Posted by: Ryu Hasan on Twitter
"Kematian adalah resiko terbesar bagi organisma hidup, karena tidak akan ada resiko lagi setelah organisma itu mati."
Sebagian orang takut dirinya mati, sebagian kecil lainnya tidak takut kematian, ini adalah variasi otak per individu, yang sudah merupakan bakat alamiahnya.
Individu yang takut mati berguna untuk menjaga kelangsungan spesies, yang rela mati demi kelompok berguna sebagai "sejata" (berburu / melawan musuh).
Kasarnya, individu yang takut mati "tugas"nya menyambung keturunan spesies, yang tidak takut mati "tugas" nya menunjang kebutuhan-kebutuhan kelompok.
Konsep adanya hidup sesudah mati di otak manusia mengikuti evolusi konsep kesadaran diri dan konsep dikotomi entitas dalam diri (raga-jiwa-ruh).
Konsep adanya kehidupan sesudah mati dalam otak manusia sudah ada sejak jaman pra-sejarah, indikatornya adalah ritual pemuliaan jenazah.
Banyak lukisan-lukisan prasejarah di goa-goa yang menggambarkan ritual pemuliaan jenazah; mengubur atau membakar jenazah adalah bentuk-bentuk pemuliaan.
Sebelum mengenal pemuliaan itu, jenazah manusia yang mati dibiarkan begitu saja, dibuang ke jurang atau ke sungai.
Konsep kesadaran diri dan konsep dikotomi raga-jiwa, menimbulkan rasa takut di otak tentang prediksi jika jiwa meninggalkan raga, takut mati. Tetapi, perasaan takut mati ini teratasi dengan konsep baru bahwa mati tidak sekedar mati, ada kehidupan selanjutnya. Rupanya varian semacam ini lebih fit terhadap seleksi alam.
Dalam perjalanan evolusinya, konsep "after life" menghasilkan konsep religiositas, amplifikasi hasil kerja sirkuit pahala NAcc di otak mamalia. Reward-punishment (pahala-dosa), yang juga adalah konsep, merupakan hasil kerja NAcc yang merupakan sirkuit yang sudah terbentuk pada otak moyang-moyang manusia. Sirkuit pahala NAcc ada pada otak semua mamalia, jadi tikus pun juga kenal konsep pahala-dosa di otaknya. Konsep after life yang di-drive oleh NAcc menghasilkan spiritualisme religiositas, yang berdasarkan adanya dikotomi dosa-pahala setelah mati.
Dalam evolusinya, konsep after life pada relijiusitas tentang adanya pahala-dosa ini mensyaratkan adanya 'agen penyedia' pahala-dosa tersebut. Kemudian konsep tentang 'agen penyedia' pahala-dosa selanjutnya berkembang sesuai dengan tempat dan waktu dimana satu kelompok masyarakat hidup.
Nah,.. disini bermula konsep atau penggambaran tentang segala bentuk Tuhan yang bertindak sebagai otoritas penentu pahala-dosa pada relijiusitas.
Konsep relijiusitas ini berlawanan dengan spiritualisme altruis yang didorong oleh sirkuit altruisme otak yang ada di orbito frontal cortex.
Dalam perjalanan evolusi, relijiusitas (di masa lalu) membuat homo sapiens lebih fit terhadap seleksi alam. Neanderthal yang lebih altruis punah. Relijiusitas meningkatkan ikatan dalam kelompok, karena konsekwensinya ada orang yang dianggap lebih dekat dengan Tuhan dan dianggap punya otoritas. Orang yang dianggap mempunyai kedekatan dengan dewa, Tuhan atau apalah namanya cenderung dipatuhi. Secara langsung hirarki terbentuk dengan sendirinya.
Sejalan waktu, pernak pernik relijiusitas mengalami sofistikasi dan variasi, keliaran imajinasi manusia versus imajinasi tandingan. Tapi ya,.. selalu saja ada varian, dalam populasi homo sapiens yang cenderung memegang relijiusitas muncul juga varian yang cenderung altruis. "yang ada" adalah adanya realitas keyakinan (theis maupun atheis) yang hidup dalam alam pikiran manusia. Setiap keyakinan membangun struktur logikanya untuk membenarkan (rasionalisasi dan atau sakralisasi) dalil-dalil keyakinan. atau istilah lain kita kenal dengan sebutan "intelektual pada ego".
Tubuh makhluk hidup itu disusun oleh bahan-bahan alam yang tentu saja bekerja sesuai dengan hukum alam.
Ada karbon, hidrogen, oksigen, kalium, natrium, bahkan seng dan besi juga ada, semua mengikuti hukum alam.
Tidak ada kejadian tahayul didalamnya. Bahkan proses munculnya kehidupan, juga terikat dengan hukum alam.
Dalam proses kematian yang dialami satu organisme (mulai bakteri hinga manusia) juga tidak melibatkan tahayul sama sekali, proses ini adalah mekanisme alamiah.
Sepanjang sejarah, keyakinan dan ideologi-ideologi tidak secara terang-terangan menyebut bahwa hidup manusia bernilai paling / lebih tinggi.
Tidak heran jika ada sebagian kecil manusia yang mengagungkan agen penjemput kematian (Giam Lo Ong kalau bahasa Kho Ping Hoo), mereka memandang kematian adalah bagian kehidupan paling penting.
Menurut sebagian makhluk klenik, manusia mati karena ada lelembut yang sudah menetapkannya, dan saat-saat kematian mereka adalah pengalaman metafisik suci yang penuh dengan makna.
Ketika ada seorang anak manusia yang hampir “meregang nyawa” itulah saatnya memanggil pandito, ahli nujum atau dukun. :P
Klenik muncul karena manusia itu sendiri yang doyan mencoba mengarang-ngarang tentang pasca kematian.
Bayangkan saja, dimana ada suatu dunia tanpa kematian, artinya adalah suatu dunia tanpa surga, tanpa neraka, atau tanpa reinkarnasi. Klenik nggak laku lah kalau begini ceritanya.
Tetapi untunglah ada sains. Sains modern memiliki sudut pandang yang berbeda dengan klenik soal kehidupan dan kematian.
Kematian tidak dianggap sebagai misteri metafisik dan tentu saja kematian tidak dipandang sebagai sumber makna kehidupan.
Kematian adalah “masalah teknis” yang seharusnya bisa dipecahkan.
Dalam cerita-cerita peri Eropa abad pertengahan, "MAUT” adalah sosok berkerudung dan jubah hitam, dengan “clurit aneh” di tangan kiri dan pecut di tangan kanannya.
Kalau dia sudah nongol, tidak ada satu manusiapun yang bisa menawar apalagi menolak ajakannya.
Tapi dalam kenyataannya, manusia tidak mati karena didatangi gendruwo berjubah dan berkerudung hitam yang menepuk pundaknya, bukan karena ada lelembut sudah menetapkannya, juga bukan karena hal ini adalah bagian esensial dari rencana kosmis.
Manusia mati selalu karena suatu kesalahan teknis.
Masalah-masalah teknis itu antara lain:
1. jantung berhenti memompa darah,
2. arteri utama di otak tersumbat gumpalan lemak atau bekuan darah,
3. terlalu banyak bakteri berbiak di paru-paru,
4. sel-sel kanker menyebar di liver.
5. dlsbg, dst, dst,..
Lha, terus yang menyebabkan adanya masalah-masalah teknis ini apa? Ya masalah teknis yang lain laa. Jantung berhenti memompa darah karena oksigen yang mencapai otot-otot jantung tidak cukup.
Kuman berbiak di paru-paru karena ada makhluk lain bersin-bersin di angkot dan menularkan penyakitnya. dlsbg,..
Tidak ada yang metafisik dalam hal ini. Semua adalah masalah teknis. Dan, setiap masalah teknis ada solusi teknisnya. Kalau di saat jantung berhenti memompa, kemungkinan untuk bisa dihidupkan lagi itu ada, misalnya dengan obat-obatan atau defibrillator, kalau tidak berhasil bisa dicangkokkan jantung baru. Kuman bisa ditumpas dengan antibiotik kalau tidak akut. Sel-sel kanker bisa dibasmi dengan operasi, kemoterapi dan radioterapi kalau belum stadium akhir, dst, dst,..
Solisi teknis dari masalah teknis.
Walau harus diakui bahwa memang benar, saat ini kita belum punya solusi atas semua masalah teknis. Tapi justru karena hal inilah sekarang kita punya alasan untuk menginfestasikan banyak waktu dan uang dalam meneliti kanker, kuman, teknologi nano dan genetika, dlsbg. Upaya menemukan solusi teknis. Tapi,.. ya gitu deh, mayoritas manusia lebih suka solusi klenik... namanya juga manusia, manusiawi laa. :P
Makanya jangan heran jika sampai ribuan tahun, makhluk-makhluk ini ribut tentang apa yang terjadi dan akan mereka temui setelah mati.
Uniknya, ribuan tahun mayoritas manusia hidup dalam ketidaktahuan tentang apa penyebab dan bagaimana proses kematian ini terjadi, dan mereka tidak pusing dengan penyebab dan proses kematian. Dan setelah sukses menghayal tentang hidup setelah kematian, pelan tapi pasti kaum-kaum ini semakin tidak menghargai kehidupan mereka yang sesungguhnya. Kehidupan ini sementara, kehidupan setelah mati abadi... kata nya. Bagaimana mau sukses jika hidupnya bukan buat dunia tapi untuk akherat,..
"Sains adalah klenik baru".
Sel-sel kita mengalami penuaan dan kemudian mati justru pada saat kita mulai menghirup oksigen.
Jadi kalau ada pertanyaan: “Kapan sebenarnya kematian kita dimulai?”
Jawaban yang sekarang ini paling mendekati kebenaran ilmiah adalah : “Saat kita lahir”.
Alam dan evolusi mempunyai selera ironi yang sama dan sangat unik ketika mereka berdua membuat hidup kita begitu tergantung kepada oksigen. Tapi disisi lain, oksigenlah penyebab utama terjadinya penuaan yang akhirnya menyebabkan kematian sel-sel kita.
Apa bukan ironi namanya? :)
Pada umumnya organisma hidup (termasuk manusia) akan menua dan akhirnya mati. Tetapi ada juga yang enggak contohnya: immortal jelly fish.
Rata-rata di jaman sekarang, saat manusia melewati umur 60 tahun, maka yang tersisa hanya 25%-30% dari rentang hidupnya. Proses kematian makin hebat !
Pertanyaan lanjutannya adalah:
“Kenapa organisme hidup pada umumnya akan menua dan kemudian mati?,
Apa atau siapa yang bertanggung jawab dalam hal ini?”
Semua adalah ulah evolusi, karena evolusi hanya tertarik dengan reproduksi dan tidak perduli kesehatan setelah kita bereproduksi. Sistem-sistem mekanik (mesin) yang aktif, semuanya akan rusak, aus karena usia tua. Hal ini juga berlaku bagi sel dalam sistem biologis. Setelah manusia melewati usia 60 tahun, efek penuaan jadi lebih jelas. Ingatan tidak setajam dulu, gerakan jadi lebih lambat, lutut jadi sakit. dll.
Proses menua bukan bagian program perkembangan manusia atau organisme hidup lain pada umumnya. Tidak ada gen yang mendorong penuaan. Bahkan, evolusi secara 'bijaksana' menemukan aktivitas sel untuk menghambat penuaan, sayangnya ini hanya aktif sampai reproduksi kita berhenti.
Dari sudut pandang evolusi, menghambat penuaan hanya diperlukan sampai binatang selesai bereproduksi dan selesai mengasuh anaknya. Setelah satu organisme hidup bereproduksi dan tuntas mengasuh anaknya, alam seolah kehilangan minatnya menjaga kebugaran organisme tersebut.
Alam hanya menyediakan langkah perbaikan dan menunda penuaan sampai tujuan reproduksi dan pengasuhan tercapai. Setelah itu dia bilang: PERSETAN ! :P
Ini yang itu disebut dengan teori “dispossable soma”, manusia dan binatang-binatang lain dibuang setelah reproduksi dan pengasuhan anak selesai.
Lha,.. terus kalau tidak diprogram oleh gen, kenapa penuaan bisa terjadi?
Jawabannya sama dengan yang terjadi pada mesin mobil tua: karena aus !
Penuaan setiap organisme adalah hasil akumulasi kerusakan seluler dan molekuler yang tidak lagi bisa diperbaiki, khususnya dalam DNA dan protein. Pemeliharaan eksistensi dan integritas DNA adalah tantangan utama bagi sel, karena kerusakan setiap DNA menyebabkan hilangnya protein penting. Kerusakan DNA juga menyebabkan kesalahan sintesis protein pada sel, kesalahan 'timing' sintesis, dan dihasilkannya protein yang ‘cacat’. Kerusakan semacam ini selalu terjadi setiap saat dan akan terakumulasi sepanjang hidup sejak sel dan jaringan tubuh pertama mulai terbentuk.
Kerusakan lain yang juga selalu terjadi ada di mitokondria, di membran, dan bisa juga akibat kesalahan dalam proses pelipatan protein. Panjangnya umur manusia dan binatang-binatang lain, terutama ditentukan oleh mekanisme yang telah berevolusi untuk mengatur tingkat pemeliharaan tubuh. Tidak diragukan lagi bahwa sel setiap manusia menua, sel kita pada saat usia muda akan terus menggandakan diri dan pada akhirnya berhenti. Salah satu penjelasan menurunnya kapasitas pembelahan sel seiring bertambahnya umur setiap binatang, terkait erat dengan yang namanya “telomer”.
Telomer ini fungsinya seperti plastik di ujung tali sepatu, dia melindungi ujung kromosom yang jadi makin pendek saat setiap sel-sel membelah diri. Pemendekan ini terjadi karena absennya enzim ‘telomerase’, enzim yang membuat telomer tumbuh lagi ke panjang sebelum sel membelah diri. Dengan melihat telomer kita bisa menghitung jumlah pembelahan yang sudah dialami sel, karena telomer jadi sedikit lebih pendek pada setiap pembelahan. Pemendekan telomer ini sebenarnya untuk melindungi sel dari mutasi yang bisa menimbulkan pembelahan tidak terkendali seperti yang terjadi pada kanker. Dan penuaan adalah harga yang harus kita bayar atas sistem perlindungan yang dibentuk proses evolusi kita ini. Pajak perlindungan mutasi :D
Kromosom adalah struktur dalam sel yang integritasnya paling sulit dipelihara sepanjang hidup sel. Dalam hal ini peran telomer jadi mutlak. DNA dalam setiap kromosom mengalami ribuan modifikasi setiap harinya. Dan beberapa mekanisme terpenting dalam proses penuaan melibatkan DNA.
Sel-sel kita selalu berusaha menghindari kerusakan ini dengan melilitkan DNA ke seperangkat protein, makin padat lilitannya makin terlindung DNAnya. Kalau ada mutasi DNA yang membahayakan, sel cenderung merespons dengan cara bunuh diri (apoptosis), ini cara untuk mencegah munculnya kanker. Apoptosis (program bunuh diri sel) adalah proses alamiah sebagai perlindungan bagi integritas kromosom, mekanisme ini terbentuk oleh proses evolusi.
Apoptosis lebih sering terjadi pada jaringan tua dimana kerusakan DNA yang terakumulasi lebih banyak. Bisa juga seh terjadi lebih dini. Hilangnya banyak sel dalam sebuah jaringan akibat apoptosis dengan sendirinya akan mempercepat penuaan. Makin tua, laju penuaan jadi lebih cepat.
Penyebab utama kerusakan molekul DNA dan molekul lain adalah oksigen reaktif alias 'radikal bebas', molekul kecil oksigen yang termodifikasi. Pada saat kita lahir, saat itu juga kita terpapar oksigen, molekul sederhana yang menghidupi sekaligus yang mematikan kita.
Nah sudah jelas kan?
kalau ada pertanyaan: “Kapan sebenarnya kematian kita dimulai?”, Jawaban yang paling mendekati kebenaran ilmiah adalah: “Saat kita lahir”. kita sudah sekarat sejak lahir, des :D
Lanjut,..
Untuk melanjutkan kehidupan, kita harus mengambil kehidupan lain, hanya dengan makan organisme hidup lain kita bisa bertahan hidup. Seperti binatang, manusia juga harus mengambil bahan-bahan organik dari organisme lain untuk bisa bertahan hidup.
Dengan makan kentang sama saja kita mengambil kehidupan kentang. Makan sapi, sama artinya dengan kita mengambil kehidupan sapi. Manusia makan kentang atau sapi secara biologis adalah sama, sama-sama makan saudara. Manusia, kentang, dan sapi punya nenek moyang yang sama. Secara biologi lho ya. Namun secara sosio kultural, konstruksi budaya, akhirnya manusia memilah organisme mana yang 'layak' dimakan dan mana yang ‘tidak boleh’
Secara biologi, membunuh sapi atau bengkoang sama halnya dengan membunuh manusia. Tapi tidak demikian kalau dilihat dari sisi moralitas. Secara biologipun, ada beberapa perbedaan dalam mendefinisikan apa yang disebut dengan “kehidupan”, yang memang sangat dipengaruhi oleh dasar pemikiran masing-masing.
Tapi walaupun begitu, ada ciri-ciri penting (yang disepakati secara biologi) dari apa yang disebut dengan kehidupan ini.
Ciri2 kehidupan:
1. Punya kemampuan untuk bereplikasi, memperbanyak diri,
2. Punya kemampuan untuk mempertahankan keteraturan dan menghasilkan energi sendiri bagi semua aktifitasnya,
3. Punya kemampuan berevolusi,
4. Bisa mati, jadi yang gak bisa mati ya,.. bukan kehidupan namanya.
Pada ciri-ciri kehidupan yang disepakati secara biologi tersebut, termyata tetap saja ada yang mengejutkan dan tidak terduga sebelumnya. Bahwa pemain utama kehidupan (yang sekarang sekompeks ini) adalah molekul ‘sederhana’ berbentuk benang, yaitu DNA dan protein!
Sekarang kita bisa tahu banyak tentang kehidupan setelah kita mulai tahu tentang sel.
Hanya berangkat dari mempelajari seluk beluk sel maka kita bisa belajar tentang kehidupan. Karena sel adalah unit terkecil dari kehidupan. Protein adalah mesin kehidupan yang sesungguhnya yang ada di dalam sel. Dan yang tidak kalah penting adalah DNA, yang menyusun gen dalam kromosom.
Di dalam sel, DNA tidak punya aktifitas apapun selain menyediakan kode untuk pembuatan berbagai macam protein. That's it and that's all.
DNA punya sifat unik yang sangat mendasar, barang ini satu-satunya molekul dalam sel yang direplikasi (disalin identik) sebelum sel membelah diri. DNA di sel kita ada dalam nukleus (inti sel, struktur berbentuk cakram yang dikelilingi selaput). Ada juga sebagian kecil terdapat di mitokondria. Ada sekitar 100 ribu jenis protein dalam tubuh kita, merupakan deretan molekul kecil sederhana disebut asam amino, yang dirangkai menjadi satu
Ada 20 jenis asam amino pembentuk protein-protein kita, 10 diantaranya bisa dibuat oleh sel kita sendiri, 10 yang lain harus diperoleh dari makanan. Hampir semua aktifitas dalam sel adalah akibat protein yang berinteraksi satu sama lain atau dengan molekul lain seperti asam nukleat, karbohidrat, dan lemak. Dari semua fungsi sel, membuat sel baru, menjadi bertambah besar dan kemudian membelah adalah 3 hal yang paling penting. Karena fungsinya yang sangat penting, pembelahan sel harus punya sistem kontrol yang akurat, memastikan pembelahan terjadi pada saat yang tepat.
Pengaturan waktu rangkaian kejadian sel dikontrol oleh protein khusus bernama siklin, yang konsentrasinya naik turun selama siklus pembelahan. Ada kecenderungan umum segala sesuatu di alam ini untuk menjadi tidak teratur, seperti yang dinyatakan hukum ke dua termodinamika.
Padahal ciri dasar ke-2 kehidupan: pemeliharaan keteraturan dalam sel, yang melibatkan pertumbuhan dan sintesis molekul baru, serta penyedian energinya!
Konsekwensinya adalah: untuk Mempertahankan keteraturan dan mencegah kegagalan fungsi SEL sehingga tidak terjadi kekacauan atau kerusakan pada SEL tersebut, maka dibutuhkanlah ENERGI.
Hukum termodinamika.
Semua sistem di alam cenderung menuju kondisi acak kecuali ada energi yang digunakan untuk mencegahnya. Dalam sel energi ini adalah ATP. ATP dalam tubuh kita diproduksi oleh mitokondria (merupakan proses yang sudah berjalan ratusan juta tahun) yang didasarkan pada transport elektron.
Sebelum tahun 1961 kita belum tahu bagaimana proses pembentukan ATP di mitokondria. Orang yang pertama mengenalkan adakah: Peter Mitchel.
Ini merevolusi pengetahuan kita dalam memahami metobolisme sel, metabolisme tubuh kita.
Ciri ke-3 kehidupan: evolusi, yg menyebabkan kehidupan dan semua organisme hidup mulai bakteri, tumbuhan, sampai manusia akhirnya terbentuk.
Yang dimaksud disini memang teori evolusi Darwin, yang intinya bahwa sifat-sifat dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kalau suatu sifat memberikan manfaat, organisme pewarisnya akan lebih berpeluang untuk sukses dan jumlahnya meningkat ketimbang yang tidak mewarisinya. Tentu saja warisan ini bisa berubah sehingga organisme bisa menghasilkan keturunan yang berbeda dari sifat induknya. Pada dasarnya, yang disebut evolusi adalah perubahan sifat yang diwarisi dan penyeleksian manfaatnya.
Pewarisan sifat sepenuhnya terjadi melalui gen, satu-satunya struktur dalam sel yang ber-replikasi, sehingga dengan demikian gen bisa diwariskan. Mutasi DNA diekspresikan sebagai perubahan sifat protein dan juga waktu serta tempat protein dibuat. Kalau mutasi ini membuat organisme bertahan hidup, berarti mutasi ini bisa dipertahankan pada generasi berikutnya.
Tapi kalau suatu mutasi membuat semuanya jadi lebih buruk, organisme dengan mutasi seperti ini akan mati, dan tak bisa mewariskan sifatnya. Organisme yang mempunyai sifat seperti ini akan punah, karena tidak bisa mewariskan sifatnya, lha wong mati...
Mutasi dalam sebuah gen bisa saja terjadi melalui perubahan 1 nukleotida saja, tapi ini pun akan mempengaruhi struktur protein secara keseluruhan. Yang ke-4 dari ciri utama kehidupan adalah bisa mati, mungkin hal ini terasa aneh, tapi bukankah harus hidup dulu untuk bisa mati? :)
Kematian sel terjadi saat semua fungsi penting berhenti.
Faktor utamanya adalah kerusakan pada mitokondria yang tidak bisa lagi diperbaiki. Dengan rusaknya mitokondria maka energi tak lagi bisa diproduksi.
Faktor penting lain kematian sel adalah kerusakan membran sel. Karena eksistensi sel hanya bisa dipertahankan selama membran sel ini ada. Selain mengembangkan sistem yang kompleks untuk proses penggandaan dan pembebelahan, sel juga membuat cara memperbaiki kekeliruan.
Salah satu cara memperbaiki kesalahan mutasi adalah: hampir semua sel kita mengembangkan mekanisme apoptosis alias “program kematian bunuh diri”
Kematian akibat “program bunuh diri sel” ini berbeda dengan kematian akibat cedera yang membuat sel menumpahkan isinya dan bisa menyebabkan peradangan.
Pada saat program bunuh diri diaktifkan, sel mengerut dan struktur di dalamnya hancur akibat aksi dari enzim bunuh diri.
Hancurnya sel ini memberi sinyal kepada sel darah putih khusus pembersih jaringan yang disebut fagosit untuk datang dan menelan sel yang mati.
Dengan demikian isi sel tidak tumpah keluar, dan tidak merusak sel-sel sekitarnya. Karena tidak terjadi proses radang.
Sebuah tindakan mulia :)
Serem juga membayangkan hal yang terjadi jika semua sel melakukan bunuh diri secara massal, mampuslah kita :)
Tapi untungnya, program bunuh diri sel ini hanya diaktifkan saat sel tidak lagi dibutuhkan, atau jika sel membahayakan karena bermutasi jadi kanker misalnya.
Bunuh diri sel ini terjadi bila pilihan itu menjadi pilihan logis dan jelas, untuk mempertahankan kehidupan satu organisme. Sel juga melakukan bunuh diri kalau tidak menerima faktor yang memastikan bahwa dia akan hidup terus, khususnya selama perkembangan janin.
Contoh klasik dari apoptosis yang terjadi masa janin adalah kematian sel di sela-sela jari tangan dan kaki kita, sehingga tangan dan kaki kita tidak berselaput seperti bebek.
Kayak Deni Manusia Ikan yak? :)
Demikian sekelumit dari keseluruhan kerumitan kehidupan yang diawali dari hidupnya sel.
Barangkali saja bisa membuat kita jadi lebih menghargai kehidupan ketimbang apapun yang lain
Kehidupan tak ternilai harganya...
Ribuan tahun orang percaya bahwa roh punya eksistensi fisik. Di tahun 1907, Dr. Duncan McDougal dari Massachusetts mencoba menimbang roh. Demi memenuhi hasrat penelitiannya, McDougal mengumpulkan 6 pasien yang sedang sekarat. Dan membuat timbangan khusus yang dia klaim sangat peka. McDougal juga memilih pasien-pasien yang "anteng" saat sekarat, bukan yang meronta-ronta, alasannya supaya hasil timbangan lebih akurat.
"The Soul: hypothesis containing soul substance together with experimental evidence of existence of substance". Makalah Duncan McDougal itu adalah hasil pengamatannya, dirilis di jurnal American Medecin edisi april 1907. Dalam salah satu catatannya, mcDougal menulis, "jarum timbangan bergerak turun pada saat pasien meninggal, kehilangan berat tepat 3/4 ounce".
McDougal semakin yakin setelah menimbang 15 anjing yang sekarat, berat badan anjing tetap saat mati. Karena menurut keyakinannya, anjing tidak punya roh. Sebelum dimuat American Medicine, Maret 1907 The New York Times mempublikasikan McDougal, dengan bahasa media tentu saja, hasilnya bisa ditebak.
Berkat media massa, pernyataan roh punya berat 21 gram diamini pembaca, berita lama ini dari mulut kemulut menyebar dengan segala macam bumbu.
Ada hal-hal yang perlu dicermati pada penelitian McDougal,
- Pertama, jumlah sampel yang 6 biji, sangat tidak memadai dan tidak signifikan secara statistik.
- Masalah ke 2 lebih mendasar. Sebetulnya McDougal hanya mendapatkam 1 pasien kehilangan 21 gram, sedangkan 5 yang lainnya dikesampingkan karena "masalah teknis".
Jadi, sebenarnya Mc Dougal hanya menggunakan 1 dari 6 sampel yang ada. Kejadian pada 1 orang jelas tidak bisa mewakili 7 milyar populasi manusia.
- Masalah ke 3 lebih spesifik lagi, McDougal tidak mempunyai batasan kapan seseorang disebut mati, dia tidak menjelaskan apapun soal hal ini.
Bahkan sekarang pun, dengan segala kecanggihan teknologi, ilmuan masih sulit menentukan kapan seseorang disebut mati.
Mati otak?
Mati jantung? atau
Mati sel?
Dari SATU hasil timbangan pada SATU orang sekarat (dan tidak pernah diulang), sebuah mitos abadi dilahirkan, berat roh adalah 21 gram, omaigattt,..
Ya memang mungkin saja ada penurunan berat badan saat kematian, ini terjadi juga pada diri kita setiap saat karena metabolisme yang terus berlangsung.
Satu hal lagi, konon,.. kalau orang mati rohnya melayang ke atas, lebih ringan dari udara, harusnya berat badan orang mati justru naik.
Yang jelas, dari sudut pandang ilmu biologi terkini ruh atau nyawa atau apalah itu tidak ada. Suka atau tidak ya begitu lah...
Sudah biasa, kalau ada fakta baru bertentangan dengan keyakinan, seseorang lebih memilih mengabaikan fakta dari pada merevisi keyakinannya.
Tapi ada juga orang yang bahkan ribuan kali merevisi keyakinannya karena tidak sesuai dengan fakta-fakta yang dia ketahui, yang model begini nggak banyak.
http://rationallyspeaking.blogspot.com/2007/03/does-soul-weigh-21-grams.html?m=1


Tidak ada komentar:
Posting Komentar