Selasa, 9 Mei 2017 - 12:29 WIB
SUATU penyakit dapat saja menimbulkan komplikasi yang semakin memperburuk kondisi pasien. Salah satu yang paling mengkhawatirkan yaitu gagal jantung.
.
Divisi Hematologi-Onkologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM dr Pustika Amalia Wahidiyat SpA(K) mengatakan, komplikasi thalasemia dapat saja terjadi, meski pasien telah menjalani kelasi besi. Komplikasi tersebut terjadi akibat transfusi darah karena pasien mendapatkan jumlah besi darah berlebihan.
.
"Anak thalasemia umur 6 sampai 7 tahun dapat komplikasi karena penumpukan besi. Komplikasinya pembengkakan hati dan limpa, gagal jantung, hingga TBC," terang dr Amel saat ditemui di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta Selatan, Selasa (9/11/2017).
.
Bahkan, tambah dr Amel, saat anak beranjak remaja di usia 16 tahun, pasien thalasemia tubuhnya akan sulit membentuk hormon.
.
"Tanda klinis anak umur 16 tahun besi darahnya menempel pada kelenjar endokrin dan enggak bisa bentuk hormon. Anak umur 23 tahun bisa alami pembengkakan limpa dan hati," tambahnya.
.
Divisi Hematologi-Onkologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM dr Pustika Amalia Wahidiyat SpA(K) mengatakan, komplikasi thalasemia dapat saja terjadi, meski pasien telah menjalani kelasi besi. Komplikasi tersebut terjadi akibat transfusi darah karena pasien mendapatkan jumlah besi darah berlebihan.
.
"Anak thalasemia umur 6 sampai 7 tahun dapat komplikasi karena penumpukan besi. Komplikasinya pembengkakan hati dan limpa, gagal jantung, hingga TBC," terang dr Amel saat ditemui di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta Selatan, Selasa (9/11/2017).
.
Bahkan, tambah dr Amel, saat anak beranjak remaja di usia 16 tahun, pasien thalasemia tubuhnya akan sulit membentuk hormon.
.
"Tanda klinis anak umur 16 tahun besi darahnya menempel pada kelenjar endokrin dan enggak bisa bentuk hormon. Anak umur 23 tahun bisa alami pembengkakan limpa dan hati," tambahnya.
Alih-alih mereka juga juga dapat mengalami pengeroposan tulang saat usia semakin beranjak dewasa. Kualitas hidup pasien akan semakin memburuk jika komplikasi ini terjadi.
"Dari dalam juga tulangnya penderita thalasemia keropos. Tidak usah mereka main bola, jalan kaki keseleo dan patah. Sulitnya enggak bisa disambung karena materialnya tidak ada," ujarnya.
Agar tidak terjadi komplikasi, pasien thalasemia tidak boleh melakukan sembarang transfusi darah. Bahkan, sebelum terjadi penyakit thalasemia, wajib dilakukan skrining sejak dini.
.
(hel)
.
(hel)
Gagal jantung pada thaller sampai kini masih menduduki peringkat yg tertinggi...
.
Hbnya kerendahan, jantung perlu memompa dgn keras dan ritme yg lebih cepat, lama lama keteteran juga katup katupnya...
.
Tumpukan zat besinya di otot jantung yg kebanyakan juga bisa bikin melemahnya kerja otot dan katup jantung...
.
Tranfusi yg kecepatan bisa, bikin tekanan yg berlebihan pada jantung, lama lama keteteran juga katupnya...
.
Nah kira kira gitu deh...
.
Konsumsi obat khelasi besi tiap hari seumur hidup, tidak mudah loh, apa lagi obatnya mahalnya minta ampun deh...
.
Tumpukan zat besi di organ organ tubuh, itu bisa jadi pupuk untuk tumbuh kembang kuman...
.
Berhubung Indonesia termasuk yg penyebaran TBC nya cukup tinggi, maka thaller di Indonesia, banyak yg kena TBC.
.
Hbnya kerendahan, jantung perlu memompa dgn keras dan ritme yg lebih cepat, lama lama keteteran juga katup katupnya...
.
Tumpukan zat besinya di otot jantung yg kebanyakan juga bisa bikin melemahnya kerja otot dan katup jantung...
.
Tranfusi yg kecepatan bisa, bikin tekanan yg berlebihan pada jantung, lama lama keteteran juga katupnya...
.
Nah kira kira gitu deh...
.
Konsumsi obat khelasi besi tiap hari seumur hidup, tidak mudah loh, apa lagi obatnya mahalnya minta ampun deh...
.
Tumpukan zat besi di organ organ tubuh, itu bisa jadi pupuk untuk tumbuh kembang kuman...
.
Berhubung Indonesia termasuk yg penyebaran TBC nya cukup tinggi, maka thaller di Indonesia, banyak yg kena TBC.
Tambahan ilmunya bisa dibaca di Wikipedia..
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tuberkulosis
https://m.facebook.com/photo.php?fbid=10212269677284752&id=1462885506
https://m.facebook.com/photo.php?fbid=10212269677284752&id=1462885506
Salin: Komplikasi tersebut terjadi akibat transfusi darah karena pasien mendapatkan jumlah besi darah berlebihan.
Maksudnya jumlah darah yang ditransfusikan terlalu banyak kah?
Maksudnya jumlah darah yang ditransfusikan terlalu banyak kah?
Jawab; Kebanyakan nggak boleh, kekurangan nggak boleh....
Yg pas pas aja deh....
.
Atur jarak tranfusi sedemikian hingga Hb sekitar 9-10 udah tranfusi lagi... Hb setelah tranfusi jangan melebihi 14...
.
Hb sebelum tranfusi, Kurang dari itu, asupan zat besi dari usus akan meningkat...
.
Hb setelah tranfusi lebih dari 14, laju asupan zat besi dari tranfusi akan meningkat...
Yg pas pas aja deh....
.
Atur jarak tranfusi sedemikian hingga Hb sekitar 9-10 udah tranfusi lagi... Hb setelah tranfusi jangan melebihi 14...
.
Hb sebelum tranfusi, Kurang dari itu, asupan zat besi dari usus akan meningkat...
.
Hb setelah tranfusi lebih dari 14, laju asupan zat besi dari tranfusi akan meningkat...
Buat yg intermediate, tak masalah dgn Hb yg lebih rendah, tapi perketat diet makanan yg mengandung zat besinya...
Pertimbangannya jika memang bisa tak perlu rutin, kenapa harus rutin? Karena setiap tranfusi itu peluang masuknya penyakit juga toh...
Lain halnya dgn thaller mayor, mau diperjarang juga organ organnya bakalan terganggu...
.
https://m.facebook.com/photo.php?fbid=10212269677284752&id=1462885506
Pertimbangannya jika memang bisa tak perlu rutin, kenapa harus rutin? Karena setiap tranfusi itu peluang masuknya penyakit juga toh...
Lain halnya dgn thaller mayor, mau diperjarang juga organ organnya bakalan terganggu...
.
https://m.facebook.com/photo.php?fbid=10212269677284752&id=1462885506
Saya coba bahas lagi, sedikit saja, dari buku "Guidelines for the Clinical Management of Thalassaemia" (Petunjuk penanganan klinis pada thalasemia mayor), Cappellini MD, Cohen A, Eleftheriou A, et al.Nicosia (CY): Thalassaemia International Federation; 2008. ,
- untuk buku edisi kedua ini bisa dibaca online di web ini: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK173967/ atau
- untuk edisi ke tiga (thn 2014) bisa dibaca online di web ini: https://issuu.com/…/docs/tif_guidelines_for_management_final
- sedang jika mau mengunduh buku edisi ke tiga-nya (tahun 2014) bisa berkunjung kesini:
https://www.thalassaemia.org.cy/…/1466152679tifguidelinesfo…
.
kita bahas sebagian dari bab dua: " Terapi tranfusi pada beta thalasemia mayor"
.
<Tujuan 'terapi transfusi' yang MEMADAI dan KEAMANAN transfusi yang 'optimal' adalah KUNCI dalam protokol tranfusi pada pasien thalasemia.
Tujuan pokoknya adalah:
1. Memelihara fungsi dan kemampuan sel darah merah untuk tetap bisa hidup selama penyimpanan dan memastikan masih mampu mengangkut oksigen yg memadai..
2. Penggunaan sel darah merah dari pendonor yg mempunyai pemulihan yg normal, dan separuh waktu pada penerimanya;
3. Pencapaian kadar hemoglobin yang tepat, dan;
4. Menghindari reaksi tranfusi yang merugikan, termasuk penularan penyakit infeksi...>
.
komentar... jelas disini point 1, 2, dan 4, sangat ditekankan untuk bisa menggunakan darah dengan kualitas yg baik... sedang yg no 3 menekankan sisi kuantitasnya, yaitu tranfusi dengan jumlah yg memadai sehingga mencapai kadar haemoglobin yang tepat ( bukan asal tranfusi laa ), sedemikian hingga dijelaskan di no 2, bagi si pasien, darah yg baik dari pendonor itu mempunyai waktu separuhnya sudah tranfusi lagi, jangan sampai semua darah yg baik dari pendonor habis di tubuh pasien baru tranfusi lagi...
.
<Ada lima pertanyaan umum yang terkait dengan 'terapi transfusi' pada thalassemia mayor, yaitu:
- Kapan memulai 'terapi transfusi' dan siapa yang perlu ditransfusi;
- Bagaimana darah diproses agar efektif dan aman untuk terapi transfusi pada talasemia mayor;
- Adakah kadar hemoglobin (Hb) optimal agar diperoleh transfusi yang efektif;
- Apakah persyaratan transfusi bisa mempengaruhi keberhasilan dalam terapi khelasi zat besi-nya;
- Apa reaksi transfusi yang paling serius baik yang umum, maupun yang jarang;
.
Untuk menentukan siapa yang harus mulai masuk terapi transfusi, berikut ini harus disertakan dalam penyelidikan:
A. Sudah tegak diagnosis laboratorium thalasemia mayornya;
B. Ada dua kali kejadian Hb dibawah 7 g/dl dalam waktu yg terpisah lebih dari 2 minggu ( namun tidak termasuk jika turunnya hb itu disumbangkan oleh penyakit infeksi) ... ATAU
C. Kriteria laboratorium dan klinis, Hb > 7g / dl namun dengan adanya:
- Perubahan wajah
- Tumbuh kembang yang buruk
- Adanya retak atau patah tulang
- terjadi pembentukan sel darah merah diluar sumsum tulang ( Haematopoiesis ekstramedullary ), limpa dan liver yg membesar...>
.
komentar: ... lima pertanyaan umum itu silahkan dibaca sendiri jawaban dan petunjuk petunjuknya di buku tersebut, saya fokus pada siapa dan kapan perlu memutuskan masuk terapi tranfusi... yaitu ada A dan B, atau ada A dan C... jadi meski sudah tegak diagnosa thalasemianya, nggak serta merta diputuskan masuk 'terapi tranfusi"..
perlu penelaahan lebih lanjut yaitu ada kondisi B atau kondisi C... baru layak diputuskan untuk masuk terapi tranfusi.. ini untuk menyeleksi yg potensi kecacatan genetiknya yg menengah.. dan yg dimaksud 'terapi tranfusi' adalah 'rutin berkala tranfusi', bukan tranfusi sesekali saja loh...
.
<Program transfusi:
.
"Penanganan yang dianjurkan untuk thalassemia mayor adalah rutin transfusi berkala seumur hidup, biasanya diberikan setiap 2 sampai 5 minggu sekali, sedemikian dengan mempertahankan tingkat HAEMOGLOBIN SEBELUM TRANFUSI di atas 9-10,5 g/dl...."
.
Dengan skema transfusi ini bisa:
a) meningkatkan tumbuh kembang yang normal,
b) memungkinkan untuk aktivitas fisik yang normal,
c) cukup memadai dalam menekan aktivitas sumsum tulang (pada kebanyakan pasien),
d) dan MEMINIMALKAN akumulasi besi transfusi (Cazzola, 1995 dan 1997).
.
kadang perlu target dengan tingkat hemoglobin sebelum-transfusi yang lebih tinggi dari 11-12 g/dl untuk pasien:
- dengan penyakit jantung atau kondisi medis lainnya
- dan bagi pasien yang tidak mencapai penekanan aktivitas sumsum tulang yang cukup pada tingkat hemoglobin yang lebih rendah.
.
Meskipun jarak antar tranfusi yg pendek dapat mengurangi kebutuhan darah secara keseluruhan, pilihan jarak antar tranfusi harus mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti jadwal kerja/sekolah dan masalah aspek kehidupan lainnya.
- untuk buku edisi kedua ini bisa dibaca online di web ini: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK173967/ atau
- untuk edisi ke tiga (thn 2014) bisa dibaca online di web ini: https://issuu.com/…/docs/tif_guidelines_for_management_final
- sedang jika mau mengunduh buku edisi ke tiga-nya (tahun 2014) bisa berkunjung kesini:
https://www.thalassaemia.org.cy/…/1466152679tifguidelinesfo…
.
kita bahas sebagian dari bab dua: " Terapi tranfusi pada beta thalasemia mayor"
.
<Tujuan 'terapi transfusi' yang MEMADAI dan KEAMANAN transfusi yang 'optimal' adalah KUNCI dalam protokol tranfusi pada pasien thalasemia.
Tujuan pokoknya adalah:
1. Memelihara fungsi dan kemampuan sel darah merah untuk tetap bisa hidup selama penyimpanan dan memastikan masih mampu mengangkut oksigen yg memadai..
2. Penggunaan sel darah merah dari pendonor yg mempunyai pemulihan yg normal, dan separuh waktu pada penerimanya;
3. Pencapaian kadar hemoglobin yang tepat, dan;
4. Menghindari reaksi tranfusi yang merugikan, termasuk penularan penyakit infeksi...>
.
komentar... jelas disini point 1, 2, dan 4, sangat ditekankan untuk bisa menggunakan darah dengan kualitas yg baik... sedang yg no 3 menekankan sisi kuantitasnya, yaitu tranfusi dengan jumlah yg memadai sehingga mencapai kadar haemoglobin yang tepat ( bukan asal tranfusi laa ), sedemikian hingga dijelaskan di no 2, bagi si pasien, darah yg baik dari pendonor itu mempunyai waktu separuhnya sudah tranfusi lagi, jangan sampai semua darah yg baik dari pendonor habis di tubuh pasien baru tranfusi lagi...
.
<Ada lima pertanyaan umum yang terkait dengan 'terapi transfusi' pada thalassemia mayor, yaitu:
- Kapan memulai 'terapi transfusi' dan siapa yang perlu ditransfusi;
- Bagaimana darah diproses agar efektif dan aman untuk terapi transfusi pada talasemia mayor;
- Adakah kadar hemoglobin (Hb) optimal agar diperoleh transfusi yang efektif;
- Apakah persyaratan transfusi bisa mempengaruhi keberhasilan dalam terapi khelasi zat besi-nya;
- Apa reaksi transfusi yang paling serius baik yang umum, maupun yang jarang;
.
Untuk menentukan siapa yang harus mulai masuk terapi transfusi, berikut ini harus disertakan dalam penyelidikan:
A. Sudah tegak diagnosis laboratorium thalasemia mayornya;
B. Ada dua kali kejadian Hb dibawah 7 g/dl dalam waktu yg terpisah lebih dari 2 minggu ( namun tidak termasuk jika turunnya hb itu disumbangkan oleh penyakit infeksi) ... ATAU
C. Kriteria laboratorium dan klinis, Hb > 7g / dl namun dengan adanya:
- Perubahan wajah
- Tumbuh kembang yang buruk
- Adanya retak atau patah tulang
- terjadi pembentukan sel darah merah diluar sumsum tulang ( Haematopoiesis ekstramedullary ), limpa dan liver yg membesar...>
.
komentar: ... lima pertanyaan umum itu silahkan dibaca sendiri jawaban dan petunjuk petunjuknya di buku tersebut, saya fokus pada siapa dan kapan perlu memutuskan masuk terapi tranfusi... yaitu ada A dan B, atau ada A dan C... jadi meski sudah tegak diagnosa thalasemianya, nggak serta merta diputuskan masuk 'terapi tranfusi"..
perlu penelaahan lebih lanjut yaitu ada kondisi B atau kondisi C... baru layak diputuskan untuk masuk terapi tranfusi.. ini untuk menyeleksi yg potensi kecacatan genetiknya yg menengah.. dan yg dimaksud 'terapi tranfusi' adalah 'rutin berkala tranfusi', bukan tranfusi sesekali saja loh...
.
<Program transfusi:
.
"Penanganan yang dianjurkan untuk thalassemia mayor adalah rutin transfusi berkala seumur hidup, biasanya diberikan setiap 2 sampai 5 minggu sekali, sedemikian dengan mempertahankan tingkat HAEMOGLOBIN SEBELUM TRANFUSI di atas 9-10,5 g/dl...."
.
Dengan skema transfusi ini bisa:
a) meningkatkan tumbuh kembang yang normal,
b) memungkinkan untuk aktivitas fisik yang normal,
c) cukup memadai dalam menekan aktivitas sumsum tulang (pada kebanyakan pasien),
d) dan MEMINIMALKAN akumulasi besi transfusi (Cazzola, 1995 dan 1997).
.
kadang perlu target dengan tingkat hemoglobin sebelum-transfusi yang lebih tinggi dari 11-12 g/dl untuk pasien:
- dengan penyakit jantung atau kondisi medis lainnya
- dan bagi pasien yang tidak mencapai penekanan aktivitas sumsum tulang yang cukup pada tingkat hemoglobin yang lebih rendah.
.
Meskipun jarak antar tranfusi yg pendek dapat mengurangi kebutuhan darah secara keseluruhan, pilihan jarak antar tranfusi harus mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti jadwal kerja/sekolah dan masalah aspek kehidupan lainnya.
Keputusan untuk memulai terapi transfusi seumur hidup harus didasarkan pada kepastian diagnosis thalasemia β-homozigot (red. kedua genenya cacat).
Diagnosis ini harus mempertimbangkan:
- tingkat kecacatan-molekuler,
- tingkat keparahan anemia pada PENGUKURAN BERULANG,
- tingkat ketidak efektifan pembentukan sel darah merah, dan
- kriteria klinis seperti adanya keterlambatan tumbuh kembang atau adanya perubahan tulang.
.
Mulainya terapi transfusi pada thalassemia mayor biasanya terjadi pada dua tahun pertama kehidupan.
.
Beberapa pasien dengan thalasemia yg lebih ringan (red. menengah/intermediate), yg hanya memerlukan transfusi sesekali saja dalam dua dekade pertama kehidupannya, mungkin kelak memerlukan rutin berkala transfusi, karena:
- tingkat hemoglobin yang terus menurun atau
- adanya perkembangan komplikasi serius (lihat Bab 11: Thalassaemia Intermedia dan HbE).
.
Risiko alloimune tampaknya lebih besar pada pasien yang memulai terapi transfusi setelah beberapa tahun pertama kehidupan (Michail-Merianou, 1987; Spanos, 1990; lihat Tabel 3). Kehadiran alloantibodi dan autoantibodi dapat sangat membahayakan terapi transfusi pada pasien dengan thalassemia intermedia, misalnya, yang menerima transfusi pertama mereka pada masa remaja atau dewasa.>
.
komentar...perhatikan pada kalimat pertama yg diberi tanda petik (aslinya malah dengan huruf miring), jelas sekali dinyatakan untuk bisa mengatur jarak antar tranfusinya (biasanya antara 2 sampai 5 mingguan) sedemikian agar hb sekitar 9-10.5 sudah mulai tranfusi lagi...tujuannya juga jelas dinyatakan dari a) sampai d)...
amati yg c)... tranfusi itu perlu memadai untuk menekan perluasan sumsum tulang, kalau tidak memadai, pengeroposan tulang akan terus terjadi!.. dan amati yg point d) ... tak benar hb pretranfusi 9-10.5 malah membuat asupan zat besi lebih tinggi, disana jelas jelas dinyatakan untuk meminimalkan akumulasi/penimbunan zat besi, bukan?!
.
ini sudah pernah saya jelaskan dalam thread-thread yg terpisah sebelumnya bahwa:
- turunnya hb antara 13-8 itu cenderung linier! jadi mau sering tranfusi juga selama hbnya masih dikisaran 8-13, jumlah asupan zat besi dari tranfusinya relatif sama saja kok
- dengan mempertahankan hb 9-10.5 justru asupan zat besi dari ususnya bisa diabaikan... sedang jika hbnya lebih rendah dari 8, asupan zat besinya dari usus bisa meningkat...
makanya tak heran dinyatakan dengan jelas di point d).. untuk meminimalkan akumulasi zat besi...
.
Banyak yg keliru paham tentang hal ini...
.
disana ditentukan hb pre-tranfusi (sekitar) 9-10.5, kenapa tidak satu angka saja misal 9 saja? karena itu sudah mempertimbangkan kondisi lapangan dimana kualitas darah itu bisa berfluktuasi antara pendonor yg satu dengan pendonor yg lainnya, faktor kena penyakit, faktor aktifitas kehidupan dsb... makanya ditentukan dalam suatu 'daerah' antara 9-10.5, bukan satu angka.. TIF tidak sembarangan membuat tulisan laa.... kata katanya padat dan penuh makna, jika kita urai satu satu..
.
terakhir yg saya bahas... alloimune...atau yg biasa saya sebut dengan 'kondisi inkompatible'...
.
silahkan dikutip, di print, dan diskusikan dgn dokter..
.
Jakarta, Mei 2017
*Andrianto Gandhi
Salam perjuangan...
Diagnosis ini harus mempertimbangkan:
- tingkat kecacatan-molekuler,
- tingkat keparahan anemia pada PENGUKURAN BERULANG,
- tingkat ketidak efektifan pembentukan sel darah merah, dan
- kriteria klinis seperti adanya keterlambatan tumbuh kembang atau adanya perubahan tulang.
.
Mulainya terapi transfusi pada thalassemia mayor biasanya terjadi pada dua tahun pertama kehidupan.
.
Beberapa pasien dengan thalasemia yg lebih ringan (red. menengah/intermediate), yg hanya memerlukan transfusi sesekali saja dalam dua dekade pertama kehidupannya, mungkin kelak memerlukan rutin berkala transfusi, karena:
- tingkat hemoglobin yang terus menurun atau
- adanya perkembangan komplikasi serius (lihat Bab 11: Thalassaemia Intermedia dan HbE).
.
Risiko alloimune tampaknya lebih besar pada pasien yang memulai terapi transfusi setelah beberapa tahun pertama kehidupan (Michail-Merianou, 1987; Spanos, 1990; lihat Tabel 3). Kehadiran alloantibodi dan autoantibodi dapat sangat membahayakan terapi transfusi pada pasien dengan thalassemia intermedia, misalnya, yang menerima transfusi pertama mereka pada masa remaja atau dewasa.>
.
komentar...perhatikan pada kalimat pertama yg diberi tanda petik (aslinya malah dengan huruf miring), jelas sekali dinyatakan untuk bisa mengatur jarak antar tranfusinya (biasanya antara 2 sampai 5 mingguan) sedemikian agar hb sekitar 9-10.5 sudah mulai tranfusi lagi...tujuannya juga jelas dinyatakan dari a) sampai d)...
amati yg c)... tranfusi itu perlu memadai untuk menekan perluasan sumsum tulang, kalau tidak memadai, pengeroposan tulang akan terus terjadi!.. dan amati yg point d) ... tak benar hb pretranfusi 9-10.5 malah membuat asupan zat besi lebih tinggi, disana jelas jelas dinyatakan untuk meminimalkan akumulasi/penimbunan zat besi, bukan?!
.
ini sudah pernah saya jelaskan dalam thread-thread yg terpisah sebelumnya bahwa:
- turunnya hb antara 13-8 itu cenderung linier! jadi mau sering tranfusi juga selama hbnya masih dikisaran 8-13, jumlah asupan zat besi dari tranfusinya relatif sama saja kok
- dengan mempertahankan hb 9-10.5 justru asupan zat besi dari ususnya bisa diabaikan... sedang jika hbnya lebih rendah dari 8, asupan zat besinya dari usus bisa meningkat...
makanya tak heran dinyatakan dengan jelas di point d).. untuk meminimalkan akumulasi zat besi...
.
Banyak yg keliru paham tentang hal ini...
.
disana ditentukan hb pre-tranfusi (sekitar) 9-10.5, kenapa tidak satu angka saja misal 9 saja? karena itu sudah mempertimbangkan kondisi lapangan dimana kualitas darah itu bisa berfluktuasi antara pendonor yg satu dengan pendonor yg lainnya, faktor kena penyakit, faktor aktifitas kehidupan dsb... makanya ditentukan dalam suatu 'daerah' antara 9-10.5, bukan satu angka.. TIF tidak sembarangan membuat tulisan laa.... kata katanya padat dan penuh makna, jika kita urai satu satu..
.
terakhir yg saya bahas... alloimune...atau yg biasa saya sebut dengan 'kondisi inkompatible'...
.
silahkan dikutip, di print, dan diskusikan dgn dokter..
.
Jakarta, Mei 2017
*Andrianto Gandhi
Salam perjuangan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar