Mungkin banyak yang belum tahu, Gaza adalah wilayah yang dikelola oleh pemerintahan Palestina Gaza secara mandiri, saat ini oleh Hamas. Wilayah itu bukan wilayah Israel, makanya ada garis batas dengan pagar kawat, dijaga oleh tentara Israel. Gaza adalah tempat strategis di Palestina, menghadap Laut Mediterania, dari jaman dulu sudah menjadi kota ramai. Sesudah Perang Dunia II, wilayah itu diserahkan oleh Inggris untuk diadministrasi oleh Mesir. Gaza menjadi bagian dari Mesir sampai tahun 1967, waktu Israel mengalahkan Mesir.
Dibawah Israel, Palestina bergolak, dibawah pimpinan Yasser Arafat sampai akhirnya tercapai perdamaian 1993 antara Yidzak Rabin & Yasser Arafat, bahwa PLO diberi kekuasaan mengadministrasi wilayah-wilayahnya sendiri, tetapi jangan menyerang2 Israel dan orang-orang Yahudi lagi.
PLO (Organisasi Pembebasan Palestina), walaupun setelah sekian lama menghimbau warga Palestina untuk tidak menyerang Israel tetapi tidak bisa mengendalikan warga-warga Palestina. Negara-negara Arab dan Iran juga terus menghasut, seakan-akan menyerang itu perbuatan mulia.
Di Gaza, pemukiman Yahudi diserang terus oleh warga Palestina.
Antara waktu itu sampai 2005, Israel melakukan banyak kebijakan.
Pertama, Israel menyerahkan hak untuk mengurus perbatasan Gaza - Mesir kepada pasukan Mesir. Dengan demikian, tentara Israel ditarik dari Perbatasan Gaza - Mesir.
Walaupun administrasi Gaza sudah diberikan pada PLO Al Fatah, tetap saja serangan-serangan warga Palestina dilancarkan pada pemukiman-pemukiman Yahudi di Gaza, sehingga tentara Israel bertahan disana, untuk menjaga keamanan.
Sementara itu, Israel membangun pagar kawat di perbatasan Israel Gaza untuk mencegah serangan-serangan orang Gaza pada penduduk di wilayah Israel.
Tetapi terjadi Intifada pada tahun 2000, orang-orang Palestina menghancurkan pagar2 itu dan kembali menyerang, lalu bentrok dengan IDF.
Tahun 2005, Israel memutuskan tidak mampu lagi melindungi pemukim Yahudi di Gaza. Lalu memaksa pemukim Yahudi itu meninggalkan rumah-rumah dan tanah-tanah mereka di Gaza. Terjadi protes besar-besaran orang Yahudi terhadap negara Israel. Tentara Israel melawan pemukim-pemukim Yahudi, menarik mereka keluar dengan paksa.
Dunia Internasional hanya menonton saja, mungkin karena yang diusir itu orang Yahudi, jadi dirasa tidak perlu dibela. Pengusiran paksa melibatkan ribuan tentara Israel, sering mereka terlihat menangis setelah dengan terpaksa, bertentangan dengan hati-nurani mereka harus menarik sesama orang Yahudi dari tanah mereka sendiri.
Ada 21 pemukiman Yahudi yang dikosongkan oleh tentara Israel. Setelah tidak ada lagi orang Yahudi yang bermukim di Gaza, tentara Israel keluar dari Gaza, menyerahkan administrasi dan pengaturan keamanan Gaza sepenuhnya pada pemerintahan Palestina.
Dengan keluarnya tentara Israel dari Gaza, mereka memperkuat pertahanan di perbatasan Gaza-Israel. Gaza diperlakukan sepenuhnya seperti negara lain. Walaupun supply dari Israel terus dilakukan, demi kemanusiaan. Sesudah tentara Israel keluar dari Gaza, ternyata menciptakan vakum, yang kemudian dipergunakan oleh kelompok garis keras Hamas, yang dianggap terroris oleh Amerika dan Israel.
Hebatnya, warga Gaza mendukung Hamas, mendepak kelompok Al-Fatah keluar.
Hanya dalam waktu singkat setelah tentara Israel ditarik dari Gaza, Hamas berhasil menguasai pemerintahan Gaza.
Israel menanggapi perkembangan ini dengan menutup perbatasan dengan Gaza, yang dinamakan blokade. Tapi Gaza masih ada perbatasan lain, yaitu dengan Mesir.
Ternyata Mesir juga menutup perbatasannya dengan Gaza.
Ini hebat,.. padahal dulunya Gaza itu wilayah Mesir. Tetapi Mesir sudah tahu kelakukan orang Gaza, mereka tidak mau negaranya kacau, jadi menutup perbatasannya adalah tindakan yang tepat.
Dimulut dibilang mendukung Gaza & Palestina, tetapi perbuatan beda.
Gaza waktu itu berpenduduk lebih dari 1 juta jiwa, sudah padat untuk wilayah sekecil itu. Tetapi mereka tidak memiliki sumber ekonomi lainnya. Dunia internasional merasa kasihan, dan mengalirlah bantuan ke Gaza. Iran & negara Arab yang mendukung Hamas juga memberikan bantuan... bahkan senjata.
Sepertinya penguasa Gaza memerlukan banyak manusia. Gaza sudah padat, bukannya menerapkan keluarga berencana, tapi malah beranak gak kenal musim seperti tikus. Akhirnya saat ini penduduk Gaza sudah mencapai 2 juta jiwa. OMG,.. Gila banget..
Nah, anak-anak yang merasa tidak punya harapan dan masa depan itu berani mati melakukan apapun.
Saat ini Gaza adalah sumber penyakit. Tidak ada negara Arab yang mau ikut campur kecuali memberikan dana keuangan hanya untuk pencitraan. Siapa yang mau menanggung Gaza dengan 2 juta jiwa dan terus bertambah karena mereka tidak mampu menahan syahwat dan sengaja memproduksi anak-anak yang harapan dan masa depannya tidak jelas?
Jelas Mesir ketakutan, perbatasan di tutup rapat2.
Siapa yang bisa menyalahkan Israel yang mencoba melindungi negaranya dari invasi jutaan orang-orang Gaza?
Israel pasti berusaha dengan segala daya upaya untuk mempertahankan pagar batas Gaza - Israel. Kalau kelompok Hamas masuk Israel, ya kacau deh. Jadi jangan harap Israel akan diam saja.
Masalah Gaza adalah bom waktu bagi wilayah itu. Itu adalah hasil kebodohan dan kemunafikan orang-orang Timur Tengah waktu itu. Jika waktu itu PLO tidak minta otoritas sendiri di wilayah itu, mereka tentu masih termasuk warga Israel, masih enak tuh jadi penduduk Israel.
Ancaman instabilitas Gaza itu mengancam Israel dan Mesir. Jika tidak hati-hati, Mesir bisa diinvasi orang-orang Gaza. Mereka sudah puluhan tahun hidup dalam cara pikir dan cara pandang Hamas, pasti akan bentrok dengan tentara Mesir.
Jika pun warga Gaza minta perbatasan dicabut dan wilayahnya diambil kembali menjadi wilayah Israel, pemerintah Israel pasti tidak akan mau.
Jadi Gaza adalah sisa masalah yang tidak terselesaikan, entah bagaimana jadinya dimasa akan datang.
Pertanyaan di benak semua pihak. Hamas jelas-jelas tahu pertahanan Israel di balik perbatasan Gaza-Israel kuat sekali. Kalau berusaha menjebol pertahanan itu pasti gagal dan akan mengakibatkan banyak korban pihak warga Gaza.
Pertanyaannya adalah: Lalu mengapa mereka mendorong-dorong warga Gaza membobol batas?
Mungkin jawabannya untuk pertanyaan diatas sederhana. Gaza tidak berhasil menciptakan aktifitas ekonomi yang benar. Penduduk Gaza bertahan hidup dari bantuan Internasional.
Kalau situasi damai-damai saja, dunia internasional akan lupa akan adanya Gaza, termasuk lupa mengirim bantuan. Jadi diperlukan menciptakan skenario seperti Hollywood untuk memenuhi media-media dunia, dan bantuanpun mengalir masuk. Dari dunia Barat karena rasa kemanusiaan, dari dunia Arab karena rasa ukhuwah islamiyah..
Mau rasa apa kek, yang penting kirim duit dan bantuan. Itulah target Hamas.
Jadi, semua urusan ini kembali lagi ke masalah mendasar, UJUNG2NYA DUIT.
Soal duit ini berimbas luas. Dunia luar cuma tahu bahwa warga Gaza marah ke Israel dan mau menjebol pagar perbatasan Israel.
Yang umumnya orang tidak tahu dibalik semua itu adalah kemunafikan negara-negara Arab, bahkan sesama rekan orang Palestina sendiri.
Mari kita periksa.
Warga Gaza selalu protes Israel menutup pintu keluar Gaza ketika ada masalah. Padahal pintu keluar masuk Gaza banyak, dan beberapa diantaranya sering dibuka Israel. Yang sering ditutup justru pintu keluar masuk bagian Mesir. Tetapi Mesir tidak mau pusing, pintu Rafah Crossing ditutup aja.
Lalu kenapa tidak ada warga Gaza yang protes ke Mesir?
Ya,. karena kalau mereka lakukan, tidak akan mengundang perhatian media internasional.
Kemunafikan lain dibalik semua kecamuk ini adalah Pemerintah Palestina dibawah Mahmoud Abbas. Masalah dengan pemerintah pusat Palestina ini masalah persaingan politik antara Hamas dengan Al Fatah. Sesudah Israel menarik diri dari Gaza, Hamas mengisi kekosongan, dan menjadi penguasa Gaza, mendepak Al-Fatah jauh-jauh.
Pemerintah Palestina membalas dengan memboikot Gaza.
Pemerintah Palestina di Ramallah sering menolak bayar gaji pegawai negeri di Gaza. Padahal uang pegawai negeri ini adalah pemasukan cukup besar untuk Gaza.
Bulan lalu kembali lagi, Pemerintah Palestina menolak bayar gaji pegawai Gaza, dan ini bikin warga Gaza marah. Padahal ini pegawai sdh dikurangi banyak. Pemerintah Palestina memecat banyak pegawai di Gaza tahun lalu, mengurangi anggaran kesehatan dan mengurangi daya listrik yg masuk wilayah Gaza.
Anda tahu apa yang terjadi waktu listrik dikurangi di Gaza?
Pusat water treatment air-air buangan tidak jalan karena listrik tidak cukup. Akhirnya kotoran buangan 2 juta warga Gaza bau tidak terurus, terpaksa dibuang langsung. Air buangan masuk laut mengotori pantai Gaza, masuk ke pantai-pantai Israel. Israel dibuat pusing dengan banyaknya najis yang terapung dipantai.
97% air "bersih" di Gaza tercemar oleh buangan kotoran manusia. Itu sangat membuat stress, warga terkena kolera dlsb.
Tetapi herannya, yang penyebab semua itu adalah persaingan dengan Pemerintah Palestina di Ramallah, tetapi yang diserang malah Israel. Bagaimana urusannya mau selesai ?.
Karena masalah kotornya Gaza bisa membuat penyakit berjangkit, dan pantai2 kotor juga masuk ke wilayah Israel, akhirnya Israel berinisiatif mensupply listrik untuk menjalankan water treatment di Gaza.
Pemerintah Palestina di Ramallah pura abai, pura tuli dan tidak mau tahu, pura-pura tidak tahu.
Gaji pegawai Gaza bulan April 2018 lagi-lagi dipotong 20% oleh Pemerintah Palestina, dan selalu terlambat lagi bayarnya.
Kemarahan warga Gaza memuncak..
Jadi mari serbu.... Israel !!
wkwkwkwkw ..........
Setelah kejadian penyerbuan pagar batas Senin yang berakibat lusinan nyawa tewas, pemimpin Palestina Mahmoud Abbas mengecam Israel, dan dia menerima belasungkawa dari banyak negara2 lain, termasuk tilpon2an dengan Erdogan.
Weleh, padahal dia sendiri salah satu faktor dari masalah! Yang paling miris adalah ketika pimpinan Hamas Ismail Haniya mengunjungi para "protester" di dekat pagar perbatasan. Dia senyum-senyum sambil melambai-lambaikan, tangan padahal korban sudah banyak sekali. Pengikutnya juga senang dengan senyumannya.
Bagi politisi seperti ini, nyawa anak-anak muda tidak ada artinya..
Sebagai kepala pemerintah Gaza, dengan 60 orang mati dalam sehari, bukankah dia sehrusnya datang dengan prihatin mendesak agar anak2 muda tidak mati konyol seperti itu?
Bukankah sebaiknya mengunjungi rumah sakit?
Pimpinan Hamas ini memainkan kartu politiknya, dia malah memberikan semangat!
Padahal sebelum tragedi Senin itu, Haniya dipanggil menghadap pimpinan intelligence Mesir. Mesir meminta Hamas jangan melakukan rencananya hari Senin.
Sesudah kejadian, Hamas dengan enteng bilang: "Anak-anak muda yang sedang panas tidak bisa dikendalikan.. " hickss ......
Hal lain yang berkontribusi pada tingginya angka kematian warga Palestina, dan antusiasme warga Palestina untuk menjadi syahid adalah DANA SYAHID.
Dana ratusan juta dollar disumbang oleh negara-negara kaya minyak sudah menjadi pendorong bagi berkembangnya ekonomi syahid.
Karena sebagian besar warga Gaza menganggur, cara aneh untuk dapat penghasilan adalah membuat banyak anak. Lalu anaknya didorong untuk mati syahid. Orang tua kemudian mendapat dana besar sekali untuk setiap anak yang mati.
Foto disamping ini adalah orang tua Moh. Tarayrah, seorang remaja yang membunuh gadis kecil Yahudi bernama Hallel. Tarayrah ditembak mati, dan karena itu perbuatah syahid menurut orang Palestina, orangtuanya mendapat santunan $350/bulan. Kalo ada 4 anak saja yang syahid, kaya laa orang tua itu.
Dibawah adalah Foto: Hallel, gadis kecil Yahudi.
Karena banyaknya warga Palestina yang mencoba mati syahid, tahun 2016, ada 35 ribu keluarga yang mendapat santunan, dengan anggaran tahun itu $170 juta. Inilah ekonomi syahid, peredaran duit yang eksis karena menciptakan syahid terus menerus.
Kalau mau berbakti pada orang tua, maka syahid lah. Kalau seseorang tidak berhasil syahid, tapi ditangkap tentara Israel dan dipenjara. Dia juga dapat gaji bulanan. Ini daftar gajinya, gede lho.
Pemerintah Palestina semena-mena tidak membayar, atau potong gaji pegawai, tetapi mereka konsisten membayar santunan syahid seperti ini.
Sewaktu pimpinan Palestina Moh. Abbas ditanya soal hal ini, dia bilang pembayaran uang syahid dan santunan gaji tersebut adalah tanggung jawab sosial, tidak boleh diberhentikan.
Jadi, tidak heran jika banyak anak-anak dilahirkan untuk diindoktrinasi supaya mati syahid.
Pemerintah Palestina pelit dengan masalah kesejahteraan umum, listrik, air bersih, kesehatan dsb. Duitnya cekak melulu, bayar gaji pegawai di Gaza telat, dipotong seenaknya.
Tapi kalo bayar uang santunan syahid, tidak pernah lupa. Ini menciptakan situasi yang gila di sana.
Soal Dana Syahid ini sudah dikenal lama, sejak berpuluh2 tahun silam. Pemerintah Israel berusaha menekan pemerintah Palestina untuk menghentikannya. Karena akibatnya kekerasan dan mati konyol tidak akan ada habis-habisnya.
Selama bertahun-tahun beberapa pihak selalu mencoba memperingatkan Palestina agar jangan bertindak segila itu. Tetapi tidak pernah digubris. Salah satu sebabnya mungkin, adalah gampang cari sponsor dari dana tersebut. Dana itu juga masuk ikut menggairahkan ekonomi Palestina.
Lha orangnya nganggurkoq !
Terakhir,..
Ini sehendaknya menjadi pelajaran bagi Bangsa Indonesia.
Hindarilah kata martir atau syahid. Dan kalo ada INSENTIF MONETER untuk MATI SYAHID, habislah Negeri Kesatuan Republik Indonesia milik kita.
MENGENAL PETA ISRAEL
( Mengenal Israel dan permasalahannya dalam sejarah dari segi geografi politik )
Perhatikan wilayah2 yang pernah/sedang dipersengketakan terlampir di foto di bawah postingan ini. Gaza ada di Selatan tepi pantai, Tepi Barat (West Bank) ada di tengah, berbatasan dengan Yordania.
Lalu, dimanakah letak Israel dalam benak orang-orang Yahudi sebagai tempat sakral mereka?, Tanah Perjanjian yang konon diberikan Tuhan?
Luas total Israel sekitar 20 ribu km2, lebih besar sedikit daripada Timor Timur.
Ada 2 tempat yang dianggap Yahudi tempat sakral moyang mereka, yaitu:
1. Lokasi Kerajaan Israel (Samaria) dan
2. Kerajaan Judah (Judea).
Jika dipetakan, Samaria ada disekitar WestBank bagian Utara, lalu Judea ada di WestBank bagian Selatan dan sekitarnya. Gaza sebenarnya termasuk ke dalam bagian Judea. Letaknya di Jerusalem selatan_meliputi Gaza, tetapi tidak sampai ke bagian paling selatan. Samaria terletak di tengah. Sedangkan di kota Nazareth, termasuk dalam wilayah Galilea. Galilea adalah wilayah yang bagi orang Kristen punya arti besar, tetapi tidak begitu dipedulikan oleh Yahudi.
Karena Gaza adalah bagian dari Judea, Perdana Menteri Israel pernah mengusulkan pemisahan Gaza dari Israel. Rencana tersebut ditanggapi dengan penolakan keras sebagian pimpinan Israel, sehingga perlu diadakan Referendum. Referendum menyetujui.
Artinya, mereka lebih memilih mengorbankan Gaza untuk ketentraman wilayah2 lain.
Ini terbukti. Kerusuhan Gaza tidak nyebar.
Westbank,.. walaupun sampai saat ini sebagian ada dalam kendali Palestina, sebagian warga Israel sulit melepaskannya, karena itu masih termasuk bagian dari Samaria dan Judea.
Sejarah belum berakhir, lihat saja perkembangannya.
Tempat paling nyaman buat penduduk Israel keturunan Arab mungkin adalah di Galilea, sebelah utara Israel. Tensi politik lebih kurang terasa disana, dan mereka ( warga Israel - Arab Kristen ) bisa santai pelihara babi untuk dikonsumsi tanpa diresehin oleh pemerintah lokal Israel yang terkadang suka anti babi. :D
Daerah yang nanti akan paling parah sengketanya adalah Hebron, kota dimana penduduk Arab muslimnya fundamentalis, ditambah dengan pemukim Yahudi fundamentalis yang tinggal disana. Ibarat bom waktu, sudah tinggal menunggu waktu meledak kapan saja.
Pemukim Yahudi di Hebron terkenal sadis2 tetapi payah. :(
Wanita Israel Arab yang lain banyak yang amit2 kalau harus kawin dengan pria Hebron. Ibarat cewek urban di Indonesia disuruh kawin dengan cowok propinsi Shariah yang masih suka maksa2 cewek "ga boleh ini itu."
Beda dengan Ramallah, ibukota Palestina, orang2nya lumayan baik, lebih liberal..
Kalau mau Israel - Palestina yang damai, seharusnya Negara itu dikelola oleh warga liberal dari Tel-Aviv dan Ramallah.
Arab dan Yahudi liberal jauh lebih gampang duduk berdialog dan bekerja sama dengan baik dibandingkan dengan para fundamentalis muslim & fundamentalis Yahudi.
Di bawah ini ada foto kota Nazareth, tempat yang dianggap tempat orang tua Jesus berasal dan tinggal. Karena itulah Jesus lebih sering berkelana di Galilea.
( Mengenal Israel dan permasalahannya dalam sejarah dari segi geografi politik )
Perhatikan wilayah2 yang pernah/sedang dipersengketakan terlampir di foto di bawah postingan ini. Gaza ada di Selatan tepi pantai, Tepi Barat (West Bank) ada di tengah, berbatasan dengan Yordania.
Lalu, dimanakah letak Israel dalam benak orang-orang Yahudi sebagai tempat sakral mereka?, Tanah Perjanjian yang konon diberikan Tuhan?
Luas total Israel sekitar 20 ribu km2, lebih besar sedikit daripada Timor Timur.
Ada 2 tempat yang dianggap Yahudi tempat sakral moyang mereka, yaitu:
1. Lokasi Kerajaan Israel (Samaria) dan
2. Kerajaan Judah (Judea).
Jika dipetakan, Samaria ada disekitar WestBank bagian Utara, lalu Judea ada di WestBank bagian Selatan dan sekitarnya. Gaza sebenarnya termasuk ke dalam bagian Judea. Letaknya di Jerusalem selatan_meliputi Gaza, tetapi tidak sampai ke bagian paling selatan. Samaria terletak di tengah. Sedangkan di kota Nazareth, termasuk dalam wilayah Galilea. Galilea adalah wilayah yang bagi orang Kristen punya arti besar, tetapi tidak begitu dipedulikan oleh Yahudi.
Karena Gaza adalah bagian dari Judea, Perdana Menteri Israel pernah mengusulkan pemisahan Gaza dari Israel. Rencana tersebut ditanggapi dengan penolakan keras sebagian pimpinan Israel, sehingga perlu diadakan Referendum. Referendum menyetujui.
Artinya, mereka lebih memilih mengorbankan Gaza untuk ketentraman wilayah2 lain.
Ini terbukti. Kerusuhan Gaza tidak nyebar.
Westbank,.. walaupun sampai saat ini sebagian ada dalam kendali Palestina, sebagian warga Israel sulit melepaskannya, karena itu masih termasuk bagian dari Samaria dan Judea.
Sejarah belum berakhir, lihat saja perkembangannya.
Tempat paling nyaman buat penduduk Israel keturunan Arab mungkin adalah di Galilea, sebelah utara Israel. Tensi politik lebih kurang terasa disana, dan mereka ( warga Israel - Arab Kristen ) bisa santai pelihara babi untuk dikonsumsi tanpa diresehin oleh pemerintah lokal Israel yang terkadang suka anti babi. :D
Daerah yang nanti akan paling parah sengketanya adalah Hebron, kota dimana penduduk Arab muslimnya fundamentalis, ditambah dengan pemukim Yahudi fundamentalis yang tinggal disana. Ibarat bom waktu, sudah tinggal menunggu waktu meledak kapan saja.
Pemukim Yahudi di Hebron terkenal sadis2 tetapi payah. :(
Wanita Israel Arab yang lain banyak yang amit2 kalau harus kawin dengan pria Hebron. Ibarat cewek urban di Indonesia disuruh kawin dengan cowok propinsi Shariah yang masih suka maksa2 cewek "ga boleh ini itu."
Beda dengan Ramallah, ibukota Palestina, orang2nya lumayan baik, lebih liberal..
Kalau mau Israel - Palestina yang damai, seharusnya Negara itu dikelola oleh warga liberal dari Tel-Aviv dan Ramallah.
Arab dan Yahudi liberal jauh lebih gampang duduk berdialog dan bekerja sama dengan baik dibandingkan dengan para fundamentalis muslim & fundamentalis Yahudi.
Di bawah ini ada foto kota Nazareth, tempat yang dianggap tempat orang tua Jesus berasal dan tinggal. Karena itulah Jesus lebih sering berkelana di Galilea.
MELAWAN ISLAMISME (ISLAM POLITIK RADIKAL).. KENAPA BARAT GAGAL?
Islamisme adalah ideologi yang memaksakan penerapan Islam dalam politik. Tujuan akhir membentuk Khilafah, dengan cara pandang sempit aliran tertentu "yang dipaksakan."
Kegagalan Barat sesudah Perang Dunia II dalam membendung Islamisme bersumber dari 2 faktor.
a. Perasaan bersalah karena telah melakukan kolonialisme sebelumnya.
b. Fokus pada keuntungan jangka pendek dan menganggap remeh ancaman Islamisme.
Perasaan bersalah kolonialisme sudah terjadi sejak awal abad ke-20. Belanda dulu melaksanakan kebijakan balas-budi karena merasa bersalah sudah mengkoloni Nusantara. Perasaan bersalah inilah yang melancarkan proses dekolonialisasi sesudah Perang Dunia II.
Tetapi perasaan berasalah tidak berhenti sampai disana. Di Eropa, secara umum kelompok liberal dengan cepat akan mengkritik kebijakan-kebijakan yang bersifat mengekang kebebasan manusia. Tetapi ketika berhadapan dengan kebijakan serupa dari praktek Islam, mereka berubah menjadi sangat lembut.
Perasaan bersalah ini juga yang membuat mereka tidak bisa menolak banyak sekali serbuan immigran dari Timur Tengah. Mereka akan dengan cepat mengkritik jika warganya sendiri melakukan hal-hal yang dianggap melanggar hak manusia. Tetapi ketika imigran muslim yang melakukan, mereka pura2 tidak mendengar atau melihat.
Hal ini bukan hanya bermasalah bagi warga lain, termasuk beban bagi generasi muda immigran tersebut. Generasi muda menjadi betah dalam ghetto masing2, dan menjadi seperti ikan air tawar di laut dalam masyarakat tsb.
Akhirnya banyak yang kemudian menjadi kelompok islamist garis keras.
Faktor kedua, terlalu fokus pada keuntungan jangka pendek, seperti yang dilakukan superpower Amerika.
Demi pergulatan melawan Soviet dalam Perang Dingin, mereka malah membesarkan kelompok2 mujahid di Afghan melawan Soviet. Memang sukses, sampai akhirnya mujahid itu jadi Taliban.
Artinya, demi keuntungan jangka pendek, mereka membesarkan permasalahan lebih besar lagi dalam jangka panjang. Dan yang terkena imbasnya juga negara2 muslim itu sendiri, karena banyak unsur2 Islamis Radikal Transnasional yang berkeliaran di-mana2 yang bermasalah, ikut berulah.
Sistem politik dimana setiap presiden harus menghadapi pemilu selama 4 tahun sekali, membuat cara pikir demi keuntungan jangka pendek menjadi dominan.
Setiap presiden ingin kesuksesan terjadi dengan cepat, mereka gagal fokus pada tujuan jangka panjang.
Tetapi kelompok radikal dan konservatif Islamis panjang pemikirannya. Ini bukan hanya tentang ISIS, tetapi secara umum yang mau mendirikan Negara Islam atau Khilafah. Umumnya mereka itu sabar, sedikit demi sedikit melakukan proses islamisasi sosial politik. Ini terjadi di-mana2 !!. Kelompok Islamist tidak ragu2 bekerja-sama dengan yang lain, asal nanti bisa mendapat keuntungan. Sekali menjabat sesuatu, cepat sekali ekosistem habitat tempatnya bercokol berubah. Orang2 diganti, budaya diubah, dst.
Ini sangat terasa di Indonesia, lama2 makin agamis toh !?
Cara untuk melawan Islamisme itu sehendaknya menggunakan cara pergulatan jangka panjang, strategis untuk bukan hanya defensif tetapi offensif. Cara menyodorkan pandangan keagamaan yang lebih lembut tidak akan sukses, karena sebenarnya Islamisme jauh lebih canggih cara kerjanya. Salah Satu cara yang sukses adalah mencontoh Negara lain dalam menghadapi penguasa2 Agama tempo dulu, yaitu dengan menciptakan masyarakat sekular.
Dalam masyarakat sekular, beragama itu urusan pribadi. Dan ini harus diterapkan SECARA KERAS !!.
Kelompok Agama yang inklusif, ketika bersanding dengan kelompok yang ekslusif seperti Islamis, pasti yang Islamist akan menang dalam jangka panjang. Karena ideologi mereka lebih aggresif, lebih praktis dalam menyingkirkan musuh, dan lebih indoktrinatif. Pemahaman Agama yang lebih lembut akan gagal.
Saat ini, negara2 yang cukup sukses, setidaknya bisa menskak kelompok Radikal Islamist pada tempatnya adalah negara2 seperti China, Russia, Israel. Sementara Eropa makin lemas dilanda Islamisme, ..
Kenapa mereka sukses?
Karena mereka tidak menggunakan tipu2 diri sendiri. Kalau terlihat ada yang tidak benar, langsung bilang "itu tidak benar!", ga pake baper...
Anda tidak akan bisa menghadapi kelompok Islamis radikal kalau selalu merasa tidak enak hati. Mau bilang bahwa negara harus sekular, tapi rasa ga enak? Yaa,.. gak bakal sukses laa.
Mungkin ada yang bilang, "waduh, di China Agama dikesampingkan.."
Iya benar. Tetapi masyarakat bukan atau tidak dilarang untuk beragama.
Orang boleh bebas beragama, tetapi kegiatannya diminimalisasi.
Tapi apakah hal itu berdampak buruk atau sebaliknya bagi mereka?
Kenyataannya, China mampu melonjak maju gila2an karena tidak ada hambatan fundamentalisme Agama.
Agama hanya bisa menjadi Agama damai secara benar jika DIBATASI ruang lingkupnya. Bahkan Agama Buddha yang termasuk paling damai, ternyata kalau tidak dibatasi juga akan bermasalah, seperti yang terjadi di Burma/Myanmar.
Tantangannya adalah: "Apakah NKRI berani mengambil langkah strategis jangka panjang dengan membatasi ruang lingkup Agama?"
Memang, Negara menjamin kebebasan dalam banyak hal seperti yang tercantum dalam Pasal 28E ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (“UUD 1945”), "Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, dlsbg. Tetapi bukan berarti bebas semau gue. Itu bukan lagi kebebasan melainkan kebablasan.
Demi kemajuan sebagai bangsa, mungkin hal ini patut menjadi bahan pertimbangan. Agama harus dibatasi hanya di lingkup personal, tidak boleh keluar dari lingkup itu. Kalau tidak, nasib NKRI sudah tertakar.
Dengan membatasi Agama apapun dalam politik dan kehidupan berbangsa dan bernegara, Agama akan kembali ke fungsi sebenarnya, yaitu fungsi budaya.
Keluarkan Agama dari seluruh sistem atau urusan Negara, biarkan Institusi Agama yang mengurus umat dan ritual Agama mereka masing-masing.
Terus bersambung,...
Islamisme adalah ideologi yang memaksakan penerapan Islam dalam politik. Tujuan akhir membentuk Khilafah, dengan cara pandang sempit aliran tertentu "yang dipaksakan."
Kegagalan Barat sesudah Perang Dunia II dalam membendung Islamisme bersumber dari 2 faktor.
a. Perasaan bersalah karena telah melakukan kolonialisme sebelumnya.
b. Fokus pada keuntungan jangka pendek dan menganggap remeh ancaman Islamisme.
Perasaan bersalah kolonialisme sudah terjadi sejak awal abad ke-20. Belanda dulu melaksanakan kebijakan balas-budi karena merasa bersalah sudah mengkoloni Nusantara. Perasaan bersalah inilah yang melancarkan proses dekolonialisasi sesudah Perang Dunia II.
Tetapi perasaan berasalah tidak berhenti sampai disana. Di Eropa, secara umum kelompok liberal dengan cepat akan mengkritik kebijakan-kebijakan yang bersifat mengekang kebebasan manusia. Tetapi ketika berhadapan dengan kebijakan serupa dari praktek Islam, mereka berubah menjadi sangat lembut.
Perasaan bersalah ini juga yang membuat mereka tidak bisa menolak banyak sekali serbuan immigran dari Timur Tengah. Mereka akan dengan cepat mengkritik jika warganya sendiri melakukan hal-hal yang dianggap melanggar hak manusia. Tetapi ketika imigran muslim yang melakukan, mereka pura2 tidak mendengar atau melihat.
Hal ini bukan hanya bermasalah bagi warga lain, termasuk beban bagi generasi muda immigran tersebut. Generasi muda menjadi betah dalam ghetto masing2, dan menjadi seperti ikan air tawar di laut dalam masyarakat tsb.
Akhirnya banyak yang kemudian menjadi kelompok islamist garis keras.
Faktor kedua, terlalu fokus pada keuntungan jangka pendek, seperti yang dilakukan superpower Amerika.
Demi pergulatan melawan Soviet dalam Perang Dingin, mereka malah membesarkan kelompok2 mujahid di Afghan melawan Soviet. Memang sukses, sampai akhirnya mujahid itu jadi Taliban.
Artinya, demi keuntungan jangka pendek, mereka membesarkan permasalahan lebih besar lagi dalam jangka panjang. Dan yang terkena imbasnya juga negara2 muslim itu sendiri, karena banyak unsur2 Islamis Radikal Transnasional yang berkeliaran di-mana2 yang bermasalah, ikut berulah.
Sistem politik dimana setiap presiden harus menghadapi pemilu selama 4 tahun sekali, membuat cara pikir demi keuntungan jangka pendek menjadi dominan.
Setiap presiden ingin kesuksesan terjadi dengan cepat, mereka gagal fokus pada tujuan jangka panjang.
Tetapi kelompok radikal dan konservatif Islamis panjang pemikirannya. Ini bukan hanya tentang ISIS, tetapi secara umum yang mau mendirikan Negara Islam atau Khilafah. Umumnya mereka itu sabar, sedikit demi sedikit melakukan proses islamisasi sosial politik. Ini terjadi di-mana2 !!. Kelompok Islamist tidak ragu2 bekerja-sama dengan yang lain, asal nanti bisa mendapat keuntungan. Sekali menjabat sesuatu, cepat sekali ekosistem habitat tempatnya bercokol berubah. Orang2 diganti, budaya diubah, dst.
Ini sangat terasa di Indonesia, lama2 makin agamis toh !?
Cara untuk melawan Islamisme itu sehendaknya menggunakan cara pergulatan jangka panjang, strategis untuk bukan hanya defensif tetapi offensif. Cara menyodorkan pandangan keagamaan yang lebih lembut tidak akan sukses, karena sebenarnya Islamisme jauh lebih canggih cara kerjanya. Salah Satu cara yang sukses adalah mencontoh Negara lain dalam menghadapi penguasa2 Agama tempo dulu, yaitu dengan menciptakan masyarakat sekular.
Dalam masyarakat sekular, beragama itu urusan pribadi. Dan ini harus diterapkan SECARA KERAS !!.
Kelompok Agama yang inklusif, ketika bersanding dengan kelompok yang ekslusif seperti Islamis, pasti yang Islamist akan menang dalam jangka panjang. Karena ideologi mereka lebih aggresif, lebih praktis dalam menyingkirkan musuh, dan lebih indoktrinatif. Pemahaman Agama yang lebih lembut akan gagal.
Saat ini, negara2 yang cukup sukses, setidaknya bisa menskak kelompok Radikal Islamist pada tempatnya adalah negara2 seperti China, Russia, Israel. Sementara Eropa makin lemas dilanda Islamisme, ..
Kenapa mereka sukses?
Karena mereka tidak menggunakan tipu2 diri sendiri. Kalau terlihat ada yang tidak benar, langsung bilang "itu tidak benar!", ga pake baper...
Anda tidak akan bisa menghadapi kelompok Islamis radikal kalau selalu merasa tidak enak hati. Mau bilang bahwa negara harus sekular, tapi rasa ga enak? Yaa,.. gak bakal sukses laa.
Mungkin ada yang bilang, "waduh, di China Agama dikesampingkan.."
Iya benar. Tetapi masyarakat bukan atau tidak dilarang untuk beragama.
Orang boleh bebas beragama, tetapi kegiatannya diminimalisasi.
Tapi apakah hal itu berdampak buruk atau sebaliknya bagi mereka?
Kenyataannya, China mampu melonjak maju gila2an karena tidak ada hambatan fundamentalisme Agama.
Agama hanya bisa menjadi Agama damai secara benar jika DIBATASI ruang lingkupnya. Bahkan Agama Buddha yang termasuk paling damai, ternyata kalau tidak dibatasi juga akan bermasalah, seperti yang terjadi di Burma/Myanmar.
Tantangannya adalah: "Apakah NKRI berani mengambil langkah strategis jangka panjang dengan membatasi ruang lingkup Agama?"
Memang, Negara menjamin kebebasan dalam banyak hal seperti yang tercantum dalam Pasal 28E ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (“UUD 1945”), "Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, dlsbg. Tetapi bukan berarti bebas semau gue. Itu bukan lagi kebebasan melainkan kebablasan.
Demi kemajuan sebagai bangsa, mungkin hal ini patut menjadi bahan pertimbangan. Agama harus dibatasi hanya di lingkup personal, tidak boleh keluar dari lingkup itu. Kalau tidak, nasib NKRI sudah tertakar.
Dengan membatasi Agama apapun dalam politik dan kehidupan berbangsa dan bernegara, Agama akan kembali ke fungsi sebenarnya, yaitu fungsi budaya.
Keluarkan Agama dari seluruh sistem atau urusan Negara, biarkan Institusi Agama yang mengurus umat dan ritual Agama mereka masing-masing.
Terus bersambung,...





















Tidak ada komentar:
Posting Komentar