulang-ulang untuk jangka pendek. Tapi keterikatan emosi non asmara jangka panjang lah yang lebih penting dipertahankan.
Nah, begitulah kira-kira yang terjadi pada otak kaum perempuan, .....
TSUNAMI CINTA BEDES LAKI-LAKI
Dibandingkan wanita yang kasmaran, kelakuan pria yang jatuh cinta sebenernya jauh lebih mudah ditebak polanya meskipun sama-sama irasionalnya. Tapi pola otak kaum pria lebih sederhana dalam urusan jatuh cinta ini. Apa yang terjadi pada otak kaum pria yang sedang jatuh cinta faktanya berbeda dengan yang terjadi pada otak wanita.
Meskipun sama-sama menimbulkan perilaku irrasional, mekanisme jatuh cinta pada otak kaum pria berbeda secara kimiawi dengan yang terjadi pada kaum wanita.
Memang benar bahwa seks tidak selalu menimbulkan cinta, tapi bagi otak kaum pria, hal ini merupakan bagian penting dalam rangkaian proses jatuh cinta.
Respon otak kaum pria terhadap peluang seks menghasilkan zat kimiawi yang memunculkan efek euforia yang membahagiakan, seperti mabuk kokain.
Otak kaum pria tak bisa memahani alasannya kenapa dia bisa jatuh cinta, dan ketika harus berjauhan dengan kekasih, dia akan benar-benar merasakan ketagihan kebutuhan secara biologis yang primitif.
Bahkan, kaum pria yang jatuh cinta pada umumnya tidak menyadari perubahan perilakunya.
Pemicu rangkaian proses jatuh cinta pada pria dimulai dengan hal yang sama dengan yang terjadi pada perempuan, yaitu adanya “gempa” testosteron.
“Gempa testosteron” yang mengguncang ventral tegmental area di otak kaum pria dapat (tidak selalu sih) menghasilkan “tsunami” jatuh cinta.
Gempa testosteron yang terjadi di Ventral Tegmentum Area kaum pria bila mendapatkan sinyal “iya” dari calon pasangan yang membangkitkan minat kimiawinya akan menimbulkan gelombang dopamin, ini yang berpotensi jadi tsunami jatuh cinta.
VTA yang kebanjiran dopamin menimbulkan sensasi membahagiakan, dan ini akan mengaktifkan sirkuit jatuh cinta berikutnya: nucleus accumbens!
Tsunami di otak kaum pria makin besar ketika dopamin-testosteron-vasopresin bercampur di nucleus accumben. Hal ini menyebabkan otak pria menjadi semakin tidak rasional.
Jika tsunami kimia jatuh cinta wanita adalah kombinasi dopamin-oksitosin- estrogen, bahan bakar jatuh cinta di otak pria adalah dopamin-testosteron-vasopresin!
Tsunami yang mengamuk di VTA dan nucleus accumbent kaum pria benar-benar akan membuat dua area itu kehilangan fungsinya. VTA yang berfungsi sebagai pusat motivasi otak terhadap konsep ‘pahala’ dan nucleus accumben sebagai antisipator, jadi kacau karena tsunami cinta.
Campuran dopamin dan neurotransmiter-neurotransmiter lain ini menghasilkan bahan bakar yang adiktif dan "beroktan tinggi" yang membuat pria benar-benar jatuh cinta.
Saat pria yang jatuh cinta berjauhan dengan pujaannya, otaknya akan tertuju ke pasangannya itu secara terus menerus.
Zat-zat adiktif itulah penyebabnya!
Tsunami cinta dengan gelombang adiktifnya membuat kaum pria tidak bisa berhenti memikirkan, membayangkan dan membicarakan cintanya.
Dalam suatu penelitian terungkap bahwa kaum pria yang jatuh cinta menghabiskan 85% waktu terjaganya untuk membayangkan kekasihnya!
Kurang gak rasional apa coba?
Hidup kok cumak untuk ngayal? :)
Dan coba lihat fakta ini;
Secara statistik, rata-rata kaum pria menginginkan 14 pasangan seksual dalam hidup mereka, sedangkan kaum wanita rata-rata hanya menginginkan 1-2 pasangan seksual.
Kurang nggatheli gimana coba? :)
Perbedaan respon antara kaum pria dan wanita atas "area bawah puser" pasangannya dipengaruhi perbedaan kimiawi yang mendasar pada otak masing-masing.
Rendaman testosteron yang terjadi dua kali di masa embrio otak pria, membuatnya lebih peka saat muncul ‘gempa’ testosteron yang menggugah selera.
Dorongan naluri primitif pada otak kaum pria untuk berpasangan sebanyak-banyaknya dihambat oleh gen vasopresin yang muncul belakangan.
Makin panjang gen vasopresin bedes pria, makin besar kecenderungan mereka untuk bermonogami. Gen ini juga berhubungan dengan altruisme.
Jadi, bagi kaum wanita yang ingin suami setia, sebaiknya mengutamakan panjangnya gen vasopressin ini dari pada penjangnya barang-barang yang lain. :P
Kalau ingin yang setia lho ya,.. kalau ingin yang lain ya nggak papa juga seh. :)
Keinginan didorong oleh naluri sedangkan keputusan dihasilkan oleh kerja otak emosi dan otak rasional. Resultantenya menjadi sikap.
Jadi, perilaku kaum pria ditentukan oleh banyak variabel sehingga seolah-olah kaum pria punya kehendak bebas. Hanya perlu waktu 5 menit untuk berinteraksi secara santai dengan wanita yang menarik sehingga level testosteron di otak kaum pria meningkat.
Tidak percaya? Coba saja,.. tapi jangan nyesel atau ketagihan ya. :D
Dan otak kaum pria hanya memerlukan 1/5 detik untuk mengelompokkan kaum wanita terlihat menarik secara seksual atau tidak.
Cobaaaaak :)
Tapi ya des, dorongan itu terjadi jauh sebelum proses pikiran sadar kaum pria berfungsi. Ini disebut sebagai otak di bawah puser, naluri seksual!
Baik kaum pria maupun kaum wanita mempunyai otak bawah puser (naluri seksual) nya masing-masing. Dan pada pria, pusatnya adalah ‘penis’!
Semua bedes pria juga tahu, bahwa penis memiliki keinginannya dan bisa menegang sendiri tanpa perintah apapun dari otaknya. Tul gak?
Ereksi ‘reflektif’ ini berbeda dengan rangsangan seksual yang sebenarnya, karena berasal dari tanda yang tidak disadari dari jaringan saraf dan otak kaum pria
Ereksi reflektif tidak berasal dari hasrat yang disadari oleh kaum pria untuk berhubungan seksual.
Reseptor testosteron yang ada di jaringan saraf, testikel, penis dan otaklah yang mengaktifkan seluruh jaringan seksual kaum pria.
Kaum wanita sering terkejut karena penis itu bisa bergerak secara otomatis, lebih terkejut lagi karena kaum pria tidak selalu mengetahui kapan mereka mengalami ereksi.
Rangsangan seksual sebenarnya bagi kaum pria umumnya bermula karena reaksi di dalam otak, dengan pemikiran atau bayangan erotis. Hal inilah yang diperlukan otak pria untk mengirimkan sinyal menuruni jaringan saraf tulang belakang ke penis, untuk membuatnya ereksi!
Selama kaum pria mempunyai pasokan testosteron yang memadai, melihat hal yang erotis secara otomatis akan mengaktifkan sirkuit seksual di otak mereka. Secara neurobiologi diketahui, pengejaran-seksual otak kaum pria dan sirkuit rangsangan untuk bertindak dipersiapkan oleh testosteron agar berfungsi.
Hormon testosteron ini meningkatkan minat seksual dan meningkatkan kekuatan otot dan penis pria supaya dapat berfungsi dengan baik.
Jadi, sebelum usia 50 tahun, ‘melihat’ seringkali merupakan hal yang lebih dari cukup bagi banyak kaum pria untuk benar-benar mengalami ereksi. Setelah usia itu, frekwensi pengerasan secara instan berkurang, dan kaum pria sering kali perlu stimulasi fisik untuk ereksi yang cukup buat penetrasi.
Nah jadi ya des, jangan heran kalau sulit dibedakan antara kaum pria yang jatuh cinta dan yang diamuk birahi, sirkuitnya overlaping!
Bagi otak kaum pria, jatuh cinta pada dasarnya adalah masa percumbuan, yaitu masa yang berakhir pada hubungan seksual (kenthu) pertama.
Dorongan primitif pria untuk menebar benih sebanyak-banyaknya secara evolusioner dikontrol dan dihambat oleh gen vasopresin yang muncul belakangan.
Jatuh cinta pada kaum adam durasinya lebih pendek dibandingkan dengan kaum hawa, sehingga pada hubungan selanjutnya fungsi orbitofrontal cortex lebih diperlukan. OFC yang juga dikenal sebagai tempat sirkuit altruisme, membuat kaum pria rela secara sadar berbagi tanggung jawab saat masa jatuh cinta usai.
Mungkin bagi perempuan masa kini lebih perlu mengetahui seberapa dominan OFC pasangannya, sehingga tahu seberapa tanggung jawab bedes itu.
Makin dominan OFC bedes pria, makin tinggi kecenderungannya untuk setia kepada pasangannya. Meskipun masa percumbuan sudah berlalu.
Uwis lah, gutlak ya bedes-bedes.
Uwis ah, kapan2 lagi :)
Kepanjangan... :P
Sumber kultwit: Ryu Hasan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar