Kesehatan

Kamis, 24 Mei 2018

PENJELASAN TENTANG "TUHAN" PARA SAINTIS DAN MATEMATIKAWAN.

          Para saintis dan matematikawan sering menggunakn metafor TUHAN dalam mendeskripsikan pandangan mereka. Apa artinya?
Memang ada metafor Tuhan dalam filsafat Spinoza, yang kemarin di bahas dalam artikel Panteisme di bawah ini. Tetapi untuk Sains dan Matematik, terutama bukan melulu pandangan seperti itu ketika mereka menggunakan metafor "Tuhan".

Beberapa saat lalu, saya juga membuat tulisan tentang PENJELASAN TENTANG ATHEISM dan APA ITU PANTEISME. Untuk yang belum membaca, bagusnya dibaca dulu, karena antara Panteisme dan Atheisme ini ada hubungannya dengan artikel kita kali ini.
Mari kita bedah,..

PENJELASAN TENTANG ATHEISM.



      THEISM adalah kepercayaan terhadap Tuhan. Tuhan Theist bisa bermacam-macam. Karena itulah seorang Theist pasti menganut satu ideologi yang menjelaskan Tuhannya seperti apa. Ideologi itu namanya kepercayaan atau Agama.
ATHEISM itu adalah A-THEISM. A disini artinya NEGASI atau BUKAN.
Jadi, Atheism itu artinya BUKAN THEISM. Atheism cuma satu kondisi dimana seseorang TIDAK PERCAYA AKAN ADANYA SATU SOSOK TUHAN PENCIPTA ALAM. Atheism bukan ideologi, bukan faham, bukan kepercayaan.

Lalu ada yang bertanya, "lalu Atheism mau percaya apa dong?"
Jawabannya, yaa,.. terserah masing-masing atheist tersebut laa. Itu urusan mereka. Atheism sendiri tidak memiliki kepercayaan alternatif. Atheist berarti orang yang tidak percaya sama theism, itu saja!.

Kemudian ada pertanyaan-pertanyaan seperti: "Lalu bagaimana pendapat atheist tentang X? (x isi sendiri saja).
Jawabnya, tidak ada !!. 
Atheism tidak punya pendapat apapun. Yang berpendapat seperti itu masing-masing Atheist, sekelompok kecil saja. Walaupun mungkin banyak dari mereka yang pendapatnya mirip atau hampir serupa.

Apakah Atheist bisa percaya tahyul?  
Jawabnya, BISA.
Walaupun umumnya atheist itu rasional, logis, berbasis fakta, semua itu bukan prasyarat jadi atheist. Atheist bisa juga bodoh, bisa percaya tahyul, bisa jahat. Dia atheist karena TIDAK PERCAYA ALAM DICIPTAKAN TUHAN.

Lalu bagaimana terjadinya alam menurut atheist?
Sudah dibilang berkali-kali, atheism itu tidak punya pendapat! Walaupun begitu, UMUMNYA atheist menyerahkan pada Sains untuk menjawab semua hal yang berhubungan dengan eksistensi di alam raya. Umumnya atheist berpegang pada Sains (tapi gak harus) !! titit.

Apakah atheism itu PILIHAN?
Bukan, seseorang tidak memilih jadi atheist !!. 
Pada saat dia tidak percaya pada adanya Sosok Personal Tuhan Pencipta otomatis dia atheist. Pada saat dia percaya lagi, otomatis bukan atheist !!.

Apakah ada ILMU Atheist?
Ampun beribu ampun !! 
Ga ada !!. 
Atheism itu bukan ilmu, bukan faham, bukan ideologi seperti dijelaskan diatas. Tidak ada yang bisa dipelajari dari atheism. Sekali lagi saya tegaskan, A-theism hanyalah kondisi disaat ketika orang tidak percaya pada adanya Tuhan Pencipta.

Lalu darimana sumber moral seorang Atheist?
Moral manusia berasal dari genetiknya yang melahirkan hati nurani dan empati. Kemudian juga dari akal budi yang membuatnya bisa menimbang2 akibat2 perbuatannya, dari interaksi-interaksi sosialnya, dari lingkungan tempatnya bersosialisasi, dlsbg.

Apakah atheist merasa diri sebagai atheist?
TIDAK SELALU! 
Tergantung lingkungannya. 
Kalo dia berada di lingkungan orang-orang fanatik agama, dia merasa bahwa dia berbeda. Selain itu, umumnya atheist bahkan tidak pernah berpikir bahwa dia atheist. Dia bisa seorang pencinta alam, tukang makan, dsb.

Apa beda Freethinker dan Atheist?
Freethinker itu seseorang yang berpikir independen, menolak dogma atau doktrin. Karena itu bisa dipastikan freethinker tidak percaya pada agama yang terinstitusi. Umumnya freethinker itu juga atheist.

Gimana belajar jadi atheist?
Tidak ada orang yang belajar jadi atheist, tetapi keatheisannya otomatis terbentuk ketika dia tidak percaya adanya Tuhan Pencipta. Tapi kalau Anda sudah tidak percaya, mau diobati dengan apapun kamu tetap atheist.

Gimana kalo saya percaya pada Tuhan yang tidak menciptakan alam raya, gak ngurusin alam raya?
Helloww.. kayaknya kamu  sudah atheist. 
Atheist cuma tidak percaya ada Oknum Tuhan yang punya kecerdasan, yang menciptakan alam raya, dan berkuasa merubah-rubah hal-hal di alam ini.

Jadi percaya pada Tuhan yang pasif bisa jadi atheist?
Yap... Lagipula, apaan tuh Tuhan yang pasif, sudah tidak mencipta, gak ngapa2in, tidak bisa didoain (karena gak berkuasa). Banyak yang percaya gitu untuk kebutuhan spiritualitas aja.

Kenapa atheist selalu merasa perlu untuk berdakwah? 
Umumnya atheist mengeluarkan pendapat KETIKA ada kaum beragama yang dianggap sudah keterlaluan ingin memaksakan keinginannya dalam masyarakat. Selain itu, umumnya atheist tidak mau ambil pusing.

Kenapa atheist dianggap keras berdakwah?
Jelas, yang beranggapan demikian adalah dari masyarakat agamis. 
Di Amrik, atheist terlihat aktif, karena ada fihak Kristen fundamentalis yang berusaha merusak sekularitas Amerika. Tetapi di negara-negara lain yang tidak punya masalah soal agama, atheist adem2 saja.

Kenapa masih ada aja herd behavior pada kelompok atheist?
Atheist adalah kelompok yang paling minim herd behaviornya. Atheist itu diibaratkan sebagai kawanan kucing. Berbeda dengan herd behavior kaum agamis ngikut pemukanya, tidak ada pemuka agama atheist. 
Jadi siapa yang herding siapa?

Apakah atheist ingin menghancurkan agama?
Umumnya atheist justru lebih menghargai kebebasan beragama dan beribadah. Atheist menyuarakan suara rasionalitas, dan sering ditanggapi dengan antipati oleh kaum beragama. Pertanyaan diatas muncul hanya karena kemunculan masalah persepsi sepihak aja.

Apa yang akan terjadi jika suatu saat nanti sains membuktikan bahwa Sosok Tuhan itu ada?
Yaa,.. gak gimana2. 
Semua yang berhasil dibuktikan sains menjadi bagian Sains. Dan kalau Tuhan sudah menjadi sains, kita tidak perlu iman lagi. Agamapun otomatis tidak diperlukan juga, karena Sains lebih mengerti apa itu Tuhan.

Menurut loe, apa yang akan terjadi bila semua manusia menjadi atheist?
Itu gak mungkin terjadi, karena selalu ada manusia yang berdelusi dan membutuhkan dukungan dari "atas". Kalo itu benar-benar terjadi, itu berarti manusia jauh lebih rasional daripada saat ini, kemungkinan-kemungkinan baru terbuka.

Kembali keatas (masih penasaran) di poin 6, atheist kok bisa percaya tahyul?
Kenapa tidak ?. 
Bisa saja seorang tidak percaya adanya Tuhan Pencipta dan Pengontrol alam, tetapi percaya tahyul-tahyul lain seperti roh-roh halus.
Saya tidak percaya tahyul, tetapi tidak berarti semua atheist harus seperti saya dong. Terserah mereka masing-masing laa.
Di artikel ini, saya memberikan pandangan yang general tentang atheism, merangkul sebanyak mungkin jenis atheism, dan memberikan batasan minim. Tidak ada maksud membuat definisi atheism menurut pandangan sebagian atheist. Karena batasan itu sering disalah-artikan seakan meng-exclude yang lain. Kalo atheist mau dikategorikan menurut pemikirannya masing-masing, waduh,.. banyak sekali. Richard Dawkins pernah bilang, mengumpulkan atheist itu seperti mengumpulkan kucing liar. Masing-masing ada maunya sendiri.
Karena itu, saya tempatkan definisi pada titik yang paling merangkul semua jenis atheist.
Menurut saya, lebih baik kita fokus pada apa yang kita rangkul sebagai apa yang kita benar-benar percaya. Jangan pusingin penggolongan.
Artikel ini dibuat karena saya suka ditanya. Tetapi the best, sekali lagi; "jangan memusingkan kamu masuk golongn apa, tetapi bagaimana spiritualitas kamu bisa membuat kamu dan orang banyak memperoleh manfaat dari yang kamu contohkan dengan keatheisanmu dan mereka, kamu dan saya sama-sama merasa sejuk dan aman, bahagia dan damai.
Lanjut,......

APA ITU PANTEISME?
        Karena terlalu sering kata ini disebut dalam berbagai diskusi, ada baiknya kita bahas sedikit tentang "apa itu panteisme" 'secara kritis'. Juga dibahas bagaimana pandangan saintis dalam sejarah tentang hal ini.

Artikel ini akan membahas Panteisme terutama perkembangnnya dari sudut pandang sejarah pemikiran Eropa sesudah era Pencerahan  Akal Budi (Aufklarung). Eropa, pada Abad Pertengahan sampai Aufklarung adalah Era Agama Kristen. Artinya setiap manusia Eropa dinilai dari seberapa Kristennya seseorang. Jika seseorang berbuat baik, dia akan bilang dia berbuat sebagai seorang Kristen yang baik.

      Dan dalam era itu, terdapat juga sekelompok kecil warga Yahudi, walaupun jumlahnya kecil, mereka cukup menentukan sejarah Eropa, terutama sejarah perkembangan Sains. Pada dasarnya terjadi saling pengaruh Yahudi dan Kristen, sehingga inti kepercayaan mereka rata-rata mirip. Perlu diingat, kepercayaan Yahudi pada era itu BERBEDA dengan kepercayaan Yahudi era sebelum Masehi, apalagi Era sebelum dibangunnya Bait Allah Kedua (Second Temple). Ini perlu diingatkan, supaya tidak rancu, menganggap Yahudi itu sama sepanjang sejarah.
Peran agama Kristen pada Abad Pertengahan sampai Aufklarung di Eropa sangat besar, walaupun mereka bukan teokrasi. Pemerintahan di Eropa waktu itu umumnya pemerintahan para feodal, para Raja-raja dan Bangsawan. Para pimpinan gereja merupakan salah satu dari sistem feodal itu.
Walaupun kekuasaan eksekutif tidak berada pada Gereja, untuk urusan agama, Gereja memegang peranan kunci. Walaupun pada era-era terakhir, sudah tidak ada lagi pengadilan Inkuisisi ala Spanyol dulu, Gereja masih punya satu hak, yaitu MENG-EKSKOMUNIKASI-KAN penganut yang dianggap salah. Ekskomunikasi berarti orang-orang beriman dilarang untuk melakukan semua komunikasi dengan orang yang sudah dikenakan hukuman tersebut. Maka, tamatlah karier orang tersebut, karena dia harus keluar dari segala institusi yang mendukungnya, bahkan teman-temannya juga tidak boleh berhubungan dengannya. Berat kan !?
Ide-ide penting yang dishare oleh Kristen dan Yahudi adalah:
Pertama, Ada satu Oknum Pencipta yang terpisah dari dunia, Transenden. Oknum ini personal, punya kecerdasan, punya kehendak. Dia bisa menjawab doa, dia bisa marah dan menghukum. Dia selalu ikut campur dalam urusan dunia.

Kedua,
Oknum Super itu bukan hanya menciptakan segala sesuatu, tetapi juga memberikan hukum=hukum, bukan hanya hukum alam yang rasional, tetapi juga hukum yang menentukan perbuatan mana yang baik dan buruk. Oknum itu membuat standard moralitas untuk manusia.
Supaya manusia taat hukum itu, maka ada HUKUMAN kalau melanggar. Untuk itu harus dibuat ide tentang AKHERAT. Karena dengan ide tersebut, maka hukuman terhadap manusia dilakukan sesudah mati, di dunia akherat.

Jadi Ketiga,
Percaya adanya hidup setelah mati, akherat.
Inti-inti kepercayaan ini yang melahirkan Theisme Eropa waktu itu, yaitu theisme yang berpusat pada kepercayaan adanya Oknum Tuhan Personal, yang punya kehendak, yang bisa menjawab doa, yang bisa menghukum, dlsb.

Bagaimana posisi saintis di Eropa pada saat itu? Mau percaya theisme atau tidak, mereka pasti tidak akan keluar dari jalur, karena tekanan agama yang kuat waktu itu. "Religion was the only game in town", tidak ada orang waras yang mau melanggar. Langgar sedikit, habis semua.
Tetapi perkembangan pemikiran terus ada (walaupun pelan), kepercayaan agama, lama-kelamaan terasa semakin tidak cocok dengan perkembangan jaman.
Nah, tugas para pemikir, dan saintis waktu itu adalah menyelaraskannya. Mereka mengadopsi ide-ide dari filsafat Yunani, dan berkembanglah TEOLOGI yang semakin lama semakin rumit.
Kalau ide-ide Yunani sudah mentok, maka pemikir mulai melahirkan ide-ide baru untuk menyelaraskannya. Misalnya Rene Descartes, filsuf dan matematikawan dan Katolik yang baik, membuat ide metafisika bahwa Tubuh dan Mental itu berbeda. Ahh,.. itu mendukung kepercayaan soal jiwa, bagus.

Tetapi perkembangan sains semakin kencang, keanehan kepercayaan agama semakin sukar dipertahankan. Dilain pihak masih ada ikatan kuat sekali dari akar rumput tentang kepercayaan adanya Tuhan.
Lalu, Bagaimana cara menyelesaikan persoalan ini?
Baruch Spinoza, asalnya Yahudi dari Portugis, membuat pemikiran baru.
Dengan gaya seperti matematikawan (umumnya pemikir waktu itu mengerti matematika, gak kayak saat ini), dia mencoba membuktikan bahwa TUHAN ITU ALAM RAYA.
Cara dia membuktikan adalah dengan menggunakan gaya matematika. Dia membuat definisi terlebih dahulu, lalu dia membuat aksioma-aksioma. Aksioma adalah pernyataan kebenaran yang menurutnya seharusnya bisa dimengerti kebenarannya secara intuitif.  Lalu kemudian baru membuat Teorema-teorema. Jadi persis seperti yang kita dapatkan pada buku math.
Semua kerumitan analisis Spinoza itu cuma berakar dari satu masalah. Pengetahuan Sains yang berkembang mulai membuat manusia mengerti dunia tanpa agama, tetapi pada saat yang sama, saintis tersebut tidak bisa lepas dari agama, entah oleh budaya, atau tekanan masyarakat, dlsbg.
Cara pandang Spinoza kemudian dinamakan dengan PANTEISME. Tuhannya Spinoza adalah Alam ini. Tuhannya bukan tuhan yang personal. Kalau Tuhan tidak personal, tidak ada jati diri. maka tidak ada gunanya seseorang memanggil dia, wong dia bukan Oknum kok. Berdoa juga percuma. Ga ada akherat juga.
Panteisme sebenarnya hanyalah ATEISME TERSELUBUNG. Tuhan nun jauh disana diADAkan karena faktor budaya saja, karena umumnya orang menganut kepercayaan beragama, jadi sekalian meminjam kata TUHAN untuk alam raya ini. Beres toh, bisa klaim bertuhan tapi ga perlu percaya pernak-pernik tahyul Agama.

Steven Weinberg, pemenang Nobel Fisika 1979, menulis dalam bukunya Dreams of a Final Theory, soal Tuhan Penteisme ini. Dia memang menyindir teman-temannya yang mengklaim diri sebagai panteist, walaupun itu cuma selubung dari ateisme. Menjadi ateis di Amerika sangat tidak menyenangkan waktu itu.
Dengan cara yang sama, sebenarnya saya juga munafik sedikit di bio saya, mengklaim diri post-theist. Sama seperti panteist, itu sebenarnya ateist. Saya klaim post-theist karena saya menitik- beratkan diri pada pertanyaan: "sesudah tidak percaya Agama, lalu apa?" Supaya saya tidak terlalu munafik, jadi, saya selalu klaim atheist di TL. :)

Richard Dawkins, dalam "The God Delusion", menggambarkan Panteisme sebagai: PANTHEISM IS SEXED-UP ATHEISM. Panteisme adalah Ateisme yang dipoles gincu.
Dalam masyarakat agamis, atheisme terasa antagonistik, maka bagaimana kalau dikasih pakaian sexy, dibedak, digincu, lalu dinamakan panteisme. Pelopor komunitas World Pantheism, menerima klaim Richard Dawkins, bahwa Panteisme sebenarnya sexed-up atheism. Cuma dia lanjutkan dengan sedikit tambahan;, walaupun atheist, pantheist memfokuskan hubungan emosional dengan Alam dan Bumi, sehingga memberikan efek psikologi yang menyenangkan.




Jika kita kategorikan Saintist era modern, kita coba kategorikan jadi 3 menurut era waktunya.

1) Sblm Spinoza;
2) Sesdh Spinoza;
3) Kontemporer.

Sebelum Spinoza, umumnya orang tidak berani bilang bahwa Tuhan bukan Oknum. Jadi mereka tidak mau mengaku atheist, atau agnostik, ..
Keberanian Spinoza itu mirip keberanian Galileo Galilei.
Dia bilang Tuhan bukan Oknum, Tuhan ya alam ini.
Seperti nasib Galileo Galilei dihukum oleh Gereja Katolik, Spinoza di-ekskomunikasi oleh Dewan Pemuka Agama Yahudi karena dianggap bidaah.
Spinoza ? cuek, antepin aja..
Keberanian Spinoza mengilhami banyak saintis ikut-ikutan, bilang: "Ya... okay saya bertuhan, tapi Tuhannya Spinoza.." Karya-karya Spinoza yang diakui bagus, dijadikan landasan bagi orang yang tidak lagi menganut kepercayaan agama, tapi belum mau dicap atheist karena mereka masih beranggapan kalau akibatnya akan kurang baik.
Albert Einstein juga dikenal pernah bilang begitu: "Tuhan saya itu universe, bukan Tuhan personal." Jelas dia sedang ber-spinoza-ria juga.
Ini bagus juga, jadi alasan atheist di Indonesia kalo ditanya bertuhan kagak, bilang saja "iya", Tuhannya Spinoza. Orang-orang akan angguk-angguk kayak ngerti...

Last:
PENJELASAN TENTANG "TUHAN" PARA SAINTIS DAN MATEMATIKAWAN.




         Ada perbedaan cara pandang Matematikawan dan Saintis. Matematika itu sebenarnya bukan Sains. Yang kita maksud dengan Sains adalah ilmu pengetahuan alam. Dengan demikian Sains adalah ilmu yang bersifat induktif, sedangkan matematika adalah ilmu yang bersifat deduktif.
Ilmu deduktif adalah ilmu yang didapat dari pemikiran semata. Dari postulate-postulate dasar, kemudian dibangun kerangka ilmu yang semakin kompleks dari postulat-postulat itu.
Pembuktian ilmu deduktif adalah pembuktian logis, dan rasional. Matematika tidak membutuhkan pembuktian dengan fakta lapangan
Ilmu induktif seperti Sains, selain harus logis, juga membutuhkan bukti-bukti lapangan. Karena itu Sains juga bersifat empiris, artinya berdasarkan pengalamanan manusia. Selogis apapun sebuah hipotesis, tidak bisa diterima penuh jika belum ketemu bukti pengamatan di alam.
Kita mulai dengan Matematika dan hubungannya dengan Tuhan.

        Sejak dulu manusia suka berpikir-pikir soal matematik, lalu terkesima dengan hasil pemikirannya sendiri, dan kemudian memujanya. Angka-angka diciptakan manusia sendiri, lalu kemudian dianggap sakral, dan angka-angka itupun dianggap mistik.

Di Yunani kuno, konon ada seorang (entah benar ada atau tidak, kita ga jelas) yang bernama Pytagoras. Kita kenal dia terutama dari Rumus Pytagoras untuk segitiga siku. Dia dikenal dari Agama mistik Pytagoras yang mengagungkan matematika. Alam raya pada dasarnya tersusun dari angka katanya.
Ok, kita tidak perlu memusingkan matematikawan dan saintis era kuno, karena mereka sudah kurang/tidak relevan untuk pembahasan kita kali ini. Kita fast-forward ke era sesudah Spinoza, era sains modern karena itulah yang menarik yang ingin kita bahas.
Berlainan dengan Sains yang sudah jelas soal mekanisme alam yang juga dinamakan hukum-hukum alam, matematikawan tidak begitu jelas. Toh matematika tidak berdasarkan alam, tetapi berdasarkan hasil pemikiran logika.

Pertanyaannya adalah: "Apakah matematika itu diciptakan, atau ditemukan manusia?"

Kalau matematika sebenarnya sudah ada di alam sedari dahulu, maka manusia tinggal menemukannya. Tetapi jika matematika itu memang hanya hasil ciptaan manusia, berarti matematika itu cuma konstruksi sosial belaka. Ini sering jadi bahan perdebatan sengit.
Sekarang kira-kira secara umum disetujui, bahwa matematika tidak bisa dikembangkan melawan pemikiran logis.
Misalnya, dalam desimal angka 2 itu lebih banyak daripada angka 1.
Dua apel itu lebih banyak daripada satu apel. Jadi yang logis saja.
Konsep-konsep matematika itu hanya MODEL ciptaan manusia, terkadang ada yang menyebutnya sebagai bahasa. Model itu tidak boleh bertentangan dengan arah keberaturan logika yang eksis tanpa adanya manusia bahkan eksis tanpa adanya alam.
Konsep seperti 2 lebih besar daripada 1 itu seharusnya diterima dimana-mana.

Saya berikan analogi sederhana: 
Misalnya matematika itu model rumah jaman dulu yang dibangun dibumi, misalnya rumah Inca, Mesopotamia, Jawa & China. Boleh beda-beda gayanya, tetapi semua harus tunduk pada hukum gravitasi bumi untuk bisa jadi. Gravitasi mendikte bentuk rumah tidak boleh terlalu aneh.
Nah, terkadang dalam tulisan atau pembicaraan lisan, matematikawan membuat metafor Tuhan untuk melambangkan arah logika yang mendasari semua matematika, dan tanpa itu matematika tidak bisa eksis.

Mari kita lihat beberapa contoh penggunaan metafor yang terkenal ini dalam sejarah math.

          Perkenalkan GEORG CANTOR, matematikawan besar abad 19 yang membuat TEORI HIMPUNAN (Set Theory) yang menjadi landasan fundamental matematika modern.
Dia juga yang pertama mencoba mengkalkukasi INFINITY. Dia menemukan set infinity satu bisa lebih besar daripada set infinity lain.


Matematika Cantor memperkenalkan himpunan tak berhingga yang terdiri dari himpunan-himpunan yang tak berhingga. Wah,.. yang begini nih yang bikin orang sewot.


Teolog konservatif menuduhnya ateis atau panteis. Moso mau menantang Tuhan yang tak berhingga? Emang ada Tuhannya para Tuhan-Tuhan?


Beberapa matematikawan yang gak kalah marahnya, salah satunya lagi adalah LEOPOLD KRONECKER, bangsawannya matematikawan Jerman waktu itu. dia bilang: "Die ganzen Zahlen hat der liebe Gott gemacht, alles andere ist Menschenwerk."
Tuhan menciptakan bilangan bulat, yang lain buatan manusia !! wkwkwkwkwk 

Perlu diketahui, pada jaman Yunani kuno, Geometri adalah rajanya matematika, pada waktu era awal modern itu, Teori Bilangan adalah burung meraknya matematika. Dan teori bilangan berkutat mendalami bilangan bulat (Zahlen). Mereka menganggap pemikiran Cantor adalah bidaah. 
Baper amat sehh ?.

Saking kesal, Kronecker membuat metafor GOTT (Tuhan). Ya dia salah. Tetapi artinya adalah, Cantor melanggar azas logika yang mendasari perkembangan matematika.


Karena ungkapan Kronecker lucu, ateis Hawking menjadikannya judul buku ketika dia kumpulkan tulisan-tulisan terbaik dalam math.


Contoh matematikawan nyentrik kedua yang ingin saya share disini: PAUL ERDOS dari Hungaria. Dia dikenal sebagai matematikawan yang paling produktif dalam abad ke-20.


Dia terkenal eksentrik tidak mau punya rumah, menghabiskan hidupnya berkelana dengan koper kecil, dari kampus yang satu ke kampus yang lainnya untuk kolaborasi.


Saking populernya Paul Erdos di kalangan matematikawan dunia, setiap matematikawan bisa mengklaim NOMOR ERDOS. Jika kamu pernah menulis bareng dengan Erdos, nomor kamu 1. Lalu kalau kamu pernah menulis dengan matematikawan nomor erdos 1, nomor kamu 2.
Walau Paul Erdos bukan orang beriman, dia tidak mau pusing soal Agama, dan mengklaim agnostik, tetapi dia suka sekali membuat metafor menggunakan Tuhan. Artinya juga bisa bermacam-macam, jangan anggap dia bilang itu Tuhan benaran.
Contohnya. 
Ini perlu dijelaskan dulu. 
Pekerjaan matematikawan pada dasarnya adalah: 
1) Membuat konjektur (kalau saintis membuat hipotesis, matematikawan membuat konjektur). 
2) Membuktikan kebenaran atau kesalahan konjektur tersebut secara matematis.
Kalau konjektur sudah dibuktikan, boleh dijadikan teorema (di sains, teori). 
Membuktikan konjektur atau teorema itu bisa dengan berbagai cara.

Para matematikawan berlomba untuk membuat pembuktian paling SEDERHANA, paling CANTIK. Pembuktian tercantik akan membuat decak kagum.
Paul Erdos bilang, Tuhan itu punya buku besar namanya THE BOOK. Buku itu memuat semua bukti-bukti matematis PALING CANTIK.
Nah, kalo kamu sudah menemukan bukti, kamu pikir-pikir dulu, apakah bukti kamu sama dengan yang termuat dalam THE BOOK?
Tidak ada kriteria yang baku tentang bagaimana cara menilai apakah sebuah bukti itu paling cantik. Sederhana itu biasanya kriteria yang paling sering disebut. Lalu bukti tidak dipotong-potong jadi banyak kasus. Pokoknya harus terlihat elegant. 
Matematika itu selain logika, juga seni.
Karena itulah, Paul Erdos mengklaim ada SANG KITAB, yang memuat bukti-bukti tercantik. 
Kalau bukti-bukti kamu seperti bukti-bukti yang termuat dalam Sang Kitab, kamu ada pada track yang benar.
Pertanyaannya adalah, "Apakah ada Kitab seperti itu?" 
GAK ADA laa,.. kitab seperti itu cuma metafor belaka dari Erdos. :P




Ada matematikawan yang terinspirasi oleh THE BOOK nya Erdos, dia mencoba mengumpulkan pembuktian-pembuktian teorema yang secara umum dianggap tercantik, dan diterbitkan. 
Tahu apa judulnya? 
Proofs from THE BOOK!

Itu hit lho, dalam waktu singkat sudah diperbaharui dengan edisi-edisi baru. 








Karena dia Jahudi Hungarian, bahasa Inggrisnya agak nyeleneh. Salah satunya, nama Tuhan orang Jahudi, yang berarti Tuhannya orang Kristen dan Islam, bagi Erdos bukan Yahweh atau Allah, tetapi THE SUPREME FASCIST.



Paul Erdos sebagai Yahudi mengalami masa fascis Eropa waktu Perang Dunia II. Karena itu dia melihat sebenarnya Tuhan yang dipercaya banyak orang itu itu wajah dari Fascis. 

Jadi ingat seorang ulama sufi yang sering berkunjung ke Jakarta yang juga pernah berkata "bahasa tuhan adalah bahasa matematika",.. 
Jadi, bilangin sama dia,.. daripada baca-baca Kitab Suci, mendingan baca buku matematika. 
Daripada berdoa, mendingan duduk memikirkan pemecahan masalah-masalah matematika.

Sekian
Sumber: Kultwit Daemoen@Mentimoen

Tidak ada komentar: