Kesehatan

Jumat, 05 Januari 2018

Resolusi Nurani di Tengah Paradoks Nilai



Resolusi Nurani di Tengah Paradoks Nilai

Selamat jalan tahun 2017. Selamat datang tahun 2018. Moment tahun baru bagi umat manusia dibumi selalu dimaknai dengan ekspresi dan pemaknaan yang berbeda-beda.
Ada yang menyambutnya dengan penuh gempita. Dirayakan dengan pesta kembang api, berwisata dan bersuka ria. Di tempat yang monumental mereka berkumpul, meniup keras sangkakala sehingga menggema sampai ke angkasa. Ekspresi kegembiraan muncul dimana-mana. Tradisi ini terjadi hampir di seluruh pelosok dunia dari gurun panas membakar hingga dinginnya Kutub Selatan dan Utara. Dari sisi ini, pergantian tahun dimaknai sebagai peristiwa budaya pesta dan peristiwa ekonomi yang sangat besar diseluruh dunia, yaitu pesta belanja.

Namun ada sebagian kecil yang berfikir jernih;
Apa artinya pergantian tahun?
Apakah ini tentang kembang api yang membahana di seluruh angkasa?
Apakah hanya tentang pesta?
Apakah tentang plesiran saja?
Apakah tentang belanja dan menghamburkan sumber daya?

Bukankah pergantian tahun sebenarnya hanya proses hitungan astronomi dan penanggalan belaka?
Ya,. !!
Ini hanya tentang pergantian dari durasi waktu yang satu ke durasi waktu yang lain sesuai kalender Masehi yang digunakan secara universal saat ini. Manusia hidup dalam suatu rentang ruang dan waktu, setiap manusia lahir ke dunia dengan kontrak durasi waktu dengan Alam Semesta.
Lahir, tua, sakit dan kematian adalah siklus yang terjadi bagi setiap kehidupan. Setiap orang memiliki durasi waktu yang berbeda-beda. Ini sudah ada dalam dokumentasi Langit sebelum proses kelahiran itu terjadi.

Lalu, apa makna waktu bagi kita?
Waktu sebenarnya mempunyai makna yang sangat penting bagi manusia menunaikan misi masing-masing sesuai prosesnya.
Tetapi, siapakah kita?
Dari manakah kita berasal?
Mengapa kita bisa berada disini?
Dan, kemanakah kita akan pergi?
Adalah pertanyaan ortodoks/murni di seluruh dunia. Pertanyaan filosofis ini, seiring orientasi pemikiran manusia yang semakin hari semakin materialistis menjadi terabaikan dan seperti lelucon saja.

Baru-baru ini kita dikagetkan dengan adanya temuan bahwa manusia bukan berasal dari dari bumi, tetapi datang dari suatu tempat yang sangat jauh_milyaran tahun cahaya. Barangkali berasal dari tempat yang belum kita bayangkan sebelumnya (neverland).
Sebuah riset para ahli astronomi yang dipublikasikan pada Juli 2017 pada Montly Notice of the Astronomical Society tentang Analisa Materi Galaksi menemukan bahwa 50% dari partikel atom yang ada di sistem Bima Sakti, di bumi dan pada manusia, bukan berasal dari tempat ini (bumi) melainkan berasal dari luar sistem tata surya nun jauh disana,..
http://epochtimes.id/2017/12/28/temuan-ilmiah-terbaru-2017-ubah-konsep-lama/

https://www.ancient-code.com/expert-claims-humans-are-aliens-and-we-were-brought-to-earth-hundreds-of-thousands-of-years-ago/




Mungkin temuan ilmiah diatas merupakan seruan terakhir bagi umat manusia untuk kembali menyadari tujuan dari keberadaannya. Sebuah peringatan yang begitu keras bagi seluruh ras untuk kembali ke jati diri kemanusiaannya..
13 November 2017 lalu, sebanyak 15.000 ilmuwan dari 184 Negara memberikan pernyataan bersama yang dipublikasikan pada majalah Bio Science bahwa "Apabila umat manusia tidak menghentikan perilaku tidak terpujinya terhadap bumi, maka bumi akan segera mengalami kehancuran."
Eksploitasi besar-besaran terhadap bumi, pembakaran bahan bakar fosil yang masif, penggundulan hutan, penangkapan organisme laut yang berlebihan, praktek pembuangan hasil limbah industri yang tidak didaur-ulang, perlombaan senjata nuklir dan perilaku tidak terpuji lainnya akan menyebabkan bumi semakin sakit dan menua lebih cepat dari sebelumnya. Dan bila bumi sudah tidak layak huni, bukankah itu sama artinya dengan kepunahan di muka bumi?

Kebanyakan orang di dunia menyongsong tahun baru dengan memahatkan sebuah resolusi. Resolusi adalah sebuah harapan yang ingin diwujudkan pada satu titik durasi waktu yang satu ke titik durasi waktu yang lain. Diawali tentang suatu intropeksi pada apa yang sudah tercapai dan belum diraih. Resolusi bisa diformulasikan sebagai hasil refleksi tahun lalu plus harapan di hari depan dan ditambah aksi untuk mewujudkan harapan tersebut.

Banyak pemberitaan media dalam dan luar negeri yang memetakan resolusi apa saja yang dibuat oleh manusia di seluruh belahan bumi. Akan tetapi, resolusi yang paling banyak dibuat seringkali berkisar tentang karier, kesuksesan, keluarga, hubungan dengan sesama, kesehatan dst,.
Jarang sekali dibuat sebuah resolusi yang mendasar yang mempertimbangkan segala faktor atau potensi yaitu bumi, manusia dan langit. Kebanyakan demi diri sendiri (egosentrisme) dan sangat jarang ditemukan demi kehidupan lain. Padahal bila temuan dan himbauan 15.000 ilmuwan itu benar yaitu ancaman kemusnahan bumi, walaupun resolusi egosentrisme itu tercapai, maka resolusi dan pencapaian itu semua tidak bernilai sama sekali. Diperlukan sebuah Resolusi Nurani bersama dari segenap ras manusia bahwa bumi ini ibarat sebuah bahtera besar yang menampung seluruh ras manusia. Komitmen bersama dari seluruh umat manusia untuk merawat bumi adalah sebuah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Bumi dan makhluk yang ada diatasnya ibarat ibu dan anaknya. Kebanyakan manusia memperlakukan bumi sebagai objek eksploitasi. Ini ibarat seorang anak yang durhaka pada ibunya.

Untuk membuat resolusi demi semua makhluk dan demi kesinambungan semua kehidupan, sejenak, manusia harus merenungkan eksistensinya. Inti dari eksisitensi jati dirinya yang murni adalah suara hatinya. Suara hati atau nurani adalah benang antara manusia dan yang menjadikannya berada dan seluruh kehidupan dalam semesta. Pada hakikatnya, bumi juga mengandung suatu sifat hakiki yang bisa menjadi penghubung keharmonisan antara manusia, bumi dan langit. Manusia perlu menemukan bahasa universal yang bisa menaharmonisasikan hubungan antara ketiganya sehinggga kesinambungan eksistensi bisa terwujud_karakter atau nilai. Bila orang berhasil mensinkronkan karakter diri, karakter bumi dan karakter langit, itu adalah sebuah kemajuan besar. Namun, ditengah karakter dan nilai yang saling paradoks satu sama lain akan sulit bagi manusia menemukan karakter apa yang merupakan "bahasa bersama" yang mengharmonisasikan tiga potensi (manusia, bumi dan langit).

Kita banyak menemukan manusia mempunyai karakter yang paradoks, misalnya: di satu sisi dia adalah pejuang HAM, tetapi di sisi lain, dia melanggar HAM demi tercapai tujuan perjuangan HAM nya. Di satu sisi, dia adalah pejuang anti-korupsi, namun di sisi lain, ia adalah bagian dari korupsi itu sendiri. Di satu sisi, dia adalah seorang Tokoh Agama dan Spiritual. Namun, disisi lain, dia melanggar nilai nilai Agama dan Spiritualitas. Fenomena inilah yang menunjukkan adanya paradoks nilai. Memperjuangkan kebenaran namun tidak tulus. Memperjuangkan eksistensi lingkungan tetapi sarat dengan muatan kepentingan. Memperjuangkan Agama dan Spiritual tetapi demi kekuasaan dan ketenaran.

Baik kerusakan dan kesinambungan, peperangan dan perdamaian, semuanya dimulai dari kepedulian dari individu ras manusia pada nuraninya. Tahun Baru 2018 ini, sejenak manusia seharusnya memprasastikan resolusi nurani ditengah segala macam paradox nilai yang seakan tak terbendung lagi. Cukup 3 karakter ajaib yang perlu disemaikan (dikultivasikan). Ketiga karakter ini bisa disebut karakter atau bahasa bersama yang bisa menghubungkan tiga potensi.
Tiga karakter ini adalah Sejati (Turthfulness), Baik (Benovelence) dan Sabar (Forbearence).
Hampir seluruh karakter positif yang tercatat dalam sejarah manusia bisa diringkas menjadi tiga karakter ini. Ia berada pada puncak hirarkis piramida dari karakter-karakter positif dunia.

Resolusi Nurani 2018

(Menjadi lebih sejati dan jujur)
Populasi orang jujur semakin langka keberadaannya. Banyak orang rela melakukan 1001 kebohongan dan konspirasi demi suatu kepentingan. Rela membuat pencitraan bermodal besar demi mendongkrak popularitas diri atau demi sebuah prestise, kekuasaan atau simpati publik.
Banyak orang yang ingin cepat kaya dengan jalan yang tidak lurus dengan menipu dan menyalah-gunakan wewenang dan kekuasaan. Ketidak-jujuran bisa melukai masyarakat dan alam.
Sebaliknya, orang jujur adalah orang yang punya kans lebih bahagia daripada orang yang tidak jujur. Dia tidak menentang suara hatinya. Walaupun kejujuran di tengah masyarakat yang tidak jujur terkadang pahit dan penuh derita, namun indah pada akhirnya. Seluruh kehidupan di langit menyambut dengan sukacita kepulangannya. Dalam dunia bisnis, sebenarnya kejujuran adalah intangible asset (aset tak berwujud) yang paling mahal.

Menjadi lebih baik dan berbelas kasih
Berbuat baik dan berbuat belas kasih sejati hanya bisa diwujudkan dengan melepas ego dan kepentingan pribadi. Berbuat baik dan berbelas kasih tanpa pamrih adalah perilaku orang suci dalam sejarah sehingga pengaruh dari kepemimpinan spiritualitas mereka tidak lekang oleh waktu.

Berikut ini kutipan dari kata-kata bijak Mother Theresa berkaitan dengan karakter baik;.
"Bila Anda jujur dan terbuka, mungkin orang lain akan menipumu, tetapi bagaimanapun juga, jujur dan terbukalah."
"Bila Anda baik hati bisa saja orang menuduhmu punya pamrih, tetapi bagaimanapun juga, berbaik hatilah."
"Bila Anda sukses, Anda akan mendapatkan beberapa teman palsu dan beberapa sahabat sejati. Tetapi bagaimanapun, sukseslah."
"Bila Anda mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan, boleh jadi orang menjadi iri. Tetapi bagaimanapun juga berbahagialah."
"Apa yang Anda bangun selama bertahun-tahun mungkin saja akan dihancurkan orang lain dalam semalam. Tetapi bagaimanapun juga tetaplah membangun."
"Kebaikan yang Anda lakukan sepanjang hari mungkin saja besok atau lusa sudah dilupakan orang lain. Tetapi walau bagaimanapun, berbuat-baiklah."
"Berikanlah yang terbaik dari dirimu, sampai pada akhirnya kamu akan tahu bahwa ini adalah urusan antara Anda dengan Tuhan, ini bukan urusan antara Anda dengan mereka."

Menjari sabar
Karakter ini adalah karakter yang terberat untuk diwujudkan pada setiap manusia.
Sampai-sampai aksara China menggambarkan kata sabar ( ren 忍 ) seperti jantung yang diatasnya tergantung sebilah pisau. Untuk mewujudkan ini, terkadang seseorang harus merasakan ketajaman tusukan. Ada pepatah mengatakan bahwa; "Sabar itu berat. Ujiannya sepanjang hayat dan datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu."

Dalam memperjuangkan nilai kebenaran dan kebaikan harus disempurnakan dengan kesabaran. Kalau tidak jadi tidak berarti apa-apa.
Kekuatan perjuangan dengan kesabaran ini dibuktikan oleh tokoh India, Mahatma Gandhi. Dengan perlawanan damai yang konsisten, kolonialisme Inggris di India bisa ditumbangkan. Walaupun pada akhirnya harus mengorbankan nyawa karena serangan extremis, Beliau sudah memaafkan pembunuhnya sebelum sang pelaku meminta maf.
Perjuangan penuh kesabaran ini juga dilakukan oleh kaum minoritas untuk menyadarkan rezim mayoritas yang menindas mereka.

Tiga karakter diatas apabila disemaikan disetiap pribadi dari ras manusia, maka bisa dipastikan dunia ini akan menjadi lebih baik lagi,.
Tentang tiga karakter manusia ini, kita bisa belajar pada bumi kita yang bijak.
Coba bayangkan apa yang terjadi apabila bumi tidak berkarakter sejati, tidak menurut orbit dan bergerak sesuai dengan ritme yang ditetapkan, satu tarian kecil saja bisa memusnahkan makhluk di atasnya. Bila bumi tidak berkarakter 'baik' bagaimana mungkin bumi selalu dengan tanpa ego nya memberikan apa yang dia punya untuk kesejahteraan kehidupan diatasnya.
Dan bagaimana bumi tidak berkarakter sabar, walau dieksploitasi dengan semena-mena, namun dia selalu berusaha memberikan yang terbaik. Seharusnya manusia berterima kasih pada bumi dan partikel dalam semesta, yang sejauh ini masih menjalankan fungsinya dengan cukup baik, Akan tetapi, sampai berapa lama? ?

Yang terakhir "Makhluk hidup diatas bumi mengikuti hukum bumi.
Bumi mengikuti galaksi bima sakti. Dan galaksi kita mengikuti hukum langit (Tao)."
Begitulah keterkaitan antara ketiga potensi (manusia, bumi dan langit), seperti yang diwejangkan para arif bijaksana.

Semoga tahun baru 2018 menjadi tonggak kemanusiaan kita dalam menjadikan bumi sebagai dunia baru yang lebih baik.

Salam Damai _/\_
Sumber : epochtimes.com

Tidak ada komentar: