Kesehatan

Sabtu, 15 Desember 2018

ASAL USUL BAHASA MANDARIN


      Umumnya, masih banyak orang salah kaprah dengan Chinese Languages. Karena terpengaruh iklim politik abad-20, mereka menganggap hanya ada satu bahasa Chinese di China yang berbeda-beda lalu kemudian diberi nama "dialek". Itu salah kaprah dari cara pandang linguistik sekarang.

Bahasa-bahasa yang ada lahir di China, secara umum tergolong dalam rumpun Bahasa Sino-Tibetan. Coba temukan bahasa Mandarin modern dengan bahasa Hokkian Modern di pohon diagram bahasa diatas, jauh sekali. Keduanya sudah merupakan bahasa yang berbeda, bukan sekedar beda dialek lagi.
Menurut pengukuran jarak antar bahasa, jarak antar bahasa-bahasa di China lebih jauh daripada jarak antar bahasa-bahasa Eropa. Bahasa Portugal dan Spanyol saja dianggap bahasa berbeda padahal mereka bisa saling mengerti saat berkomunikasi menggunakan salah satunya.

Di China, pemakai unik bahasa-bahasa tidak akan saling mengerti karena jarak bahasa yang jauh.
2200 tahun silam, Qin Shihuang menstandartkan penulisan huruf untuk merepresentasikan semua bahasa. Pada dasarnya semua bahasa dunia bisa direpresentasikan dengan Hanzi, dengan modifikasi khusus. Apakah itu menghentikan derap branching bahasa-bahasa di China?
Tidak..
Sesudah era Qin Shihuang, bahasa-bahasa Chinese terus berkembang saling menjauh.
Kenapa?
Karena geografi yang susah, karena keterisolasian satu wilayah, dlsb..
Akhirnya sama seperti Eropa, bahasa-bahasa Chinese berkembang pesat menjadi banyak benar.
Bahasa yang dibawa warga Tionghoa ke Indonesia terbesar adalah Hokkien, disusul oleh Hakka, Teochiu, Cantonese.

Coba perhatikan posisi bahasa-bahasa tersebut dalam pohon taxonomy bahasa. Saling berjauhan toh? Yang dekat cuma Hokkien dan Teochiu karena keduanya sama-sama berasal dari cabang bahasa Minnan.

Karena itulah, jika seseorang hanya mengerti satu bahasa, maka pemakai bahasa Hokkien lebih gampang mengerti ucapan Teochiu demikian sebaliknya. Tanpa belajar serius, maka pemakai Hokkien tidak akan mengerti omongan Cantonese atau Mandarin.


Kenapa?
KARENA ITU BAHASA YANG BERLAINAN.


Propaganda nasionalis, baik oleh pihak Nasionalis KMT maupun oleh Komunis KCT (Kunchantang), membuat murid-murid dari generassi tua dulunya punya cara pandang seakan-akan China kurang lebih homogen.

Kuomintang atau Partai Nasionalis Tiongkok (Hanzi: 中國國民黨; Pinyin: Zhōngguó Guómíndǎng) adalah partai politik tertua dalam sejarah modern Tiongkok. Partai ini didirikan oleh Sun Yat-sen dengan tujuan revolusi melawan Kekaisaran Qing dan mendirikan Republik Tiongkok demi adanya pembaruan di Tiongkok. https://id.wikipedia.org/wiki/Kuomintang



Padahal China tidak seperti Jepang yang tingkat homogenitasnya tinggi.
China itu sangat bervariasi.
Lalu kenapa Mandarin sekarang dipakai oleh seluruh China?
Apa hebatnya Mandarin sehingga mengalahkan bahasa-bahasa lain di China?

Pada jaman Dinasti Song, waktu era Pendekar Pemanah Rajawali, bahasanya populernya masih belum Mandarin. Mandarin semakin populer di China karena setelah beratus-ratus tahun proper China ditaklukkan oleh suku-suku "barbarian" dari Utara.
Pertama Jin, lalu Mongol, kemudian Manchu.
Bahasa Chinese di Timur Utara itulah Cikal Bakal Bahasa Mandarin.

Karena itulah bahasa-bahasa Selatan kalah.
Bahasa-bahasa dari Utara itu intonasinya kurang banyak dibanding dengan yang Selatan, dan bunyi nasal (hidung) lebih kentara. Karena itulah kalau mau tahu kenapa orang Selatan bilang orang Beijing kalau ngomong kayak pake hidung... Itulah..

Jadi bahasa apa yang dipergunakan di istana-istana Dinasti Tang atau Song?
Menurut banyak penelitian, sudah pasti bukan bahasa yang dekat dengan Mandarin. Bahasa istana Tang dan Song dulu lebih dekat ke Minnan atau Yue (Cantonese).
Salah satu bahasa yang masih mempertahankan bunyi-bunyi kuno adalah Teochiu.
Bagaimana peneliti-peneliti itu bisa membuat kesimpulan terhadap bahasa-bahasa yang digunakan waktu itu?
Kan tidak ada rekaman suara?
Jawabnya adalah dari penelitian puisi-puisi pada era tersebut.
Puisi-puisi itu umumnya membuat ritmik, dan dari sana direkonstruksi bahasa yang digunakan waktu itu.

Apakah bahasa-bahasa non-Mandarin masih dipertahankan di China?

Luasnya penggunaan Mandarin mendesak bahasa-bahasa non-Mandarin.
Tapi ada resistansi, walau dilakukan dengan cara halus. misalnya di kota-kota besar selatan, pengumuman-pengumuman lisan sering dalam 3 bahasa: Mandarin - Inggris - bahasa lokal.
Contoh: pengumuman di Metro Line kota Fuzhou yang baru.
Pertama dalam Mandarin, lalu dalam bahasa Fuzhou (dalam diagram diatas, rumpun Min Dong), lalu dalam bahasa Inggris.



Ada sedikit warga Tionghoa di Indonesia dengan rumpun Min Dong, kalau tidak salah adalah Taipan Sudono Salim salah satunya.

Tambahan: http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/625-istilah-tiongkok-tionghoa-china-chinese-dan-cina

Mentimoen on twitter

Tidak ada komentar: